Ilham Maulana merupakan mahasiswa ekonomi yang tinggal disebuah rumah susun. Ia tumbuh sebagai anak indigo, karena kebutuhan ekonomi yang menghimpitnya, ia pun menggunakan kelebihannya itu untuk bekerja sebagai pengusir hantu.
Cerita Ilham semakin seru ketika Ilham bertemu dengan sesosok hantu cantik yang gentayangan. Pertemuan Ilham dan si hantu cantik membuat babak baru dalam kehidupan keduanya. Si hantu cantik bekerjasama dengan Ilham sembari berusaha mencari akal supaya arwahnya berhenti gentayangan.
Hingga lama-kelamaan keduanya saling jatuh cinta. Bagaimanakah kelanjutan kisah cinta pasangan beda dimensi ini, akankah berakhir bahagia ataukah malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menangkap Hantu
👻
👻
👻
👻
👻
Bunga merasa bosan berdiam diri di taman, akhirnya Bunga memutuskan untuk berkeliling sebentar.
Bunga melihat sekumpulan mahasiswi yang sedang makan bakso, Bunga tampak melihat semuanya makan dengan lahap membuat Bunga lagi-lagi harus menelan ludahnya sendiri.
"Pasti bakso itu enak, nanti aku minta beliin ah sama Ilham," gumam Bunga.
Waktu pun berjalan dengan cepat, Ilham sudah selesai mengikuti mata kuliahnya. Dia bergegas keluar dan mencari sosok Bunga.
"Kemana tuh hantu, dibilang jangan keluyuran malah ngilang," gumam Ilham.
Ting...
Tiba-tiba Bunga ada disamping Ilham..
"Kamu lagi nyariin aku ya," seru Bunga.
"Dari mana saja kamu?"
"Habis jalan-jalan, oh iya Am beliin aku bakso dong."
"Ga mau, jangan banyak maunya deh."
"Ayolah Am, sekali ini saja," rengek Bunga.
"Enggak, aku lagi ngirit akhir-akhir ini pengeluaranku banyak mana dirumah ditambah si Wahid sekarang kamu juga ikut-ikutan, bisa bnagkrut aku," ketus Ilham.
"Kan nanti malam kita ada kerjaan, pasti kamu nanti dapat uang."
"Ya sudah, beli baksonya nanti saja pas kita dapat uang."
"Ih dasar Ilham pelit."
Ternyata tidak sampai disitu, diatas motor bahkan sampai rumah pun Bunga tetap saja merengek minta dibeliin bakso.
"Astaga Bunga, bisa tidak kamu diam aku pusing dari tadi dengar kamu ngoceh. Kenapa kamu tidak pergi saja ke rumah kamu dan minta kepada keluarga kamu," sentak Ilham.
Bunga memanyunkan bibirnya dan langsung terduduk disofa.
"Kamu kan tahu, kalau aku itu tidak ingat siapa-siapa, dimana tempat tinggalku, siapa orangtuaku," sahut Bunga dengan cemberut.
"Ga usah sok sedih deh, aku ga bakalan kasihan sama kamu."
"Ck.. "
Bunga hanya berdecak kesal kepada manusia yang ada dihadapannya ini, Ilham sungguh pelit dan itungan.
"Lah, si Wahid kemana? kok ga ada?" gumam Ilham.
Ilham pun memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum nanti malam dia memulai aksinya menangkap hantu di kosan puteri yang tidak jauh dari rumah susun tempat dia tinggal saat ini.
***
Sementara itu di kontrakan Joko dan Kiwil...
"Wil, bagaimana ini Ilham tetap ga mau bergabung dengan kita, kalau kita begini terus darimana kita bisa dapat uang coba," keluh Joko.
"Iya Jok, mana Ibu kos sudah mondar-mandir lagi nagih bayarannya."
Tok..tok..tok..
"Joko, Kiwil, ini sudah jatuh tempo kalian janji bayar kontrakan kemarin tapi sampai saat ini kalian belum juga bayar," teriak Bu Dedeh pemilik kontrakan.
"Nah kan Wil, aku bilang juga apa Bu Dedeh datang lagi," bisik Joko.
