NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Satu Malam

Terjerat Cinta Satu Malam

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Irna Mahda Rianti

Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.

Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. What the fact?

Jangan lupa LIKE dan KOMEN ya ❤❤❤

Lima hari menjelang pernikahan ....

Pagi ini, tak seperti biasanya Hila murung dan lemas. Ia sangat tak berselera makan. Padahal, hari ini niatnya Hila dan Elang akan menuju tempat wedding organizer mereka. Hila dan Elang akan fitting baju. Tapi, jika kondisi Hila seperti ini, entah ia akan mampu pergi atau tidak.

Tiba-tiba saja, Hila merasakan dorongan dari perutnya, dorongan untuk memuntahkan seluruh isi dalam perutnya. Padahal, Hila belum sarapan dan ia baru saja bangun tidur. Dengan lemas, ia pun berjalan sempoyongan menuju toiletnya, berharap rasa mual nya akan segera hilang jika ia memuntahkannya.

Ya Tuhan, kenapa dengan perutku? Kenapa aku mual dan pusing seperti ini? Kumohon, jangan biarkan aku sakit. Aaarrgghhhh. Batin Hila sambil memegangi perutnya.

Hila enggan sarapan bersama orang tuanya, ia meminta pembantunya untuk menyediakan sarapannya ke kamarnya. Hila tak ingin diganggu, ia berkat ingin istirahat saja. Bibik pun masuk membawakan menu sarapan untuk Hila.

"Pagi, Non ... ini sarapannya," ucap Bibik.

"Iya, Bik. Makasih."

Bibik memperhatikan Hila yang hanya terbaring lemas, "Nona Hila sakit?"

"Aku cuma gak enak badan aja, Bik.Tenang aja, bilangin sama Mama, aku pasti akan datang bersamanya untuk fitting baju! Tak usah khawatir," Hila seakan tahu isi hati Bibik.

"Aaah, i-iya, Nona. Akan Bibik sampaikan pada Nyonya. Silahkan dimakan sarapannya, Nona ...." ucap Bibik.

"Ya, Bik," jawab Hila malas.

Bibik pun keluar dari kamar Hila. Hila enggan menyentuh sarapannya, karena ia begitu malas dan tak bersemangat pagi ini. Ia tak mempedulikan Elang yang akan menjemputnya untuk pergi bersama. Sarapan pun hanya ia lihat saja, bagaimana Elang yang terpaksa dijodohkan dengannya. Tak ada Elang sedikitpun didalam hatinya.

Tiga jam berlalu, kini waktu hampir menunjukan pukul sebelas siang, dan Hila masih belum juga beranjak dari tidurnya. Hila begitu lemas, ia hanya ingin terbaring di ranjangnya saja. Tiba-tiba, pintu kamar Hila ada yang mengetuk, dan Hila tak sadar, karena ia sedang terlelap. Pintu pun dibuka, karena Hila tak menguncinya.

Ternyata, Mama Hila yang mengetuk pintu, kemudian ia pun masuk masuk. Betapa Kagetnya Mama Hila, melihat Hila yang masih terbaring lemah di ranjangnya.

"Hila, Hil ... ini Elang sudah jemput kamu, loh. Kok kamu masih tidur aja sih? Ya ampun, kamu jangan kecewain dia dong!" Ujar Mama Hila yang bernama Dewi.

"Mmmhhhh, apa sih, Ma ...." Hila menggeliat.

"Hila, badan kamu panas. Kamu sakit, Hil?" tanya Mama Hila,

"Mmmhhh, enggak, kok." Hila pun tersadar, dan perlahan membuka matanya.

"Ya ampun, ini juga sarapan kamu masih utuh begini. Kamu gimana sih, Hil? Kenapa gak bilang kalau sakit! Itu Elang udah nunggu didepan, masa kamu mau batalin fitting bajunya gitu aja?" mama Hila terlihat kecewa.

Hila pun bangkit dari tidurnya, "Mama memang tak pernah memikirkan kondisiku sedikitpun. Yang Mama pikirkan hanyalah perjodohan, dan perjodohan, agar keluarga ini dipenuhi dengan uang karena perjodohan memuakkan itu. Bahkan, sekalipun aku sakit, kalian tak peduli padaku. Baiklah, aku akan pergi sekarang! Suruh dia tunggu aku 15 menit lagi. Mama, keluarlah dari kamarku! Aku akan bersiap," ucap Hila malas.

