NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:745
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — “RUMAH BARU”

Mobil SUV hitam milik Rasyid bergerak pelan melintasi gerbang besi tinggi berukir kaligrafi Arab yang menandai batas kawasan Pesantren Al-Faruqi. Udara sore di wilayah Arunika Timur ini terasa jauh lebih sejuk dibandingkan pusat kota, berkat pepohonan rindang dan kebun kelapa sawit kecil yang membentang di sekitar kompleks pesantren.

Di kursi penumpang depan, Aurel menatap keluar jendela dengan jemari meremas tali tas tangannya.

Pemandangan di luar terasa sangat asing baginya. Ratusan santri putra bersarung dan berpeci putih tampak berjalan beriringan menuju masjid utama, sementara di sisi lain lapangan, kelompok santri putri berkerudung lebar melangkah rapi seraya membawa kitab-kitab tebal. Tidak ada suara musik keras, tidak ada deru knalpot rongsok, tidak ada papan reklame lampu neon yang biasa menghiasi hari-hari Aurel di Arunika Barat.

Yang ada hanya suara lantunan ayat suci dari pengeras suara masjid dan desir angin yang menerpa dedaunan.

"Lingkungan di sini sangat tenang," ujar Rasyid pelan tanpa mengalihkan pandangan dari kemudi. Pria itu mengenakan kemeja katun abu-abu simpel dan celana bahan gelap. "Awalnya mungkin akan terasa membosankan buatmu, tapi lama-kelamaan udaranya cukup nyaman."

Aurel berdehem pendek, membetulkan letak cardigan rajut warna krem yang membalut kaus polosnya. Hari ini ia tetap mengenakan celana jins longgar—pilihan pakaian yang sempat membuat ayahnya mengelus dada sebelum mereka berangkat tadi siang, meski Rasyid sama sekali tidak berkomentar.

"Aku cuma berasa kayak alien yang nyasar ke planet lain," bisik Aurel jujur.

Rasyid tersenyum tipis, memutar kemudi menuju sebuah lorong beraspal mulus di samping kompleks utama pesantren. "Tidak ada alien di sini, Aurel. Hanya orang-orang biasa."

Mobil melambat lalu berhenti di sebuah halaman rumah berarsitektur Jawa-modern sederhana. Rumah itu tidak semewah kediaman Hamdan Nathan, namun tampak sangat asri dengan teras berubin tanah liat dan taman bunga melati serta mawar yang terawat rapi di sampingnya.

"Ini rumah keluarga Bah Abdul," jelas Rasyid seraya mematikan mesin. "Kita akan tinggal di rumah kecil di belakang kompleks ini pekan depan setelah perbaikan atapnya selesai. Untuk sementara, kita menginap di sini dulu."

Aurel menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir rasa canggung yang mendadak melilit perutnya.

Begitu melangkah melewati pintu depan rumah, rasa takut Aurel perlahan terkikis oleh sambutan yang sama sekali berbeda dari bayangannya.

Nur Aini, ibu Rasyid, menyambut mereka di ruang tamu dengan senyum keibuan yang begitu hangat. Tanpa memedulikan pakaian santai Aurel atau rambutnya yang dibiarkan terurai tanpa kerudung, wanita setengah baya itu langsung memeluk Aurel erat-erat. Aroma wangi minyak zaitun dan bedak bayi yang lembut menguar dari tubuh Nur Aini, membuat dada Aurel mendadak terasa hangat—aroma yang mengingatkannya pada almarhumah ibunya.

"Selamat datang di rumah, Aurel," bisik Nur Aini lembut seraya mengelus punggung Aurel. "Ibu seneng banget akhirnya kamu sampai."

"Terima kasih, Bu..." sahut Aurel pelan, agak canggung namun tak sanggup menolak kehangatan itu.

"Mbak Aurel!"

Sebuah suara nyaring dan ceria mendadak muncul dari balik pintu dapur. Seorang gadis muda berusia sekitar sembilan belas tahun berlari kecil mendekati mereka. Ia mengenakan gamis rumahan warna kuning pastel dan kerudung instan yang sedikit miring.

