Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.
Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.
Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.
Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlebihan
Tok tok tok
"Siapa lagi yang mengetok pintu? Tidak biasanya," gumam Canna. Karena biasanya para pelayan dan juga Delano langsung masuk ke kamarnya tanpa mengetok pintu terlebih dahulu.
"Masuk!" ucapnya agak keras.
Canna duduk disisi tempat tidurnya dengan kaki menapak lantai, menatap awas kearah pintu kamar yang perlahan terbuka.
"Kamu. Untuk apa kamu datang kemari?"
Canna terkejut menatap lelaki asing yang baru dikenalnya kemarin. Berdiri diambang pintu dan berjalan dengan santai kearahnya. Sudah sepatutnya ia berterima kasih pada lelaki itu karena sudah menolongnya kemarin.
Key tersenyum mendengarnya, menatap Canna yang terkejut melihatnya. Tanpa di suruh, ia langsung duduk tepat di hadapan wanita itu. Membuat Canna memundurkan dirinya. Wanita itu begitu waspada terhadapnya, bahkan tatapannya selalu curiga. Bagaimana Delano memperlakukan dirinya sebenarnya.
"Alya. Bukankah namamu Alya tempo lalu?" ucap Key memastikan. Mengingat kembali perkenalan singkat mereka tempo hari.
Canna mengangguk kaku. Menatap awas kearah Key, membuat lelaki itu terkekeh melihatnya.
"Aku tidak sejahat dalam pikiranmu itu, Nona!" Key menyentil dahi Canna.
"Dan kamu bilang padaku kemarin, kalau kamu adalah pelayan di rumah ini, kurasa kamu lebih daripada itu." Key mengamati kamar yang di tempati oleh Canna.
"Benar bukan?" Key kembali menyorot Canna. Membuat wanita itu merasa jengah karenanya.
"Dan tidak ada seorang pelayan pun yang di tempatkan di kamar Tuan rumahnya," ucap Key cepat saat Canna ingin membuka mulutnya. Pastilah wanita ini ingin melakukan pembelaan.
Mata Canna menajam, tangannya terkepal. Lelaki ini menyindirnya habis-habisan. Dia bukanlah wanita yang suka memuaskan lelaki di atas tempat tidur.
"Iya!! Kamu benar. Aku bukan pelayan di rumah ini. Tetapi aku adalah tahanan!" sahut Canna emosi membuat Key terkejut dalam beberapa detik lamanya.
Lelaki ini pasti tidak lebih dari spesies jenis lelaki sebelumnya, yaitu Delano. Mungkin saja ia kesini di suruh oleh Delano atau juga ingin mengambil kesempatan dari Canna setelah tahu kebenarannya.
Key terkekeh mendengarnya, berdiri dan membelakangi Canna, menyibak gorden, menatap pemandangan malam hari dari balik kaca.
"Mana ada tahanan di perlakukan sebaik perlakuannya padamu?" ucapnya sambil berbalik dan menatap kearah makanan yang sama sekali belum di sentuh oleh Canna.
Membuat gadis itu terdiam sesaat dan kembali memikirkan nasibnya. Ucapan Key seperti teka-teki baginya.
"Aku memang di perlakukan lebih daripada tahanan karena Delano memahami untuk menyenangkan dirinya. Tetapi aku di perlakukan tidak lebih dari sekedar seorang budak pemuas napsu," Canna membatin mengepalkan tangannya erat.
"Aku tidak tahu pasti, apa yang terjadi pada kalian berdua sebenarnya. Kamu memang tahanan bagi Delano tapi kamu di perlakukannya seperti seorang tamu," ucap Key tidak perduli sambil mengulas senyum tipisnya.
"Apa maksudmu?" Canna menatap dingin kearah Key yang masih tersenyum kearahnya dengan lesung pipit di pipinya kirinya.
"Tidak ada maksud apapun juga. Tapi aku hanya tidak ingin kakakku menjadi seseorang yang bersikap aneh dan menjadi penjahat kelamin hanya karena mempunyai seorang tahanan wanita di kamarnya."
Mata Canna membola. Tangannya kembali terkepal. Haruskah ia juga di salahkan atas semua ini.
"Kalau kamu mengkhawatirkan semua itu. Kenapa kamu tidak membebaskanku saja. Membantu diriku untuk melarikan diri dari sini?" lirihnya menunduk.
"Aku tidak bisa. Karena aku sudah berjanji untuk tidak ikut campur urusan kakakku."
Key berujar dengan santai sambil memasukkan kedua belah tangannya ke dalam kantong celananya.
"Karena hari sudah larut malam. Sebaiknya kamu istirahat saja, simpan tenagamu untuk kabur dari sini karena usahamu untuk melarikan diri akan sia-sia saja!"
Key melewati Canna begitu saja.
"Apa maksudnya kalau aku tidak bisa melarikan diri?" Canna berusaha memutar otaknya setelah kepergian Key.
Pintu tampak berdentum di belakangnya membuat gadis itu terkejut dan berbalik. Matanya membola saat mendapati wajah Delano yang menggelap dengan aura membunuh datang padanya. Lelaki ini benar-benar seperti serigala yang sedang menatap mangsanya.
Delano langsung menarik rambut panjang Canna hingga membuat wajah gadis itu mendongak. Dan menepis jarak diantara mereka.
