NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PERINGATAN DARI KEPALA SEKOLAH

Maksud hati ingin menikmati sisa es teh gratisan dengan tenang, takdir berkata lain. Baru saja Dimas selesai meratapi dompetnya yang makin tipis, suara statis dari speaker terompet di sudut kantin mendadak berbunyi nyaring.

Pseeeut... Bzzz...

"Panggilan ditujukan kepada seluruh pengurus Klub Gambar, harap segera menghadap ke ruang Kepala Sekolah sekarang juga. Sekali lagi..."

Suara pengumuman itu memotong gelak tawa Aira secara instan. Sedotan di mulut Dimas bahkan sampai lepas.

"Panggilan Kepala Sekolah?" gumam Aira bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Perasaan kita gak pernah bikin rusuh, deh."

"Gak bikin rusuh gimana..." Raka melirik ke arah meja klub mereka di ujung lorong. "Klub kita udah tiga bulan gak ada laporan kegiatan. Isi markas cuma TV sama konsol PS yang dibawa Dimas dari rumah."

Mendengar kata-kata Raka, wajah Dimas mendadak berubah pucat pasi. "Duh, Rak... Gara-gara PS gue ya? Atau... atau gara-gara nilai PTS gue yang peringkat 32 kemarin? Masa iya Kepala Sekolah ngurusin nilai buncit gue?!"

"Daripada tebak-tebakan di sini, mending langsung ke sana aja," sela Alya tenang sembari merapikan tempat duduknya.

Sepuluh menit kemudian, mereka berempat sudah berdiri berjejer di depan meja kayu jati milik Kepala Sekolah. Di samping beliau, berdiri Wali Kelas mereka yang menatap lembaran kertas rekapitulasi dengan raut wajah sangat serius.

"Kalian tahu kenapa dipanggil ke sini?" buka Pak Kepala Sekolah, menatap tajam di atas kacamata bicaranya.

Belum sempat ada yang menjawab, beliau melanjutkan dengan ketukan jari di atas meja.

"Pertama, Klub Gambar. Laporan kegiatan tiga bulan terakhir kosong melompong. Kalau minggu depan tidak ada draf karya nyata yang dikumpulkan, ruang klub kalian akan dialihfungsikan jadi gudang olahraga. Bebas kegiatan!"

"A-apa?!" jerit Dimas dan Aira membatin panik.

"Dan yang kedua..." Pak Kepala Sekolah mengalihkan pandangannya tepat ke arah Dimas. "Dimas Sanjaya."

Dimas meneguk ludah sukar. Kerongkongannya mendadak terasa sekering gurun pasir.

"Nilai PTS kamu anjlok drastis. Mulai besok, sesuai instruksi Wali Kelasmu, kamu wajib mengikuti private class bimbingan belajar khusus setiap jam istirahat kedua dan sepulang sekolah. Tidak ada bantahan!"

BUM! Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepala Dimas.

Izin klub terancam dicabut, dan di saat bersamaan, dia dipisahkan dari markas untuk 'dikurung' di kelas bimbingan khusus.

​"Nooo!!! Gimana nih, Rak?!" jerit Dimas histeris.

​"Terima aja lah, Mas. Ini kan masalah lu, bukan masalah gue," balas Raka lempeng. "Udah ya, gue cabut duluan!"

​Raka, Alya, dan Aira melangkah keluar, meninggalkan Dimas yang mematung sendirian di ruangan itu.

​"Tungguuu!"

​Baru saja jemari Dimas hendak menyentuh gagang pintu untuk kabur, Wali Kelas dengan sigap mencegahnya. Tanpa ampun, kerah baju Dimas ditarik dan diseret keluar menuju tempat hukumannya.

​Sementara itu di sisi lain, Raka terdampar di ruang klub memegang pensil gambarnya dengan nyawa setengah melayang.

​"Duh... capek nih. Boleh istirahat sebentar gak?" keluh Raka.

​"Gak boleh! Minimal selesai empat panel baru boleh istirahat, itu juga cuma lima menit!" seru Aira sambil menggelengkan kepala tegas.

​"Hah? Cuma lima menit?!" Raka melotot. "Kenapa kalian gak bantu gue menggambar aja sih?"

​"Lah, ini kita udah bantu!" sahut Aira tak mau kalah. "Gue bagian nulis cerita, sedangkan Alya bagian promosi."

​"Aduh... gini amat ya..." ringis Raka pasrah.

​Mereka bertiga pun melanjutkan pekerjaan masing-masing. Raka kembali menggoreskan pensil dengan jemari yang rasanya mau patah. Aira memeras otak menulis alur cerita sampai jarinya kaku. Sementara Alya sibuk mencari kata-kata promosi yang pas, membuat seratus lembar kertas yang salah kini berserakan di sekeliling mejanya.

​Dan Dimas... pria bernasib apes itu kini berdiri di depan deretan toilet sekolah. Wali kelas memberinya tugas tambahan membersihkan seluruh toilet agar hukuman kelas private-nya nanti bisa sedikit diringankan.

