Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – Monster Tingkat S Bagaikan Mainan di Tangan Sang Pangeran!
“Hiaaa!”
Zrattt!
Tebasan cepat dari pedang besar Jenderal Vermont mengenai tubuh High Goblin itu secara telak.
Monster bertubuh kekar itu seketika terkulai lemas dengan dada yang terbelah menganga, sebelum akhirnya tumbang ke tanah dan tidak bergerak lagi.
Bruk.
Sang Jenderal langsung berlutut pada satu kakinya.
Ia tampak begitu kelelahan, bertumpu pada gagang pedangnya dengan napas yang terengah-engah.
Sudah berapa lama aku bertarung di dalam sini? pikirnya getir.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki ke dalam Dungeon ini, mereka sudah langsung disambut oleh gerombolan monster di atas tingkat 4. High Goblin yang baru saja dibunuhnya adalah salah satu contoh nyata.
Ternyata, prediksi sang Jenderal sama sekali tidak meleset. Tempat ini adalah sebuah Wild Dungeon Tingkat S. Fakta itu terbukti kuat lewat jenis monster yang bermunculan sejak awal.
Sejauh yang ia ketahui dari catatan sejarah, Dungeon Tingkat S tidak akan pernah melahirkan monster di bawah tingkat 4. Kualitas monster di dalam sini selalu berada di atas standar normal.
“Repeat!”
Mantra perlindungan suci kembali dirapalkan, membalut tubuh sang Jenderal dengan pendar cahaya keemasan.
Miasma di dalam gua ini benar-benar jahanam. Selain menggerogoti ketahanan fisiknya, kabut ungu pekat itu juga memberikan efek negatif yang menekan aliran sihirnya.
Biasanya, batas waktu sihir perlindungannya selalu tepat bertahan selama dua jam. Namun sekarang, durasi tersebut terus menurun secara drastis.
Kali ini, sihir perlindungan sucinya hanya mampu bertahan selama satu jam tiga puluh menit saja.
Jenderal Vermont mengalihkan pandangannya, melirik ke arah seorang pemuda yang berada tidak jauh di depannya.
Kedua matanya terbelalak heran melihat Edward yang dengan santai menghancurkan gerombolan High Goblin, semudah seorang anak kecil yang sedang mematahkan mainan plastiknya.
Terlebih lagi, efek miasma sialan yang membuatnya setengah mati itu sama sekali tidak berpengaruh pada tubuh sang Pangeran.
Hap!
Edward dengan gerakan refleks yang presisi menangkap kepala seekor High Goblin yang mencoba menerkamnya dari samping.
Tanpa ekspresi, ia membanting tubuh monster hijau itu berkali-kali ke tanah berbatu dengan kekuatan brutal, hingga akhirnya kepala monster itu terlepas dari lehernya.
Monster malang itu bahkan sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk melancarkan satu pun serangan sejak awal.
“Kieeek!!”
Seekor High Goblin mencoba peruntungannya dengan melancarkan serangan kejutan ke arah Edward dari belakang.
Monster itu mengayunkan sebuah pedang besar berkekuatan penuh, berniat menebas putus kepala lelaki di hadapannya.
Sayangnya, pergerakan itu sudah dibaca dengan sangat mudah oleh Edward.
Sret.
Ia menggeser tubuhnya ke samping, menghindari tebasan pedang si monster dengan gerakan yang teramat mulus.
Sebelum monster itu sempat menarik senjatanya, Edward mencengkeram salah satu kakinya kuat-kuat.
Bum! Bum! Bum!
Tanpa belas kasihan, Edward membenturkan tubuh monster itu ke dinding batu gua secara brutal dan berkali-kali.
Hantaman keras itu menggema begitu hebat, hingga menciptakan getaran gempa kecil yang membuat sejumlah stalaktit di langit-langit gua bergoyang parah.
Ketika Edward akhirnya berhenti, yang tersisa dari sang monster hanyalah bagian pinggang ke bawah saja.
Sementara itu, bagian dada hingga kepalanya sudah hancur lebur, melekat mengenaskan di dinding batu gua.
“Y-Yang Mulia... Anda baik-baik saja?” tanya Jenderal Vermont dengan suara agak bergetar.
“Ng? Ya, tentu saja,” sahut Edward santai.
Ia melemparkan sisa potongan kaki High Goblin itu ke arah belakang dengan serampangan.
“Kau terlihat sangat pucat, Duke Vermont. Lebih baik kita beristirahat sejenak di sini.”
Jenderal Vermont memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, berusaha keras agar tetap terlihat tegar di hadapan sang Pangeran.
“Tidak. Saya masih sangat sanggup, Yang Mulia Pangeran.”
Edward hanya bisa menghela napas panjang melihat kekerasan kepala pria paruh baya di depannya.
Deg.
Tiba-tiba, telinga Edward berkedut samar. Sepasang indra pendengarannya baru saja menangkap suatu gelombang suara yang masif.
“Ada lagi yang datang. Dan kali ini... jumlahnya jauh lebih banyak.”
Sang Jenderal langsung memasang posisi bertarung. Ia telah bersiap siaga dengan kuda-kuda terbaiknya.
Namun, apa yang kemudian muncul dari kegelapan lorong gua seketika membuat tubuhnya menegang kaku. Jenderal Vermont nyaris tidak bisa menggerakkan seujung jarinya pun akibat syok.
Drap! Drap! Drap! Drap!
Gerombolan King Orc dan King Goblin menerjang ke arah mereka berdua bagaikan ombak pasang yang mengamuk.
