NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Faham

Pagi di gedung Al-Maktoum Group berjalan sesuai standar operasional presisi tinggi. Kaca-kaca pencakar langit memantulkan sinar matahari Jakarta yang mulai menyengat, sementara para staf berpakaian formal lalu lalang di area lobi dengan berkas-berkas penting di tangan.

Namun di lantai atas, persis di depan pintu kaca ruang kerja CEO, sebuah pemandangan ganjil membuat beberapa karyawan yang melintas berkali-kali menoleh heran.

Seorang pria bertubuh tegap berdiri canggung mengenakan kemeja formal putih yang dipadukan dengan celana bahan hitam. Masalahnya, kemeja ukuran XL itu masih terasa terlalu sempit di bagian dada dan bahunya yang kokoh. Kancing paling atas sengaja dilepas, sementara dasi hitamnya tergantung longgar bak tali jemuran yang lupa diikat.

Aran—yang kini resmi memegang peran sebagai Personal Assistant (PA) Shanum—sedang sibuk memutar-mutar gantungan kartunya di jari telunjuk seraya bersandar santai di meja sekretaris.

Di dalam ruang kerja ber-AC dingin, Shanum sedang berjalan bolak-balik dengan langkah gelisah. Pikirannya sejak kemarin malam sama sekali tidak tenang. Percakapan dramatis dengan Gus Azhar di pesantren masih berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak. Ditambah lagi, tadi malam ayahnya menelepon dengan nada misterius: “Ayah sudah menyiapkan seseorang yang sangat pas untuk mendampingi hidup dan kerjamu mulai besok pagi. Jangan membantah.”

Mendampingi hidup?! batin Shanum histeris. Kepalanya mendadak pening luar biasa. Ayah pasti bercanda! Jangan-jangan Ayah sudah main belakang sama Gus Azhar? Atau Ayah sengaja menerima lamaran konyol itu tanpa persetujuanku?!

Dengan napas memburu dan rasa panik yang memuncak, Shanum mendorong pintu kaca ruang kerjanya dengan keras. Langkah kakinya yang tegas berbunyi menembus lorong, siap meluapkan kemarahannya pada pria mana pun yang dikirim ayahnya untuk "menjodohkan" dirinya.

"Dengar ya! Siapa pun Anda, saya tidak peduli lamaran konyol atau perintah dari siapa—" Shanum mendadak menghentikan kalimatnya di udara.

Matanya melotot lebar. Di hadapannya, bukannya sosok Gus Azhar berpakaian jubah rapi yang ia bayangkan, melainkan pria bertubuh kekar dengan kemeja agak sesak yang tempo hari terdampar di sungai perbatasan.

Aran menghentikan putaran kartu identitasnya di jari telunjuk. Ia menatap Shanum dengan pandangan netral, lalu menganggukkan kepalanya pelan dengan gestur yang teramat tegap dan santun.

"Selamat pagi, Mbak Shanum," sapa Aran. Suaranya berat, tenang, dan diatur dengan bahasa yang sangat teratur. "Saya Ardebaran. Mulai hari ini, saya bertugas sebagai asisten pribadi Anda atas perintah Pak Rasyid."

Shanum membelalakkan mata. Otaknya yang biasa dipakai untuk kalkulasi tender triliunan rupiah mendadak mengalami error massal. Pikirannya yang masih terdistorsi oleh ucapan Gus Azhar dan telepon ayahnya langsung menarik kesimpulan yang makin liar dan makin tidak masuk akal.

Tunggu... Ayah menjodohkan aku sama pria ini?! jerit Shanum dalam hati. Wajahnya memerah padam antara malu, panik, dan bingung bukan main. Pria misterius yang penuh luka tembak ini?! Apa pikiran Ayah sudah konslet?! Biar bagaimanapun, ini terlalu ekstrem untuk sebuah perjodohan!

