Kisah tentang langit dan bumi yang meskipun sama luasnya, namun tak dapat bersatu.
Angkasa adalah anak hasil perselingkuhan ibunya. Dia dibenci banyak orang. Kekerasan dan pembullyan yang sering dia dapatkan membuatnya ingin mengetahui alasan untuknya hidup.
Suatu hari Angkasa bertemu dengan seorang Gadis. Gadis itu membuatnya tersadar bahwa selama ini dia terlalu pengecut untuk menolak ketidakadilan yang dia dapatkan. Dari situ, hidup Angkasa mulai berubah.
Kisah tentang seseorang yang ingin hidup bertemu dengan seseorang yang sangat menginginkan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hulapao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CLUB BAND
“Silahkan duduk di bangku yang kosong, Angkasa.”
Berulang kali kupikirkan, akhirnya aku mendapat keberanian untuk memulai suatu hal yang baru. Sekolah. Sudah satu bulan lebih aku tak pergi ke tempat itu. Awalnya aku ragu-ragu saat hendak berbicara dengan Fajar, namun Fajar malah menyambutku dengan antusias. Itu cukup memberiku keberanian.
Sekolah baru, wajah-wajah baru, teman-teman baru, aku harap tak menemukan seseorang yang mengenalku dulu, yang tahu masa laluku. Tidak, pasti tak ada. Disini juga tak ada kakak tiriku yang menyebalkan itu dan terlebih lagi aku juga punya Fajar yang akan sedikit banyak membantuku meskipun kami berbeda kelas.
“Gimana? Kau baik-baik saja kan?” Tanya Fajar.
Aku mengangguk.
“Apa kau sudah mengunjungi tempatnya?”
Aku menggeleng.
Fajar beranjak berdiri. “Ayo kita kesana.”
Eh? Secepat itu? Padahal ini masih hari pertamaku di sekolah ini. Aku menurut meskipun sejenak heran.
Tempatnya berada di jejeran ruangan-ruangan ekstrakulikuler, disini dinamakan club. Saat kami melewati club futsal, teman-teman Fajar menyapaku. Kata mereka, Fajar sering berbicara tentangku. Aku hanya tersenyum, padahal apa yang istimewa dariku hingga Fajar begitu terobsesi.
Fajar mengetuk ruangan yang bertuliskan ‘club band’. Seorang siswa laki-laki pelan membukanya, Fajar menyapanya. Sepertinya mereka saling kenal.
“Kau ingin bergabung disini?”
“Eh?” Aku buru-buru mengangguk. “Benar.”
“Baiklah. Ayo masuk dulu.”
Kami berdua memasuki ruangan yang penuh dengan peralatan musik. Sebenarnya ruangan itu cukup luas dibanding dengan ruang club sepak bola, namun karena banyak peralatan musik jadi terasa sempit. Gitar, gitar elektrik, keyboard, saxophone, bahkan drum. Ruangan ini sepertinya dibuat kedap suara. Ada dua orang siswa yang ada di ruangan selain kami bertiga.
“Namamu Angkasa, bukan?”
Aku mengangguk.
“Kenalkan namaku Awan. Laki-laki yang sedang serius menulis lirik lagu itu namanya kak Elang, kita biasanya panggil dia kak Lang. Lalu perempuan yang kerjaannya rebahan ini namanya kak Mawar. Mereka semua satu tingkat diatas kita.”
“Halo!” Kak Mawar menepuk pundakku. “Kenalkan aku vokalis disini, keren kan? Kau ingin mendengar suara merduku?”
“Dasar tak berguna. Kau ada di bagian itu karena kau tak bisa memainkan satu pun alat musik.” Kak Lang yang baru saja selesai menulis lirik memukul kepala kak Mawar dengan kertas. Dia kemudian memberiku kertas itu. “Kau harus mengisi formulir pendaftaran terlebih dulu, kemudian akan aku tandatangani, lalu menyerahkannya ke wali kelas. Kalau sudah disetujui, kau sudah menjadi anggota resmi kami.”
Aku mengambil formulirnya. Sudah jelas ketua club ini adalah kak Lang. “Baik.”
“Sebelum itu, aku ingin kau menunjukkan bakatmu.”
Aku menelan ludah, menatap Fajar. Fajar dengan polosnya mengangguk, menyemangatiku.
“Kau tak harus memainkan semua alat musik ini. Pilih saja yang kau kuasai.”
Aku mengangguk, berjalan menuju sudut ruangan, mengambil gitar akustik, tipe yang sama seperti gitar pemberian kak Jay. Aku sejenak mencoba kunci-kunci yang telah kuhafal. Aku menarik napas panjang, mengeluarkannya perlahan. Kak Lang, kak Mawar, Awan, dan Fajar, mereka semua menungguku. Aku mulai memetik gitar, memainkan nada yang biasanya kupakai saat mengamen.
“Aku tak pernah dengar nada itu sebelumnya.” Kak Mawar berseru. “Ini bahkan bisa dijadikan sebuah lagu. Kau yang membuatnya sendiri?”
Aku mengangguk.
“Keren!” Kak Mawar mulai antusias. Aku melirik Fajar, dia sama antusiasnya seperti kak Mawar.
“Baiklah sekarang isi formulirnya, Angkasa.” Kata kak Lang. “Aku akan langsung menandatanganinya sekarang.”
Aku buru-buru meletakkan gitar dan mengambil formulir.
Fajar menghampiriku. “Benar kan? Disini kau bisa mengembangkan bakatmu itu.”
Aku tersenyum. “Makasih, ini semua berkatmu.”
“Aku hanya membantu teman.” Fajar menepuk pundak Awan. “Kau tahu, sebelumnya Awan sempat galau karena club ini kekurangan anggota. Jadi dia meminta tolong padaku.”
Awan menggaruk kepalanya. “Eh, iya, itu benar. Aku berhutang budi padamu, Jar. Kau mau apa? Traktir mie ayam?” Awan menoleh padaku. “Kau juga ikut ya, Ang. Ini sebagai perayaan anggota baru.”
“Eh, baiklah. Terimakasih.”
“Apa apa? Kalian mau makan-makan tak mengajakku? Awan, kau benar-benar tak sopan dengan kakak kelas.” Kak Mawar mendengus.
Aku dan Fajar kompak tertawa. Tak butuh waktu lama, Fajar juga menemaniku menemui wali kelas. Dia sudah bagaikan kakak yang selalu mengawasi adiknya, padahal aku berulang kali menolak. Wali kelas langsung setuju mengingat club band kekurangan anggota. Aku resmi menjadi anggota club band. Awan menepati janjinya mentraktir semua anggota club band ditambah Fajar.
Hari-hari berlalu. Karena tak sekolah selama satu bulan lebih, aku ketinggalan pelajaran. Untung saja Fajar meminjamkan catatannya namun tahu sendiri kan bagaimana saat siswa laki-laki mencatat pelajaran, berantakan sekali. Apalagi Fajar yang tak begitu ada minat di bidang akademik.
Semua terasa lancar. Semua teman di kelas bersikap baik padaku, mereka sedikit banyak juga membantuku yang tertinggal pelajaran. Tak ada yang mengolok-olokku lagi, memukulku, membullyku lagi, itu semua bagaikan mimpi buruk bagiku. Aku merasa senang, ternyata ada orang-orang baik yang mau menerimaku.
Club band ada latihan rutin dua kali seminggu. Saat hari pertama latihan, aku membawa gitar pemberian kak Jay. Rasanya lebih nyaman saja memakai gitar itu daripada milik club, kak Lang mengizinkan. Saat hari libur pun, aku juga menyempatkan untuk mengamen. Uang yang kudapat lumayan untuk membuat penuh celenganku.
“Dua minggu lagi ada lomba.” Kata kak Lang.
“Eh serius? Ayo ikut!” Kak Mawar lagi-lagi bersemangat. Dia seakan-akan memiliki energi yang tak terbatas. “Apa saja persyaratannya?”
“Tak ada syarat khusus, hanya seperti biasa. Anggotanya juga maksimal 6 orang, boleh bawa alat musik sendiri dan kita bisa membawakan lagu bebas.” Kak Lang menatapku. “Ang, apa kau bisa bermain drum?”
“Aku belum pernah coba memainkannya.”
“Jadi gini, sepertinya kita tak membutuhkan keyboard.”
“Eh apa? Kau sudah punya rencana lagunya?” Tanya kak Mawar.
Kak Lang mengangguk.
“Ehhh jadi kau sudah merencanakan semua ini? Kenapa kau tak memberitahuku? Kenapa-“
“Lalu hanya ada empat posisi disini karena anggota kita hanya empat.” Potong kak Lang. Lihatlah sekarang kak Mawar sedang mendengus sebal karena diabaikan olehnya.
Aku ingin tertawa namun kak Lang menatapku serius.
“Mawar tentu saja vokalis karena dia benar-benar tak berguna di posisi alat musik. Lalu Awan gitaris, aku sempat menyuruhnya memainkan drum dan hasilnya hancur.”
Aku menatap Awan, dia hanya meringis sambil menggaruk kepala.
“Lalu aku sebenarnya bisa saja bermain drum namun aku tak bisa mempercayakan bassis padamu. Jadi bagaimana jika kau mulai belajar drum?”
Aku tertegun. Hei lombanya dua minggu lagi dan sekarang aku bahkan belum pernah menyentuh drum sama sekali. Apalagi jika dilihat-lihat, drummer adalah orang yang energik, tentu saja punya energi yang tiada tara. Sedangkan aku tak mempunyai energi sebanyak itu dengan tubuh kurusku.
Kak Lang menepuk pundakku. “Banyak drummer yang kurus, jangan khawatir.” Dia seakan-akan tahu apa yang kupikirkan. “Kuncinya adalah bagaimana kau bisa masuk ke dalam melodi yang kau mainkan. Seluruh tubuhmu nanti akan bergerak dengan sendirinya.”
Kak Mawar dengan polosnya mengepalkan tangan, menyemangatiku. Aku tahu, dia bersikap seperti itu karena dia ingin mengikuti lombanya dan memaksaku agar menempati posisi drummer yang kosong. Aku menoleh pada Awan meminta tolong, namun dia malah pura-pura tak lihat.
Ini semua membuatku gila!
aku bacanya nyicil ya kak, udah aku fav