Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayu
Evans ingin mampir ke rumah Erika agar dapat lebih mudah mengenal gadis itu. Sayangnya, Erika menolak dengan alasan terlalu cepat padahal mereka baru berkenalan. Ya, Evans dapat memakluminya. Melihat Erika sudah memasuki gang, Evans segera melajukan mobilnya menuju rumah. Sesampainya di lokasi, Evans segera memasuki pintu utama. Namun, pelayan rumah dengan terburu-buru menemui Evans.
"Bibi. Ada apa?" tanya Evans melihat bibi terburu-buru.
"Nona Alexa datang dan sedang menunggu Den Evans."
Degg..! "Buat apa dia kemari?" Evans sedikit mengernyitkan dahi. Seketika wajah Evans menjadi sendu.
"Katanya ada yang mau dibicarakan sama Den Evans."
"Hmmm. Ya sudah kalau begitu, Bi." Evans menghela nafas pelan.
"Kenapa dia begitu keras kepala?"
Evans melewati ruang tamu dan bergegas memasuki ruang tengah. Belum sampai ke tujuan, tiba-tiba Alexa datang dan langsung mengecup bibirnya dengan lembut. Jantung Evans berdegup. Sebenarnya ada kerinduan yang terpendam di hati Evans pada mantan kekasihnya itu. Namun dia sudah berat untuk membuka hatinya kembali.
"Apa kamu bisa bersikap lebih sopan padaku?" ucap Evans datar sambil mendorong pelan Alexa agar menjauh dari tubuhnya.
"Aku merindukanmu, Evans." Alexa mendekat, menyentuh leher Evans dengan lembut lalu mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Evans kembali.
"Stop Alexa. Buat apa kamu kemari lagi?" Sekali lagi Evans mendorong pelan tubuh Alexa agar menjauh dari tubuhnya.
"Aku dengar kamu sudah putus dari Lisa." Alexa memulai inti pembicaraan.
"Terus?" tanya Evans datar.
"Sekarang kamu sudah tahu kan kalau Lisa itu tidak baik? Aku jauh lebih baik darinya."
"Dari awal aku sudah tahu dia bagaimana, tapi aku menunggu saja sampai kamu sadar sendiri, Evans."
"Kamu dan Lisa itu nyaris sama saja." Evans menghela nafas. "Ah, sudahlah. Aku tidak suka membahas sesuatu yang sudah berakhir. Lebih baik kamu pergi sekarang," ucap Evans kemudian seraya bergegas melangkah meninggalkan Alexa.
"Apa kamu tahu? Orang tuaku dan orang tuamu sekarang sedang berada di rumahku. Mereka sedang membahas hubungan kita kembali."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Evans masih tetap membelakangi Alexa.
"Kita akan bertunangan. Kerja sama bisnis Papa dan Om akan lebih mudah kalau kita kembali bersama, Evans," jelas Alexa penuh harap.
"Aku tidak setuju. Pulanglah," jawab Evans tanpa menoleh ke belakang. Evans berjalan terus menuju lift. Mata Alexa berkaca-kaca.
Alexa berjalan dengan cepat mendahului Evans dan langsung memeluknya erat. "Aku mencintaimu Evans. Tolong mengerti perasaanku. Berikan aku kesempatan." Alexa memelas sedikit terisak.
"Kamu mencintaiku atau perusahaan papamu? Bukankah karena menyelamatkan perusahaan papamu makanya kamu meninggalkanku dan berpacaran dengan si duda itu? Kamu pikir keluargaku tak sanggup menolong kalian? Sekarang, demi bisnis yang baru, kamu malah mengajakku bertunangan." Evans tak habis pikir melihat tingkah Alexa. Bagaimana bisa dia mencintai perempuan yang seperti ini?
"Tidak, tidak. ini bukan hanya karena masalah bisnis. Aku memang masih mencintaimu, Evans!" Tak peduli Alexa berkata apa, Evans dengan cepat melepaskan pelukan Alexa dan langsung memasuki lift.