Shanum secara refleks mundur satu langkah, menatap Aran dari ujung rambut hingga sepatu pantofelnya dengan pandangan penuh horor. Tangannya naik, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut tajam.

"K-kamu..." suara Shanum agak bergetar, berusaha keras mempertahankan wibawa CEO-nya meski pikirannya sudah kacau balau. "Jangan mimpi ya! Walaupun Ayah yang menyuruh, saya tidak akan pernah mau terikat hubungan... hubungan semacam itu dengan Anda!"

Aran menaikkan sebelah alisnya tipis. Sebagai seorang mantan operator tingkat tinggi yang terbiasa membaca situasi kritis, Aran menangkap ada kalkulasi logika yang sangat salah di dalam kepala atasannya ini.

Aran menunduk melihat penampilannya sendiri, lalu menatap Shanum kembali dengan raut wajah yang tetap tenang dan santai.

"Maaf, Mbak Shanum..." ujar Aran pelan, intonasinya begitu teratur dan sopan. "Hubungan semacam itu yang Mbak maksud... apakah berkaitan dengan tugas saya menyusun jadwal rapat dan memastikan Mbak tidak terkena tembakan di parkiran?"

Shanum membeku. "Maksudmu...?"

"Pak Rasyid merekrut saya murni sebagai Asisten Pribadi dan pengawas keamanan Mbak," jawab Aran datar tanpa mengubah garis wajahnya. "Saya bekerja di sini untuk menerima gaji dan memastikan Mbak tetap bernapas. Saya sama sekali tidak memiliki agenda... perjodohan atau hal-hal romantis lainnya."

Keheningan yang amat canggung mendadak menyelimuti koridor lantai atas Al-Maktoum Group. Suara AC kantor yang berdengung halus terasa begitu menyengat. Shanum berdiri kaku di tempatnya. Kesadaran menghantamnya bagai godam tebal: ia baru saja mempermalukan dirinya sendiri di hadapan bawahan barunya karena terlalu percaya diri dan paranoid.

Muka Shanum langsung memerah padam sampai ke leher. Malunya tak tertahankan. Guna menutupi rasa canggung tingkat dewa yang dialaminya, Shanum berdehem keras seraya membetulkan posisi blazer-nya yang sama sekali tidak miring. Matanya mencari-cari kesalahan fisik Aran sebagai pengalihan isu.

"K-kalau begitu... kenapa kancing kemejamu terlepas seperti itu?!" sembur Shanum kaku, suaranya agak melengking. "Dan dasi itu! Kamu berniat bekerja sebagai asisten eksekutif atau mau jadi anak SMA di ruang rapat?!"

Aran menunduk melihat dasinya yang gantung longgar, lalu menatap Shanum kembali dengan senyum tipis yang sangat bersahaja.

"Mohon maaf, Mbak Shanum," sahut Aran santai, suaranya tetap terjaga sopan. "Kemeja dari bagian logistik kantor ini ukurannya agak kurang pas di bahu saya. Kalau kancing paling atas saya paksakan tutup, bukan cuma napas saya yang putus, tapi kancingnya bisa melesat terbang dan kena jidat klien Mbak. Saya rasa itu berbahaya untuk kelangsungan investasi perusahaan."

Shanum memutar matanya malas, menahan rasa geli dan gengsi yang bercampur aduk di dalam dadanya. "Masuk ke ruangan saya sekarang!" tegas Shanum kaku, lalu berbalik melangkah cepat.

Di dalam ruang kerja CEO yang serba luas dan berinterior elegan, Shanum duduk di balik meja kerjanya. Aran berdiri tegap beberapa meter di depannya dengan kedua tangan terlipat rapi di belakang pinggang.

Shanum mengambil selembar kertas kosong bersimbol Al-Maktoum Group dan sebuah pulpen eksklusif. "Karena Ayah yang menaruhmu di sini secara paksa, saya tidak bisa menolak keberadaanmu begitu saja. Tapi saya punya aturan. Sebagai CEO, saya membuat kontrak tambahan khusus untukmu."