"Apa yang sudah kamu lakukan disini bersama dengan Key!!?" teriak Delano marah.
Ia menghempaskan Canna keatas ranjang empuk miliknya, membuat wanita itu terbenam di dalamnya.
"Aku meninggalkanmu hanya dalam waktu 1 jam saja. Bahkan kurang dari itu. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu memanggil Key kesini. Apa yang kamu inginkan darinya? Apakah kepuasan?"
Delano tampak semakin emosi, tidak memberikan waktu untuk Canna menjawabnya. Ia meraup bibir Canna dengan rakus, menggigitnya dengan keras hingga berdarah. Menyudahinya untuk memberikan waktu pada Canna untuk bernapas dan kembali meraupnya dengan lebih lembut dari sebelumnya.
"Itulah hukumannya kalau kamu bersama pria lain di belakangku, walaupun itu cuma bicara saja."
Delano kembali meraup bibir Canna untuk yang ketiga kalinya tetapi kali ini ia melakukannya dengan sedikit lembut. Walaupun lembut, tetap saja Canna merasakan perih luar biasa.
Ia merasakan di lecehkan kembali oleh lelaki ******** yang sedang berada di atas dirinya.
Bukkk
"Apa yang kau lakukan!?" teriak Delano marah saat mendapatkan kaki Canna yang sudah menendang perutnya.
"Kamu tidak sopan padaku. Kamu selalu melecehkan diriku. Apakah seperti ini cara ******** sepertimu menganggap wanita!" teriak Canna murka.
Delano menatap tajam Canna. Meraih dan mencekal dagunya.
"Beraninya kamu berteriak di hadapanku. Kamu wanita beruntung yang bisa kutiduri!" sahut Delano keras.
Tatapan Canna semakin menajam, menantang Delano. Ia sama sekali tidak takut dengan Delano. Baginya kehormatan dan harga dirilah yang paling utama.
"Beruntung? Yang ada justru buntung. Aku tidak menginginkan semua ini terjadi dan aku membencimu Tuan Delano!" Canna berdesis dengan tatapan tajam.
Tangan Canna menepis cengkeraman tangan Delano yang berada di dagunya.
"Apa yang bisa kamu lakukan setelah semua ini terjadi?" Delano terkekeh, menatap Canna rendah.
"Jangan sok jual mahal kalau kamu juga menikmatinya. Menikmati setiap perlakuanku padamu!" sahut Delano enteng.
"Dasar lelaki br*ngsek! Baj*ngan!" Canna mengumpat di dalam hatinya.
"Jangan mengumpat padaku, kamu akan menyesalinya nanti setelah tau betapa berharganya diriku bagimu."
Delano berjalan kearah luar kamar mereka. Meninggalkan Canna yang berjalan kearah kamar mandi dan membanting pintunya dengan keras.
"Dasar lelaki br*ngsek!! Kekuatannya dan ancamannya hanya seputar pusat dan lutut saja!"
Canna terus memaki sambil membasuh wajahnya dan melepaskan pakaiannya. Ia ingin membasuh seluruh tubuhnya dari bau tubuh Delano yang menempel di kulitnya.
"Canna! Buka pintunya!!"
Canna kembali terlonjak saat mendengar pintu kamar mandi yang di tempatinya di gedor oleh Delano. Ia segera meraih pakaiannya dan kembali mengenakannya.
"Ada apa!?"
Canna membuka pintu dengan kasar. Ia terkejut saat melihat seorang dokter yang sudah berdiri di belakang Delano.
"Kamu tadi terluka dan aku tidak sengaja melukaimu. Jadi, dokter Ana akan mengobati lukamu terlebih dahulu."
Canna melongo mendengarnya. "Terluka?" Canna mengernyit, berusaha mengingat-ingat luka yang dimilikinya.
"Aku tidak terluka," sahutnya.
"Tidak. Kamu memang terluka. Bibirmu terluka karena aku tidak sengaja menggigitnya!" sahut Delano sambil menarik tangan Canna kearah ranjang.
Canna mendesah, berusaha melonggarkan napasnya yang terasa sesak. Lelaki ini benar-benar memojokkannya. Ia merasa malu karena berada sekamar dengan lelaki yang bukan siapa-siapa baginya.
"Aku bilang kalau aku tidak terluka, Tuan Delano yang terhormat!" Canna berdesis rendah, merasa sangat kesal dengan sikap Delano padanya.
Dokter Ana hanya menggeleng saja melihat tingkah mereka berdua. Pasangan muda yang baru menjalin hubungan terlihat malu-malu dan sangat manis.
"Kalian memang pasangan yang manis dan dalam hubungan yang hangat-hangatnya. Jadi wajar saja, Tuan Delano menghawatirkanmu!" ucap Ana membuat keduanya membatu.
"Kami bukan pasangan seperti yang kamu kira. Sebaiknya singkirkan pikiranmu itu dan cepat periksa dia!" perintah Delano dingin.
"Aku tidak ingin kembali merasakan darah dan asin saat kembali menciumnya!"
Delano menatap tajam Canna yang melotot kearahnya.
"Dasar lelaki br*ngsek dan tidak tahu malu!" maki Canna dalam hati. Membiarkan begitu saja dokter Ana mengobati luka di bibirnya. Padahal lukanya hanya sedikit dan tidak apa-apa, Delano sungguh berlebihan.
***
kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?