NovelToon NovelToon
Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:631.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vhy'dHeavy Putri

Kintan terpaksa menikah dengan Aksara, karena suatu alasan menyebabkan keputusan itu terjadi. Ketika Nila yang merupakan istri pertama Aksara mengalami kecelakaan dan dalam keadaan tidak baik-baik saja, meminta Kintan menyanggupi permintaan terakhirnya itu, sekaligus merawat putranya yang masih kecil.

Tepat dua hari setelah pernikahan Kintan dan Aksara terjadi, Nila mengembuskan napas terakhir. Saat itu pula, Kintan menjadi istri satu-satunya dari Aksara. Namun kenyataan justru membuat pernikahan mereka tidak bahagia. Aksara masih belum sanggup melupakan mendiang Nila dan menilai Kintan tak sebanding dengan istri pertamanya itu. Permintaan cerai sering terucap dari bibir Aksara agar Kintan pergi dari sisinya. Di sisi lain, Kintan justru bertekad untuk bertahan. Karena pernikahan itu adalah amanat dari istri pertama suaminya.

Lantas, apakah Kintan mampu membuat hati Aksara luluh? Serta mendapat haknya sebagai seorang istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7-Izin Papa

Dengan penuh ragu, Kintan membuka pintu ruang kerja ayahnya di rumah itu. Debaran jantung lebih cepat daripada ketika dirinya sedang berolahraga. Namun demi amanat Nila yang kini sudah jatuh koma, Kintan harus mendapat restu dari orang tua tunggalnya tersebut.

Tampak dari mata Kintan, pria paruh baya yang biasa dipanggil dengan sebutan 'Tuan Besar Chandra' duduk di hadapan laptop mahal. Chandra masih perlu mengurus beberapa pekerjaan, tidak peduli akan waktu yang sudah larut malam. Harapan Kintan adalah meluluhkan hati ayahnya itu demi sebuah tanggung jawab. Kemungkinan besar memang Chandra akan melarang, tetapi mencobanya tidak salah, bukan?

“Papa,” ucap Kintan ketik sudah berada di hadapan ayahnya.

Chandra yang baru menyadari keberadaan putrinya, lantas menoleh. “Kintan? Kamu pulang? Kakakmu bagaimana? Papa belum sempat ke sana," ucapnya.

Kintan tersenyum kaku. “Mm ... ya sehat, Pa. Kakak sama bayinya, cucu Papa perempuan.”

Mata Chandra sontak berbinar-binar. Momen perdana ia akan mendapatkan seorang cucu. Seandainya Kintan sudah menikah, sudah pasti cucunya akan menjadi lebih dari satu. Namun sayang, sampai saat ini Kintan masih saja melajang. Bahkan, putrinya itu tidak tampak sedang menjalin hubungan dengan pria manapun.

Mengingat sesuatu yang berkenaan dengan anak keduanya, Chandra segera menyudahi kegembiraannya barusan. Ia menghela napas, kemudian memundurkan kursi yang ia duduki sampai menimbulkan decitan ketika kaki benda itu beradu dengan lantai. Chandra berdiri, lalu menghampiri Kintan yang masih didera kegelisahan.

“Papa enggak bakal nuntut kamu ni—” Belum sempat Chandra menyudahi ucapannya, Kintan sudah menyahut.

“Pa,” potong wanita itu, kemudian menggigit bibir bagian dalam. “Ki-kintan ... Kintan, Kintan mau menikah.”

“Mm? Apa?!” Awalnya Chandra terkejut, tetapi detik berikutnya ia justru tertawa. Pengakuan dari putri cantiknya itu terdengar seperti banyolan, yang mungkin disebabkan oleh rasa minder lantaran sang kakak, yakni Diki sudah memiliki keluarga kecil yang lengkap.

Kintan merasa sesak. “Pa-papa, Kintan serius! Ki-kintan sungguh-sungguh!”

Kali ini Chandra terdiam, karena ketegasan suara Kintan mampu mempengaruhinya hatinya. Ia lantas menatap manik mata putrinya itu dengan lebih saksama. Chandra masih enggan untuk merasa percaya, pasalnya keinginan Kintan sungguh terlalu tiba-tiba. Lagi pula, Kintan akan menikah dengan siapa? Apakah ada seorang pria yang menjalin hubungan dengan Kintan selama ini dan tanpa sepengetahuan Chandra?

