Hidup Luna hancur setelah di jebak dan di hamili oleh kekasihnya - Gandhi. Terlebih saat Mira, Ibu dari Gandhi menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Suatu ketika Mira mengetahui Luna adalah anak tunggal dari Adiyatama Erlangga - Pemilik Perusahaan Erlangga Jaya. Ia menyesal telah menolak Luna dan berusaha mendekati Luna supaya Gandhi menjadi penerus Erlangga Jaya jika menikahi Luna.
Luna hancur saat ia diperalat sebagai boneka pemuas nafsu oleh Gandhi. Kemudian Luna mengetahui niat jahat Mira, ia segera melakukan sesuatu agar perusahaan Ayah tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti Mira dan Gandhi. Luna mengorbankan Aditya - Sahabat kecil Luna yang sejak dulu menyukainya. Luna melakukan hubungan intim dengan Aditya. Luna menikah dengan Aditya namun Gandhi mengakui bayi yang dikandung Luna adalah anaknya.
Siapakah ayah yang sebenarnya dari bayi yang dikandung Luna?
Apa rencana Gandhi dan Mira untuk mendapatkan Luna?
Bagaimana dengan pernikahan Luna dan Aditya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sity Qhomariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
‘Tok tok tok’ Tante Silvi mengetuk pintu kamar Luna yang belum bisa di kunci. Luna menoleh. Melihat Tante Silvi berdiri di dekat pintu kamar.
“Masuk aja, Tan. Gak bisa di kunci ini,” nada suaranya terdengar kurang bersemangat. Tante berjalan mendekatinya. Duduk di sebelah Luna. Menyibakkan rambut yang hampir menutupi wajah Luna sambil tersenyum.
“Kata-kata Om ada benarnya, tapi Tante gak punya niat melarang kamu pacaran sama Gandhi. Hanya lebih di batasi saja. Semua demi kebaikan kamu. Cuma itu yang bisa Tante lakukan untuk nyenengin kamu.”
“Tapi Om berasa menyudutkan Luna, Tan,”
“Enggak, sayang. Om Farid itu sayang sama kamu seperti anaknya sendiri. Om cuma khawatir sama kamu, gak ada orang tua yang mau menjebak anaknya Luna. Meskipun Luna cuma keponakan Om Farid tapi Luna udah di anggap anak sama Om Farid.”
“Ya udah, besok Luna akan batasin waktu untuk bareng sama Gandhi,” jawabnya sambil memeluk Tante Silvi. Tante tersenyum kemudian mengecup keningnya.
“Sekarang kamu istirahat, ya. Besok Tante carikan tukang untuk memperbaiki pintu kamar kamu,” Luna tersenyum.
“Terimakasih, Tante Silvi.” Tante beranjak meninggalkan Luna di kamar.
Luna membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memikirkan kata-kata Tante Silvi.
“Sebenarnya Om dan Tante bener. Gandhi sekarang berubah. Tapi kalau aku nolak bertemu, pasti dia marah, aku capek kalau harus berantem terus,” ucapnya pada diri sendiri. Ia menarik bantal guling dan memeluknya.
“Aku harus bagaimana?”
“Lun, pulang kuliah ke rumahku, yuk. Mama ngajakin kamu makan bareng,” ajak Gandhi pada Luna yang sibuk membereskan peralatan belajar di meja.
“Lagi?”
“Iya, kan memang harus sering-sering bertemu biar akrab sama camer,”
“Emm, ya udah.” Luna mengiyakan ajakan Gandhi. Mereka sudah tidak ada jam kuliah dan segera menuju ke rumah Gandhi.
Mereka sudah tiba di depan rumah. Gandhi membuka pintu dengan kunci yang ia punya. Gandhi dan Mama nya memang sama-sama memiliki kunci rumah agar jika salah satunya pulang duluan dan tidak ada orang di rumah, mereka bisa langsung masuk tanpa harus menunggu salah satu si pemegang kunci tersebut.
“Duduk dulu, Lun,” Gandhi mempersilahkan Luna untuk duduk di kursi ruang tamu.
“Mama kamu mana? Kok sepi?” Luna curiga.
“Em, mungkin lagi kepasar beli bahan masakan, tunggu sebentar ya aku ambilkan kamu minuman,” Gandhi bergegas masuk ke dalam rumah. Luna menunggu di ruang tamu dengan perasaan tak menentu.
“Ini silahkan,” Gandhi menyajikan minuman di meja tamu. Luna tersenyum. Gandhi menghempaskan tubuhnya di sofa sebelah Luna.
“Mama kamu masih lama?” tanya Luna. Gandhi menggeleng.
“Kurang tau.” Mereka hening sesaat, terbuai dengan jalan pikirannya masing-masing.
“Lun?” Gandhi menoleh ke arah Luna yang sedang sibuk memperhatikan isi rumah Gandhi. Luna menoleh.
“Ya?”
“Ada apa, Gandhi?” Luna balik bertanya karena Gandhi hanya terdiam dan terus memperhatikannya. Perlahan tangan Gandhi menyentuh wajah Luna. Mereka saling menatap. Luna seperti membeku, ia mendadak tak bisa bergerak sama sekali dan tetap menatap Gandhi. Gandhi sudah mencium bibirnya. Menekan kepalanya ke sofa. Sekejap mereka sudah saling berciuman di ruang tamu. Mendadak Luna merasakan sebuah tangan meraba dadanya. Luna mendorong Gandhi sampai terjatuh di sofa.
