Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Mama, jangan bicara seperti itu! Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mencerai kan Nadila!" Irfan berkata dengn tegas.
"Kenapa mas? Kau takut hidup dalam kemiskinan?" Tanya Nadila dengan nada suara yang penuh dengan ejekan.
"Cukup Nadila, jangan pernah bicara lagi tentang perceraian. Kau akan menjadi ibu dari anak ku dan Rani, dia akan tumbuh di dalam asuhan mu!" Irfan bicara yang semakin ngawur.
"Aku hanya akan menjadi ibu dari anak ku, bukan anak orang lain!" Tegas Nadila lagi.
"Wanita mandul seperti mu tidak akan pernah menjadi ibu!" Rani mengejek Nadila.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rani, Mama Nilam melangkah maju mendekati Rani. Mata nya di penuhi dengan kemarahan yang memuncak.
"Jika memang putri ku di takdir kan untuk menjadi wanita mandul, itu lebih baik dari pada diri mu. Di jamah banyak laki - laki, bahkan kau sendiri tidak tahu siapa ayah biologis dari bayi yang ada di dalam perut mu itu!" Mama Nilam berkata dengan penuh penekanan.
"Ini adalah anak nya mas Irfan, jangan bicara. sembarangan kamu!" Rani berkata dengan gugup.
"Oh ya, benar kah? Lalu siapa laki - laki yang berpelukan dengan mu hari ini?" Tanya Mama Nilam lagi sambil menaik kan alis nya.
Rani terkejut mendengar ucapan Mama Nilam, dia heran bagai mana wanita itu bisa tahu jika hari ini dia melayani pelanggan nya. Tapi bukan Rani nama nya jika dia tidak berhasil mengalihkan pembicaraan.
"Aduh, perut ku sakit sekali, tolong aku mas!" Tiba - tiba Rani merintih sambil memegangi perut nya.
"Rani kamu kenapa Rani?" Tanya Irfan yang mulai cemas.
"Mas perut ku sakit benget, tolong aku mas!" Rani terus merintih sambil memgangi perut buncit nya.
"Kita ke dokter malam ini!, Nadila mana kunci mobil aku akan membawa Rani ke dokter malam ini?" Irfan menadahkan tangan nya pada Nadila.
"Bawa saja dia naik taksi, jangan kotori mobil ku!" Nadila menolak permintaan suami nya.
"Jangan keterlaluan kau Nadila!" Bentak Irfan dengan suara menggelegar.
"Turun kan suara mu di hadapan ku, atau akan ku jadikan kau gembel di jalanan bersama gundik mu!" Balas Nadila dengan tatapan yang penuh dengan keberanian.
"Sudah lah mas, antarkan saja aku ke kamar. Mbak Nadila memang tidak menyukai ku!" Rani kembali berakting untuk menarik perhatian Irfan.
"Ayo sayang!" Irfan tidak punya pilihan lain saat ini.
Irfan menuntun Rani dan membawa nya ke dalam kamar, sementara Rani tersenyum puas karena niat nya berhasil. Rani sengaja mengalihkan perhatian Irfan, karena dia tidak mau apa yang dia lakukan hari ini ketahuan oleh Irfan.
'Sialan, bagai mana dia bisa tahu kalau aku keluar hari ini? Bisa hancur semua rencana ku jika dia mengadukan nya pada mas Irfan, apalagi jika si nenek tua itu punya bukti nya!' Batin Rania di dalam hati.
Irfan dengan hati - hati mendudukkan Rania dia atas tempat tidur, tidak lupa dia juga menaikkan kaki Rani ke atas kasur. Rani merasa sangat senang, karena usaha nya berhasil.
"Sayang, apa masih sakit? Aku sangat khawatir dengan anak kita?" Tanya Irfan dengan nada cemas.
"Masih mas, tapi rasa nya tidak sesakit tadi. Mas mungkin karena aku lapar, aku belum makan sejak siang tadi!" Rani berkata sambil menunduk kan kepala nya.
"Maafkan mas sayang, karena sudah beberapa hari ini mas tidak begitu memperhatikan makana mu!" Irfan merasa bersalah pada Rani dan juga bayi nya.
"Aku tahu mas sibuk, tapi seperti nya mbak Nadila dan Mama nya sengaja membuat aku kelaparan di rumah. Mereka berdua selalu keluar, sedang kan di rumah tidak ada bahan makanan sama sekali!" Rani berkata dengan suara yang sengaja di buat sesedih mungkin.
"Rani, mulai malam ini kau dan anak kita tidak akan pernah kekurangan lagi. Aku akan mentransfer uang ke rekening mu, kau bisa pesan makanan saat aku tidak ada di rumah!" Irfan berkata sambil menggenggam erat tangan Rani.
"Terima kasih mas, aku bahagai memiliki suami seperti mu!" Rani pun langsung memeluk tubuh Irfan.
Rani tersenyum puas di dalam pelukan Irfan, dia telah berhasil membuat laki - laki ini tidak bisa lepas dari nya.
'Nadila, lihat saja Nadila. Mas Irfan hanya akan menjadi milik ku, hanya milik ku. Akan ku pastikan kau dan Mama mu itu akan ku tendang keluar dari rumah ini, rumah ini hanya milik ku dan anak ku. Permainan sebenar nya baru saja di mulai Nadila!' Batin Rani sambil tertawa puas.
"Mas, aku laper mas!" Rani mengurai pelukan Irfan dari nya.
"Kamu tunggu dulu ya sayang, mas akan pesan makanan dulu!" Jawab Irfan.
"Iya mas!" Jawab Rani sambil mengangguk kan kepala nya.
Irfan langsung mengutak- atik ponsel nya, dia memesan makanan untuk diri nya dan juga Rani.
"Sudah sayang, tunggu sebentar lagi ya!" Irfan meletakkan ponsel nya di atas nakas.
"Mas kamu mau kemana?" Tanya Rani saat dia melihat Irfan yang sudah berdiri dari tempat duduk nya.
"Mas mau keluar sebentar!" Jawab Irfan.
"Mas, jangan tinggal kan aku sendiri malam ini. Aku takut Nadila dan Mama nya akan melakukan sesuatu pada ku!" Rani sengaja berkata seperti itu agar Irfan tidak keluar.
"Rani, tidak akan ada yang bisa menyakiti mu. Mas ada di sini, siapapun itu, termasuk Nadila dan juga Mama nya!" Irfan berkata pada Rani.
"Tapi mas, aku tetap saja merasa takut, aku mau mas Irfan di sini malam ini menemani aku!" Rani berkata sambil menahan tangan Irfan.
"Baik lah aku akan tetap di sini!" Melihat ketakutan di wajah Rani, Irfan pun menjadi tidak tega.
Melihat Irfan yang tidak jadi keluar, Rani tersenyum puas. Rani memang sengaja menahan Irfan tetap berada di dalam kamar nya, dia takut jika Mama Nilam sampai mengadukan pada Irfan tentang pertemuan nya dengan pelanggan nya siang tadi.
Karena Rani yakin, Mama Nilam pasti punya bukti nya. Jika tidak maka dia tidak mungkin bisa berkata seperti ini.
'Malam ini aku harus bisa menahan mas Irfan agar tetap di sini. Jangan sampai mas Irfan bicara lagi dengan Nadila dan Mama nya. Karena aku yakin banget dia pasti melihat ku tadi siang, jika tidak tidak mungkin dia tahu aku bersama om Pras!' Batin Rani di dalam hati.
Dreeeettt, dreeeettt, dreeettt.
Ponsel Irfan yang ada di atas nakas berdering, Irfan bergegas meraih nya.
"Sayang kamu tunggu di sini ya, mas ambil makanan nya dulu di luar!" Ucap Irfan.
"Iya mas!" Jawab Rani sambil mengangguk kan kepala nya.
Irfan langsung pergi keluar, untuk mengambil makanan pesanan mereka. Saat ini kurir nya sudah datang mengantarkan nya di depan pintu.
mungkin arsen gk megang perusahaan jd gk tau apapun ttg bpk nya 🤣.
berarti Arsen gk punya kuasa. bpk nya sampe beli rumah buat gundik dia gk tau. berarti perusahaan seratus persen yg nangani bpk nya.
Arsen berarti gk punya kedudukan 🤣 Dan kuasa sama sekali.