Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Belajar Menjadi Istri
Suara mesin mobil Dante telah meninggalkan halaman mansion. Pelayan datang untuk membereskan meja. Ara melihat para pelayan bercelemek itu berlalu lalang di depannya. Ia masih shock dengan apa yang ia dengar dari mulut seorang Dante. Apa tidak salah kalimatnya tadi. Ia belum bisa mencerna setiap kalimat itu dengan baik. Badannya juga terasa sedikit remuk. Ia ingin tidur lagi, tapi kali ini ia ingin tidur di atas ranjang. Semalam tidurnya sungguh tidak nyaman. Bagaimanapun tentu beda sensasi tidur di sofa dan tidur di ranjang. Ara menarik nafas dalam-dalam.
Ia sudah turun dari sofa dan ingin keluar pintu, ketika Luca datang. Matanya sedikit membola.
"Luca," sapanya heran.
"Pagi, Nyonya. Pagi ini tuan meminta saya untuk mengirim manekin dan seorang instruktur wanita yang akan mengajari nyonya tiga hal." Luca menjelaskan alasan kedatangannya. Ia tahu nyonyanya sedang bertanya-tanya.
"Tiga hal?" ulang Ara tidak percaya. Ide gila apa lagi yang dipikirkan Dante kali ini--batinnya geram.
Luca mengangguk.
"Baiklah. Hal apa sajakah itu, tiga hal yang dimaksud tuanmu?" runtuk Ara. Ia benar-benar tak tahan ingin mengutuk suaminya itu.
"Pertama, sebentar lagi akan datang manekin. nyonya akan belajar memakaikan jas dan dasi."
Mata Ara melebar. Dante benar-benar melakukan seperti apa yang ia katakan.
"Kedua, nyonya akan turun ke bawah, dan belajar bagaimana seorang istri harusnya menyambut suami saat pulang kerja."
Ara tak kuasa tak mengedipkan mata.
"Dan yang ketiga? Hal apa lagi yang ingin tuanmu aku lakukan?"
Luca terdiam sebentar. Ia seolah ada keraguan untuk mengatakan nya tapi akhirnya ia mengatakan juga. "Kata Tuan, nyonya harus belajar patuh. Tidak pura-pura patuh. Nyonya harus tahu batasan kesabaran tuan."
DEG!! Kata-kata itu benar-benar menusuk tepat di relung hatinya yang paling dalam. Dante jelas sengaja melakukannya. Apakah pria itu sekarang juga sedang mengutukinya atau sedang merencanakan hukuman apa lagi berikutnya untuknya. Benar-benar tidak bisa dipercaya, ternyata ia sependendam itu.
Ara menyeringai kecut. "Baik. Baik. Akan ku kerjakan. Bawakan manekin dan instruktur itu. Aku akan mulai belajar."
Dua orang bodyguard meletakkan sebuah manekin di walking closet kamarnya. Tak lama kemudian, instruktur wanita paruh baya berparas rupawan dengan rambut ikal datang. Wajahnya tegas dan ia membawa penggaris kayu di tangan.
"Dia hidup di zaman kolonial kah?" setengah berbisik Ara bertanya pada Luca.
Luca menatap lurus nyonya muda nya tanpa kata-kata. Lebih tepatnya tidak tahu harus berkata apa.
Wanita paruh baya itu tersenyum getir. "Penggaris ini akan berguna untuk memperbaiki dan mengoreksi postur yang salah."
Ara tersenyum tawar. Ternyata wanita tua itu mendengar kata-katanya. Padahal ia sudah berbisik selirih mungkin.
"Nyonya tidak perlu sungkan padaku." Wanita tua itu mempersilahkan Ara berjalan lebih dulu. Mereka baru berhenti saat sudah ada di depan manekin.
Wanita itu meminta Ara mengambil jas dari salah satu lemari. Karena Ara tidak tahu tempatnya, ia kena pukul. Jadi itulah pukulan pertamanya. Bukannya ia yang sungkan ternyata, wanita itu yang tidak segan. Hufht..