​"Adduh... apes banget gue! Huhu... gue mau balik!" ratap Dimas meratapi nasibnya.

​"Ya udah lah, kerjain aja daripada makin berabe..." gumamnya pasrah.

​Namun, saat hendak melangkah ke bilik toilet kedua, matanya menangkap pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ada sesuatu yang tampak mengambang tenang di dalam bak penampungan.

​"Anjrit! Ini siapa yang belum nyiram?!" pekik Dimas panik.

​Dengan tangan kiri menutup hidung rapat-rapat, tangan kanan Dimas gemetaran meraih gayung. Ia menyiduk air seadanya lalu menyiram bak tersebut secepat kilat.

​"Gila... bau banget!" cerocos Dimas sambil terbatuk-batuk.

​Di saat yang bersamaan, kondisi di ruang klub tak kalah mengenaskan. Raka, Alya, dan Aira akhirnya tumbang ketiduran di atas meja karena kelelahan ekstrim.

​"Arghh... Istirahatnya agak lamaan dikit ya..." gumam Raka dengan suara serak.

​"Nggak... gak boleh..." sahut Aira lemas. Gadis itu menempelkan pipinya di atas meja, menatap Raka dengan mata yang tinggal tersisa lima persen.

​"Haa... aku menyerah ya, Teman-teman..." Alya perlahan menaikkan kain putih bak bendera kekalahan, lalu ambruk menyandarkan kepalanya di atas tumpukan kertas promosi.

​"Haa... kalau gini mah bakal lama selesainya. Mending kita lanjutin besok aja, Ra," usul Raka.

​"Oke... besok aja. Gue juga udah gak kuat..." balas Aira pasrah.

​Baru sekitar sepuluh menit mereka tertidur lelap, bel pergantian pelajaran mendadak berbunyi nyaring memecah hening.

​TEET! TEET!

​Ketiganya tersentak kaget, membuka mata perlahan sambil membetulkan posisi duduk yang kaku.

​"Huaamm... udah bel masuk ya?" gumam Raka mengusap wajahnya.

​"Iya... yuk masuk kelas, Rak," ajak Aira dengan mata setengah terpejam.

​"Okay."

​Sementara Raka dan yang lain berjalan kembali dari ruang klub, Dimas sudah lebih dulu menyelinap masuk ke dalam kelas begitu bel berbunyi. Badannya remuk redam akibat maraton membersihkan toilet.

​Dimas menghempaskan tubuhnya di kursi, lalu meluruskan kedua tangannya ke atas sambil mengendus bajunya sendiri.

​"Haa... akhirnya selesai juga. Semoga mereka bertiga di klub baik-baik aja..." gumam Dimas tulus, sama sekali tidak tahu kalau teman-temannya di klub juga baru saja mengalami penyiksaan fisik yang tak kalah berat.

Sementara itu di koridor sekolah, Raka berjalan gontai menyusuri lantai tegel yang dingin. Di samping kanan dan kirinya, Alya dan Aira berjalan dengan langkah lunglai yang tak kalah lemas. Dari kejauhan, Raka kelihatan seperti protagonis anime yang sedang dikelilingi dua gadis—versi serba kelelahan.

​"Aduh... gini amat ya. Udah capek, dibikin tambah capek. Nasib, nasib..." gumam Raka sambil menghela napas panjang.

​Namun, di balik keluhannya, bibir Raka mendadak mengukir senyum tipis. "Tapi... lumayan keren juga sih. Berasa kayak karakter anime harem yang gue tonton semalem. Ternyata gini toh rasanya, hahaha," batinnya terkekeh sendiri.

​Raka menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran konyolnya. "Tapi ya... begini lebih baik. Daripada dipaksa lanjut terus tapi hasilnya malah makin hancur, mending istirahat dulu."

​Melihat pintu kelas yang tinggal beberapa meter lagi di depan mata, Raka mempercepat langkahnya.

​Begitu kakinya melangkah masuk ke dalam kelas, Raka langsung memandu Alya dan Aira kembali ke tempat duduk mereka. Setelah memastikan kedua temannya aman, Raka melesat ke kursinya sendiri dan langsung menjatuhkan tubuhnya yang remuk ke atas meja.

​Hari ini resmi menjadi hari paling melelahkan bagi Raka selama bersekolah di sini. Ya, memang tidak seberat saat ia harus mengangkut karung-karung jeruk waktu itu, tapi lelah mentalnya tetap terasa.

​Meski begitu, jauh di dalam hatinya, Raka merasa puas.

​Ia menyukai rasa lelah ini. Karena ia adalah Raka—seorang remaja yang tidak pernah lari dari tantangan. Bagi Raka, tantangan adalah bahan bakar yang menyalakan kembali semangat dan gairahnya. Dan ia tahu betul, dengan terus melangkah maju menghadapi setiap kesulitan seperti ini, mendiang ayahnya di atas sana pasti tersenyum bangga melihatnya.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!