18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Seperti desir angin yang berhembus
Seperti aliran air yang bermuara ke hilir
Seperti api yang membakar kayu
Seperti itu lah kehidupan di dunia ini
Semua telah diatur oleh Sang Maha Kuasa.
*
Somalia mendengar suara Fani di sekitarnya. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan dua orang sedang bersitegang. Matanya sedikit terpincing lantaran mendapati lelaki yang beberapa waktu lalu sempat bersitegang dengannya. Untung saja ini berada di daerah kekuasaannya, jadi Somi memiliki power untuk menghadapi bungkus Indomie tersebut.
"Fan, tolong atur undangan-undangan ini ke tempat yang sudah disediakan!" Ia melambaikan tangannya ke arah Fani yang masih duduk di sebelah kakak lelakinya. Dan Somi menyuruh staff undangan tersebut untuk mengikuti perintah Fani. Sedangkan dirinya sendiri bergegas meninggalkan kantornya setelah sedikit mencibir kedua orang yang nampak enggan untuk berpindah tempat.
"Mbak mau ke mana?" Fani mengikuti langkah kaki Somi menuju parkir mobil wanita berdarah Pakistan tersebut. Ia tak ingin membuang waktu berharga yang sudah Tuhan berikan untuknya. Waktu berharga di mana sang kakak bisa hadir di tempatnya bekerja dan yang lebih mengejutkan bosnya tak membahas masalah malam itu. Fani masih berharap kedua bisa bersama meski harus dengan sejuta taktik jitu.
Somalia membalik badannya untuk menjawab pertanyaan dari Fani, "Aku akan menemui beberapa sponsor bunga, kamu tahu sendiri bukan? Saat pandemi seperti saat ini banyak supplier bunga yang alih profesi,"
"Aku akan menemanimu Mbak, kita bisa pergi bersama?" tutur gadis itu masih tak mau melepaskan umpan yang sudah ia tebar dengan sungguh-sungguh.
Tak perlu menunggu persetujuan dari sang atasan, Fani langsung menerobos ke dalam mobil Somalia. Ia sengaja meninggalkan Gandhi begitu saja, tunggu saja apa yang akan ia perbuat untuk mengerjai kedua targetnya.
Somalia, wanita berhati lembut tersebut kini menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia harus rela menerima ajakan Fani begitu saja. Sebenarnya ia ingin menyuruh Fani untuk tetep di kantor, karena beberapa pesta pernikahan yang akan mereka urus masih membutuhkan tenaga untuk dikerjakan.
*
Keduanya kini mengunjungi pihak sponsor untuk pengadaan bunga. Somi dan Fani mendengarkan dengan seksama nasehat bisnis dari seorang wanita tua yang sudah puluhan tahun berjualan bunga. Di masa-masa sulit seperti sekarang ini, kita harus menciptakan sebuah inovasi supaya kita tak tergerus dengan jaman.
Dengan senyum terukir indah di kedua bibir Somi dan Fani, hal tersebut memiliki arti bahasa keduanya berhasil mendapatkan dukungan dari pihak sponsor bunga. Kesepakatan harga sudah di terima, kini keduanya akan melanjutkan pekerjaan yang sudah menumpuk untuk ditangani dengan segera.
Sebelum meninggalkan toko bunga milik sponsor tersebut, Somi memilih salah satu buket bunga tulip yang akan dia berikan untuk mamanya. Setelah gagalnya pernikahan antara Somi dengan Alex, mama Somi sering terlihat murung dan jarang keluar rumah. Hal tersebut membuat Somi khawatir, oleh karena itu ia ingin menyenangkan hati sang mama.
"Pasti mamanya Mbak Somi menyukai bunga ini, ini sungguh indah!" Fani memuji ketrampilan Somi dalam memilih buket bunga yang akan diberikan untuk mamanya.
Namun ada hal yang sedikit mengganjal di hati Somi, sejak tadi ia ingin menanyakan suatu hal pada Fani. Namun ia lupa karena asik mendengarkan ibu penjual bunga.
"Fani, kamu sudah membayar ganti rugi untuk biro jodohnya bukan? Lalu mengapa lelaki sialan itu masih meminta ganti rugi?" Somi berpikir kedatangan Gandhi ke kantornya ialah untuk meminta ganti rugi sebab ia dengan sengaja meninggalkan acara perjodohan yang ia anggap diatur oleh biro jodoh.
Fani yang saat ini sedang mengemudi langsung menginjak rem mobil Somi karena pertanyaan dadakan dari sang atasan. Pertanyaan tersebut mengagetkan Fani. Ia tak tahu dari mana ia akan menjelaskan salah paham ini pada bosnya.
