Tidak mudah harus berperan ganda sebagai istri dan ibu di waktu bersamaan. Alina Inayyah harus dihadapkan pada kenyataan di mana dirinya dituntut untuk menjadi istri kedua dari seorang pria bernama Azam.
Yasmin sebagai istri pertama meminta Alina dan juga suaminya, Azam untuk menikah. Penyakit Leukimia yang diterinya membuat ia mengambil keputusan tersebut untuk kebaikan sang suami.
Masalah demi masalah terus berdatangan, Alina tidak menyangka jika pernikahannya hanya bisa bertahan seumur jagung. Kenyataan pahit di balik kematian Yasmin pun mencuat ke permukaan. Ditambah orang-orang baru semakin merajalela membangkitkan ujian.
Mampukah Alina menghadapi setiap permasalahan melandanya di balik peran ganda? Adakah cinta sejati mendatanginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Hujan tengah turun dari sore tadi mengantarkan udara dingin yang begitu menusuk kulit. Kegelapan menyambut kesendirian Alina yang tengah menunggu suaminya pulang. Seperti hari kemarin, ia berdiam diri di ruang tamu.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Azam pun tiba di rumah. Senyum mengembang di wajah cantik Alina kala pandangan mereka saling bertemu. Lagi dan lagi pria itu hanya mendiaminya dan melewatinya begitu saja.
Ia pun duduk di ruang keluarga dan tidak lama berselang Sarah keluar dari kamar Aqeela. Ia berjalan mendekati Azam dan hendak membantu tuannya melepaskan sepatu.
"Berhenti! Jangan lakukan apa pun!"
Mendengar nada suruhan itu Sarah pun menghentikan aksinya. Kedua tangan mengambang di udara dengan kepala menoleh pada Alina.
"Ta-tapi Mbak, saya hanya ingin membantu Tuan."
"Beliau adalah suami saya. Jadi, biar saya yang melakukannya. Kamu bisa pergi ke kamar Aqeela dan temani dia di sana!" ucapnya tegas. Sarah mengangguk lalu kembali beranjak meninggalkan sang tuan.
Selepas peninggalan pengasuh bayinya, Alina pun mulai berjalan mendekati Azam kemudian bersimpuh di depannya. Tangan lentik itu lihai melepaskan sepatu kerja dan kaos kaki sang suami.
Azam terus memperhatikan dalam diam, ada perasaan bersalah yang terus mengganggunya sedari tadi.
Pikirannya kacau dan kosong. Ia tidak menyangka mendengar penjelasan dari Yasmin mengenai kejadian yang sebenarnya. Azam sadar sudah bertindak terlalu kasar dan keras pada Alina. Bahkan setelah ia menyakiti istri keduanya, wanita itu tetap melakukan hal baik untuknya.
"Kenapa kamu mau melakukan ini?"
Pertanyaan yang lolos dari bibir menawan sang suami membuat Alina mendongak. Iris kecokelatan keduanya saling bertubrukan dan menyelami keindahan masing-masing.
Alina merasakan degup jantungnya berdetak kencang. Ia belum pernah sedekat ini dengan suaminya sendiri.
"Karena Mas masih suamiku. Meskipun aku hanya dianggap sebagai pengasuh dan perawat, tapi aku ingin menjalankan tugas sebagai seorang istri dengan baik," jawab Alina disertai senyum lembut membingkai wajah cantiknya.
Azam termenung melihat ke dalam manik besar di hadapannya. Sudah dua bulan lamanya mereka bersama, tapi ia belum juga memberikan nafkah batin. Entah sadar atau tidak tangan kanannya terulur menangkup sebelah pipi sang istri kedua.
Seketika itu juga Alina merasakan seperti ada aliran listrik yang menyetrum saraf dalam tubuhnya memancarkan warna kemerahan pada wajahnya. Ia pun berusaha untuk melepaskan tangan Azam dan berpaling.
Namun, Azam tidak mengizinkan dan mencoba mempertahankan sang istri untuk terus menatap padanya.
"Aku minta maaf sudah bertindak kasar padamu, kemarin. Aku tahu keadaan ini memang tidak menguntungkan mu sedikit pun, aku-"
Ucapan Azam langsung dipotong cepat oleh Alina. "Mas Azam jangan berbicara seperti itu. Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku mengerti dengan perasaan Mas saat melihat Mbak Yas-"
Seketika itu juga perkataan Alina terputus dengan kedua mata membulat sempurna. Ia tidak menyangka mendapatkan ciuman langsung dari sang suami. Seperti menemukan air di padang pasir yang tandus. Fatamorgana yang tak nampak mencuat ke permukaan. Layaknya hujan di musim panas, sejuknya menambah kesyahduan. Untuk seperkian detik waktu seolah berhenti berputar.
Alina tidak membalas atau pun menolak. Tubuhnya terdiam kaku saat sentuhan yang diberikan suaminya mendarat begitu saja. Ia berharap ini bukan mimpi dan ilusi semata.