“Kamu ngapain?!” teriaknya.
“Maaf aku gak sengaja, diluar kendaliku,” ucapnya. Wajah Luna cemberut, ia kesal terhadap Gandhi yang sudah mulai berani menyentuh bagian sensitifnya. Gandhi meraih kepala Luna dan mendekapnya didada. Luna memaafkan kesalahan Gandhi lagi.
“Lun?” Luna mengangkat wajahnya ketika mendengar namanya di panggil. Tiba-tiba Gandhi mendorongnya hingga jatuh di atas sofa. Gandhi kembali menekan bibirnya. Luna tidak bisa bergerak, ia pasrah menerima ciuman dari Gandhi yang terkesan memaksa.
“Udah dong. Nanti Mama kamu datang liat kita kaya gini bisa bahaya,” kata Luna sambil melepaskan ciuman itu. Gandhi tertawa. Di pegangnya kedua pipi Luna.
“Mama gak akan datang.” Jawabnya sambil mencium bibir Luna lagi membuat Luna tak bisa berbicara. Gandhi berusaha membuat Luna merasa senyaman mungkin dalam sentuhannya. Ia melakukannya dengan lembut. Dan benar saja, Luna benar-benar dibuat terlena, ia sungguh menikmati ciuman dari Gandhi. Gandhi kembali meraba bagian sensitifnya, meremasnya dengan lembut. Melihat tidak ada penolakan dari Luna membuat Gandhi semakin berani untuk menyentuh Luna. Tangannya menelusup ke dalam pakaian yang dipakai Luna. Dan menyentuh bagian sensitif milik Luna.
Entah dimasuki setan apa Luna malah menikmati sentuhan dari Gandhi yang sudah semakin liar itu. Gandhi membuka kancing baju Luna. Luna merasakan sekujur tubuhnya seperti di aliri listrik. Ketika tangan Gandhi hendak menyentuh bagian bawahnya, Luna tersadar, ia pun mendorong Gandhi dengan kuat. Gandhi terlempar ke belakang.
“Kamu?!” Luna menunjuknya. Perasaannya campur aduk. Ia mendadak teringat kepada Ayah, Ibu, Om Farid dan Tante Silvi. Dengan terburu-buru Luna memasang kancing bajunya. Merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan kemudian berlari keluar meninggalkan Gandhi yang berteriak memanggil namanya. Luna menyetop taxi dan mengabaikan Gandhi yang mengejarnya sambil berteriak. Ia masuk ke dalam taxi, menutup pintunya dengan terburu-buru.
“Jalan sekarang, Pak!” perintahnya. Taxi itu pun melaju. Gandhi tidak bisa menahan Luna. Ia menghempaskan tangannya meninju angin. Ada perasaan kesal dan menyesal dalam dirinya.
Luna menghapus air mata yang menetes di pipinya. Menyembunyikan wajahnya ke luar jendela mobil. Sopir taxi yang menyadari jika penumpangnya menangis ia pun menjadi iba.
“Kenapa, Mbak?” tanyanya dengan ramah.
“Fokus nyetir aja, Pak.” Luna ketus. Ia tidak suka supir taxi itu ikut campur. Supir taxi itu menjadi tidak enak hati, ia pun fokus untuk menyetir mobilnya. Air mata Luna mengalir deras di pipinya. Seketika ada perasaan menyesal kepada kedua orang tuanya, kepada Om Farid dan Tante Silvi yang sudah seperti orang tuanya sendiri. Apa yang ia lakukan bersama Gandhi adalah sebuah kesalahan besar dalam hidup Luna. Bahkan Gandhi selalu seenaknya mengabaikan janji yang selalu ia ucap ketika sudah membuat Luna marah.
Luna membayar taxi itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Untungnya sopir taxi itu memaklumi Luna. Ia tidak tersinggung dengan sikap penumpangnya yang terkesan angkuh. Luna masuk kedalam rumah dengan air mata yang tak bisa di bendung. Di depan pintu, ia berpapasan dengan Om Farid yang hendak keluar rumah.
“Kamu kenapa, Luna?” Luna berlalu tanpa menghiraukan pertanyaan Om Farid. Om Farid menjadi curiga. Namun ia berusaha memahami dan membiarkan Luna masuk ke dalam kamarnya. Luna menangis sejadi-jadinya. Dalam hati mengutuk. Ponselnya berkali-kali berdering namun ia mengabaikan begitu saja.
“Gandhi brengsek!” makinya sambil terisak. Ia meremas dan meninju bantal gulingnya untuk dijadikan pelampiasan emosi. Rasanya ingin berteriak namun tak mungkin. Jika ia berteriak justru akan membuat Om dan Tante menjadi khawatir dan curiga kepadanya. Ia hanya bisa menangis menumpahkan kekesalan di hatinya.
“Aku benci kamu, Gandhi!”
egois pula
baguslah adit gag ngemis²
langsung di ceraiin
udah gag suci
gag tau malu pula
8 like favorite😍 untuk mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk