Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 - Perjalanan Pertama
Bus nomor 666 melaju membelah malam. Jalanan di luar jendela kaca tampak kelam, dilapisi kabut tebal yang tak masuk akal untuk ukuran kota besar.
Pohon-pohon randu tua di pinggir jalan seolah meliuk-liuk memberi penghormatan, sementara lampu jalanan berkedip-kedip lalu mati setiap kali bus hitam itu melintas.
Di dalam bus, Damar berdiri sambil memeluk tiang besi dekat pengemudi. Wajahnya pucat pasi, matanya bergerak liar menatap tiga puluh penumpang tak kasat mata yang kini duduk rapi di kursi beludru merah.
"B-baiklah ... Bapak, Ibu, serta Rekan-Rekan Arwah sekalian," suara Damar bergetar hebat saat berbicara ke mikrofon. "Sebelum kita sampai ke destinasi pertama, mari kita lakukan ... ice breaking kecil-kecilan biar suasana makin akrab."
"Nggak usah banyak acara deh, Mas!" potong sebuah suara dari barisan tengah.
Seorang hantu pria dengan wajah pucat kebiruan dan mantel tebal penuh serpihan es mengangkat tangannya—atau lebih tepatnya, menggerakkan potongan lengan yang setengah membeku.
"AC bus ini bisa diturunin lagi nggak suhunya?!" omel hantu mantel tebal itu. "Saya ini korban tersesat di ruang cold storage pabrik ikan! Suhu segini mah kepanasan buat saya! Badan saya jadi lembek, bau amisnya jadi keluar semua nih!"
"Enak aja!" sahut hantu wanita paruh baya yang duduk di depannya dengan sanggul miring dan gaun terbakar separuh. "Kamu kira ini kulkas berjalan?! Saya ini korban kebakaran pasar! Kalau AC-nya makin dingin, abu luka bakar saya pada rontok kena angin! Mau kamu yang nyapuin?!"
"Lho, ya salah sendiri mati kebakar!" balas si hantu es tak mau kalah.
"Apa kamu bilang?! Mau saya bakar lagi sisa badanmu itu?!"
"Sudah! Jangan bertengkar!" sela hantu kakek-kakek dari kursi paling belakang. Dia mengangkat kepalanya sendiri tinggi-tinggi dengan kedua tangan agar suaranya terdengar melintasi lorong. "Pikirkan saya dong! Kepala saya pusing dengar kalian teriak-teriak! Mana leher saya rasanya pegel banget!"
"Ya iyalah pegel, Kakek pegang kepala sendiri dari tadi!" celetuk hantu pemuda berkaos skater yang dadanya bolong menembus ke belakang akibat tertusuk tiang listrik. "Ditaruh di pangkuan aja sih kapalnya ... eh, kepalanya!"
Damar meringis pelan. Keringat dingin makin deras mengucur di dahinya.
"Anu ... mohon tenang, semuanya. Tolong jangan ada yang menyulut api atau melepaskan anggota tubuh di dalam armada ...."
Hoeekk!
Tiba-tiba, suara erangan mual yang sangat dahsyat menghentikan pertengkaran itu. Di barisan kedua, seorang hantu pria berjas rapi tampak memegangi perutnya yang kempis. Wajahnya yang semula hijau memudar menjadi abu-abu transparan.
"M-Mas ... Tour Guide ...," erang pria berjas itu sambil mengacungkan tangan yang bergetar. "Saya ... saya mabuk darat. Ada kantong plastik nggak?"
Damar melotot heran. Ketakutannya mendadak tersalip oleh rasa bingung yang luar biasa.
"Lho? Mas ... maaf nih, bukannya mau lancang ... tapi Mas 'kan hantu? Organ dalam Mas 'kan udah nggak berfungsi? Kok bisa mabuk darat?!"
"Mana saya tau!" seru hantu jas itu sambil menepuk-nepuk dadanya yang melesak ke dalam. "Trauma masa hidup saya mendadak bangkit gara-gara sopir bus ini bawanya ugal-ugalan! Perut saya bergejolak! Walaupun saya nggak punya lambung, rasa mualnya tetep kerasa di jiwa saya!"
"Aduh, jangan muntah di sini dong!" jerit hantu wanita bergaun putih di sebelahnya, sibuk menutupi gaunnya dengan tangan. "Sisa muntahan arwah itu baunya kayak bangkai tikus dicampur cairan formalin tau nggak?!"
"Ayo, Mas Tour Guide! Buruan kasih kantong plastik atau obat mabuk perjalanan!" seru hantu-hantu lain heboh.
Satu bus mendadak riuh. Hantu es mulai mengeluarkan hawa membeku hingga kaca jendela bertabur salju tipis, dan hantu kebakaran meluapkan hawa panas hingga plafon bus berasap, sementara hantu mabuk darat mulai menggelembungkan pipinya seolah siap menyemburkan muntahan gaibnya kapan saja.
Damar panik setengah mati. Kertas clipboard-nya sampai terlepas dari genggaman.
"Waduh! Jangan muntah, Mas! Jangan! Saya nggak tahu cara melap cairan arwah!"