Sesampainya di lantai dua, dia segera melangkah masuk ke kamarnya sendiri dan merebahkan diri di ranjang. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Tetapi, belum ada beberapa menit, pintu kamarnya terbuka. Ceklek! Sontak Evans langsung bangkit duduk. Alexa datang mendekat.
"Kamu mau apa? Keluar segera dari kamarku!" ucap Evans tegas.
Alexa hanya diam tetapi setelah mengunci pintu, dia menanggalkan pakaiannya satu per satu. Alexa memang berparas cantik dan elegan.Tanpa membuka baju pun, semua orang juga tahu, bahwa Alexa memiliki bentuk tubuh yang seksi. Apalagi saat ini! Evans seperti tidak berkutik. Pikiran Evans tak mampu lagi berjalan dengan baik. Alexa merayu dan menggodanya dengan kata-kata yang sensual.
Masa bodoh dengan rasa sakit hati. Masa bodoh dengan pengkhianatan. Akal sehatnya dalam sekejap runtuh, dikalahkan oleh nafsu berbalut cinta yang penuh kerinduan. Dengan cepat, posisi mereka berbalik dengan Evans yang langsung menyerang Alexa.
•
•
Suasana di kamar itu rasanya semakin panas tidak terkendali.
Tetapi, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar . Tok tok tok tok..
"Den Evans." Pelayan memanggil. Menunggu sebentar tetapi tidak ada jawaban membuat pelayan mengetuk kembali dengan lebih keras.
Tok tok tok tok..!
Ketukan-ketukan pintu yang mengganggu, dengan segera mengembalikan akal sehat Evans. Sontak Evans bangkit berdiri dan merapikan dirinya.
"Cepat pakai pakaianmu!" seru Evans dengan nafas tidak beraturan. Alexa dengan wajahnya yang memerah, langsung cepat-cepat memakai pakaiannya.
"Den."
Tok tok tok tok. Suara ketukan kembali terdengar.
"Iya, Bi. Ada apa?" tanya Evans dari dalam kamar tanpa membuka pintu.
"Nona Lisa ada dibawah, Den."
Evans terkejut mendengarnya. Sejenak dia berpikir, matanya memandang Alexa yang dengan cepat menggeleng tidak setuju. Mata Alexa bermohon agar Evans tidak menemui Lisa.
"Suruh dia menunggu, Bi. Aku akan menemuinya," putus Evans masih tetap menatap Alexa. Alexa yang mendengarnya langsung berwajah nanar. Rasa kecewa besar menyelimuti hati Alexa setelah apa yang telah dia lakukan untuk menggoda Evans ternyata sia-sia. Tidak tahukah Evans seberapa berat perjuangan Alexa agar dapat melakukan itu?
"Iya, Den," jawab pelayan lalu segera pergi.
"Evans. Kau?" Alexa meneteskan air mata.
"Kenapa? Apa cuma dengan cara seperti ini kamu mengungkapkan perasaan palsumu?" tanya Evans mulai terbawa emosi. "Apa kamu ingin menjebakku? Lebih baik kamu pergi sekarang. Jangan gunakan cara licik seperti ini. Karena aku akan membencimu. Pergilah!" ucapnya lagi.
Setelah mendapatkan akal sehatnya kembali, hati Evans menjadi sakit. Dadanya sesak melihat Alexa yang bersikap murahan. Alexa yang dicintainya selama ini telah berubah. Tidak seperti dulu yang selalu menjaga harga dirinya sebagai perempuan, dengan baik dan terhormat.
Evans
Sementara itu, Alexa kesal setengah mati dan langsung keluar dari kamar itu, beranjak pergi. Sesungguhnya hati Alexa juga hancur ketika Evans mengusirnya.
Alexa turun melalui tangga, melewati ruang tengah menuju ruang tamu dan di sana ada Lisa yang sedang menunggu Evans. Alexa tak memedulikan kehadiran Lisa. Dia melewati ruang tamu dan bergegas menuju pintu utama.
"Alexa? Ada apa kau kemari? Hah?" tanya Lisa terkejut setengah berteriak. Alexa tak menjawab sama sekali. Dia berlalu begitu saja.