Akhirnya setelah beberapa saat, Azam pun melepaskan ciuman itu lalu menyatukan kedua kening mereka. Detak jantung Alina masih tidak karuan membuat aliran darah di sekujur tubuh berdesir hebat.
"Aku menginginkanmu malam ini." Suara serak nan dalam menyadarkan Alina.
Ia tidak bisa mengatakan sepatah kata dan hanya mengangguk sebagai persetujuan. Dengan cepat Azam menggendongnya ala pengantin dan membawa tubuh sang istri kedua ke ruangan pribadi mereka.
Kamar yang berbentuk segi empat nan luas itu baru kali ini di tempati pasangan suami istri tersebut. Dengan lembut dan telaten Azam pun melancarkan aksi. Hujan sudah berhenti beberapa saat lalu dan langit pun kembali memperlihatkan keindahannya. Bintang yang bertaburan serta bulan bercahaya terang sebagai penghias menjadi saksi bisu.
Semilir angin yang masuk melalui ventilasi udara menjadi peneman. Alam semesta pun menjadi saksi mengenai penyatuan keduanya. Alina meneteskan air mata kebahagiaan pada akhirnya ia bisa menjadi istri sesungguhnya.
Tidak ada yang paling membahagiakan di dunia selain dikasihi dan dicintai oleh suami sendiri. Alina berharap kehangatan dan juga kebaikan Azam akan selamanya seperti ini.
Lebah tengah mengecap manisnya madu dalam bunga mekar tersebut.
Alina pun sepenuhnya memberikan diri untuk Azam.
Malam yang indah itu menjadi waktu historial bagi seorang Alina. Akan tercatat dalam sejarah kehidupan jika ia sudah menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Ia bersyukur bisa mendapatkan nafkah batin dari sang suami, Azam. Ia juga berharap pria itu bisa mencintainya dengan tulus.
"Semoga ini menjadi langkah awal untuk hubungan pernikahan kami. Ya Allah, lindungilah rumah tangga kami," batin Alina penuh harap.
Azam menghentikan aksinya lalu pandangan mereka kembali bertemu. Napas yang saling memburu serta sorot mata sayu menjadi penanda. Tangan itu pun terulur lagi dan merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Alina.
"Aku bahagia, terima kasih."
Perkataan lembut nan hangat itu membuat Alina kembali menitikkan air mata. Tangan lentiknya pun terangkat dan mendarat di wajah tampan sang suami.
"Apa pun untukmu, aku sangat mencintaimu."
Pada akhirnya di waktu yang bersamaan, di jam, menit dan detik itu juga pernyataan cinta diutarakan. Lega sudah perasaan Alina kala tiga kata yang selalu bersembunyi apik dalam hati terucap sudah. Ia yakin untuk memberikan sepenuhnya jiwa dan raga untuk Azam. Karena cinta dan sayang yang ia miliki untuk suaminya begitu besar.
Sampai kesabarannya mencapai titik akhir. Azam mengakuinya sebagai seorang istri dan kini tengah memberikan nafkah batin.
Setelah Alina mengatakan itu Azam pun kembali melanjutkan aksi. Dalam keheningan hanya ada suara syahdu penyatuan mereka sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.
Jam terus berputar memenuhi tugas sebagai pengingat waktu. Entah sudah berapa lama mereka melakukan hubungan suami istri membuat peluh bercucuran di wajah keduanya. Dengan napas yang tersengal-sengal Azam berusaha mengatakan sesuatu.
"Terima kasih, a-aku sangat mencin-taimu-"
Alina mengembangkan senyum mendengar penuturan tersebut. Namun sedetik kemudian, "Yasmin."
Bersamaan dengan nama itu terucap tubuh tegap Azam ambruk memeluk Alina begitu saja. Iris kecokelatan Alina melebar dengan mulut menganga sempurna. Langit-langit kamar seolah tengah mengejeknya dan kesunyian seperti menertawakannya.
Kata-kata seperti "siapa kamu bisa dengan mudah dicintai Azam? Kamu bukan siapa-siapa melainkan pengasuh anaknya dan perawat istrinya. Di tambah sekarang sebagai pemuas napsu. Kamu tidak bisa menggeser posisi Yasmin dalam hati pria itu," terngiang dalam telinganya.
Alina tidak bisa menahan tangis setelah mereka selesai. Tangisannya pecah membuat tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak menyangka di malam yang paling berharga dalam hidup bisa berakhir menyakitkan.
Ia terlalu berharap hingga ujung-ujungnya dihempaskan begitu saja. Azam tidak pernah menganggapnya sebagai Alina melainkan dalam kepala bersurai hitam itu hanya ada Yasmin, Yasmin dan Yasmin, seorang.
"Aku terlalu bodoh menerima perlakuan hangatnya. Ya Allah ini sangat menyakitkan," teriaknya dalam batin.