NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Sunyi di Balik Kemewahan

Riuh rendah suara tepuk tangan dan denting gelas kristal dari ballroom lantai bawah perlahan memudar, digantikan oleh keheningan yang menenangkan begitu pintu kamar Presidential Suite ditutup rapat. Kamar hotel super mewah berlantai karpet beludru tebal itu menyajikan pemandangan lanskap lampu kota Jakarta malam hari yang berkilauan bak hamparan berlian melalui dinding kaca raksasanya.

Senjani menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu ek yang kokoh, mengembuskan napas panjang yang telah dia tahan sejak berada di panggung tadi. Kedua tangannya bergerak ke belakang leher, melepas kancing sanggul modernnya hingga rambut hitam panjangnya yang halus langsung terurai jatuh bergelombang melewati bahunya.

"Capek banget, ya?"

Sebuah pasang tangan yang hangat dan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggang ramping milik Senjani dari arah belakang. Jiro menarik tubuh istrinya perlahan agar bersandar pada dada bidangnya yang masih terbalut kemeja putih tanpa jas tuksedo lagi. Wangi parfum maskulin bercampur aroma maskulin tubuh Jiro langsung menguar, mengusir sisa rasa lelah Senjani dalam sekejap.

"Lebih dari sekadar capek, Mas," Senjani membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Jiro, mendongak menatap rahang tegas suaminya dengan senyuman tipis yang manis. "Menghadapi ratusan kilatan kamera wartawan dan tatapan menusuk dari para putri konglomerat tadi rasanya jauh lebih menguras tenaga daripada melakukan terapi fisik pada pasien stroke harian."

Jiro terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang terdengar begitu seksi di telinga Senjani. Dia merapikan beberapa helai anak rambut Senjani yang menempel di pipi merona istrinya menggunakan ibu jarinya dengan gerakan yang sangat lembut.

"Tapi kamu melakukannya dengan sangat sempurna, Nona Terapis," bisik Jiro, suaranya merendah satu oktav saat matanya turun menatap bibir manis Senjani yang dipulas lipstik merah ceri. "Ucapanmu, caramu berjalan mendampingiku, dan bagaimana kamu membungkam kesombongan Kinar tadi... kamu benar-benar pantas menyandang gelar ratu di sampingku."

Senjani merasakan dadanya berdesir hebat, detak jantungnya kembali berpacu cepat seperti malam-malam awal mereka di ruang terapi dulu. Dia menyandarkan kedua telapak tangannya di dada Jiro, merasakan detak konstan yang sama gilanya di balik kain kemeja tipis suaminya.

"Semua itu karena kata-kata dari Mas Jiro di ruang rias tadi," ucap Senjani tulus, matanya berbinar haru. "Jika Mas tidak meyakinkanku bahwa tempatku adalah di sini, di sampingmu, mungkin aku sudah melarikan diri lewat pintu belakang hotel sejak awal."

"Aku gak akan pernah ngebiarin kamu lari lagi, Senjani. Gak akan pernah," janji Jiro mutlak. Pria itu menundukkan kepalanya, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan dengan mesra. Dia mengecup bibir Senjani dengan penuh kelembutan, sebuah kecupan lambat yang menyalurkan seluruh rasa cinta, rasa syukur, dan rasa bersalah masa lalu yang kini telah melebur sepenuhnya menjadi gairah kepemilikan yang sah.

Di bawah temaram lampu tidur yang meremang, Jiro menggendong tubuh kecil Senjani dengan sangat mudah ke arah ranjang berukuran super king-size di tengah ruangan. Malam ini, di atas hamparan seprai sutra putih, mereka berdua menepiskan seluruh sekat status sosial, trauma masa lalu, dan batasan etika profesi yang pernah menyiksa batin mereka. Yang tersisa hanyalah dua anak manusia yang saling mendekap erat, menyatukan jiwa dan raga mereka dalam dekapan malam pernikahan yang sesungguhnya yang penuh kehangatan abadi.

Jiro menurunkan tubuh kecil Senjani dengan sangat hati-hati di atas hamparan seprai sutra putih yang lembut. Pria itu langsung menyusul, memosisikan tubuh tegapnya di atas Senjani, mengunci pergerakan istrinya di antara kedua lengan kokohnya. Di bawah temaram lampu tidur yang meremang keemasan, netra elang Jiro menatap lekat-lekat wajah Senjani dengan kilat gairah yang begitu pekat dan dalam.

"M-Mas Jiro..." bisik Senjani, suaranya terdengar sangat rapuh dan bergetar hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sesak.

"Panggil namaku lagi, Senjani," perintah Jiro, suaranya berubah menjadi sangat rendah, serak, dan penuh dengan dominasi yang mematikan kewarasan.

Jemari tangan kanan Jiri yang hangat perlahan merayap naik dari pinggang Senjani, menelusuri lekuk gaun sutra hijau yang licin, hingga berhenti di tengkuk leher istrinya. Sentuhan kulit mereka mengirimkan sengatan listrik yang membakar ego keduanya malam itu. Jiro menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang tidak lagi lembut seperti sebelumnya. Kali ini, ciuman itu sarat akan tuntutan, rasa lapar yang tertahan selama berbulan-bulan, dan penegasan kepemilikan yang mutlak atas diri Senjani.

Senjani melenguh pelan di sela tautan bibir mereka, perlahan membuka mulutnya membiarkan Jiro merajai seluruh sukmanya. Kedua lengan lentik sang terapis merayap naik, melingkar erat di leher kokoh suaminya, meremas rambut hitam Jiro yang sedikit berantakan. Rasa hangat menjalar hebat dari ulu hati mereka, meluluhkan semua sisa-sisa trauma masa lalu, batasan kode etik profesi, atau keraguan status pernikahan paksa mereka.

Tangan kekar Jiro bergerak taktis ke belakang punggung Senjani, menurunkan ritsleting gaun malamnya secara perlahan hingga kain sutra emerald itu meluncur jatuh, mengekspos kulit putih mulus Senjani di bawah remang lampu kamar hotel. Jiro mengalihkan kecupannya turun ke dagu, melewati leher jenjang, hingga ke tulang selangka istrinya, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang intim di atas kulit Senjani.

"Kamu adalah milikku, Senjani... seutuhnya milikku," bisik Jiro dengan napas yang memburu pendek di sela-sela sapuan bibirnya.

Senjani memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram kain kemeja putih Jiro dengan kuat hingga kancing-kancing atas kemeja pria itu terlepas berhamburan di atas ranjang. Di kamar Presidential Suite yang terisolasi dari dunia luar ini, mereka berdua menepis seluruh kedok fana status sosial kaum elite di luar sana.

Di atas ranjang mewah itu, di bawah kehangatan selimut tebal yang bergulung kacau, simfoni detak jantung mereka menyatu dalam ritme yang sama gilanya. Gerakan tangan sang terapis yang biasanya menyembuhkan fisik, kini menuntun sang Tuan Muda menuju puncak pelepasan gairah spiritual yang paling suci. Malam itu menjadi saksi bisu penyerahan diri yang paling intim di antara sepasang suami istri yang sah, di mana sang monster yang angkuh telah resmi takluk dan melebur seutuhnya di dalam kehangatan pelukan wanita penyembuh hatinya hingga fajar menyingsing.

...----------------...

Keesokan paginya, sekitar pukul sembilan, suasana hangat di dalam kamar mewah itu terusik oleh suara ketukan pintu depan yang teratur namun mendesak.

Jiro yang sudah rapi mengenakan celana kain hitam dan kemeja santai berwarna navy melangkah membuka pintu setelah memastikan Senjani masih tertidur pulas di balik selimut tebal. Di depan pintu, Adriano berdiri dengan wajah yang tidak biasa. Ekspresi asisten kepercayaannya itu tampak sangat tegang, memegang sebuah map dokumen berwarna abu-abu gelap dengan logo cap 'RAHASIA' dari divisi intelijen bisnis perusahaan.