Beberapa menit kemudian, Evans turun ke bawah menemui Lisa. Lisa berdiri dan berjalan menghampiri Evans.
"Ada apa, Lisa?" tanya Evans dengan suara tenang.
"Kak Evans. Sedang apa tadi Alexa ke mari?" tanya Lisa penasaran.
"Buat apa kamu tahu?" jawab Evans datar. Lisa membisu. "Kamu. Ada apa kemari?" tanya Evans kemudian.
"Aku mau minta maaf, Kak Evans."
"Sudah kumaafkan. Pergilah."
"Kak, biarkan aku menjelaskan kejadian malam itu." Lisa memelas. Evans diam sejenak memperhatikan mimik wajah Lisa.
"Jelaskan," kata Evans menghela nafas, merasa capek menghadapi wanita di hadapannya.
"Malam itu aku dan teman-temanku, kami berkumpul di club malam. Hanya untuk melepas stres saja, Kak. Iya, aku memang minum sedikit alkohol tapi aku rasa itu tidak membuatku mabuk. Aku rasa ada seseorang yang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku dan..."
"Jangan konyol." Tak sabar, Evans memotong kata-katanya. "Jadi dengan siapa kamu tidur? Apa dia salah satu dari teman kumpulmu?" tanya Evans kemudian.
"Aku tidak tidur dengan siapa-siapa malam itu, Kak."
"Laki-laki yang satu kamar denganmu itu, apa dia salah satu dari teman kumpulmu itu?"
"Iya, Kak," jawab Lisa singkat.
"Jadi, kamu tidur dengannya?"
"Tidak, Kak. Sebelum semuanya terjadi, orang suruhan Kakak sudah datang ke kamar. Aku sangat bersyukur tidak terjadi apa-apa denganku, Kak." Lisa mulai terisak.
"Oh, berarti kamu masih suci?"
Lisa gelagapan mendengar pertanyaan tersebut.
"Aku.. " Lisa berpikir untuk melanjutkan kalimatnya.
"Pergilah!" seru Evans.
"Kalau kukatakan aku masih suci?" tanya Lisa cepat.
"Kutiduri kamu malam ini. Lalu aku akan menikahimu," jawab Evans.
"Apa?" tanya Lisa terkejut. Bukankah Evans bukan tipe pria seperti itu? Tiga bulan mereka berpacaran, mereka hanya berciuman saja. Lisa merasa bahwa Evans adalah pria tak berpengalaman.
"Kenapa? Apa kamu mencoba berbohong kembali?" tanya Evans menyelidik.
"Tidak, Kak. Aku masih suci," jawab Lisa berbohong.
"Malam ini, kalau ternyata kudapati kamu tidak suci, aku akan menghancurkanmu," jawab Evans tenang. Lisa yang mendengarnya pucat seketika. Tidak. Evans tidak main-main dan Lisa tahu itu. Resikonya besar sekali.
"Aku tidak bisa melakukannya sebelum menikah, Kak," jawab Lisa kikuk.
"Kalau begitu pulanglah. Dan jangan menggangguku lagi."
Lisa menunduk, dia bingung harus berkata apa lagi. Sepertinya semua telah pupus. Dia pun memutuskan untuk pulang, melangkah menuju luar, meninggalkan ruangan itu. Wajahnya nanar. Dia melangkah pelan. Melewati halaman yang begitu luas. Memasuki mobil dan pergi begitu saja.
Sepeninggal Lisa, rasa kesal mulai menyelimuti Evans. Evans tahu benar Lisa sudah tidak perawan, dia sudah menyelidiki hari-hari Lisa melalui orang suruhannya. Sama sekali dia tidak berniat tidur dengan Lisa. Evans bukan pria semacam itu. Apalagi dia memang tidak memiliki perasaan cinta pada Lisa. Hanya saja dia ingin membuat Lisa berhenti mengganggunya, cukup sampai di sini.
***
Alexa 👆
Terima kasih atas dukungannya, Kak, dengan memberi Like, Comment dan Vote-nya. 😊