NovelToon NovelToon
Trapped By You

Trapped By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

​​"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"

Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.

"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.

​"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"

​"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Pak Mara

Damara Lexander Veldens tidak pernah mengenal kata penolakan, sampai wanita bernama Kayna Ramida menampar harga dirinya berulang kali.

​Tengah malam sekali ia baru kembali dari Yogyakarta. Atmosfer di lantai teratas gedung Veldens Management berubah menjadi neraka yang membeku. Siapa pun yang berpapasan dengan Mara bisa merasakan aura membunuh yang menguar pekat dari tubuh pria itu. Di dalam ruang kerja pribadinya yang berlatar pemandangan lampu kota Jakarta, Mara berdiri menatap jendela kaca besar. Pikirannya tidak sedetik pun terlepas dari bayang-bayang wajah Kayna yang memucat namun tetap menatapnya dengan binar mata penuh pembangkangan.

​“Aku lebih baik melihat diriku hancur daripada harus menyerahkan hidupku pada pria kejam dan manipulatif sepertimu!”

​Kalimat itu terus terngiang, berputar di kepala Mara bagaikan melodi beracun. Bukannya mundur atau merasa jera, penolakan keras kepala dari Kayna justru membakar sesuatu yang jauh lebih berbahaya di dalam dada sang Capo Mafia Lexans. Sisi monster dalam dirinya yang selama ini tertidur, kini telah bangun sepenuhnya.

​Obsesinya telah bermutasi menjadi sebuah misi mutlak: Menundukkan Kayna Ramida. Mara tidak lagi hanya ingin memilikinya; dia ingin mematahkan kaki kelinci kecil itu hingga sang kelinci menyadari bahwa satu-satunya tempat berlindung yang aman di dunia ini adalah di dalam sangkar emasnya.

​"Tuan Veldens," suara James memecah keheningan ruangan setelah ketukan pintu yang teratur. James melangkah masuk dengan dokumen enkripsi di tangannya. "Target masih mencoba mencari pemasok kain alternatif secara mandiri."

​Mara membalikkan tubuhnya perlahan. Seringai dingin terukir di wajah tampannya yang sekeras pahatan marmer. Ia menyesap whiskey di gelasnya sebelum berkata, "Dia masih mencoba melawan, James. Sungguh menggemaskan. Gadis itu mengira harga dirinya bisa memberi makan keluarganya."

​"Lalu, apa perintah Anda selanjutnya, Tuan?" tanya James patuh.

​"Hancurkan semua jalurnya," desis Mara, matanya berkilat kejam. "Mulai malam ini, tunjukkan padanya apa arti dari kehancuran yang sebenarnya. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya saat seluruh pilar pelindungnya runtuh satu per satu."

​Dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, dunia Kayna Ramida benar-benar dijungkirbalikkan tanpa ampun.

​Di kantor pusat Butik LiLYRa Jakarta, suasana berubah menjadi kekacauan massal. Telepon berdering tanpa henti, dan semua berita yang datang adalah mimpi buruk. Puncaknya terjadi siang itu ketika asisten pribadi Kayna, menariknya masuk ke ruang kerja dengan wajah pucat pasi.

​"Nona Kayna... kita dalam masalah besar," ucap sang asisten dengan suara gemetar, menyodorkan sebuah tablet. "Pengiriman kain sutra premium dan brokat eksklusif dari Lyon, Prancis, yang seharusnya tiba pagi ini di pelabuhan... telah disita oleh otoritas pusat atas dugaan pelanggaran karantina bahan kimia. Pihak bea cukai menolak semua dokumen resmi kita."

​Kayna seketika bangkit dari kursi kerjanya, jantungnya berdegup kencang. "Apa?! Bagaimana bisa? Semua dokumen kita sudah legal dan diperiksa selama bertahun-tahun!"

​"Bukan hanya itu, Nona..." Asisten itu menelan ludah dengan susah payah. "Tiga klien VVIP kita—termasuk putri dari keluarga konglomerat yang memesan gaun pernikahan untuk bulan depan—baru saja membatalkan pesanan secara sepihak. Mereka mendengar rumor bahwa Butik LiLYRa menggunakan bahan ilegal. Nominal kerugian dan denda penalti yang harus kita bayar karena keterlambatan produksi mencapai... tiga puluh miliar rupiah, Nona. Beberapa investor juga menarik modal mereka siang ini."

​Tubuh Kayna mendadak lemas. Belum sempat ia mencerna kehancuran butiknya, ponsel pribadinya bergetar hebat. Nama ibunya tertera di layar. Dengan tangan bergetar, Kayna menggeser tombol hijau.