"Sudah diam, dia tidak akan tahu kalau kita ada disini," sahut Kiwil dengan berbisik juga.
"Joko, Kiwil, saya tahu kamu ada di dalam cepat buka pintunya atau saya yang akan bukan sendiri," teriak Bu Dedeh.
"Mampus kita Jok, tamatlah riwayat kita."
Akhirnya dengan terpaksa Kiwil membuka pintu dan ternyata Bu Dedeh sudah membawa dua orang berbadan besar untuk mengusir mereka.
"Bereskan barang-barang kalian, sekarang juga kalian angkat kaki dari rumah saya."
"Ya Alloh Bu, kalau kita pergi dari sini, kita mau tinggal dimana?" keluh Joko.
"Saya tidak mau tahu, sekarang juga bereskan barang-barang kalian atau anak buah saya yang akan melemparkan semua barang-barang kalian."
"Baiklah Bu, kita akan beres-beres."
Butuh waktu satu jam untuk Joko dan Kiwil membereskan semuanya, akhirnya mereka pun pergi dari kontrakan itu dengan tanpa tujuan.
***
Sore pun tiba, Ilham menuju rooptop rumah susun itu. Ilham biasa berolahraga disana karena tempatnya yang luas dan sepi jadi tidak akan ada yang mengganggu.
"Am, memangnya kamu ga capek apa dari tadi olahraga terus? aku saja yang melihatnya capek."
"Aku itu harus olahraga dulu sebelum menangkap hantu kali aja hantu itu lebih jago daripada aku."
Sekarang saatnya Ilham melakukan push up tapi dengan jahilnya Bunga duduk berila diatas punggung Ilham yang sedang melakukan push up.
"Astagfirullah Bunga, apa-apaan sih berat tahu," sentak Ilham.
"Makannya beliin aku bakso."
"Allohuakbar, dari tadi siang sampai sekarang bakso saja yang dibahas."
"Ayolah Am, aku pengen bakso. Beliin ya..ya..ya..ya..." seru Bunga dengan tampang imutnya.
"Enggak."
"Please..."
"No..no..no..no.."
Ilham melangkahkan kakinya meninggalkan Bunga.
"Ilham peliiiiit," teriak Bunga dengan menghentak-hentakkan kakinya.
Malam pun tiba...
Ilham sudah siap dengan ranselnya...
"Am, mau kemana?" tanya Wahid.
"Biasalah."
"Aku ikut."
"Tumben?"
"Daripada diam di rumah, lebih baik bantuin kamu."
"Ya sudah yuk."
Ilham dan Wahid pergi ke rumah kontrakan itu dengan menggunakan vesva milik Ilham, sedangkan Bunga sudah sampai duluan disana.
Seoarang Ibu-ibu dengan perawakan subur menyambut kedatangan Ilham dan Wahid.
"Jadi kamu pemburu hantu itu?" tanyanya.
"Iya Bu," sahut Ilham.
"Tapi kok saya ga percaya ya dengan penampilan kamu yang seperti ini, serius kamu seorang pemburu hantu?" tanya kembali karena merasa tidak percaya.
"Yaelah Bu, kalau ga percaya ngapain menghubungi dia?" seru Wahid.
"Ya sudahlah, pokoknya saya mau hantu yang suka mengganggu rumah kontrakan ini pergi supaya kontrakan saya rame lagi."
"Insyaalloh Bu, saya akan sekuat tenaga mengusir hantu itu," sahut Ilham.
"Kalau begitu silakan, dikamar yang pojok itu biasanya suka ada kegaduhan-kegaduhan yang entah suara apa."
"Baiklah, ayo Hid kita kesana."
Ilham, Wahid, dan Bunga sudah sampai di depan pintu yang ditunjukan oleh si Ibu Dedeh. Ilham menempelkan telinganya ke pintu dan ternyata tidak terdengar apa-apa.
"Sepi ga ada suara."
"Kita masuk saja Am," seru Bunga.
Ceklek...
Perlahan Ilham membuka kamar itu, Ilham merasa terkejut saat tangannya tiba-tiba ada yang menarik sampai Ilham masuk ke dalam lemari.
"Siapa kamu?" tanya Ilham.