"Hila, bukan gitu maksud Mama ...."

"Udah Ma, Mama keluar aja sekarang. Aku mau siap-siap," Hila menahan mual dan muntahnya yang terasa lagi.

Mama Hila enggan beranjak dari kamar anak bungsunya, ia merasa bersalah karena tak memikirkan kondisi Hila saat ini. Tak lama, Mama Hila mendengar suara Hila mual-mual dan muntah. Ia pun begitu kaget, ternyata anaknya memang sakit.

"Ya Tuhan, sepertinya Hila memang sakit. Rupanya, aku keterlaluan tak mempercayainya. Kurasa, Elang harus mengantarnya ke rumah sakit untuk diperiksa. Sebelum mereka fitting baju, Hila harus ke dokter dulu. Baiklah, akan kuberi tahu Elang sekarang!" Mama Hila pun beranjak pergi dari kamar Hila, untuk memberi tahu Elang.

Beberapa menit kemudian, Hila pun telah selesai dan mulai keluar dari kamarnya. Ia memaksakan diri, padahal tubuhnya begitu lemas belum terisi makanan sama sekali. Ia pun membuka pintu kamarnya, betapa kagetnya ia melihat Elang sudah berdiri dihadapannya.

"Ka-kamu, ngapain nunggu disini, ha?" Hila sedikit kaget.

"Kamu sakit? Aku antar berobat, soal fitting baju, sudah aku undur menjadi jam dua. Ayo, kita ke Rumah sakit dulu, kamu harus berobat, Hil." Ajak Elang.

"Tak perlu! Aku tak kenapa-napa, kita langsung ke butiknya saja!" Jawab Hila malas.

"Kumohon jangan menak, karena ini perintah Mamamu, ini bukan kemauanku!" Ujar Elang.

Hila berdecak kesal, "Terserahlah!"

Mereka pun naik mobil bersama. Hila tak bisa menolak, karena ini sudah perintah dari Mamanya, bahwa ia harus ke Dokter. Elang pun mau tak mau harus mengantar Hila, karena Bu Dewi yang memaksa. Mungkin, seharian ini mereka memang harus terus bersama.

Sebenarnya, aku ini kenapa sih? Aku sakit apa? Kenapa tiba-tiba aku merasa tubuhku tak enak begini. Ah, iya ... aku sudah telat haid, hampir seminggu. Astaga, kenapa aku baru ingat? Ya Tuhan, tadi pagi? Aku mual dan muntah, bukan? Ya Tuhan ... apa jangan-jangan, sebenarnya aku ini? Hila mencoba mengira-ngira dalam hatinya.

Hila menatap Elang yang sedang mengemudi, "Lang, langsung ke butik aja deh. Aku udah baikan sekarang, gak perlu ke Dokter!" Hila sedikit takut.

"Hil, sorry, mau kamu ngomong apapun, aku akan tetap mendengarkan ucapan Bu Dewi, untuk mengantarmu berobat." Tegas Elang.

"Tapi itu hanya buang-buang waktu, Elang! Aku sibuk, aku tak punya banyak waktu. Kita langsung ke butik saja," rayu Hila.

"Tak perlu memikirkan fitting baju, diundur lagi pun bisa. Yang tak bisa diundur itu membawamu berobat ke Dokter. Kumohon, jangan banyak bertanya dan diam saja!" Tegas Elang.

Ya Tuhan, kenapa aku jadi takut? Kenapa hatiku tak ingin pergi ke Dokter?Mungkinkah semua perkiraan ku benar? Tuhan, tolong aku ....

Setengah jam kemudian, Hila dan Elang telah sampai di rumah sakit. Elang pun melakukan pendaftaran VIP untuk Hila, agar tak memakan waktu lama. Hila sedikit bingung, ia benar-benar takut untuk bertemu dokter. Hal yang ditakutkan pun, sedikit lega, karena perawat hanya mempersilahkan Hila masuk, namun Elang menunggu diluar.

Selamat, untung Elang tak ikut masuk. Batin Hila.

Perawat mengajak Hila masuk, dan Hila pun mulai diperiksa oleh Dokter. Hila sedikit heran, kenapa Dokter begitu sering memegangi perutnya. Ia tetap berharap, hal yang ditakutkan olehnya, tak akan terjadi.

Elang menunggu diluar sendirian. Elang sudah bertekad, karena hanya menghitung hari mereka akan menikah, Elang akan mencoba mencintai Hila dan menyayanginya. Karena, walau bagaimanapun, baik atau buruknya Hila, ia adalah calon istri Elang.

