NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

"Danis?" Suara Ratna membuyarkan lamunan Danis.

Danis berkedip pelan. Tatapannya kembali jatuh pada secangkir kopi yang mengepul tipis di hadapannya. Ia mengangkat cangkir itu. Baru satu tegukan... Keningnya langsung berkerut.

"Kopinya terlalu manis."

Pelayan yang berdiri di dekat meja langsung menundukkan kepala. "Maaf, Tuan. Saya buatkan yang baru."

Ratna buru-buru menyela. "Sudahlah. Biar Mama suruh bikin lagi."

Danis tidak menjawab. Ia hanya memandangi permukaan kopi itu beberapa saat.

Aneh. Selama ini... Kopinya tidak pernah terlalu manis. Tidak pernah terlalu pahit. Suhu kopinya selalu pas. Dan baru sekarang ia sadar... Calista lah yang setiap pagi membuatkannya.

Bahkan tanpa pernah bertanya lagi berapa takaran gula yang ia sukai.

Danis perlahan meletakkan kembali cangkir itu. Entah mengapa, tenggorokannya terasa tercekat.

Rania yang sedari tadi memperhatikan akhirnya membuka suara. "Danis."

"Hm?"

"Kamu jangan terus murung begitu."

Danis mengangkat wajah. "Aku tidak murung."

Rania tersenyum kecil. "Kamu kira kami tidak tahu? Sejak turun tadi, kamu bahkan belum menyentuh sarapanmu."

Ratna ikut mengangguk. "Mama juga heran. Biasanya kamu selalu menghabiskan sarapan."

Danis kembali memandang piring di depannya. Sepotong roti panggang. Telur mata sapi. Dan beberapa iris buah. Semuanya terlihat sama seperti biasanya.

Namun... Entah kenapa terasa berbeda.

Karena tidak mau buat ribut, ia akhirnya memotong sedikit rotinya. Mengunyah perlahan.

Beberapa detik kemudian... Ia meletakkan kembali garpunya.

"Tidak enak?" tanya Ratna.

Danis menggeleng. "Bukan."

"Lalu?"

"Hanya..." Ia menggantung ucapannya.

Ratna menunggu.

Namun Danis tidak melanjutkan. Ia sendiri bingung harus menjelaskan apa. Yang ia rasakan bukan rasa lapar. Bukan pula sakit.

Melainkan... Kosong.

Rumah sebesar ini mendadak terasa asing. Tak ada lagi suara langkah kecil yang setiap pagi sibuk di dapur. Tak ada lagi aroma masakan yang dibuat dengan penuh perhatian. Tak ada lagi suara lirih yang selalu bertanya,

"Mas... nanti makan siang di kantor atau pulang?"

Pertanyaan sederhana yang dulu terasa mengganggu. Kini justru terus terngiang di kepalanya.

Danis mengembuskan napas panjang. Tanpa sadar, ujung bibirnya membentuk senyum hambar. Ia baru menyadari satu hal. Calista memang tidak pernah memenuhi rumah itu dengan suara. Namun kehadirannya... Diam-diam telah menghidupkan rumah tersebut. Dan sekarang... Saat perempuan itu benar-benar pergi. Barulah ia merasakan kehilangan yang tak mampu dijelaskan.

"Mas." Suara pembantu kembali terdengar. "Ada yang ingin saya tanyakan."

Danis menoleh. "Apa?"

"Waktu saya membersihkan kamar tadi... Masih ada beberapa barang milik Bu Calista yang tertinggal."

Jantung Danis seakan berhenti sesaat. "Barang apa?"

"Hanya beberapa pot kecil tanaman hias di balkon. Dan..." Pembantu itu tampak ragu. "Sebuah buku resep masakan."

Danis terdiam. Buku itu... Ia pernah melihatnya. Buku yang selalu dibawa Calista ke dapur. Perempuan itu sering mencatat makanan kesukaannya di sana. Termasuk menu yang tidak ia sukai. Semuanya ditulis dengan rapi. Agar ia tidak salah memasak.

Danis memejamkan mata beberapa detik. Dulu ia menganggap semua itu berlebihan.

Sekarang... Baru ia sadar. Tidak semua orang mau mengingat hal-hal kecil tentang seseorang. Calista melakukannya. Tanpa pernah meminta balasan.

"Taruh saja di kamarku." ucap Danis pelan.

Pembantu itu tampak sedikit terkejut.

"Baik, Tuan."

Setelah pembantu itu pergi, Ratna langsung mengernyit. "Untuk apa barang-barang itu disimpan? Buang saja."

Danis perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya dingin. "Jangan ada yang menyentuh barang milik Calista. Apalagi membuangnya!"

Ratna sontak berdiri dari kursinya. "Apa-apaan kamu, Danis?!" pekiknya dengan wajah memerah. Suara bentakan itu menggema di ruang makan yang semula sunyi.

Rania ikut membeku. Ia tidak menyangka adiknya akan membela barang-barang milik Calista.

"Danis," ucap Ratna lagi, kali ini dengan nada lebih tinggi. "Kamu sadar tidak apa yang baru saja kamu katakan?"

Danis tidak segera menjawab. Ia hanya meletakkan sendok dan garpu secara perlahan di atas piring.

"Jawab Mama!" bentak Ratna.

Danis mengangkat wajahnya. "Aku sadar."

Ratna menggeleng tidak percaya. "Kamu melarang Mama untuk membuang barang milik perempuan itu? Dia sudah bukan siapa-siapa lagi di rumah ini! Dia sudah bercerai denganmu! Kenapa kamu peduli?"

Danis menarik napas panjang. "Aku hanya bilang... jangan ada yang menyentuh barang-barangnya."

Ratna tertawa sinis. "Lucu sekali. Kemarin kamu sendiri yang menceraikannya. Hari ini kamu malah membela barang-barangnya. Jangan-jangan sekarang kamu mulai menyesal?"

Kalimat itu membuat suasana kembali membeku.

Danis tidak menjawab.

Keheningan itu justru membuat Ratna semakin yakin.

"Kamu menyesal, ya?"

"Tidak." Jawaban itu keluar cepat.

Namun entah mengapa... Bahkan telinga Danis sendiri merasa jawaban itu terdengar tidak meyakinkan.

Rania ikut menyela. "Kalau memang tidak menyesal, kenapa barang-barang Calista masih mau kamu simpan? Itu cuma tanaman murahan. Dan buku resep bekas. Buang saja. Nanti aku belikan yang baru kalau kamu mau."

Danis perlahan menggeleng. "Tidak perlu."

Ratna mengepalkan tangannya. "Danis! Kamu berubah! Semuanya gara-gara perempuan itu!"

Danis menatap ibunya lurus. "Bukan."

"Lalu apa?"

"Aku baru sadar."

Ratna mengernyit. "Sadar apa?"

Danis terdiam cukup lama. Tatapannya kembali jatuh pada secangkir kopi di depannya. Kopi yang rasanya tidak lagi sama. "Selama ini... aku terlalu banyak mengabaikan hal-hal kecil."

Ratna mendengus. "Jangan mulai membahas Calista lagi. Tidak ada yang istimewa dari perempuan miskin itu. Dia hanya perempuan miskin yang beruntung bisa masuk ke keluarga Arganta."

Danis mengepalkan jemarinya di bawah meja. Biasanya... Ia akan diam. Membiarkan ibunya mengatakan apa saja. Namun kali ini... Entah mengapa setiap kalimat yang menghina Calista terdengar begitu mengganggu.

"Ma."

"Apa lagi?"

"Selama dia tinggal di rumah ini..."

Danis berhenti sejenak. "Dia tidak pernah sekalipun melawan Mama."

Ratna langsung menyahut. "Karena dia tahu diri!"

Danis menggeleng pelan. "Dia juga tidak pernah mengambil uang keluarga."

"Itu memang bukan haknya!"

"Dia tidak pernah meminta perhiasan."

Ratna kembali memotong. "Karena dia memang tidak pantas!"

Danis memejamkan matanya sesaat. Lalu membuka kembali dengan sorot yang jauh lebih dingin.

"Dia juga tidak pernah mengadu kepadaku."

Kalimat itu membuat Ratna terdiam beberapa detik.

Danis melanjutkan dengan suara rendah. "Padahal sekarang aku tahu... selama ini dia sering diperlakukan buruk di rumah ini."

Rania langsung berdiri. "Danis! Jangan asal bicara!"

"Aku tidak asal bicara."

"Kamu menuduh kami?"

"Aku melihatnya sendiri."

Rania mendengus. "Itu salah dia sendiri! Kalau dia tidak memaksakan diri menjadi istrimu, semua ini tidak akan terjadi."

Danis perlahan menoleh ke arah kakaknya. "Dia tidak pernah memaksa."

Ucapan itu membuat Rania kehilangan kata-kata.

Danis kembali berkata pelan, "Dia bahkan pernah meminta supaya pernikahan itu dibatalkan."

Ratna membelalak. "Kamu..."

Danis menatap kosong ke arah meja makan. "Ayah yang memaksanya. Dan aku..." Ia mengembuskan napas panjang. "...ikut menghukumnya atas keputusan yang bahkan bukan dia buat."

Tidak ada lagi yang berbicara. Ruang makan mendadak sunyi.

Ratna memandangi putranya dengan wajah penuh keterkejutan. Selama ini... Inilah pertama kalinya Danis membela Calista. Bahkan setelah perempuan itu tidak lagi menjadi bagian dari keluarga mereka. Di dalam hati Ratna mulai muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Jangan-jangan... Anaknya benar-benar mulai menyadari arti kehadiran Calista. Dan jika itu terjadi... Semua rencana yang selama ini ia susun untuk menjadikan Sari sebagai menantu keluarga Arganta bisa berantakan.

#Satu kata buat Ratna?

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!