"Salma, jangan lari-lari di dalam rumah," tegur Rasyid halus namun tegas.

Gadis muda itu—Salma Faruqi, adik perempuan Rasyid—hanya memamerkan cengiran lebar tak berdosa. Ia langsung menyambar tangan Aurel dan menyalaminya dengan heboh.

"Akhirnya Mas Rasyid punya istri juga! Dan Mbak Aurel ternyata aslinya jauuh lebih cantik dari foto yang dikasih Pak Hamdan!" puji Salma berapi-api. "Mbak, nanti ngamar sama aku aja yuk, biarin Mas Rasyid tidur di luar!"

"Salma," panggil Rasyid lagi, kali ini dengan nada peringatan yang membuat Salma tertawa geli dan bersembunyi di balik tubuh ibunya.

"Sudah-sudah, kalian ini," Nur Aini menepuk bahu Salma pelan sebelum menatap Aurel. "Aurel pasti capek habis perjalanan. Rasyid, antar istri kamu ke kamar di lantai atas ya. Ibu sama Salma mau nyiapin makan malam dulu."

Aurel mengikuti Rasyid menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Sepanjang koridor, dinding rumah dihiasi foto-foto kaligrafi kayu dan beberapa foto keluarga berbingkai polos. Tidak ada kesan kaku atau otoriter seperti di rumah ayahnya.

Rasyid membuka sebuah pintu kayu di ujung lorong. Kamar itu cukup luas, bersih, dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah kebun kelapa sawit di belakang rumah. Sebuah tempat tidur kayu berukuran king-size dengan seprai motif bunga lembut mendominasi ruangan.

Rasyid meletakkan koper besar milik Aurel di sudut kamar dekat lemari.

"Ini kamarnya," kata Rasyid seraya berbalik menghadapi Aurel. "Kamar mandinya ada di dalam, di sebelah kiri. Sabun dan handuk bersih sudah disiapkan Ibu."

Aurel melangkah masuk, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Rapi, harum kayu manis, dan terasa sangat tenang.

"Makasih," gumam Aurel seraya melepas cardigan rajutnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kursi santai di sudut kamar.

Rasyid memperhatikan gerakan Aurel, lalu berjalan mendekati meja kecil di dekat jendela. Ia berdiri di sana, menyandarkan pinggulnya ke tepi meja seraya melipat tangan di dada.

"Aurel," panggil Rasyid.

Aurel menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Ya?"

"Karena mulai hari ini kita benar-benar tinggal bersama di lingkungan ini," Rasyid membuka suara dengan nada tenang namun serius, "saya rasa kita perlu membuat beberapa kesepakatan agar kamu merasa nyaman."

Aurel mengerutkan dahi. "Kesepakatan apa? Aturan pesantren?"

"Bukan aturan pesantren," Rasyid menggeleng pelan. "Aturan rumah tangga kita."

Aurel memiringkan kepalanya, tertarik. Ia melangkah mendekat, berdiri sekitar dua meter dari Rasyid dengan menyilangkan tangan di dada. "Oke. Tembak. Kamu mau minta aku ngapain?"

Rasyid menatap mata cokelat terang milik istrinya tanpa berkedip.

"Pertama, soal privasimu," kata Rasyid. "Kamar ini adalah ruang amanmu. Di dalam kamar ini, kamu bebas menjadi dirimu sendiri. Kamu tidak wajib memakai kerudung jika hanya ada saya dan keluarga di lantai atas ini. Kamu bebas memakai pakaian apa pun yang membuatmu nyaman."

Aurel agak terkejut mendengar poin pertama itu, namun ia berusaha menyembunyikannya. "Terus kalau di luar rumah?"

"Jika di luar rumah atau di area umum pesantren, saya hanya minta tolong satu hal," lanjut Rasyid halus. "Pakailah pakaian yang sopan dan menutup aurat secara umum. Tidak perlu langsung memakai abaya atau cadar seperti santri di sini. Cukup pakaian longgar dan kerudung simpel yang membuatmu tidak menjadi bahan gunjingan orang lain. Bukan demi saya, tapi demi kenyamananmu sendiri dari pandangan orang."

Aurel mempertimbangkan kalimat itu. Terasa masuk akal dan tidak otoriter. "Oke. Masuk akal. Terus yang kedua?"

"Kedua," Rasyid membetulkan posisi berdirinya. "Soal kehidupan pribadimu. Kuliahmu, teman-temanmu, dan hobimu. Saya tidak akan pernah melarangmu bertemu Maya, Dito, atau teman-teman kampusmu yang lain. Tapi tolong... kabari saya jika kamu pergi atau pulang terlambat. Bukan untuk meminta izin seperti anak kecil, tapi agar saya tidak cemas."

Aurel tertegun sejenak. Agar saya tidak cemas. Kata-kata itu terdengar sangat asing bagi Aurel, yang selama ini hanya terbiasa mendengar bentakan ayahnya jika pulang malam.

Aurel menatap Rasyid tajam. "Itu aja? Kamu nggak mau bikin aturan kayak... aku harus siapin sarapan tiap pagi, atau aku harus belajar ngaji sama kamu tiap malam?"

Rasyid terkekeh tipis—suara tawa pelan yang terdengar sangat renyah di telinga Aurel.

"Aurel, saya menikahimu untuk menjadi pasangan hidup, bukan untuk mempekerjakan asisten rumah tangga atau murid privat," jawab Rasyid santai. "Soal makanan, kita bisa masak bersama atau beli di luar jika kamu lelah. Soal ibadah, itu urusan hatimu dengan Sang Pencipta. Tugas saya hanya memberi contoh, bukan memaksa."

Aurel terpaku di tempatnya. Benteng ketakutan dan antisipasi yang sudah ia siapkan untuk berdebat mendadak runtuh tanpa sisa.

Aurel berdehem pelan untuk menguasai rasa canggung yang tiba-tiba menyerang dadanya. Ia memajukan langkahnya satu tindak, menatap Rasyid dengan pandangan menantang yang dibuat-buat.

"Oke. Sekarang giliranku," kata Aurel tegas.

Rasyid menaikkan alisnya, tersenyum tipis. "Silakan."

"Satu," Aurel mengangkat jari telunjuknya. "Jangan pernah ikut campur urusan masalahku sama Ayah. Masalahku sama Ayah itu urusanku sendiri."

"Disetujui," Rasyid mengangguk tanpa ragu.

"Dua," Aurel mengangkat jari tengahnya. "Jangan pernah ceramahin aku di depan orang lain. Kalau kamu kesel sama aku, ngomong langsung berdua di kamar ini."

"Disetujui."

"Tiga..." Aurel menatap Rasyid lebih dalam, jari manisnya terangkat. "...jangan pernah berharap aku bakal langsung jatuh cinta sama kamu cuma gara-gara kamu baik sama aku."

Keheningan menggantung di antara mereka selama dua detik.

Rasyid menatap Aurel, lalu bibirnya mengukir senyum paling jujur yang pernah Aurel lihat dari pria itu.

"Disetujui," jawab Rasyid halus. "Saya tidak pernah menuntut balasan atas kebaikan, Aurel. Dan cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan lewat kesepakatan."

Aurel menelan salivanya, mendadak kehilangan kata-kata. Pria di depannya ini selalu punya cara untuk membalikkan setiap amunisi pertahanannya menjadi kedamaian yang membingungkan.

"Ya... ya udah kalau gitu," cetus Aurel salah tingkah. Ia berbalik menuju kopernya di sudut kamar. "Aku mau mandi dulu. Badanku lengket semua."

"Silakan," Rasyid melangkah menuju pintu kamar. "Saya tunggu di lantai bawah. Ibu sudah menyiapkan teh hangat."

Sebelum Rasyid menutup pintu dari luar, Aurel sempat melirik ke arah pintu yang perlahan merapat. Pria itu menatapnya sekejap dengan binar mata yang hangat sebelum menghilang di balik daun kayu.

Aurel duduk di tepi tempat tidur, memandangi tangannya yang masih sedikit gemetar. Rumah baru di tengah lingkungan pesantren yang sangat ia hindari ini... ternyata tidak terasa seburuk yang ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!