Lalu, Chandra mencengkeram kedua pundak Kintan, tetapi tidak terlalu kuat. Ia menghela napas, mencoba menetralisir keterkejutan dirinya yang masih enggan pergi. Chandra berpikir jika keinginan berkenaan dengan pernikahan tentu bukan sesuatu yang buruk, bahkan telah lama ia harapkan agar Kintan tidak menjadi perawan tua.

“Hmm ... boleh Papa tahu siapa calon suami kamu, Sayang?” tanya Chandra penasaran.

Namun, pertanyaan itu justru membuat Kintan kian gamang. Ia kesulitan mengeluarkan suaranya, untuk bernapas saja berat. Pasalnya, pria yang hendak ia nikahi—meskipun secara terpaksa—merupakan suami Nila. Dan ayahnya itu sangat mengenal Nila, karena Nila benar-benar teman yang paling setia padanya. Sudah dapat dipastikan

reaksi luar biasa yang tentu negatif akan diberikan oleh Chandra.

“Kintan?” Mendapati putrinya justru bergeming dalam ketegangan, membuat Chandra semakin heran. “Siapa calon kamu, Kintan?”

“A-aksara ....” Mata Kintan terpejam, ia menunduk pasrah setelah mengatakan nama pria itu dengan sekuat tenaga, bahkan sisa-sisa keberanian sudah benar-benar menghilang.

Chandra berangsur melepas cengkeraman tangan di pundak putrinya dan melipat salah satunya, sementara yang lainnya mengusap-usap dagu. Nama Aksara terdengar tidak asing bagi telinga Chandra, seperti pernah mengenal bahkan bertemu. Namun, siapa pria itu? Dan dari keluarga mana?

“Aksara ... Aksara, dia ... su-suami Ni-nila, Pa.” Tubuh Kintan meluruh, ia lemas tidak berdaya. Dalam ketegangan suasana hatinya, ia menunggu respons marah besar dari ayahnya.

Tentu saja, Chandra menjadi terkejut bukan main. Aksara yang merupakan suami Nila? Suami dari seorang perempuan yang sudah seperti saudari putrinya? Yang benar saja!

“Jangan bercanda kamu, Kintan! Ada-ada saja!” Tidak mau termakan emosi, Chandra hanya menimpali dengan menganggap jika Kintan hanya sedang bergurau. Ia berdeham, kemudian bergegas menuju kursi kerja miliknya itu.

Namun, sebelum Chandra melangkah terlalu jauh, Kintan yang sudah terduduk memeluk kaki ayahnya itu. “Nila koma, Pa, dan ... i-itu amanat terakhirnya. Kemungkinan besar Nila enggak bakal selamat, Papa, Pa—”

“Kintan!” Chandra berbalik lagi. Ia menurunkan pandang dan lantas menatap wajah putrinya yang sudah berderai air mata. “Kamu jangan bodoh, bisa saja Nila terbangun lagi dan segera sembuh! Dan tentu saja Papa enggak mau putri Papa satu-satunya nikah sama suami orang! Kamu harusnya juga mikir keluarga kita itu keluarga terpandang, keputusanmu bisa saja menghancurkan, bukan hanya namamu tapi nama Papa dan kakakmu!”

“Pa! Nila beneran koma, Pa, otaknya cidera parah dan waktunya dipastikan cuma sampai besok. Dan besok Kintan harus menikah, seenggaknya supaya Nila bisa pergi dengan tenang, Pa. Papa, Kintan mohon, Pa. Kintan bersedia menanggung risiko apa pun, Pa.”

“Tapi kamu masih gadis, Kintan! Masih cantik dan tentu saja banyak yang bersedia menikah dengan kamu! Pria itu juga belum tentu mencintai kamu, Sayang, bahkan jika kemungkinan buruk terjadi pada Nila, kamu enggak akan bahagia!”

Kintan menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara wajahnya terus berselimut harapan. Perlahan, ia berdiri dari duduknya. Ia menatap ayahnya dengan saksama, bermaksud untuk meyakinkan satu-satunya orang tuanya itu. Detik berikutnya, Kintan meraih jemari ayahnya tersebut.

