PROLOG
Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.
Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.
Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.
Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 7 Belajar Menghormati
"Ada pelajaran yang tidak pernah diajarkan di dalam ruang kelas. Pelajaran itu lahir dari rumah, dari orang-orang yang membimbing kita dengan kesabaran dan kasih sayang."
Hari-hariku di rumah itu semakin terasa menyenangkan. Sedikit demi sedikit rasa canggung yang dulu selalu menyelimuti hatiku mulai menghilang. Aku mulai terbiasa dengan suasana rumah yang hangat, dengan suara tawa yang terdengar hampir setiap hari, serta dengan perhatian yang selalu diberikan Mama dan Bapak kepada kami. Meskipun sesekali aku masih salah memanggil Mama dengan sebutan "Nenek" karena belum terbiasa, beliau tidak pernah menegurku dengan keras. Mama hanya tersenyum dan membiarkanku belajar menyesuaikan diri sedikit demi sedikit.
Selain mengajarkan kami untuk hidup disiplin, Mama juga sangat memperhatikan sopan santun. Beliau sering mengatakan bahwa menghormati orang lain dimulai dari hal-hal sederhana, seperti cara berbicara, cara memanggil orang yang lebih tua, dan cara bersikap kepada siapa pun. Saat itu aku belum benar-benar memahami maksud dari nasihat tersebut, tetapi perlahan aku mulai belajar melalui pengalaman sehari-hari.
Suatu siang, ketika Mama sedang memasak di dapur, aroma masakan memenuhi seluruh rumah. Aku dan Kak Ucaluna sedang bermain di ruang tengah ketika Mama memanggilku.
"Hitas."
"Iya, Ma?
"Tolong panggil Kak Reyan. Bilang makanannya sudah siap."
Aku segera menganggukkan kepala lalu berlari keluar rumah. Dari kejauhan kulihat Kak Reyan sedang berada di rumah tetangga yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena takut suaraku tidak terdengar, tanpa berpikir panjang aku langsung berteriak sekeras mungkin.
"Reyan... ayo pulang makaaaan!"
Suaraku terdengar hingga beberapa rumah di sekitar. Beberapa orang yang sedang duduk di depan rumah mereka menoleh ke arahku, sementara Kak Reyan hanya tersenyum kecil sambil mengangkat tangannya sebagai tanda bahwa ia mendengar panggilanku. Aku pun segera berlari kembali ke rumah dengan perasaan senang karena mengira telah menjalankan tugas yang diberikan Mama dengan baik.
Tidak lama kemudian Kak Reyan pulang dan kami makan bersama seperti biasa. Setelah semuanya selesai, Mama memanggilku dengan suara yang lembut.
"Hitas, Mama mau bicara sebentar."
Aku segera menghampiri beliau dan duduk di sampingnya.
"Iya, Ma?"
Mama mengusap kepalaku pelan sebelum berkata, "Tadi waktu memanggil Kak Reyan, kenapa berteriak dari jauh?"
Aku menundukkan kepala sambil menjawab dengan jujur.
"Supaya Kak Reyan dengar, Ma."
Mama tersenyum mendengar jawabanku.
"Mama tahu maksud Hitas baik. Tetapi lain kali, kalau mau memanggil kakak atau orang yang lebih tua, usahakan dekati dulu. Setelah itu panggil dengan sopan. Katakan, 'Kak Reyan, ayo pulang makan.' Cara seperti itu lebih menghargai orang lain."
Aku menganggukkan kepala pelan.
"Iya, Ma. Hitas mengerti."
Mama kembali tersenyum sambil mengusap kepalaku.
"Tidak apa-apa, Nak. Mama tahu Hitas masih belajar. Pelan-pelan saja, nanti juga akan terbiasa."
Jawaban itu membuatku merasa lega. Mama tidak pernah memarahiku ketika aku melakukan kesalahan.
Beliau selalu memilih menjelaskan dengan sabar hingga aku memahami apa yang seharusnya dilakukan. Dari cara beliau mendidik itulah aku mulai menyadari bahwa kesabaran mampu mengajarkan banyak hal tanpa harus menggunakan kemarahan.
Sejak hari itu aku mulai membiasakan diri memanggil semua kakakku dengan sebutan "Kak". Awalnya lidahku masih terasa canggung karena sebelumnya aku sering menyebut nama mereka begitu saja.
Namun setiap kali aku hampir mengulanginya, aku selalu teringat nasihat Mama dan segera memperbaikinya. Lama-kelamaan kebiasaan itu menjadi sesuatu yang alami tanpa perlu kupikirkan lagi.
Aku mengira pelajaran tentang sopan santun adalah hal terpenting yang akan kupelajari di rumah itu. Namun, aku ternyata keliru. Tidak lama kemudian, Mama mulai menerapkan aturan-aturan yang mengubah seluruh kebiasaanku. Saat itu aku sempat menganggapnya sebagai sebuah larangan, tetapi bertahun-tahun kemudian aku baru memahami bahwa semua itu adalah bentuk kasih sayang yang sedang mempersiapkan masa depanku.
...***...