​"Halo, Ibu? Ada apa—"

​"Kayna... tolong ke rumah sakit sekarang, Nak..." Suara ibunya terdengar histeris di seberang telepon, diiringi isak tangis yang memilukan. "Restoran Sunny Bless milik Ayahmu... semua cabangnya di Jakarta dan Jogja mendadak disegel oleh dinas kesehatan dan badan audit keuangan. Mereka menuduh restoran kita melakukan pencucian uang dan pelanggaran sanitasi parah. Para pemasok bahan makanan menuntut pelunasan utang hari ini juga... Rumah kita dikerumuni wartawan, Kayna!"

​Ponsel di tangan Kayna hampir saja terjatuh. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis dan mencekik. Tidak salah lagi. Ini bukan kebetulan. Ini adalah perang tak kasat mata yang dilancarkan oleh Damara. Pria itu sedang menguliti hidupnya hidup-hidup, menggunakan jaringan kekuasaan legal maupun ilegalnya untuk membuat keluarga Ramida bertekuk lutut. Mara sedang membuktikan ucapannya di Yogyakarta: bahwa dia bisa membuat dinasti bisnis keluarganya runtuh menjadi abu dalam waktu semalam.

...----------------...

​Mimpi buruk Rayna sudah mencapai puncaknya ketika Erick , ayah Kayna, mendadak ambruk di ruang tamu akibat serangan jantung. Tekanan finansial, kepungan media, dan ancaman kebangkrutan yang datang bertubi-tubi membuat tubuh pria paruh baya itu tidak mampu lagi bertahan. Erick dilarikan ke ruang ICU dalam kondisi kritis.

​Di depan pintu kaca ruang ICU sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, Kayna menatap tubuh ayahnya yang dipasang berbagai alat bantu pernapasan. Ibunya terduduk lemas di kursi tunggu, terus-menerus merapalkan doa di sela tangisnya.

​Kayna berdiri mematung. Air matanya mengalir, namun di dalam hatinya, rasa sedih itu perlahan mengkristal menjadi kemarahan murni yang membakar jiwanya. Ia tahu betul, obat untuk menyembuhkan ayahnya dan menyelamatkan butik ibunya tidak berada di tangan dokter, melainkan di tangan monster yang bersemayam di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit di Jakarta.

​Demi menyelamatkan keluarganya, demi nyawa ayahnya, Kayna akhirnya menyadari bahwa keangkuhannya telah kalah oleh kenyataan yang kejam. Ia terpaksa menerima takdir perjodohan gila itu.

​Sore itu juga, tanpa berganti pakaian, dengan mata yang sembap dan sisa-sisa keberanian yang terluka, Kayna menempuh perjalanan menuju singgasananya Mara. Veldens Management Headquarters.

​Begitu melangkah masuk ke lobi megah gedung monolit hitam itu, para staf langsung mengenalinya. Atas perintah Mara, James sendiri yang turun ke lobi untuk menjemput Kayna dan membawanya naik langsung ke ruang kerja sang Capo.

​BRAAK!

​Kayna mendorong pintu kayu jati ganda ruang kerja Mara dengan kasar, tidak peduli lagi pada sopan santun. Di dalam ruangan, Mara sedang duduk dengan tenang di balik meja kerja obsidiannya, seolah-olah dia memang sudah memprediksi kedatangan gadis itu detik demi detik.

James yang sejak tadi berada di belakang Kayna cukup terkejut dengan keberanian gadis itu. Ia melirik sebentar bosnya. Lalu menutup pintu itu dari luar. Menyisakan Kayna dan Mara.

​"Kau puas, Damara?!" teriak Kayna, suaranya parau, pecah oleh badai emosi yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Ia melangkah lebar mendekati meja kerja pria itu, napasnya memburu hebat. "Kau monster! Kau iblis terkutuk yang tidak punya hati nurani! Kau benar-benar gila!!"

​Mara tidak terkejut. Pria itu meletakkan penanya perlahan, menegakkan tubuh tegapnya, dan menatap Kayna dengan sepasang mata abu-abu yang sedingin es namun berkilat puas saat melihat mangsanya akhirnya masuk ke dalam jebakan.

​"Jaga bicaramu di ruanganku, kelinci kecil," ucap Mara, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan otoritas yang mengintimidasi.

​"Jaga bicaraku?!" Kayna tertawa histeris, air mata kemarahan kembali menetes di pipinya. Ia memukul meja kerja Mara dengan kedua telapak tangannya. "Ayahku sekarang terbaring sekarat di ruang ICU karena kelakuan bejatmu! Kau menyabotase butik ibuku, kau menyegel restoran ayahku, kau menghancurkan reputasi keluargaku hanya demi egomu yang tersengat karena aku menolakmu! Kau bajingan paling menjijikkan yang pernah kutemui di dunia ini! Aku mengutukmu, Damara! Aku bersumpah demi Tuhan, aku membencimu sampai mati!"

​Sumpah serapah dan makian yang keluar dari bibir Kayna sama sekali tidak membuat Mara marah. Sebaliknya, Mara bangkit dari kursi kebesarannya. Langkah kakinya yang lambat membawa tubuh jangkungnya memutari meja, berjalan mendekati Kayna yang sedang gemetar hebat karena amarah dan kelelahan fisik.

​Mara berhenti tepat di depan Kayna. Ia mengulurkan tangan kekarnya, dengan lembut menyelipkan anak rambut Kayna yang berantakan ke belakang telinga gadis itu, mengabaikan tatapan membunuh dari sepasang mata elang Kayna.

​"Bencilah aku sesukamu, Kayna. Kemarahanmu sama sekali tidak mengurangi keindahanmu," bisik Mara, suaranya begitu rendah dan sensual, sangat kontras dengan situasi yang memanas. "Tapi ingat satu hal... kebencianmu tidak akan bisa membayar denda tiga puluh miliar butikmu, dan sumpah serapahmu tidak akan bisa mengembalikan detak jantung ayahmu menjadi normal."

​Kayna memejamkan matanya, merasakan perih yang luar biasa di dadanya. Cengkeraman takdir pria ini terlalu kuat untuk ia lawan. "Kau! Kau benar-benar sialan!"

​Mara meraih dagu Kayna, mendongakkan wajah gadis itu agar menatapnya. "Kurasa tujuan mu kesini bukan untuk memaki ku."

Kayna mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya menatap tajam pada Mara. Emosinya sudah benar-benar di ujung ubun-ubunnya. "Aku kesini untuk menyuruhmu menarik semua ulah busukmu itu! Bereskan semua kekacauan yang sudah kamu buat!"

Mara kembali tersenyum saat mendengar ucapan Kayna. "Sepertinya kamu tidak tahu bagaimana cara memohon yang benar, Kayna."

"Memohon? untuk apa aku memohon. itu semua ulahmu! jadi kau harus bertanggungjawab! "

"Aku bisa saja membereskannya, tapi...."

Mara sengaja menjeda ucapanya. Ia justru berjalan menjauhi Kayna dan duduk kembali di kursi kebesarannya.

"Tapi apa, sialan!"

Kayna dengan geram berjalan mendekat dan menendang kursi yang di duduki Mara hingga mundur beberapa senti.

Mara bukannya marah justru terkekeh gemas dengan tingkah liar kelincinya itu.

"Kau! Berhenti tertawa!"

Seringai kemenangan yang paling mengerikan terukir di wajah tampan sang penguasa dunia bawah tanah.

​"Sederhana," Mara menatap Kayna dengan tajam. "Tandatangani kontrak perjodohan ini. Datang bersamaku ke hadapan ibuku dan media, umumkan bahwa kau adalah calon istri dari Damara Lexander Veldens. Mulai detik ini, serahkan seluruh kebebasanmu, tubuhmu, dan jiwamu padaku. Maka dalam waktu lima menit... aku bersumpah seluruh masalah keluargamu akan lenyap seolah tidak pernah terjadi."

"Sial sial sial!"

"Berhenti mengumpatiku di dalam batin, Kayna. Bagaimana? Apa jawabanmu?"

​Dengan sisa-sisa harga diri yang telah hancur berkeping-keping, Kayna berbisik tajam, "Aku... aku menerima perjodohan ini. Selamat, Damara... kau berhasil mendapatkan boneka pajanganmu."

Kaki Kayna sudah bersiap untuk kembali menendang kursi Mara, tapi tangan Mara jauh lebih cepat. Ia lebih dulu menarik pergelangan tangan Kayna, membuat gadis itu terjatuh tepat di atas pangkuannya.

Kayna memberontak. "Lepaskan aku, Brengsek!" Ia memukul-mukul lengan Mara yang melingkar di pinggangnya.

Mara mengecup pelan pundak Kayna. Ia tersenyum puas, sebuah kepuasan yang gelap. "Pilihan yang sangat cerdas, calon istriku."

Kemudian Mara melepaskan tangannya dari pinggang Kayna. Dan tanpa membuang waktu, Kayna langsung berdiri dan benar-benar menendang dengan sekuat tenaga pergelangan kaki Mara.

"Arghhh!" Mara mengusap pergelangan kakinya yang terasa berdenyut dan sakit itu. "Kau---

Kayna langsung memotong ucapan Mara. "Kau benar-benar sialan! dalam waktu lima menit jika aku tidak mendengar semua masalahnya sudah selesai, akan ku bakar gedung ini!"

Dengan cepat ia berbalik pergi dari ruangan yang menurutnya seperti neraka itu. Meninggalkan mara yang masih kesakitan, tapi tetap menyeringai senang karena kelinci kecilnya sudah masuk ke dalam perangkap.

...●Bersambung●...

1
Putri💅🏻💅🏻
bagus banget
AzhuraAstra
Lanjut seng!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!