Ini sebuah kisah dari sebuah kehidupan seorang wanita muda yang menjalani semua kehidupannya.
"Sayang, cepat bajunya!" seru seorang pria.
"Sebentar, sayang!" jawab Amelia.
"Mungkin mas bakal di pindah tugas." ucap Zaki.
Kisah hidup seorang wanita muda yang baru menikah dua Minggu namun harus di tinggal pergi oleh sang suami untuk bertugas.
Sebuah kenyataan pahit harus di hadapi oleh Amelia ketika mendapatkan sebuah kabar mengenai sang suami. apakah yang terjadi dengan Zaki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwaku pergi bersamamu
Aku pilu..
aku merana karena cintaku telah tiada
aku seperti makanan yang sudah teriris
sudah tidak berbentuk bahkan sudah hilang keindahannya
cintaku telah pergi bersama awan
tenggelam di dalam tanah
kehangatan malam dan suara ya begitu indah kini telah tiada
aku kesepian
cintaku telah pergi bersama awan menjadi bintang ketika malam.
Seorang tentara sudah mendatangi Amel di rumah pak Samsul.
"Amel kenapa?" tanya pak Samsul kepada putranya.
"Pingsan, Yah." jawab Yoga.
Yoga dan mendiang Zaki memanggil pak Samsul dengan panggilan Ayah, Sedangkan Amel memanggil pak Samsul dengan panggilan Bapak, ikut Bu Ratna.
"Apakah nyonya Amel baik-baik saja?" tanya seorang tentara.
"Maukah Nak Rohman menunggu Sebentar?" tanya pak Samsul.
"Tentu Pak, saya harus menyampaikan pesan terakhir dari mendiang kolonel zaki." jawab Rohman.
Sekitar beberapa menit kemudian akhirnya Amel sudah terbangun dari pingsannya.
"Amel, bangunlah sayang. ada teman mendiang Zaki, dia ingin memberikan sesuatu untukmu." ucap Pak Samsul.
Tak ada suara yang keluar dari mulut Amel, terasa pikiran Amel Sudah kosong karena kehilangan suaminya. kolonel Rohman memasuki ruangan Amelia bersama Yoga. pria itu memberikan sebuah ponsel kepada Amelia.
"Sebelum kolonel Zaki meninggal, beliau berpesan untuk memberikan ini pada anda. beliau juga meminta saya menyampaikan pesan terakhirnya." ucap Rohman.
Tak ada kata yang terucap dari mulut Amel, serasa Wanita itu sudah kehilangan jiwa di dalam raganya.
"Kolonel Zaki berpesan, Kalau Anda harus menjaga diri, Anda menjadi kuat dan berjuang untuk menjadi wanita pemberani." ucap Kolonel Rohman yang kemudian memberikan ponsel Zaki kepada Amelia.
Amelia nampak menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang,
"Apakah di saat nafas terakhirnya suamiku memanggil namaku?" tanya Amelia dengan raut wajah yang begitu sedih dan air mata yang berlinang.
"Tentu, kolonel Zaki mengatakan sebuah kata. Ya Allah lindungilah selalu istriku, kutitipkan dia padamu, jagalah dia selalu." ucap kolonel Rohman yang membuat Amelia meneteskan air matanya kembali.
"Apakah wajah suamiku sangat menderita ketika dia menghembuskan nafas terakhirnya?" tanya Amelia kembali.
"Tidak, beliau tidak merasa menderita. bahkan tidak ada ada raut kesakitan sama sekali, dia terus menyebut nama Allah dan mengucapkan syahadat berulang kali hingga maut telah menjemputnya." jawab Kolonel Rohman.
Bu Ratna meneteskan air matanya, Wanita itu memeluk sang suami. suasana yang ada di ruangan itu benar-benar begitu memilukan.
Amel hanya mampu menghembuskan nafasnya, pikirannya terasa tidak bisa berjalan dengan wajar. dia terus mengingat wajah sang suami. kenangan Zaki dan salam perpisahan pria itu saat terakhir meneleponnya.
"Saya pamit dulu Bu, Pak. saya harus kembali ke tempat tugas saya." ucap kolonel Rohman yang kemudian meninggalkan rumah keluarga Prayogi.
