PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — HARI PERNIKAHAN
BAB 7 — HARI PERNIKAHAN
Mentari pagi menyinari langit Kota Ardhana dengan warna keemasan.
Hari ini cerah. Terlalu cerah untuk sebuah pernikahan yang tidak dilandasi cinta.
Di kediaman keluarga Axlarta, puluhan mobil mewah berwarna hitam mulai memenuhi halaman luas.
Bunyi klakson, suara pintu mobil yang ditutup, dan bisik-bisik para tamu menciptakan hiruk pikuk yang tidak biasa.
Para tamu undangan berdatangan satu per satu. Para CEO, pejabat, dan rekan bisnis Mahendra.
Semua mengenakan pakaian terbaik. Semua penasaran.
Beberapa wartawan juga sudah menunggu di luar gerbang tinggi. Kamera mereka siap.
Tapi perintah Mahendra jelas: Tidak ada foto. Tidak ada liputan.
Hari itu...
Adalah hari pernikahan CEO muda Mahendra Axlarta.
Namun, tidak seorang pun mengetahui identitas calon mempelainya.
Undangan hanya tertulis: "Calon Istri: Nona Eiri."
Di lantai dua, kamar pengantin.
Eiri duduk diam di depan cermin besar berbingkai emas.
Gaun pengantin putih telah melekat sempurna di tubuhnya. Bahannya satin, jatuh indah sampai ke lantai.
Rambut keemasannya disanggul sederhana dengan hiasan bunga putih kecil.
Makeup tipis membuatnya terlihat seperti boneka porselen.
Cantik.
Tapi sorot matanya dipenuhi kegelisahan.
"Aku benar-benar akan menikah..."
gumamnya pelan. Suaranya bergetar.
Tangannya terus memainkan ujung gaun. Dingin. Jantungnya berdegup sangat cepat sampai terasa sakit.
2 Miliar. Kontrak 2 tahun.
Itu alasan ia ada di sini.
Tapi kenapa dadanya sesak seperti akan kehilangan rumah?
Tok...
Tok...
Pintu diketuk perlahan.
"Masuk."
Melveri masuk sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna putih. Senyumnya hangat seperti matahari.
"Kamu gugup?"
Eiri tersenyum tipis. "Sedikit, Kak."
Melveri duduk di sampingnya di bangku rias. Aroma parfumnya lembut.
"Itu wajar. Semua pengantin pasti merasakannya."
Ia membuka kotak kecil itu dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati. Sederhana, tapi elegan.
"Ini hadiah dariku."
Eiri membelalak. "Untukku, Kak?"
"Iya." Melveri mengangguk. Ia menatap Eiri cukup lama. Matanya berkaca-kaca entah kenapa.
"Aku tidak tahu kenapa... tapi sejak pertama melihatmu, aku merasa ingin menjagamu. Melindungimu."
Eiri tersenyum haru. Dadanya hangat. "Terima kasih... Kak Melveri."
Melveri memakaikan kalung itu ke leher Eiri. Jarinya gemetar pelan saat mengaitkan kaitannya.
Entah mengapa... saat menyentuh bahu gadis itu... hatinya terasa hangat.
Seolah-olah... ia sedang memeluk adik kecilnya yang hilang 10 tahun lalu.
"Tidak apa-apa," bisik Melveri. "Kamu tidak sendirian lagi ya."
Sementara itu...
Di ruang ganti pengantin pria.
Mahendra berdiri di depan cermin setinggi badannya.
Setelan jas hitam dengan potongan sempurna berpadu dengan dasi putih membuatnya terlihat gagah. Dingin. Berwibawa.
Tapi tangannya... tangannya sedikit gemetar.
Marchel bersandar di pintu sambil tersenyum jahil. "Jarang-jarang aku melihat Mahendra Axlarta yang ditakuti 1 kota ini gugup."
Mahendra meliriknya datar. "Aku tidak gugup."
"Benarkah?" Marchel tertawa kecil. "Kalau begitu, kenapa dari tadi kau terus melihat jam? Sudah 17 kali dalam 10 menit."
Mahendra terdiam. Rahangnya mengeras.
Marchel benar.
Sejak bangun pagi jam 4, pikirannya tidak pernah tenang.
Hari yang selama ini ia impikan akhirnya tiba. Hari dimana gadis kecilnya akan menjadi miliknya secara sah.
Namun... ia juga takut.
Takut Eiri tetap tidak mengingatnya.
Takut setelah semua ini, Eiri tetap membencinya.
Takut semua usahanya 10 tahun sia-sia.
"Mahen," kata Marchel pelan. "Tarik napas. Kamu sudah nunggu ini lama kan?"
Mahendra mengangguk sekali.
Beberapa menit kemudian.
Suara dari pengeras suara: "Pengantin pria dipersilakan menuju aula."
Mahendra menarik napas panjang. Ia merapikan dasinya sekali lagi.
"Semoga..." gumamnya pelan, sampai Marchel hampir tidak mendengar. "Semuanya berjalan baik."
Di aula pernikahan.
Aula itu besar. Dihiasi bunga lili putih dan lampu kristal.
Semua tamu berdiri saat musik piano mulai mengalun pelan. Lagu klasik yang khidmat.
Pintu besar perlahan terbuka.
Eiri melangkah masuk seorang diri.
Tidak ada ayah yang menuntun. Tidak ada keluarga. Hanya dirinya.
Seluruh ruangan langsung hening.
"Cantik sekali..." bisik beberapa tamu.
"Itu siapa? Anak siapa?"
Mahendra yang berdiri di depan penghulu tidak mampu mengalihkan pandangannya.
Napasku terhenti. Itu yang ia rasakan.
Di matanya... Eiri tetaplah gadis yang sama.
Gadis 10 tahun dengan dua kuncir dan lolipop rasa stroberi yang dulu selalu tersenyum padanya di ayunan taman.
Selangkah...
Dua langkah...
Tiga langkah...
Eiri akhirnya berdiri tepat di hadapan Mahendra. Wangi bunga dari gaunnya menguar.
Mereka saling menatap.
Untuk beberapa detik... dunia seolah berhenti berputar. Hanya ada mereka berdua.
"Terima kasih..."
ucap Mahendra lirih. Hampir seperti bisikan.
Eiri mengernyit bingung. "Untuk apa?"
Mahendra hanya tersenyum. Senyum kecil yang tidak pernah ia berikan pada siapapun.
"Karena kamu datang. Karena kamu mau."
Prosesi akad dimulai. Penghulu membacakan. Saksi mengangguk.
Dengan suara mantap, tidak gemetar sama sekali, Mahendra mengucapkan ijab kabul.
"Saya terima nikahnya Eiri binti... dengan mas kawin tersebut tunai."
Sah.
Kini mereka resmi menjadi suami dan istri.
Tepuk tangan memenuhi ruangan. Semua tamu memberikan ucapan selamat.
Tapi Mahendra dan Eiri... mereka masih saling menatap.
Namun...
Di tengah kebahagiaan itu...
Seorang pria bertopi hitam berdiri jauh di luar pagar. Setengah tubuhnya tertutup semak.
Tangannya menggenggam sebuah foto keluarga lama yang sudah menguning.
Tatapannya tajam mengarah kepada Eiri. Penuh dendam.
"Akhirnya aku menemukanmu..."
gumamnya pelan. "Gadis kecil dari keluarga itu."
"Tapi..."
"Belum saatnya kita bertemu. Mainkan dulu dengan Mahendra."
Pria itu berbalik dan menghilang di antara kerumunan mobil.
Tak seorang pun menyadari kehadirannya.
Malam hari.
Jam menunjukkan pukul 21.00.
Setelah seluruh tamu pulang dan rumah kembali sepi, Mahendra mengantar Eiri menuju kamar mereka.
Koridor panjang terasa hening. Hanya terdengar langkah kaki mereka.
Eiri berdiri canggung di depan pintu kayu besar. Jantungnya kembali berdebar.
Ini... kamar suami.
"Mulai malam ini..." Mahendra membuka pintu perlahan. "Kamar ini milik kita."
Eiri menelan ludah. Ia masuk dengan langkah pelan.
Ruangan itu luas. Tempat tidur king size dengan seprai putih.
Dihiasi bunga-bunga lili putih di setiap sudut. Wanginya menenangkan.
Di atas nakas, tepat di tengah... terlihat sebuah lolipop rasa stroberi. Tidak dibungkus. Diletakkan di atas tatakan kaca.
Eiri memiringkan kepalanya. "Lagi-lagi lolipop..."
Tanpa sadar, ia mengambilnya. Bungkus plastiknya dingin di ujung jarinya.
Begitu ujung jarinya menyentuh lolipop itu...
DUG.
Sebuah bayangan singkat muncul di kepalanya.
Berisik. Pusing.
Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun tersenyum lebar sambil mengulurkan lolipop.
"Kalau Eiri sedih, makan ini ya. Soalnya Eiri paling cantik kalau lagi makan lolipop."
Tawa anak kecil. Ayunan. Langit sore.
"Ah...!"
Eiri memegang kepalanya. Lututnya hampir lemas.
Bayangan itu menghilang secepat datangnya.
"Eiri!"
Mahendra yang melihatnya langsung menghampiri dan memegangi bahunya. Wajahnya panik.
"Aku... tidak apa-apa." Eiri menggeleng. Napasnya tersengal.
Namun di dalam hatinya...
Pertanyaan itu kembali muncul, lebih keras dari sebelumnya.
"Siapa sebenarnya pria dalam ingatanku tadi?
Dan kenapa... kenapa suaraku merasa sangat familiar?"
Mahendra menatap lolipop di tangan Eiri. Lalu menatap mata Eiri.
Ia tahu. Saatnya sudah dekat.