“Kintan ... bersedia hidup tanpa cinta, karena selain Nila, ada Gibran,anak mereka, yang perlu Kintan jaga, Papa.”

Chandra menggeleng. “Enggak, Kintan! Papa enggak kasih restu, Papa enggak bisa memberikan anak kesayangan Papa pada pria itu!”

“Pa! Seenggaknya demi anak kecil itu, Pa, bagaimana kalau suatu saat Aksara menikah lagi dan justru bertemu dengan wanita jahat, Pa? Pa ... Papa juga ingat mendiang Mama, 'kan? Dan sampai saat ini, Papa selalu menjaga amanat Mama?” Kintan terus mendesak, berusaha agar janjinya pada Nila dapat ditepati.

Ucapan Kintan yang membawa-bawa mendiang ibunya yang meninggal sejak ia masih kecil, berhasil membuat Chandra terdiam. Pria paruh baya itu memang selalu menjaga amanat sang istri, bahkan sampai sekarang. Mariam—mendiang istri Chandra—yang meninggal lantaran sakit leukimia—memintanya agar tidak menikah jika pasangannya hanya mengincar harta tanpa menyayangi kedua anaknya.

Benar saja, sepeninggalan Mariam, ketika Chandra mulai menjalin hubungan lagi, tidak ada satu pun dari wanita-wanita itu tulus mencintainya, pada terutama anak-anaknya. Pada akhirnya—demi amanat mendiang istrinya—Chandra memutuskan untuk hidup sendiri sampai Kintan beranjak dewasa.

“Papa ...?”

Chandra menghela napas setelah Kintan memanggilnya. Kini hatinya yang selalu menyayangi putrinya itu menjadi bimbang. Memilih antara menolak atau memberikan persetujuan, dari kedua pilihan tentu memiliki risiko masing-masing.

Ketika Chandra masih kekeuh menolaknya, tentu putrinya itu akan hidup dalam penyesalan lantaran tidak menjaga amanat dari sang sahabat. Namun, saat Chandra harus memberi restu, kemungkinan besar Kintan akan hidup di dalam rumah tangga yang tidak akan pernah bahagia.

“Papa enggak tahu,” ucap Chandra memilih berlalu untuk duduk di kursi kerjanya lagi. “Hari sudah malam, kamu harus tidur, Kintan.”

“Tapi, Papa? Kin—”

“Tidur, istirahat, besok ... kamu harus bersiap-siap, 'kan?”

Mata Kintan reflek terbuka lebar. “Ja-jadi?”

“Mungkin, Papa ini memang ayah paling buruk. Tapi, melihatmu yang bersikeras, meskipun bimbang, Papa tetap menuruti keinginan kamu.”

Wajah Kintan mendadak cerah. “Te-terima kasih, Papa!”

“Kintan?”

“I-iya, Papa?”

“Pernikahan itu bukan perkara mudah, apalagi pria itu belum mencintai kamu. Papa punya syarat, kamu harus berpisah maksimal satu tahun pernikahan jika Aksara enggak melihat kamu selayaknya seorang istri, Nak. Itu juga salah satu amanat dari Papa.”

Kintan tertunduk diam. Sekiranya ia memang merasa ragu, dalam bayangan keinginan untuk membuat Aksara lantas menatapnya dengan rona cinta. Dan di sisi lain, Kintan tidak mengharapkan hal itu sebab ia memang terpaksa menikah dengan Aksara lantaran keinginan Nila yang jatuh koma.

Sama seperti mendiang ibu Kintan, sahabatnya itu tidak mau memberikan suami terutama sang putra pada wanita yang tidak baik. Lantaran Kintan sangat dekat dan baik hati, membuat Nila memberikan amanat yang bisa jadi menjadi permintaan terakhir.

Namun, Kintan tetap berharap, semoga ada kesempatan bagi Nila untuk sembuh dan siuman seperti sedia kala. Dan jika harapannya itu terjadi, ia bersedia menceraikan Aksara.