Beberapa kerabat Pak Samsul nampak masih berada di rumah keluarga Prayogi, Sedangkan para tetangga mereka semua sudah meninggalkan rumah itu. para pelayat benar-benar tidak kuasa melihat kesedihan Amelia, jika mereka berada di posisi Amelia mungkin mereka tidak akan bisa bertahan lama.
"Aku benar-benar begitu kasihan kepada gadis muda itu, usianya begitu muda, namun dia harus menjadi seorang janda." ucap salah satu tetangga keluarga Prayogi.
"Sudah, sudah. sebaiknya kita pulang, kasihan Gadis itu kalau mendengar kita berbincang seperti ini." ucap tetangga Pak Samsul.
Kerabat dan keluarga Pak Samsul nampak begitu sedih, karena kehilangan salah satu keluarganya.
"Mengapa umur Zaki begitu pendek, Lihatlah istrinya kondisinya seperti itu." ucap adik Pak Samsul.
"Sudahlah Pak, ini semua sudah menjadi takdir dari Gadis itu. padahal Ibu sangat senang banget saat melihat mereka berdua bersama." jawab istri dari adik Pak Samsul.
Memang kesedihan yang dirasakan Amel serasa menyalur kepada keluarganya, Gadis yatim piatu itu sekarang tinggal sendiri. tidak mempunyai orang tua, tidak mempunyai suami.
"Ibu, Apakah setelah Mas Zaki meninggal..., Apakah ibu akan mengusirku dari sini?" tanya Amelia yang tiba-tiba.
Bu Ratna seketika menangis histeris, wanita tua itu memeluk Amelia dengan sangat erat.
"Apa yang kamu bicarakan Amel, kamu adalah istri dari Putra ibu. kamu itu menantu ku, walaupun suamimu sudah tiada kamu akan menjadi Putri Ibu!" seru Bu Ratna dengan berlinang air mata.
"Aku sudah tidak mempunyai keluarga Bu, tidak mempunyai orang tua. tidak mempunyai suami, aku sebatang kara di dunia ini tanpa keluarga." ucap Amelia yang bersandar di ranjang sembari meneteskan air matanya. Kedua tangannya dia remas, dadanya seolah tidak bisa menahan sakit ini.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Amel. sekarang kamu adalah putri dari bapak, kamu tidak boleh meninggalkan ibu dan bapak." ucap Pak Samsul yang kemudian memeluk Amel. pensiunan tentara itu tidak akan pernah mengira putranya yang mengikuti jejaknya malah berusia sangat pendek.
"Amel sakit, Bu. Amel merana, kebahagiaan hamil tiba-tiba sirna." ucap Amel dengan suara yang begitu lirih. tangis Amel serasa tidak bisa keluar, hanya air mata yang menjadi pertanda kalau wanita itu begitu merana.
"Ayo Kita sholat Amel, kita doakan Zaki akan mendapatkan tempat yang sangat indah di alam sana." ucap Bu Ratna.
"Iya Bu, amel mau mendoakan Mas Zaki. amel mau meminta Allah menjaga suamiku, pasti sekarang Mas Zaki menatapku dari atas langit. berharap agar aku menjadi wanita yang tegar dan kuat." ucap Amel.
"Ya amel, Ayo kita sholat nak. kita doakan suamimu." pinta Pak Samsul yang kemudian memapah Amel.
Memang Amel tidak menangis dengan keras lagi, namun air matanya terus berlinang ketika mengingat jenazah sang suami dan pemakaman Zaki.
** bersambung **
tak ada kelajutan tentang anak 3 Malik dan Amelia
lanjut dong ceritanya
Alus novelnya sangat
mantap
tapi sayang lansung tamat
tak ada nyabung tentang kehidupan anak Malik dan Amelia di hari tuanya gitu
cnt pertma nya yg jd suami ke 2 ameli.bnr kata pepatah gk dpt gadia nya janda nya pun gk apa.ku tunggu janda mu..
sukses
semangt
mksh
terlalu larut.
sedih boleh asal jgn meratapi...