Pada akhirnya pertama-tama ia harus belajar mengetahui semua isi walking closet suaminya itu dimulai dari ujung satu ke ujung lainnya. Baru kemudian ia belajar mengambilkan jas dari salah satu bilik lemari dan mengenakannya. Lagi-lagi pukulan kedua, ketiga, keempat dan kelima datang. Entah karena caranya yang salah mengambil baju, caranya yang salah membawanya, atau caranya yang salah saat memakaikannya. Punggung tangannya sudah terasa panas dan memerah. Ini sebenarnya belajar menjadi istri atau belajar secara militer. Ara tak habis pikir. Tapi ia tak berani mengatakannya. Ia tak mau makin menambah parah pukulannya.
Setelah cukup baik, Ara baru belajar memasang dasi. Hal yang sederhana baginya sangat rumit. Ia harus meminta instruktur itu berulang kali menjelaskan. Ia benar-benar tak paham bagaimana sisi satu menyilang ke yang lain. Mana yang lebih dulu disilangkan.
Ara menghabiskan berjam-jam untuk memasang dasi dan hasilnya masih buruk. Jangan bertanya berapa kali lagi tangannya kenan pukul. Sangat banyak, ia tak berniat menghitungnya.
Pelajaran dijeda untuk makan siang. Luca membawa wanita itu pergi ke meja makan. Sementara Ara tetap makan di kamar. Makan di meja yang sama dengan ia sarapan tadi pagi dengan Dante.
Entah apa yang dikatakan Luca pada wanita itu. Tapi usai makan, wanita itu sedikit lebih sabar menghadapinya. Mereka kembali belajar memasang dasi. Baru menjelang sore, mereka berdua turun ke bawah. Luca juga menyuruh orang memindahkan manekin itu kembali ke gudang.
Di lantai bawah, ia belajar menyambut suaminya di depan pintu dengan senyum hangat. Lalu menerima jasnya dan memberikan jas itu kepada pelayan.
"Pelajaran hari ini sampai disini dulu. Dua hari lagi aku baru akan datang," pamit wanita itu. Bahkan wanita itu tidak perlu repot-repot memperkenalkan siapa dirinya.
Ara mendengus lega. "Wanita setan itu akhirnya pergi juga." Ia tidak peduli Luca juga mendengar umpatannya. Lebih lagi ia tidak peduli jika Luca melaporkan nya pada Dante.
Luca memang kaget, tapi ia tak menunjukkan ekspresi apapun ketika mendatangi Ara. Ia menyerahkan salep dan menyampaikan pesan. "Ini dari Tuan. Kata Tuan, Nyonya sudah belajar dengan sangat baik hari ini."
Ara mencibir. Ia mengambil salep itu dan naik kembali ke kamarnya. Siapa sangka kamarnya sudah dikunci. Seorang pelayan datang menghampiri. "Semua barang nyonya sudah kamu pindahkan ke kamar Tuan."
Ara bergidik dengan pengaturan Dante yang rapi ini. Jujur ia salut. Sementara tadi ia belajar setengah mati dengan instruktur wanita menyebalkan itu, pelayan di rumah ini juga sibuk memindahkan barang-barang nya ke kamar Dante. Hufht.. Ia meniup ujung helaian rambutnya sendiri.
"Aku tahu," jawab Ara setengah hati. Jalannya lunglai. Dante tidak menyisakan pilihan untuknya.
Pelayan itu pun pergi.
Ara naik satu lantai lagi ke kamar Dante. Ia ingin merebahkan diri tapi melihat jam dinding, ia tahu Dante sebentar lagi akan pulang. Sejak menikah, Dante selalu pulang tepat waktu. Ya, kecuali Dante ada rapat atau pertemuan. Luca akan memberitahu.
Dengan malas ia pergi ke walking closet Dante dan pergi ke bilik miliknya. Ia mengambil handuk dan baju ganti lalu masuk ke kamar mandi. Setidaknya mengguyur dirinya dengan air bakal jauh membuat dirinya merasa lebih baik setelah seharian ini berkecimpung dengan wanita tua itu.
Usai mandi, ia berdiri di depan cermin, mengeringkan dan menyisir rambutnya. Ia menggunakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Kemudian ia menyapukan lip balm pink sebelum turun ke bawah.
***