Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
"Sepertinya kita tidak seakrab itu untuk saling terbuka soal rumah Anda." sahut Tirta sedikit canggung. Ia takut malah menyinggung perasaan pria di depannya.
"Sekarang kita teman. Ayo ikut saja. Makanannya taruh di sini dulu. Aku tidak ingin Ibu memarahiku karena tidak membawamu menemuinya." Pria itu berdusta. Padahal ia bisa saja menerima makanan tersebut di depan lalu membiarkan Tirta pulang. Sayangnya, ada rencana yang sedang ia susun di kepalanya.
"Tapi sepertinya itu tidak perlu."
"Kalau aku menerima makanan ini, aku tidak tahu harus menjelaskan apa nanti."
Dengan sedikit memaksa, Arga mengajak Tirta keluar dari ruang tamu. Mereka berjalan pelan menuju pintu cokelat di samping dapur, lalu keluar melewatinya. Tirta mengikuti tanpa rasa takut ataupun khawatir akan diperlakukan buruk. Entah mengapa, ia justru merasa santai.
Begitu keluar dari rumah utama, ternyata di belakangnya berdiri sebuah rumah lain yang tak kalah mewah. Di tengahnya terdapat taman kecil yang sama sekali tidak ditanami bunga. Hanya hamparan rumput yang dipangkas rapi hingga terlihat sangat kosong.
Anehnya, rumah itu justru memancarkan kesunyian. Aura sepi itu begitu kuat hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata. Arga tiba-tiba berhenti. Tirta yang berada di belakangnya ikut menghentikan langkah.
"Sepertinya aku meninggalkan ponselku. Kamu masuk dulu saja. Ibu sudah ada di dalam." Ujarnya sambil berbalik arah.
"Tidak, aku tunggu kamu di sini saja. Kita masuk bersama."
"Tapi Ibu sudah menunggu. Masuklah dulu supaya beliau tidak memarahiku." Ucapnya lagi sembari mempercepat langkah kembali menuju rumah utama. Tirta hanya bisa memandang bingung. Sikap pria itu terasa sangat aneh.
Dengan terpaksa ia melangkah menuju rumah belakang. Matanya terus menyapu sekeliling. Di sudut taman terdapat kolam ikan lengkap dengan air mancur kecil. Gemericik airnya terdengar begitu menenangkan.
Di sisi lain, Arga masuk ke dalam rumah sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang. Keringat mulai membasahi dahinya. Tak lama kemudian, seorang wanita keluar dari kamar dan menghampirinya.
"Ada apa, Ga? Ibu dengar ada yang datang mengantar katering. Mana orangnya? Sudah kamu bayar?" tanya wanita itu bingung. Hari ini ia memang sengaja tidak memasak karena sudah memesan makanan langganannya.
"Sudah datang, Bu. Tapi kali ini anakmu sedang mempertaruhkan nyawanya demi memancing hewan buas itu keluar dari sangkarnya." Jawab Arga dengan napas yang masih memburu.
"Apa maksudmu? Di mana gadis itu? Jelaskan yang benar!" Kesal wanita itu karena putra semata wayangnya selalu memberi penjelasan setengah-setengah.
"Di rumah belakang." Mendengar kalimat itu, mata wanita tersebut langsung membelalak. Wajahnya seketika berubah pucat.
"Gila kamu, Ga!" Ia mengguncang tubuh putranya yang kini sudah terduduk lemas di lantai.
...****************...
Selangkah demi selangkah, Tirta memasuki rumah besar yang sunyi itu. Matanya memandang sekeliling. Rumah tersebut tampak remang-remang. Hanya cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela jendela kaca dan pintu.
"Permisi... Tante, saya dari katering. Saya mengantarkan pesanan Tante." Panggilnya pelan karena suaranya seolah memantul memenuhi ruangan. Ia melangkah semakin dalam. Rasa takut mulai menyelimuti ketika bagian dalam rumah itu semakin gelap. Tirta memang sangat takut pada kegelapan.
"Permisi..."
Kret...
Suara dari arah belakang membuat tubuhnya menegang. Tanpa berpikir panjang, Tirta langsung berlari. Namun baru beberapa langkah, seseorang menarik tangannya hingga tubuhnya terhuyung ke belakang dan tanpa sengaja terduduk di pangkuan seseorang.
"AAAAAA!"
Jeritnya keras. Seketika sebuah telapak tangan besar membungkam mulutnya.
"Diam. Kalau sudah takut, kenapa masuk?" Suara berat dan dingin itu justru membuat bulu kuduk Tirta meremang. Anehnya, di balik rasa takut tersebut, muncul rasa aman yang sulit dijelaskan.
"Aku takut gelap..." Cicitnya lirih sambil tanpa sadar memeluk orang yang sedang didudukinya. Dari posisi mereka, Tirta yakin dirinya sedang duduk di pangkuan seorang pria. Aroma maskulin yang memenuhi indra penciumannya menjadi alasannya.
"Hidupkan lampu." Perintah itu terdengar singkat. Tak lama kemudian, lampu rumah menyala dan ruangan langsung terang benderang. Tirta masih memeluk erat pria tersebut dengan mata yang tetap terpejam.
Pria itu adalah Marchel.
Tangannya sama sekali tidak berani menyentuh tubuh Tirta. Ia hanya membiarkan kedua tangannya tetap berada di sandaran kursi roda.
"Kenapa kamu menyuruhku menghidupkan lampu? Aku bukan pemilik rumah ini. Kamu saja yang menyalakannya sendiri." Sahut Tirta karena mengira perintah tadi ditujukan kepadanya.
"Buka matamu." Perlahan Tirta membuka mata. Tatapan mereka langsung bertemu. Sepasang mata biru itu terlihat begitu indah. Namun di balik keindahannya, Tirta menangkap sesuatu yang lain.
Kesedihan.
Rasa bersalah.
Perasaan yang begitu dalam hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Apa kamu senyaman itu menggoda seorang pria di rumahnya sendiri?" Kalimat itu membuat mata Tirta membelalak.
"Enak saja! Siapa yang menarikku tadi? Aku juga tidak mau duduk di pangkuanmu." Sungutnya, meski kenyataannya ia masih belum beranjak dari pangkuan Marchel. Senyum tipis sempat menghiasi wajah pria itu.
Namun hanya sesaat.
Wajahnya kembali memucat. Senyum itu lenyap begitu saja. Ia menutup mata sejenak.
"Bangun sekarang." Sebenarnya Tirta memang hendak berdiri. Namun ketika ia menurunkan kakinya...
"Akh! Rambutku..." Pekiknya saat rambut panjangnya ternyata terlilit pada kancing kemeja Marchel. Dengan panik ia mencoba melepaskannya.
"Cepat..." Lirih Marchel dengan mata yang masih terpejam.
"Apa aku sejelek itu sampai kamu harus menutup mata?"
Kesal Tirta.
Tanpa sengaja Marchel terkekeh pelan.
Sesaat kemudian ia membuka mata dengan raut terkejut.
Dia...
Barusan tertawa?
"Lalu? Kamu mau seharian duduk di pangkuanku?" Tanya Marchel. Kedua tangannya tetap mencengkeram pegangan kursi roda. Ia sama sekali tidak berani menyentuh pinggang ataupun tubuh Tirta.
"Kamu pikir aku betah? Aku juga tidak mau, tahu!" Gerutu Tirta sambil terus berusaha melepaskan rambutnya.
Brak!
Tiba-tiba Marchel menghantam meja kayu di sampingnya hingga meja itu roboh menghantam lantai marmer hitam.
Tirta tersentak.
Perhatiannya langsung beralih kepada pria yang kini bernapas memburu itu.
"Aku tidak pantas tersenyum!" Ucapnya sambil menggeleng kuat. Detik berikutnya, kedua tangan kekarnya mulai memukul dirinya sendiri.
Kepalanya.
Lengannya.
Dadanya.
Hingga terdengar beberapa erangan tertahan.
Tirta benar-benar ketakutan. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain Marchel yang jauh lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan. Pria itu kembali menghantam lengannya sendiri hingga meringis kesakitan. Dengan panik, Tirta menarik rambutnya sekuat tenaga.
Namun rambut itu tetap tersangkut pada kancing sialan tersebut.
"AAAAA!" Jeritnya lagi.
"Arghhh!"
"Brengsek! Sialan!" Marchel mengumpat sambil melempar benda di sampingnya.
Sret!
Tanpa pikir panjang, ia merobek bagian depan kemejanya hingga kancing yang menjepit rambut Tirta terlepas. Begitu bebas, Tirta langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Marchel dan memeluknya erat.
Tangisnya pecah.
"Aku mohon... berhenti. Aku sangat takut..." Bisiknya lirih tepat di telinga pria itu. Anehnya, amarah Marchel perlahan mereda. Suara isak tangis Tirta memenuhi pendengarannya. Perlahan, kedua tangannya bergerak memeluk pinggang gadis itu. Ia membenamkan wajahnya di bahu Tirta.
Menikmati pelukan hangat yang selama ini sangat ia butuhkan.
"Hiks... kalau marah, bicarakan baik-baik. Mengamuk seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah apa pun..." Gumam Tirta sambil tetap memeluknya erat.
Marchel hanya diam.
Pelukannya justru semakin mengencang.
"Maaf..."
Tanpa sadar, pria dingin dan menyeramkan itu akhirnya mampu mengucapkan satu kata yang selama ini terasa mustahil keluar dari bibirnya.
Ceklek!
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