Mungkin, aku harus membuka hatiku untuknya. Mungkin, dia juga pasti bisa menjadi istri yang baik, jika aku belajar untuk mencintainya. Ya, walaupun saat ini cinta belum hadir, aku akan mencobanya. Mencoba mencintai Hila, calon istriku ....

Selang beberapa menit, sang perawat keluar dari ruang Dokter, dan meminta Elang untuk masuk. Elang heran, kenapa dirinya diminta masuk, ia sedikit bingung, namun ia pun menuruti permintaan perawat itu.

"Selamat siang," sapa Elang ketika masuk ke ruangan sang Dokter.

Elang melihat Hila sedang duduk di depan Dokter tersebut, dan Dokter mempersilahkan Elang untuk duduk disebelah Hila. Dokter itupun menyapa Elang,

"Siang Pak," Dokter itu tersenyum.

Elang membalas senyuman Dokter itu.

"Saya akan memberi tahu sesuatu, kalian pasti bahagia mendengarnya." Ucap Dokter itu.

ASTAGA ... Hila begitu kaget,

"Apa, itu Dok?" tanya Elang.

"Maaf sebelumnya, dengan Bapak siapa ya?" tanya Dokter itu lagi.

"Saya, Elang ...."

"Iya, baiklah, selamat berbahagia ya Bu Hila dan Pak Elang." Dokter itu tersenyum lagi.

Bahagia kenapa? Apa dia sudah tahu, bahwa aku dan Hila akan segera menikah? Batin Elang.

Elang mengernyitkan dahinya, "Maksudnya, Dok?"

Ya Tuhan ... aku berserah padaMu. Terserah, akan jadi apa diriku ini. Aku hanya bisa pasrah. Kenapa mereka harus memanggil Elang kesini. Hila menggigit bibirnya saking ketakutan.

"Iya, selamat Pada Pak Elang dan Bu Hila, karena sebentar lagi kalian akan menjadi seorang Ibu dan Ayah ...." Jawab sang Dokter.

"APA?" Elang masih tak mengerti, dan tak tahu menjurus kemana pembicaraan Dokter itu.

Dokter tersenyum lagi, "Pasti Pak Elang tidak menyangka ya, istri anda, Bu Hila, kini tengah hamil ... usia kandungannya sudah empat minggu, selamat ya sekali lagi. Kalian memang pasangan romantis. Terlihat begitu cocok." Ucap Dokter itu menjelaskan.

"HAHHHH?" Elang benar-benar shock mendengar penjelasan Dokter itu.

Hila menghela nafas panjang, Mungkinkan ini akhir dari kehidupanku? Mungkinkah aku akan mati saat ini? Apa Papa akan membunuhku?

*Bersambung*

1
falea sezi
g rela jalang Bianca dpet gata
falea sezi
males deh di bkin mati anaknya/Shame/
falea sezi
hmmmm emank murahan klo g murahan g bsa hamil uda jalang sombongnya
Nur Aini
Luar biasa
Nur Aini
Lumayan
Sovi Yana
keren ceritanya lanjutan elang
Pitri Minarti
duh gara kata katanya menyejukkan banget👍💚
Pitri Minarti
sedih banget😭😭😭
Eka Rauf Ginting
capek capek baca bayinya meninggal.. alur ceritanya jga bertele tele..
ningnong
😭😭😭😭😭
SR.Yuni
Demi nama besar rela korbankan kebahagiaan anak, anak akhirnya cari jalan keluar yg salah dan fatal akibatnya. Mendidik anak bukan berarti menentukan jalan hidup anak.
Sri Widjiastuti
indahnya pengorbanan!!
Sri Widjiastuti
Aamiin.... setuju calista
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
kluarga gara sama jg dng keluarga sahila lebih mementingkn harta
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
aq kok kasihan sama sahila ya
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
dasar pengecut sagara, gue benci laki2 kek bgtu, pengen ku bejet2
Ernawati
iiihhh davian kok gitu sih
Ernawati
semoga gata dapat wanita yg baik karna dia sulit jtuh cinta
Chandra-Jelita
author nya ternyata termasuk gemar nonton sinetron, sampai jadi referensi di ceritanya 🤔🤣🤣🤣🤪
Kadek Bella
gimana lanjutannya Calista sama elang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!