"Silakan, Mbak Shanum. Saya mendengarkan," sahut Aran tenang.

Shanum mulai menulis beberapa poin di kertas itu dengan ketukan pulpen yang tajam.

"Perjanjian Tambahan PA Khusus Ardebaran," baca Shanum lantang seraya menatap Aran tajam.

"Poin Pertama jarak interaksi. Di area publik atau kantor, kamu harus berdiri tepat dua meter di belakang saya. Tidak boleh lebih dekat, kecuali ada bahaya fisik nyata yang mengancam nyawa saya."

Aran mengangguk pelan. "Sangat rasional. Menjaga batas jarak mempermudah sudut pandang pengawasan taktis saya. Disetujui, Mbak."

Shanum mengernyitkan alis, sedikit sebal karena Aran tidak protes. Ia melanjutkan tulisan di kertasnya.

"Poin Kedua, makanan dan Minuman. Kamu dilarang keras mengomentari, mengubah, atau menyentuh minuman teh pahit dingin saya. Teh saya harus disajikan berdasarkan gradasi warna dan suhu yang pas. Kamu tidak boleh menggantinya dengan gula pasir atau apa pun!"

Aran menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Baik, Mbak Shanum. Teh pahit dingin tanpa gula akan tetap menjadi hak prerogatif Mbak."

"Poin Ketiga, ini yang paling penting," Shanum menatap Aran penuh penekanan. "Perjanjian Dilarang Bertengkar Secara Emosional. Jika terjadi perbedaan pendapat antara protokol keamananmu dan keputusan bisnis saya, kita dilarang berdebat di depan umum. Kamu harus menuruti instruksi saya sepuluh detik pertama sebelum boleh memberi masukan taktis."

Aran diam sejenak, menganalisis aturan aneh tersebut. Aturan yang memperlihatkan betapa tinggi egoisme Shanum yang tidak suka dilangkahi wewenangnya, namun di sisi lain memperlihatkan keanehan kaku wanita tersebut.

"Bagaimana jika dalam sepuluh detik pertama itu ada ancaman peluru melayang, Mbak?" tanya Aran dengan intonasi yang amat sopan dan datar.

"Itu urusan lain! Poin utamanya adalah kamu harus menghormati hirarki saya di kantor ini!" sembur Shanum gengsi.

"Baik, Mbak Shanum. Aturan sepuluh detik disepakati," jawab Aran penuh kesantunan. "Apakah ada lembar persetujuan yang harus saya tandatangani?"

Shanum menyodorkan kertas tersebut ke tepi meja. Aran melangkah mendekat, mengambil pulpen, dan membubuhkan tanda tangannya dengan gerakan tangan yang sangat tegas dan presisi.

Shanum menarik kembali kertas itu, melihat tanda tangan Aran yang rapi, lalu berdehem merapikan suaranya. Ada rasa lega yang sedikit menyelusup di hatinya, meski gengsinya tetap berada di puncak.

"Bagus. Sekarang ikut saya ke ruang rapat utama. Jadwal presentasi tender Senayan dimulai sepuluh menit lagi," ujar Shanum seraya berdiri dan mengambil tablet gigitalnya. "Dan ingat... jaga jarak dua meter!"

"Siap, Mbak Shanum. Dua meter, tepat di belakang bayangan Mbak," sahut Aran seraya memberi anggukan tegap.

Shanum melangkah keluar dari ruangan dengan dagu terangkat kaku. Di belakangnya, Aran berjalan melangkah mengikuti irama langkah Shanum—mematuhi batas jarak dua meter dengan presisi tinggi, seraya terus memindai setiap sudut lorong kantor dengan pandangan mata yang dingin, siap menetralkan ancaman apa pun yang mencoba mendekati atasan barunya.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!