Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Barisan menuju perlindungan
Perjalanan kembali dilanjutkan. Kini mereka bergerak dengan formasi yang lebih rapi dan aman. Rafli memimpin barisan paling depan mengendarai motor sport, menjadi mata-mata yang memantau jalanan dari bahaya lebih dulu. Di belakangnya menyusul mobil yang dikemudikan Simon, dan barisan paling belakang dipegang oleh Danu untuk menjaga agar tak ada yang tertinggal atau diserang dari belakang.
Mereka membagi penumpang secara seimbang ke dalam kedua mobil, agar ruangan tak terlalu sempit dan setiap orang bisa bergerak leluasa jika sewaktu-waktu harus bertindak cepat. Udara di dalam kendaraan terasa tegang, namun ada rasa lega karena setidaknya mereka kini bergerak dengan perlindungan yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Mata Rafli tak lepas memindai setiap sudut jalan yang mereka lewati, siap memberi isyarat henti atau belok kapan saja. Di tengah dunia yang sudah tak lagi seperti dulu, mereka tahu bahwa tetap bersatu dan saling menjaga adalah satu-satunya cara untuk tetap bertahan hidup sampai ke tujuan.
Tiba-tiba Rafli menginjak rem mendadak, membuat motornya berhenti tepat di tengah jalan sepi. Ia segera turun, diikuti oleh kedua mobil di belakangnya yang ikut berhenti dengan sigap.
"Rafli, kenapa berhenti?" seru Mega dari dalam mobil, suaranya terdengar cemas.
"Kalian semua tetap di dalam dan jangan turun! Tetap waspada," perintah Danu tegas sambil melangkah turun menghampiri Rafli. Aldo pun ikut turun, keningnya berkerut penuh tanda tanya.
"Ada apa, Rafli?" bisik Danu saat sudah berdiri di sampingnya.
"Aku mendengar suara orang meminta tolong," jawab Rafli rendah, matanya menatap tajam ke arah bangunan ruko yang pintunya tertutup sebagian.
"Kamu yakin itu benar suara manusia?" tanya Danu ragu, takut itu hanyalah jebakan atau tipuan pendengaran. Rafli hanya mengangguk mantap, lalu melangkah perlahan mendekatI sumber suara itu.
"Tunggu... Lihat di sana!" tunjuk Rafli ke arah celah pintu yang sedikit terbuka. "Benar ada orang. Ayo kita selamatkan mereka sebelum terlambat."
Tanpa banyak bicara, Danu mencabut golok besar dari sarungnya, sementara Aldo menggenggam erat kapak yang ia temukan sebelumnya. Bertiga mereka melangkah beriringan, langkah pelan dan penuh perhitungan, siap menghadapi apa pun yang mungkin menanti di balik tembok itu.
Mereka semakin mendekat, dan pemandangan itu terlihat jelas: sebuah keluarga kecil—suami, istri, dan seorang anak kecil—terhimpit di pojok, terlindungi tumpukan papan yang hampir roboh, dikelilingi kawanan mayat hidup yang berusaha menjangkau mereka.
Tanpa ragu, Rafli, Danu, dan Aldo bergerak serentak. Anak panah melesat tepat sasaran, golok berayun dengan kekuatan penuh, dan kapak menghantam dengan cepat. Gerakan mereka lincah dan terlatih, satu per satu ancaman itu roboh tak berdaya hingga tak tersisa satu pun.
Setelah suasana hening kembali, mereka menghampiri keluarga itu yang masih gemetar ketakutan di balik papan pelindung. Aldo segera memeriksa seluruh tubuh mereka dengan teliti—beruntung tak ada satu pun bekas gigitan atau luka yang mencurigakan.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Danu lembut.
"I-iya... kami selamat. Terima kasih banyak... terima kasih sudah menolong kami," jawab wanita itu dengan suara bergetar sambil merangkul erat anaknya yang menangis tertahan.
"Lebih baik kalian ikut kami," ajak Rafli. "Tempat ini sudah tidak aman jika kalian diam dan tetap di sini."
Wanita itu menatap ragu, menatap ketiga orang asing itu dengan waspada. "Kalian... bukan orang jahat, kan?"
"Kami sama persis seperti kalian," jawab Danu meyakinkan. "Kami hanya sekelompok orang yang berusaha bertahan hidup dan mencari tempat yang aman dari mereka."
Pasangan itu saling berpandangan sejenak, lalu sang suami mengangguk mantap. "Kami ikut kalian. Aku tak tega melihat anakku terus ketakutan seperti ini sendirian."
"Ayo segera bergerak, jangan berlama-lama," tegas Danu. "Kita takut kawanan lain tertarik mendekat."
Mereka pun segera menuntun keluarga kecil itu menuju kendaraan. "Silakan masuk ke mobil ini, masih ada ruang yang cukup. Nanti kita berbincang saat sudah aman," ucap Danu sambil menutup pintu rapat.
Deru mesin kembali menderu, melaju menjauh dari tempat itu, membawa harapan baru bagi mereka yang baru saja diselamatkan.
Bersambung