Tidak hanya itu, kawanan Dire Wolf berukuran raksasa juga ikut meramaikan barisan monster tersebut.
Semua monster yang sedang berlari konvoi ini adalah monster tingkat 5—spesies mengerikan yang kekuatannya setara dengan bencana alam tingkat Yogner.
Mereka semua datang memburu dengan sepasang mata merah, didorong oleh nafsu membunuh yang teramat besar.
“Sial....”
Jenderal Vermont berbisik pasrah pada keadaan.
Sudahlah kabut miasma di dalam gua ini terus memperburuk kondisi fisiknya, kini ia malah harus dihadapkan pada situasi mustahil: bertarung melawan ratusan monster tingkat 5 sekaligus secara bersamaan.
Berakhir sudah. Tidak ada lagi kesempatan untuk selamat bagi mereka.
Namun, di tengah keputusasaan itu, tebersit satu hal terakhir yang bisa dilakukan oleh dirinya. Sebuah tugas akhir sebagai seorang Jenderal yang telah bersumpah setia pada kerajaan.
“Y-Yang Mulia... Harap segera pergi dari sini! Saya tidak tahu berapa lama lagi fisik saya bisa bertahan. Tapi setidaknya, saya akan mengerahkan seluruh sisa tenaga ini untuk mengulur waktu bagi Anda agar bisa melarikan diri!”
“Itu tidak perlu.”
Edward justru melangkah maju secara perlahan. Ia mengambil posisi paling depan, menghadang langsung ratusan monster yang sedang berlari kencang menuju ke arah mereka.
“Karena aku ada di sini.”
Zzzt— BOOM!
Sedetik kemudian, sepasang mata Edward yang menyala terang seketika melepaskan dua pancaran energi yang sangat dahsyat. Cahaya itu melesat kilat menembus kegelapan lorong gua.
Pancaran energi mematikan itu langsung menghantam barisan terdepan. Memotong, membelah, sekaligus membakar setiap monster yang ada di jalurnya tanpa tersisa.
Bahkan perisai besi tebal yang diusung para King Orc sama sekali tidak berguna. Sorot energi murni milik Edward sanggup menembus dan melelehkannya seketika, seolah perisai itu hanya terbuat dari selembar kertas tipis.
Jenderal Vermont seketika membeku dengan mulut menganga lebar.
Serangan yang baru saja disaksikannya benar-benar berhasil membuat otaknya seolah hendak meledak.
Dengan sangat mudah, Edward memusnahkan seluruh kawanan monster tingkat 5 tersebut bahkan tanpa perlu menggerakkan satu jarinya pun. Sungguh sebuah serangan dengan daya rusak yang teramat sangat mengerikan.
Selain itu, terkait pancaran cahaya mematikan yang mendadak melesat keluar dari sepasang mata sang Pangeran, Jenderal Vermont sama sekali tidak mampu menjelaskan fenomena apa yang baru saja terjadi.
Bagi seorang Ksatria Sihir Lingkaran 5 seperti dirinya—yang begitu peka terhadap keberadaan dan aliran Mana—apa yang dilakukan oleh Edward baru saja sudah jauh melampaui batas kata mustahil.
Pancaran energi itu terasa teramat sangat murni, melampaui teknik manipulasi Mana jenis apa pun yang pernah dilakukan oleh seorang Penyihir hebat.
Energi tersebut dipadatkan dengan tingkat presisi yang luar biasa sempurna, hingga mampu menciptakan serangan destruktif sekelas itu tanpa memicu terjadinya penyimpangan inti.
Jika Pangeran muda di depannya ini benar-benar seorang Penyihir... maka tingkat kemampuan Edward sudah pasti telah melampaui Lingkaran 6 atau bahkan Lingkaran 7.
Zzzt....
Edward akhirnya menghentikan pancaran energinya, begitu seluruh monster malang itu tewas mengenaskan dalam kondisi terpanggang hangus.
Bau gosong seketika menyeruak memenuhi lorong gua, bercampur dengan aroma daging panggang yang—entah mengapa di tengah situasi mencekam ini—terasa cukup menggiurkan di hidung.
“Ayo, kita lanjut,” ucap pemuda itu singkat, lalu kembali melangkah santai melintasi tumpukan bangkai yang membara.
“A-ah, tunggu saya, Yang Mulia Pangeran!” seru Jenderal Vermont yang baru tersadar dari syoknya, segera berlari menyusul.
Mereka berdua melangkah semakin jauh, merangsek masuk ke bagian Dungeon yang lebih dalam.
Sama seperti sebelumnya, rombongan kecil itu dengan mudah menyingkirkan setiap gelombang serangan monster yang mencoba menghadang.
Kadang kala Jenderal Vermont yang maju menusuk dan menebas. Namun, tak jarang pula Edward yang turun tangan membasmi mereka dengan cara yang teramat brutal.
Sebut saja memegang tubuh monster lalu membantingnya ke tanah sampai penyet, atau membenturkan kepala mereka ke dinding batu hingga hancur berkeping-keping.
Langkah mereka mendadak terhenti ketika tiba di sebuah area persimpangan.
Di hadapan mereka, berdiri dua lorong gelap yang mengarah ke sudut berbeda—satu membentang ke arah kiri, dan satu lagi memanjang ke kanan.
“Jadi tempat ini tipe labirin, ya....” ucap sang Jenderal pelan sembari mengamati struktur dindingnya.
Jangan lupa ke naskah aku juga ya