Damar menoleh ke arah Madam Helga di kursi terdepan. Wanita anggun itu sedang santai menyesap teh dari cangkir porselen antik yang entah muncul dari mana. Helga melirik Damar dari sudut matanya dengan tatapan tajam nan dingin.
"Gunakan otakmu, Damar," ucap Madam Helga datar tanpa menurunkan cangkir tehnya. "Aturan nomor dua, jangan sampai mereka mengamuk atau membuat kekacauan. Kalau bus ini kotor gara-gara cairan arwah, kamu yang harus membersihkannya pakai lidahmu sendiri."
"Pake lidah?!" Damar hampir melompat kaget.
Melihat kondisi yang makin kritis—di mana hantu mabuk darat sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil terbatuk-batuk—Damar menggeledah tas selempang murahnya dengan gerak cepat.
Dia tidak punya obat mabuk perjalanan gaib. Tapi jemarinya menyentuh sebuah kotak kecil: minyak kayu putih dan sebotol permen rasa mawar yang biasa dia pakai kalau sedang stres.
Tanpa berpikir panjang, Damar mencabut tutup botol minyak kayu putih, lalu menuangkannya melimpah ke atas saputangan lusuhnya.
"Mas! Mas Mabuk Darat! Hirup ini!" jerit Damar sambil menerjang ke arah kursi barisan kedua.
Tanpa ragu, dia menempelkan saputangan berbau menyengat itu tepat di bawah hidung pucat si hantu berjas.
Hantu itu tersentak. Dia menghirup aroma tajam minyak kayu putih tersebut dalam-dalam. Ajaibnya, pendar abu-abu di wajahnya mendadak mereda. Pipinya yang menggelembung perlahan mengempis kembali.
"Haaah ...," desah hantu berjas itu dengan mata berbinar lega. "Anget banget. Bau ini ... bau minyak kayu putih buatan ibu saya waktu saya masih hidup."
Damar menahan napas, tertegun.
"B-berhasil?"
"Mas Tour Guide!" Hantu berjas itu tiba-tiba memegang kedua tangan Damar dengan erat—tangannya terasa sangat dingin seperti memegang es batu. "Terima kasih banyak! Jiwa saya mendadak berasa tenang lagi!"
"S-sama-sama, Mas ... hah-haha," jawab Damar dengan tawa canggung yang dipaksakan, meski dadanya masih berdegup bak marawis.
Tidak berhenti di situ, Damar yang menyadari celah untuk menenangkan rombongan ini langsung berbalik menghadap ke seluruh penumpang. Dia merogoh botol permen rasa mawarnya, lalu melemparkan permen-permen itu ke udara.
"Untuk Bapak yang kedinginan, tolong kulum permen rasa mawar ini! Aromanya hangat dan manis!" seru Damar panik tapi cekatan. "Untuk Ibu yang kepanasan, ini ada kipas lipat kertas dari tas saya! Dan untuk Kakek yang pegal ... tolong kepalanya ditaruh di atas pangkuan aja, nanti saya usahakan cari bantal leher gaib di destinasi berikutnya!"
Permen-permen itu melayang dan mendarat tepat di mulut para hantu. Kipas kertas yang dilempar Damar ditangkap oleh hantu kebakaran.
Seketika, suasana bus yang tadinya riuh dan mencekam berubah menjadi hening. Hantu es mengulum permennya dengan wajah puas, hantu kebakaran mengipas-ngipas wajahnya yang berkeringat sambil tersenyum tipis, dan hantu berjas yang mabuk darat kini bersandar di kursinya sambil terus menghirup aroma minyak kayu putih dari saputangan Damar.
"Wah ... tour guide-nya peka juga ya," puji hantu wanita bergaun putih dari belakang.
"Iya, ternyata perhatian. Nggak cuma modal tampang pas-pasan aja," timpal hantu kakek-kakek sambil memangku kepalanya dengan lebih nyaman.
Damar menghela napas panjang yang amat lega. Dia menyapu keringat di dahinya dengan lengan kemeja, lalu berjalan gontai kembali ke depan panggung bus.
Saat melewati kursi Madam Helga, dia melihat wanita cantik itu meletakkan cangkir porselennya kembali ke tatakannya.
Madam Helga tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun, sudut bibir merahnya terangkat sedikit—sebuah ulasan senyum setipis dompet Damar yang mengisyaratkan apresiasi kecil.
"Ehem!" Damar berdeham keras-keras ke mikrofon, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah jatuh ke titik nadir. "B-baiklah ... karena situasi sudah terkendali ... mari kita lanjutkan perjalanan kita menuju destinasi pertama."
Damar melirik kertas itinerary di tangannya yang kini kembali menampilkan tulisan merah menyala:
DESTINASI 1: RUMAH TUA MANGKRAK SEKTOR 4 – NAPAK TILAS PENYESALAN PAK TEJO.
"Tolong kencangkan sabuk pengaman kalian ... walaupun sebagian dari kalian tidak punya pinggang," kata Damar mencoba melontarkan gurauan pasrah. "Kita akan segera tiba dalam waktu tiga menit."
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt