NovelToon NovelToon
Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:618
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.

Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.

Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.

Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.

Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran yang Pahit

Bara masih menikmati Melodi Choco Latte saat Melodi sudah selesai menyanyikan satu lagu. Dahi Bara mengerut, saat lagu berikutnya bukan suara Melodi yang terdengar. Bara menoleh ke arah jendela kaca. Tak ada Melodi disana.

"Udah kabur aja tu bocah," kata Alto sambil membuatkan minuman untuk pengunjungnya.

"Kebiasaan. Kalau abis nyanyi langsung ngilang," tambah Alto.

Bara dengan cepat menghabiskan minuman pesanannya, meninggalkan sejumlah uang di bawah cangkir, lalu berjalan cepat keluar kafe. Alto melirik Bara yang pergi begitu saja. Senyum tipis terkembang di wajahnya.

"Bakal ada korban lagi nih," gumam Alto sambil menyodorkan minuman pada pelayan untuk di antar ke meja pengunjung.

Sementara itu, saat keluar, mata Bara menyapu seluruh pelataran kafe. Bara tak menemukan Melodi di tempat gerombolannya. Matanya membulat saat menangkap sesuatu yang lebih mengejutkan dari sekedar menemukan Melodi.

Dia memang menemukan Melodi. Yang membuatnya terkejut adalah Melodi berdiri di samping kakaknya, Si Pangeran Es.

"Wuiiih... Gila! Ada juga cewek yang berani deketin Kak Abas?" gumam Bara lalu berjalan mendekati mereka.

"Oi! Dicariin ternyata lagi asyik disini," teriak Bara membuat Melodi dan Abas menoleh bersamaan.

"Eh, sorry. Nungguin ya?" tanya Melodi sambil meringis. Bara menggelengkan kepalanya.

"Bara. Pulang," ajak Abas sambil berjalan menuju mobil.

"Eh? Pulang ke villa atau..."

"Rumah," jawab Abas singkat, dingin, dan datar, lalu masuk ke dalam mobil. Melodi mengerjapkan kedua matanya. Bara menatap Melodi sambil menahan tawa.

"Kamu baru lihat spesies pria kek dia?" tanya Bara.

"Eh? O-oh... Biasanya cuma lihat di film sih. Ternyata ada beneran," kata Melodi sambil menatap pintu mobil Bara yang sudah tertutup. Bara tertawa.

"Sorry ya. Kakakku mangkir pas pembagian emosi dulu, jadinya gitu. Datar," kata Bara.

"Eh? Kakak?!" tanya Melodi.

"Hm? Kamu nggak mikir dia pacarku kan?" tanya Bara sambil terkekeh. Mata Melodi membulat. Dia menggelengkan kepalanya cepat. Tawa Bara kembali pecah.

"Bara," panggil Abas dari dalam mobil.

"Eh, ya, Kak," jawab Bara.

"Pangeran Es mau berevolusi jadi Naga Kutub Utara. Aku balik dulu ya," pamit Bara lalu berlari menuju mobilnya.

Kedua alis Melodi mengerut. Namun sudut bibirnya terangkat melihat tingkah Bara. Saat mobil Bara melewatinya, Melodi melambaikan tangannya.

'Satunya cengengesan, satunya kaku kayak kanebo kering. Kakak beradik yang aneh,'

***

"Yakin nih mau langsung pulang ke rumah?" tanya Bara pada Abas yang membuang pandangannya keluar jendela.

"Hm,"

Bara memutar bola matanya perlahan.

"Besok pagi aja deh, Kak. Males banget otewe malem-malem. Mana lewat hutan lagi," kata Bara mencari alasan.

"Terserah,"

Bara tersenyum puas.

"Kalau kamu masih mau di villa, silakan. Aku bisa pulang sendiri," lanjut Abas, membuat senyum Bara memudar. Bara mendengus pelan.

"Kirain Kakak bakal lama kaburnya. Kalau tahu cuma dua hari nggak aku cariin," kata Bara. Abas menoleh ke arah adiknya.

"Kamu lari dari kerjaan?" tanya Abas. Bara meringis, menyadari mulutnya hilang kendali.

"Eh? Enggaaak... Cuti," jawab Bara, santai.

Abas kembali menatap keluar jendela. Bara menghela napas lega.

"Jangan mentang-mentang Kakak bisa masukin kamu di Green Home and Decor, kamu jadi bisa seenaknya disana," kata Abas tanpa menatap Bara.

"Tenang, Kak... Aku beneran ambil cuti," kata Bara, meyakinkan kakaknya yang sudah akan meledak.

"Lagian kemarin sebelum kesini, aku udah nyelesaiin proyek yang diserahin ke aku. Karena udah di-acc sama Pak Joni, aku minta cuti," lanjut Bara.

"Berapa hari?" tanya Abas. Bara menelan ludah susah payah.

'Gawat nih,'

"Berapa hari, Bara?" tanya Abas lagi. Kali ini sambil menoleh menatap Bara yang sedang fokus mengemudi dengan wajah tegang.

"Se...minggu," jawab Bara dengan suara lirih. Abas menghela napas kasar lalu kembali membuang muka ke arah jendela di samping kirinya.

"Tadinya mau tiga hari, Kak," Bara mencoba menjelaskan pada Abas.

"Tapi... Pak Joni yang nyuruh ambil seminggu," lanjut Bara. Abas mengerutkan dahinya. Dia kembali menoleh ke arah Bara.

"Sumpah! Aku nggak bohong. Kakak bisa tanya langsung ke Pak Joni," kata Bara cepat.

"Kenapa?" tanya Abas.

"Eh?"

"Kenapa Pak Joni nyuruh kamu ambil cuti seminggu?" tanya Abas memperjelas kalimatnya.

Bara menggigit bibir bawahnya. Dia tak tahu harus menjawab apa.

"Bara," panggil Abas.

"Eh, itu, anu... karena akhir minggu ini Kakak akan... ni...kah,"

'Duh! Mulut! Please, sekali-kali bisa gitu diajak kerjasama,' lagi-lagi, Bara merutuki dirinya dalam hati.

Abas menatap lurus ke depan. Dia menatap jalanan menuju villa yang sepi. Sepi. Sama seperti hatinya saat ini. Tak pernah terpikirkan olehnya, mendengar kata 'nikah' akan terasa begitu menyakitkan.

'Kalau saja aku... mungkin Sabrina tak akan berpaling,'

***

Sabrina mencoba menelepon Abas berkali-kali. Tak ada jawaban. Sabrina menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Dia menatap langit-langit kamarnya.

Sabrina masih ingat, dua hari yang lalu, saat Abas mengajaknya bertemu untuk fitting terakhir gaun pengantin, dia masih merasakan sikap hangat Abas padanya. Hal itu membuat Sabrina merasa bersalah pada Abas karena telah mengkhianatinya.

"Kenapa kamu muram?" tanya Abas pada Sabrina yang waktu itu memang tak banyak bicara seperti biasanya. Sabrina sudah mencoba tersenyum seperti biasanya. Namun, senyum itu tak lagi sama bagi Abas.

"Kamu bisa katakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu," kata Abas pada Sabrina. Sabrina menggigit bibir bawahnya. Tangannya meremas ujung rok yang dikenakannya saat itu.

"Aku..."

Sabrina menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.

"Aku rasa... aku..."

Tangan Sabrina semakin erat meremas ujung roknya. Jantungnya berdegup sangat kencang saat apa yang ingin dia katakan sudah ada di ujung lidahnya.

"... aku ingin... membatalkannya," lanjut Sabrina akhirnya.

"Membatalkannya? Gaunnya? Atau gedungnya? Yang mana yang kamu nggak suka? Kita bisa..."

"Pernikahan kita," potong Sabrina cepat sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

Sabrina tahu, Abas pasti sangat terkejut dan terluka saat itu. Bukan kemarahan Abas yang muncul, melainkan tawa yang terdengar yang justru membuat Sabrina takut membuka matanya saat itu.

"Leluconmu nggak lucu, Sab," kata Abas dengan sisa tawa yang ada. Sabrina menoleh ke arah Abas. Dia menatap Abas dalam-dalam. Tawa Abas perlahan memudar, digantikan wajah ngeri tak percaya.

"Kamu... nggak bercanda?" tanya Abas. Sabrina mengangguk pelan. Dahi Abas mengerut.

"Tapi... kenapa?" tanya Abas, suaranya terdengar serak. Sabrina mulai menangis. Dia tahu dia egois, tapi dia tak bisa terus membohongi hatinya.

"Maaf... Bukan kamu yang salah... Tapi aku," jawab Sabrina.

Abas menyandarkan punggungnya, lemas, seiring Sabrina mengatakan alasannya ingin membatalkan pernikahan mereka. Saat Sabrina selesai bicara, Abas menatapnya dengan tatapan dingin lalu pergi meninggalkannya tanpa kata.

'Aku tahu aku egois. Tapi... bisakah kita masih berteman baik?'

***

1
Ne Ajja
tanya langsung sama orangnya, Bas...
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
Purnamanisa: kepo banget emang si Abas, tapi sok cool 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
ada yg panas tapi bukan kompor 😂
Purnamanisa: apa tuuuh 😅😅🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
belokin dong, Bar...
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
Purnamanisa: Kalo dibelokin langsung Abasnya ngambek, Kak... biarkan dia belok sendiri 😅😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ngga, Bas...
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Purnamanisa: 😅😅
Melodi dimana2 🤣🤣
btw, video Senja Dalam Diam sudah ada di tiktok Purnamanisa ya, kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Suka sama lagunya.
Hafal bagian reffnya🤭
Purnamanisa: senjaaa... katakan padanya...🤭🤭
total 1 replies
Ne Ajja
"rasa" hadir tanpa butuh alasan...
eaaa....🤭
Purnamanisa: terimakasih kakaaak... biasanya kalo udah eps 20 keatas baru rame kak 😅😅 bantuin up dan share ya kalo menurut kakak ceritanya keren 🙏🙏 terimakasih udah selalu baca karya2 author 😊😊
total 3 replies
Ne Ajja
arahin, Mel 🤭
Purnamanisa: lupa ga bawa kompas, Kak 😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ohhh....astaga...
bener2 plot twist nya..

jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
Purnamanisa: daripada nikah tapi kebayang2 cowok lain kan yaa 😅😅😅
total 3 replies
Ne Ajja
aku udah vote + gift...
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪
Ne Ajja: sami2 ka...
total 2 replies
Ne Ajja
👍👍👍👍👍
Ne Ajja: okeh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!