"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan Besar," ucap Adriano sembari membungkuk hormat, suaranya setengah berbisik agar tidak membangunkan Senjani di dalam. "Ada perkembangan baru yang sangat darurat terkait pembersihan aset pasca penangkapan Grayson minggu lalu."

Jiro menutup pintu kamar tidur di belakangnya dengan rapat, lalu berjalan menuju sofa ruang tamu suite bersama Adriano. Sisi CEO-nya yang dingin dan tajam seketika kembali aktif sepenuhnya. "Ada apa? Apakah ada sekutu dari Grayson di jajaran direksi yang mencoba membuat kekacauan di bursa saham?"

"Bukan dari dalam direksi kita, Tuan," Adriano membuka map tersebut, menunjukkan selembar bagan kepemilikan saham baru dari salah satu kompetitor terbesar Nandotomo Group di Asia Tenggara—Meganco Corp yang berbasis di Singapura. "Pagi ini, tim analis kita mendeteksi adanya pergerakan akuisisi senyap terhadap beberapa anak perusahaan kelapa sawit kita yang sempat dikelola oleh Grayson dulu. Dan yang lebih mengejutkan... pemilik sah dari Meganco Corp yang baru saja menandatangani kontrak kerja sama rahasia dengan Grayson sebelum dia ditangkap adalah seseorang dari masa lalu Nona Senjani."

Jiro menyipitkan matanya yang tajam, hawa membunuh yang pekat mendadak menguar kembali dari tubuh tegapnya. "Seseorang dari masa lalu istriku? Siapa?"

Adriano menghela napas berat sebelum menyebutkan satu nama yang langsung membuat rahang Jiro mengeras kaku.

"Dokter Heru, Tuan Muda. Lebih tepatnya, ayah kandung Dokter Heru, yaitu Harianto Meganco. Mereka sengaja memanfaatkan informasi internal tentang kecelakaan Anda yang bocor dari Grayson enam bulan lalu untuk menjatuhkan nilai saham Nandotomo Group di Singapura. Dan tampaknya... Dokter Heru sengaja mendekati Nona Senjani di rumah sakit minggu lalu bukan hanya karena perasaan lama, melainkan sebagai bagian dari rencana mereka untuk mengawasi pergerakan pemulihan fisik Anda melalui terapis pribadinya."

Brak!

Jiro menggebrak meja kaca di depannya hingga retak tipis di bagian sudutnya. Netra elangnya berkilat kemarahan yang luar biasa dahsyat. "Jadi, kedatangan dokter junior sialan yang berani menyentuh bahu istriku minggu lalu itu bukan sekadar kebetulan atau kisah cinta lama yang belum kelar. Itu adalah bagian dari konspirasi bisnis yang menjijikkan untuk menghancurkan kerajaannya menggunakan Senjani sebagai bidak tak kasat mata."

"Mereka salah memilih lawan, Drian," desis Jiro dengan suara bariton yang sangat rendah dan berbahaya, sanggup membuat siapa saja merinding ketakutan. "Aktifkan rencana boikot finansial terhadap seluruh jalur distribusi baja dan logistik Meganco Corp di pelabuhan Jakarta sekarang juga. Dan pastikan Dokter Heru itu tidak akan pernah bisa menyentuh dunia medis di negeri ini lagi seumur hidupnya."

Di balik pintu kamar tidur yang sedikit terbuka, Senjani sedari tadi berdiri mematung mendengarkan seluruh percakapan darurat tersebut dari kejauhan. Tubuhnya kembali gemetar tipis, bukan karena takut pada suaminya, melainkan karena dia menyadari bahwa badai baru di atas takdir pernikahannya... ternyata belum benar-benar berakhir. Namanya dan profesinya kembali diseret ke dalam pusaran perebutan kekuasaan yang mematikan oleh orang-orang dari masa lalunya yang tamak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!