Belum sempat Stefani menjelaskan duduk permasalahannya pada Somi, sebuah panggilan masuk ke handphone miliknya. Meski ia sedang mengemudi, ia langsung mengangkatnya karena takut ada hal penting.
"Apa? Mama kambuh? Di rumah sakit mana?" cecar Fani pada si penelpon tersebut. Untung saja ia mampu menetralisir keadaan. Segera ia menepikan mobil Somi yang saat ini sedang ia kendarai.
"Mbak, aku ke rumah sakit dulu ya, setelah melihat keadaan mamaku kita bisa kembali ke kantor?" pinta Fani pada atasannya. Gadis itu terlihat memohon pada Somi untuk di beri kelonggaran waktu.
"Oke Fan, kamu urus saja masalah mamamu dahulu. Biar aku naik kendaraan umum saja!" sahut Somali menyambar tas yang ia taruh di pangkuannya. Sebagai seorang bos, ia tak bisa tinggal diam bila salah satu staffnya dalam kesulitan.
"Tunggu Mbak ... temani aku, hanya sebentar saja setelah melihat keadaan mama, kita bisa kembali ke kantor." bujuk Fani menghalangi kepergian Somi. Gadis itu menahan tangan Somi sebelum atasannya keluar dari mobilnya.
"Kenapa? Pekerjaanku masih banyak Fan!" seru Somalia, wanita itu heran dengan sikap manja staffnya. Tumben sekali Fani ingin meminta dirinya untuk ikut menemani kegiatannya. Biasanya anak itu selalu tak ingin hal pribadinya diketahui orang lain.
Tatapan mata Fani begitu membelenggu Somi, entah darimana gadis itu belajar untuk memperbaharui perasaan seseorang. Nyatanya Somi tak melawan permintaan dari Fani. Somi tak tega bila melihat orang lain menderita, itu merupakan kelemahan terbesarnya. Dan itulah yang membuat ia jatuh pada orang yang tak tepat.
Keduanya kini tiba di salah satu rumah sakit swasta di kota ini. Somi mengikuti langkah Fani yang sedikit berlari tergesa-gesa lantaran mengkhawatirkan sang mama. Sangat jelas ada sebuah rasa takut di mata ayunya. Gadis itu ternyata sangat menyayangi sang mama.
Tanpa disadari oleh keduanya, seorang dengan langkah kaki tak kalah tergesa mendahului keduanya. Tak mau kalah, Fani pun menyamai posisi berjalan sang kakak lelaki. Dan di sini orang yang paling merasa aneh adalah Somi.
Ia masih memikirkan ada hubungan apa antara kedua orang yang tampak khawatir, keduanya menampakan wajah yang sangat serius lebih dari pada biasanya.
Fani mendahului sang kakak lelakinya masuk ke kamar sang mama diikuti oleh Gandhi dari belakang. Sedangkan Somalia? Wanita berparas cantik itu masih di depan ruang rawat mama Fani sambil membawa sebuket bunga. Mendengar mama Fani masuk rumah sakit, Somi berinisiatif memberikan bunga yang akan ia berikan pada sang mama untuk mamanya Fani. Karena ia tak ingin berkunjung dengan tangan hampa.
Dokter sedang memeriksa nyonya Linda, nama dari mama kedua kakak beradik yang selalu tak akur tersebut. Senyumnya mengambang ketika putra putrinya mau hadir di waktu yang bersamaan atas kemauannya.
"Ini bukan hal buruk, kondisi Bu Linda sudah stabil. Hanya kelelahan dan kurang beristirahat!" jelas seorang dokter yang memeriksa mama Linda pada kedua kakak beradik tersebut.
"Syukurlah, mama membuang waktuku saja," sahut Gandhi dengan ketus seperti biasanya.
Menyadari bahwa sang bos tak terlihat di sekitarnya, Fani berinisiatif mengajak Somi menemui mamanya. Sekalian ia ingin mengenalkan sang mama pada atasannya. Atasan yang pernah ia dan mamanya jebak untuk menjadi calon istri kakaknya.
Fani lalu berjalan ke luar kamar guna mengajak Somi untuk mengunjungi mamanya. Hari ini pokonya ia harus berhasil, berhasil untuk mempertemukan sang mama pada Somi.
Meski Somi enggan untuk menerima permintaan dari Fani, namun lagi-lagi ia tak kuasa menolak permintaan Fani.
Nyonya Linda melihat kedua wanita yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inapnya. Ia begitu terkesima melihat wajah rupawan dari Somalia. Nyonya Linda tak berkedip menatap wajah menawan itu.
Betapa beruntungnya Gandhi bila ia mampu menjerat cinta wanita itu gumam nyonya Linda.
"Mama ... ini ...." ucap Fani ingin mengenalkan sosok Somi pada mamanya.
"Calon menantu mama?"
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi