Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.
Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.
Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Keperawanan
Malas rasanya ketika Nathania harus masuk ke dalam ruang kerja pribadi milik Elang, petang itu.
Adalah sebuah ruangan yang tidak sembarangan orang dapat masuk kesana, tanpa seizin si Tuan Besar.
Ruangan itu berdinding merah hati, dengan rak besar berisi puluhan atau mungkin ratusan buku. Entah buku apa yang dibaca oleh seorang Elang? Dan Nathania dapat memastikan, jika itu pastinya bukan sebuah novel romantis. Karena pria itu, tidak memiliki rasa manis sedikitpun dalam dirinya.
Di dalam ruangan itu juga terdapat 2 buah kursi di dekat jendela, dan sebuah sofa di bagian lainnya.
Nathania mengetuk pintu. Ia pun masuk dengan wajahnya yang menunjukan ekspresi tidak nyaman.
Kembali terdengar sebuah alunan lagu yang lembut dan enak di dengar dari Eric Clapton berjudul Tears In Heaven.
Sejenak Nathania berfikir. "Kenapa pria seperti Elang selalu mendengarkan lagu-lagu slow seperti itu?"
Elang saat itu tengah berdiri di dekat jendela kaca, seperti biasanya dengan satu tangan di dalam saku celananya.
Menyadari kehadiran Nathania, ia pun menoleh.
Nathania masih berdiri mematung. Ia menjaga jarak dari si Tuan Besar yang sudah membuatnya kehilangan harta berharga dalam hidupnya itu.
Tidak lama kemudian, Elang pun melangkah dan menghampiri Nathania yang kini berani menatapnya dengan tajam.
Kemarahan besar telah memberi gadis itu sebuah kekuatan, yang membuatnya mampu untuk tetap mendongakan kepalanya dengan berani.
Elang berdiri tepat dihadapan Nathania. Ia pun menatap lekat gadis itu. Gadis manis yang semalam meringis kesakitan dalam pelukannya. Dan sungguh, Elang tidak dapat melupakan ringisan itu.
Dan rintihan itupun, masih dapat ia dengar dengan jelas di telinganya. Suara-suara pada kemarin malam itu, masih selalu terngiang di pendengarannya.
Tidak ada senyum, ataupun sambutan hangat. Yang ada hanya tatapan sepasang mata tajam, namun menyiratkan sebuah kepuasan yang besar.
Sedangkan, Nathania masih dengan tatapan marah bercampur jijik yang terus menghujam diperasaan Elang, dan membuat hati si pemilik mata tajam itu sedikit tidak nyaman.
Akan tetapi, ia adalah Elang. Sosok kuat dan tangguh. Dan ia adalah penguasa.
Elang tidak akan terpengaruh oleh perasaan yang mengalun lembut, seperti lagu-lagu yang sering ia dengarkan.
Merasa puas dengan tatapan marah gadis itu, Elang pun melangkah menuju meja kerjanya.
Ia lalu mengambil sebuah amplop berwarna cokelat dari dalam laci meja kerjanya. Setelah itu ia kembali menghampiri Nathania.
"Aku rasa 50 juta terlalu murah untuk harga keperawananmu," ucapnya datar. Dan jelas itu membuat Nathania melotot tajam padanya.
"Ambil ini, 50 juta lagi!" Elang menyodorkan amplop itu kepada Nathania. Ia terlihat tidak merasa bersalah apalagi berdosa. Bahkan dengan tenangnya ia menyodorkan amplop itu kepada Nathania, yang berdiri menatapnya dengan sejuta perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.
Nathania melirik amplop itu sesaat. Kemudian ia kembali mengalihkan tatapannya pada wajah itu. Wajah tampan namun sangat menjijikan untuknya.
"Simpan uang Anda. Aku tidak menginginkannya.
Aku meminjam uang, bukan menjual keperawananku padamu!" Nathania menatap nanar pria itu.
"Kamu tidak perlu mengembalikan uang yang kupinjamkan kemarin. Dan ambil ini sebagai tambahannya!" Elang terus menyodorkan amplop coklat itu.
"Aku sangat menikmati malam itu, karenanya aku memberimu lebih," bisiknya di telinga Nathania.
Sangat menjijikan. Bagaimana bisa pria seperti Elang Adhitama Gunardi, bersikap serendah itu?
Nathania tidak habis fikir.
"Anda sangat menjijikan, Pak Elang. Aku mengundurkan diri dari pekerjaanku," ucap Nathania tegas, namun masih dengan nada yang rendah.
Wajah Elang tampak semakin serius. Tatapannya semakin tajam ketika mendengar ucapan Nathania barusan. Ia pun melangkah maju dan mendekati gadis itu. Gadis yang tidak lagi tertunduk saat berhadapan dengannya.
Nathania segera melangkah mundur. Namun, ia selalu kalah cepat dari gerakan seorang Elang.
Pria itu memegangi lengan kiri Nathania dengan kencang. Matanya tajam menusuk relung hati Nathania, dan membuatnya semakin terluka.
"Aku tidak akan membiarkanmu berhenti dari pekerjaan ini," ucap Elang dengan tegas.
"Kamu tahu sendiri, jika nenek hanya merasa nyaman jika kamu yang mengurusnya," lanjut Elang masih dengan tatapannya yang tajam.
"Jangan selalu menjadikan nenek sebagai alasan. Aku tidak tahu, apa masalah kalian berdua denganku? Sampai-sampai kalian bersikap seperti ini padaku. Kalian berdua adalah sepasang kakak beradik yang sangat menyebalkan," Nathania mulai berkata dengan sedikit tegas. Ia pun menepiskan tangan Elang dari lengannya. Ia tidak peduli meskipun pria itu adalah majikannya.
"Apa maksudmu?" tanya Elang tidak mengerti.
"Ya, kalian berdua," Nathania mencoba menahan tangisnya dengan sekuat tenaga, meskipun kini kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Nastya, adik kesayangan Anda. Dari dulu dia selalu menggangguku sewaktu di sekolah. Dia gadis sombong yang sangat menyebalkan dan tidak punya perasaan. Namun, sekarang aku sangat mengerti kenapa dia bisa bersikap seperti itu. Dan aku tidak akan merasa aneh, karena dia ternyata memiliki seorang kakak seperti Anda," Nathania berkata dengan lantangnya dan penuh keberanian dihadapan Elang.
Elang menatap Nathania dengan penuh kemarahan. Sebuah emosi yang mungkin sudah sangat memuncak. Dan itu tergambar jelas dari sorot matanya yang seperti anak panah berapi, yang siap untuk dilesatkan pada sasarannya.
Belum pernah ada seorangpun yang berani berbicara seperti itu kepadanya. Apalagi seorang gadis biasa seperti Nathania. Dan perkataan Nathania, tidak dapat ia terima begitu saja.
Akan tetapi, ia juga tidak tahu jika Nastya dan Nathania adalah teman satu sekolah. Dan perlakuan seperti apa yang sudah dilakukan Nastya kepada Nathania?
"Jaga ucapanmu! Kamu tahu bukan saat ini, kamu sedang berbicara dengan siapa?" bentak Elang tegas. Ia masih berusaha agar tidak sampai lepas kontrol. Bagaimanapun juga, ia tidak suka jika harus berbuat kasar kepada seorang wanita.
"Sekarang aku tahu siapa dan seperti apa Anda yang sebenarnya. Perbuatan Anda, nyatanya tidak sehebat nama besar Anda, Pak Elang Adhitama Gunardi," Nathania berkata dengan tegasnya.
Ia pun sangat sadar dengan perbuatan bodoh yang sedang ia lakukan saat ini. Ia tahu dan sudah dapat menebak. Ia sedang menempatkan dirinya dalam suatu masalah, karena telah berani menantang seorang Elang.
Refleks, Elang mengangkat tangannya dan bermaksud untuk menampar gadis yang ada dihadapnnya itu. Namun, tangan itu hanya sekedar terangkat dan tidak lama kemudian ia kembali menurunkannya.
"Kamu akan tahu akibatnya karena telah berani menantang seorang Elang!" ancam Elang dengan sangat tegas. Ia tidak melunakan nada bicara ataupun tatapannya sama sekali.
Sedangkan Nathania masih berdiri dengan tegarnya. Ia tidak gentar sama sekali. Rasa sakit yang menghujam jantungnya justru telah membuat dan memberinya sebuah kekuatan yang lebih.
Ia tidak peduli lagi dengan siapa kini ia sedang berhadapan.
"Aku tidak peduli siapa Anda. Aku juga sudah tidak akan ambil pusing dengan apa yang akan Anda lakukan padaku. Jika Anda mau, silakan bunuh saja aku sekarang juga. Karena hidupku sudah hancur, dan aku sudah seperti mati sejak kemarin malam."
Elang mendengus kesal. Ia pun melemparkan amplop berisi uang itu kehadapan Nathania.
"Ambil uang itu! Dan lupakan dengan uang yang sudah kupinjamkan kemarin padamu! Aku sudah menganggapnya lunas. Aku rasa itu harga yang sangat pas untuk membayar keperawananmu, ..."
plaaaak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Elang. Tamparan yang tidak pernah ia kira akan ia dapatkan dari seorang gadis biasa seperti Nathania.
Cukup bagi Nathania, untuk terus mendengar hinaan dari pria yang mengaku senagai pria terhormat itu.
"Mulai besok pagi, segera angkat kaki dari rumahku! Jangan sampai aku melihatmu lagi masih ada disini besok! Keluar dari ruanganku sekarang juga!" bentak Elang. Ia membalikan badannya dengan penuh emosi. Nafasnya tampak terengah-engah.
"Aku memang ingin segera pergi dari rumah ini," ucap Nathania.
Ia lalu memungut amplop yang tergelatak di lantai berlapis permadani tebal itu. Membalikan badannya, dan melangkah menuju pintu. Namun, sebelum keluar ia menyempatkan untuk melemparkan amplop itu ke dalam keranjang sampah yang ada didekat meja kerja Elang.
Puas hatinya telah melakukan hal seperti itu. Apalagi saat ia melakukannya, bersamaan dengan Elang yang menoleh padanya.
Nathania pun membuka pintu dan keluar tanpa berkata apa-apa ataupun menoleh lagi ke belakang.
Elang mengerutkan alisnya dengan tajam melihat apa yang dilakukan Nathania itu. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nathania sungguh telah berani melawannya dan membuatnya sangat marah.
Nathania kembali ke kamar Aida. Wanita tua itu telah tertidur pulas seperti seorang bayi. Namun, ia akan terbangun dengan tiba-tiba jika lampu kamarnya dimatikan. Karena itu, Nathania membiarkan lampunya menyala.
Nathania keluar dan berlalu menuju ke kamarnya.
Ia harus segera mengemas barang-barangnya, karena ia harus pergi pagi-pagi sekali.
Malampun kian larut. Akan tetapi, Nathania masih terjaga dari tidurnya. Ia pun memutuskan untuk keluar.
Kembali berjalan-jalan di dekat kolam renang.
Nathania, terduduk di tepian kolam renang. Ia memasukan kedua kakinya ke dalam air kolam yang dingin itu. Ia pun termenung.
Perlahan angin malam mulai menyapanya. Menggerakan rambut bagian depannya, hingga ia harus menyibakan poni samping itu dari keningnya.
Apakah yang Tuhan inginkan dari kehidupannya? Ia sudah sangat mendapatkan ketidakadilan selama ini.
Harus sekuat apalagi dirinya?
Ia sudah mencoba untuk menyembunyikan semua duka dalam hatinya. Ia mencoba tegar dan tidak membiarkan siapapun mengasihaninya.
Nathania hanya ingin menjadi wanita yang kuat, dan bisa menaklukan kerasnya hidup.
Ia terus duduk termenung, dan tidak menyadari jika ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dengan tajam, dari balik jendela kamarnya.
Sepasang mata Elang, yang sangat menakutkan.
Entah kenapa pria itu menjadi sangat tertarik untuk memperhatikan gadis dengan kepang samping itu.
Ia gadis biasa yang sudah berani menamparnya, di rumahnya sendiri. Ia gadis sederhana yang sudah berani menantang dan melawan tatapan matanya. Dan entah kenapa, karena kini Elang menjadi tertantang juga untuk membuktikan, seberapa kuat gadis yang terlihat lemah dan biasa saja itu.
Apakah gadis itu memang benar-benar sanggup melawanynya?
Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. Elang ingin sedikit bermain-main dengan gadis itu, dan mungkin memberinya sedikit pelajaran karena telah berani menamparnya.
Sudah lewat tengah malam, dan Nathania masih duduk sendiri di tepian kolam renang itu. Sepertinya, ia tidak ingin beranjak darisana.
Ia tidak peduli dengan kakinya yang mulai mati rasa, karena terlalu lama berendam di dalam air dalam cuaca yang semakin dingin.
Dan ia pun sepertinya harus melakukan itu pula pada hatinya.
Biarkan hati itu menjadi kuat, untuk setiap kesakitan dalam hidupnya. Biarkan tatapan itu menjadi tanpa rasa, agar ia tidak segan untuk melawannya.
Dan lihatlah. Siapa yang akan tetap berdiri tegak pada akhirnya nanti?
Siapa yang terakhir tersenyum, dialah pemenangnya.
Tetapi, ini bukanlah tentang siapa yang menang atau kalah. Ini adalah sebuah pembuktian dari sebuah tekad kuat seorang Nathania, dalam menaklukan waktu dan hidupnya.
Ini adalah keinginan besar Nathania, untuk melepaskan diri dari ketidakadilan yang selalu ia rasakan.
semangat selalu dalam menulis
cerita ini bikin baper banget