***

1
Ririn Nursisminingsih
kereenn kintan a suka karakternya thor a bca karyamu ini berkali2 tpi tak bosan2...
VhyDheavy: makasih banyak kakak 🫶🥰
total 1 replies
Shifa Burhan
aku salut dengan novel yang memperlakukan pelakor dan PEBINOR sama,
aku salut dengan novel yang berani menghancurkan PEBINOR

karena faktanya kebanyak novel begitu memuja pebinor
Shifa Burhan
ini lah wanita (reader) kayak tidak punya otak yang membuat mereka jadi egois

*lelaki lain yang baik pada kintan di puja2 dan dibilang lelaki baik2 tapi wanita lain yang baik pada aksara dilaknat dan dibilang pelakor dan janda gatal lah (kalian waras)

*kintan intraksi dengan lelaki lain dan menyambut baik kebaikan pria lain dibilang dibenarkan tapi aksara hanya mendengarkan wanita lain bicara saja sudah dilaknat dibilang tidak tegas (kalian sehat)

wahai wanita (reader jablay) pakai otak kalian sikit saja biar tidak kelihatan munafiknya
VhyDheavy: penganut standar ganda kali ya 😁
total 1 replies
Maizuki Bintang
bgs
VhyDheavy: makasih Kak. Mampir di novel saya yg lain ya, 😊
total 1 replies
Dyah Shinta
Ya eyalah... kan baru aja ditinggal.
Lama2 juga tenang...
Amalia Khaer
yahhh knpa harus melakukan itu huh 😮‍💨
VhyDheavy: kan suami istri kak, hehe. Ah, jangan lupa follow akun tiktok saya ya, Kak. Vhydheavy21.😊
total 1 replies
Amalia Khaer
🤭🤭🤭🤭🤭🤣
Rita Tanti
Luar biasa
Sri Mulyani
mau. siapa tau suaminya juga bisa ikut membantu
Ike Rasela
👍👍
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
lucu yh menyakiti istri sendiri bisa n gampang tpi sekedar bersikap tegas pd wanita lain nggak bisa ngakak...
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀: You're welcome ttp semangat berkarya 🤗💪
total 3 replies
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
Kendali pernikahan di pegang suami yah klu mau lepasin kintan tinggal talak aja beres kan lagian gw jg ogah bgt kintan sama Lo nggak level
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
berarti itu salah anda tolong koreksi diri sebelum menyalahkan seseorang kerna bkn hanya anda yg merasa kehilangan
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
udah jls ini kemauan nila sendiri buat plng sendiri knp jdi kintan yg salah
lina
berjuang nila
Siti Rofiatin
Cinta oh cinta ,kalau sdh bilang itu apapun akan di lakukan
VhyDheavy: Cinta bikin gila kadang ya Kak 😁
total 1 replies
Bunbun Oke
cie cie sama-sama zaling ❤❤❤
VhyDheavy: Harus berterima kasih pada Mergi dan David ya 😄. Terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
Bundanya Pandu Pharamadina
suka dgn karakter Kintan 👍❤ juga Askara
VhyDheavy: Terima kasih 😊🤗
total 1 replies
Bundanya Pandu Pharamadina
Aksara Kinan
❤❤❤❤
VhyDheavy: Untuk @Bundanya Pandu Pharamadina juga ❤❤❤❤
total 1 replies
anti pebinor pelakor
perbedaan perlakuan pelakor dan pebinor

pelakor dipandang hina, menjijikan, apapun dia buat pasti salah, dipermalukan, diperlakukan kasar, dan akhirnya dibinasakn

pebinor dipandang lelaki cinta tulus, bebas menghajar suami orang dan itu tidak dipermasalahkan, bebas berbuat semaunya dan pada akhir diperlakukan lembut supaya iklas, sosok terlalu di spesial kan dan akhir bisa merasakan kebahagiaan

sudut padang wanita jablay dan egois, pelakor menjijikan sedangkan pebinor pria sejati dengan cinta tulus harus dihargai

sudut pandang wanita sejati dan setia, pelakor dan pebinor sama2 mahluk menjijikan dan harus diperlakukan sama
VhyDheavy: kontras bgt Yah, perlakuan untuk wanita bersalah dan laki2 bersalah. predikat pelakor bahkan lebih lama, pebinor gampang di lupakan bgtu saja 🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!