"Jangan berisik, aku hantu yang ga bisa keluar dari lemari ini karena aku dibunuh dan jasad aku dikunci di dalam lemari ini, makannya aku ga bisa pergi dari sini."
"Terus yang selalu ganggu penghuni kontrakan ini siapa? bukannya kamu?" tanya Ilham.
"Bukan, tapi Ibu-ibu yang ada diluar sana."
Ilham mendengar kegaduhan diluar sana, Ilham segera keluar dari dalam lemari dan benar saja Wahid sudah terkapar dengan wajah penuh luka sedangkan Bunga pun sedang berkelahi dengan hantu itu.
"Am, pukul dibagian perutnya," teriak Bunga.
Ilham pun menurut dan dengan sekuat tenaga, Ilham memukul bagian perut yang dimaksud oleh Bunga.
Buuuugggghhhh....Zaaaaapppp...
Seketika hantu Ibu-ibu itu berubah menjadi kepulan asap hitam. Sedangkan hantu yang ada didalam lemari perlahan keluar dan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya dia pun menghilang.
Ternyata hantu yang ada dilemari itu adalah selingkuhan suami si Ibu-ibu. Lantas karena tahu tentang perselingkuhan suaminya, si Ibu-ibu itu mendatangi kontrakan itu dan membunuh wanita muda itu dan jasadnya dia simpan di dalam lemari.
Tapi ternyata kelakuannya diketahui oleh sang suami, sehingga sang suami murka dan malah membunuh istrinya dan akhirnya si suami kabur entah kemana.
Si hantu Ibu-ibu tidak pernah bisa melihat ada wanita muda yang cantik makannya dia selalu mengganggu para penghuni kontrakan yang isinya para wanita muda.
"Bagaimana?"
"Aman Bu, saya jamin mulai sekarang tidak akan ada lagi hantu yang akan mengganggu penghuni disini," sahut Ilham.
"Terima kasih ya, ini bayaran kamu."
"Wah terima kasih Bu, kalau begitu kita permisi dulu."
Ilham pun membawa Wahid naik ke atas motornya dengan didempet oleh Bunga, karena Wahid pingsan akibat serangan hantu Ibu-ibu tadi.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah. Ilham merebahkan tubuh Wahid diatas sofa setelah itu Ilham keluar menghampiri Bunga yang sedang berdiri di rooptop tempat Ilham melakukan olahraga.
"Ngapain kamu disini?" tanya Ilham.
"Ga apa-apa, bukannya kamu mau istirahat sudah sana istirahat."
"Ini bayaran untukmu."
Ilham mengulurkan amplop berisi uang kepada Bunga.
"Aku ga butuh uang."
"Lah, kamu itu banyak maunya memangnya kamu pikir beli makanan itu pakai daun apa."
"Iya aku tahu, tapi kamu lupa kalau aku ini hantu bagaimana aku bisa beli makanan."
"Oh iya ya lupa."
Sesaat terjadi keheningan diantara mereka berdua bahkan saat ini angin berhembus dengan kencangnya.
"Sebenarnya kenapa kamu ngikutin aku terus? kamu ga ada kerjaan ya? apa jangan-jangan kamu suka ya sama aku," goda Ilham dengan menunjuk wajah Bunga.
"Apaan sih, aku ikutin kamu karena aku ingin memastikan sesuatu."
"Memastikan apa?" tanya Ilham.
"Hmm..waktu pertama kita bertemu, waktu itu kan terjadi sesuatu diantara kita dan aku sedikit mengingat tentang kematianku jadi sebenarnya aku ingin memastikan lagi kalau melakukan itu, apa aku bisa ingat tentang kematianku lagi," sahut Bunga gugup dengan memainkan jari-jarinya.
"Memangnya pas kita pertama bertemu apa yang sudah kita lakukan?" goda Ilham pura-pura tidak mengingatnya.
"Ah sudahlah, lupakan saja."
Tapi tanpa diduga-duga, tiba-tiba Ilham maju mendekati Bunga dan dengan cepat Ilham mencium bibir Bunga membuat Bunga melotot karena terkejut.
👻
👻
👻
👻
👻
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU