Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran di balik senyum
Malam itu, kediaman keluarga Lu terlihat jauh lebih ramai dari biasanya.
Kehadiran Shen Meilin membuat para pelayan sibuk menyiapkan kamar tamu terbaik. Semua orang bergerak cepat, memastikan tidak ada satu pun kekurangan yang dapat mencoreng nama keluarga Lu.
Di balkon lantai dua, Shen Meilin berdiri sambil memandangi halaman mansion yang luas. Perlahan, tatapannya beralih ke arah Lu Zhichen yang sedang berbicara dengan Han Mo di taman.
Sorot matanya dipenuhi ambisi.
"Seharusnya... akulah yang berdiri di samping pria itu, bukan Shen Yuxin."
Kedua tangannya mengepal erat.
Selama bertahun-tahun, ia selalu hidup di bawah bayang-bayang sepupunya.
Apa pun yang dimiliki Shen Yuxin, ia juga menginginkannya.
Mainan.
Pakaian.
Perhiasan.
Perhatian keluarga.
Dan sekarang...
Suami.
Terlebih lagi, Lu Zhichen bukan sekadar pria tampan. Ia adalah Raja Mafia sekaligus orang terkaya di Beijing. Status, kekuasaan, dan kekayaan yang dimilikinya membuat obsesi Shen Meilin semakin dalam.
Semakin sulit pria itu didapatkan...
Semakin besar pula keinginannya untuk memiliki.
*
*
Di taman belakang, Han Mo sedang menyampaikan hasil penyelidikannya.
"Master."
"Saya sudah memeriksa seluruh barang bawaan Shen Meilin."
Lu Zhichen tetap memandang tenang ke arah kolam ikan.
"Hasilnya?"
"Tidak ditemukan benda yang mencurigakan."
Han Mo berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Namun... saya tetap tidak mempercayainya."
Lu Zhichen menganggukkan kepala pelan.
"Aku juga."
"Awasi setiap gerakannya."
"Jangan sampai Yuxin terluka."
"Wanita itu licik."
"Dia bisa menyakiti Yuxin kapan saja."
Han Mo sedikit terdiam.
Meski hingga saat ini ia masih belum sepenuhnya menyukai Shen Yuxin, perintah Lu Zhichen adalah sesuatu yang tidak mungkin ia bantah.
"Baik, Master."
Di dalam kamar...
Shen Yuxin sedang berguling-guling di atas ranjang sambil memeluk bantal.
"Astaga..."
"Kenapa Shen Meilin datang sekarang?"
"Di novel... seharusnya dia muncul jauh lebih lambat."
Ia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
"Lalu Lin Xiaoran juga muncul lebih cepat."
"Semuanya benar-benar berantakan."
Tiba-tiba wajahnya berubah serius.
"Tidak."
"Jangan sampai Shen Meilin merebut Zhichen."
"Wanita ular itu jauh lebih berbahaya daripada pemilik tubuh ini."
Yuxin mendengus pelan.
"Shen Meilin..."
"Jangan harap kamu bisa mendapatkan Zhichen!"
Ucapan itu terlontar tanpa sadar.
Tanpa ia ketahui...
Seseorang sedang berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Lu Zhichen.
Pria itu sebenarnya hanya ingin memastikan keadaan istrinya.
Sayangnya...
Ia hanya sempat mendengar kalimat terakhir.
"Jangan harap kamu bisa mendapatkan Zhichen."
Perlahan, sudut bibir Lu Zhichen terangkat membentuk senyum tipis.
Di dalam benaknya muncul pemikiran yang sama sekali berbeda.
"Jadi... istriku akhirnya mulai menganggap ku sebagai miliknya?"
Entah mengapa, dadanya terasa hangat.
"Istri kecilku..."
"Kau tidak perlu khawatir."
"Aku memang hanya akan menjadi milikmu seorang."
Dengan perasaan yang jauh lebih ringan, Lu Zhichen berbalik meninggalkan depan kamar tanpa mengganggu Shen Yuxin.
Sementara itu, Shen Yuxin masih sibuk memeluk bantal sambil mengomel sendiri, sama sekali tidak menyadari kesalahpahaman besar yang baru saja terjadi.
*
*
*
Keesokan paginya...
Seluruh penghuni mansion menikmati sarapan bersama.
Shen Meilin sengaja memilih duduk tepat di seberang Lu Zhichen.
Hari itu, ia mengenakan gaun merah anggur yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Riasannya dibuat senatural mungkin. Setiap gerakannya dipenuhi keanggunan.
Bahkan ketika mengambil sepotong roti, gerakannya tampak begitu anggun.
Sayangnya...
Seluruh usaha itu sia-sia.
Lu Zhichen bahkan tidak meliriknya sedikit pun.
Tatapan pria itu hanya tertuju kepada Shen Yuxin.
"Sayang."
"Hm?"
"Kamu belum makan sayurnya."
"Oh."
Shen Yuxin langsung mengambil sepotong brokoli dan memakannya.
Melihat istrinya menurut, Lu Zhichen tersenyum puas.
Pemandangan itu membuat Shen Meilin hampir menggertakkan giginya.
"Apa-apaan ini?"
"Aku berdandan hampir dua jam..."
"Tapi dia bahkan tidak melirikku sama sekali?"
Namun, Shen Meilin belum menyerah.
Ia sengaja menuangkan teh.
Lalu...
"Aduh!"
Tangannya dibuat seolah terpeleset.
Cangkir teh panas itu meluncur tepat ke arah Lu Zhichen.
Namun...
Sebelum teh tersebut sempat mengenai pria itu, Shen Yuxin lebih dahulu menarik lengan suaminya.
"Hati-hati!"
Prang!
Cangkir itu jatuh dan pecah di lantai.
Ruang makan seketika dipenuhi keheningan.
Lu Zhichen menatap tangan Shen Yuxin yang masih menggenggam lengannya.
Tatapannya perlahan melembut.
"Terima kasih."
Shen Yuxin tersenyum canggung.
"Hehe..."
"Kalau kamu terluka..."
"Semua orang pasti langsung mencurigai aku."
Jawaban polos itu membuat seluruh orang di ruang makan saling berpandangan.
Masuk akal.
Melihat masa lalu Shen Yuxin, siapa pun pasti akan berpikir demikian.
Namun...
Sekali lagi Lu Zhichen salah paham.
Di telinganya, kalimat itu terdengar seperti bentuk kepedulian seorang istri yang tidak pandai mengungkapkan perasaannya.
Tatapannya kepada Shen Yuxin pun menjadi semakin lembut.
Sebaliknya...
Shen Meilin hampir muntah darah melihat pemandangan tersebut.
Siang harinya...
Shen Meilin berhasil menyelinap ke taman belakang.
Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Yichen."
Suara Gu Yichen terdengar dari seberang.
"Meilin?"
"Ada apa?"
"Rencana kita bermasalah."
"Apa maksudmu?"
"Yuxin berubah."
Gu Yichen tertawa kecil.
"Mustahil."
"Dia sangat mencintaiku."
"Itu dulu."
"Sekarang dia bahkan tidak mau mendengar namamu."
Di seberang telepon...
Gu Yichen langsung terdiam.
Shen Meilin kembali berbicara.
"Aku curiga dia kehilangan ingatan."
"Atau..."
"Sedang berpura-pura."
Gu Yichen mengerutkan kening.
"Kalau begitu, aku sendiri yang akan menemuinya."
"Jangan!"
Shen Meilin buru-buru mencegah.
"Sekarang Lu Zhichen hampir selalu berada di dekatnya."
Gu Yichen berdecak kesal.
"Padahal terakhir kali aku menemuinya..."
"Dia masih terlihat bodoh dan mudah dikendalikan."
"Lalu kenapa bisa berubah secepat ini?"
Meski dipenuhi rasa penasaran, nama Lu Zhichen tetap membuatnya bergidik.
Ia tahu...
Bermain-main dengan Raja Mafia sama saja dengan mencari kematian.
Sayangnya...
Percakapan mereka tidak sepenuhnya rahasia.
Beberapa meter dari sana...
Han Mo berdiri di balik sebuah pohon besar.
Tatapannya berubah dingin.
"Jadi benar..."
"Wanita itu memang berhubungan dengan Gu Yichen."
Tanpa membuang waktu, ia segera mengirim pesan kepada anak buahnya.
Awasi setiap langkah Shen Meilin.
Selidiki seluruh komunikasi Gu Yichen.
Perang dalam bayang-bayang...
Resmi dimulai.
*
*
Sore harinya...
Shen Yuxin mengajak Shen Meilin berjalan-jalan mengelilingi taman.
"Sepupu."
"Mansion ini indah, ya?"
Shen Meilin tersenyum manis.
"Iya."
Namun, di dalam hati ia mencibir.
"Semua ini seharusnya menjadi milikku."
Sementara itu, Shen Yuxin justru sedang berpikir keras.
"Bagaimana caranya membuat Shen Meilin menunjukkan wajah aslinya?"
"Wanita munafik ini terlalu pandai berakting."
"Tidak mungkin aku membiarkannya terus berkeliaran."
Tak jauh dari sana, Han Mo diam-diam mengawasi setiap gerakan kedua wanita itu.
Instingnya mengatakan...
Cepat atau lambat...
Salah satu dari mereka pasti akan mulai bergerak.
*
*
Malam kembali menyelimuti mansion keluarga Lu.
Lu Zhichen berdiri sendirian di balkon kamarnya.
Tatapannya tertuju ke arah taman.
Ia melihat Shen Yuxin sedang tertawa bersama para pelayan.
Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.
Istrinya benar-benar telah berubah.
Kini Shen Yuxin jauh lebih ceria.
Lebih sering tersenyum.
Bahkan tidak lagi membentak para pelayan atau menghancurkan barang-barang di mansion seperti dahulu.
Namun, senyum itu perlahan memudar ketika satu nama kembali muncul di benaknya.
Gu Yichen.
Tangannya mengepal erat.
Jika dokter itu masih berani mendekati Shen Yuxin...
Ia tidak akan memberinya kesempatan kedua.
Kali ini...
Gu Yichen akan menghilang dari dunia tanpa meninggalkan jejak.
Bahkan Shen Yuxin tidak akan pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
*
*
Di sisi lain mansion...
Shen Meilin mengakhiri panggilan teleponnya sambil tersenyum tipis.
"Yuxin..."
"Kali ini..."
"Aku akan merebut semua milikmu."
"Termasuk Lu Zhichen."
Ia sama sekali tidak menyadari...
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di mansion keluarga Lu, setiap langkahnya telah berada dalam pengawasan Han Mo.
*
*
Malam semakin larut.
Sejak awal pernikahan mereka, Lu Zhichen dan Shen Yuxin memang tidur di kamar yang berbeda.
Itu adalah permintaan Shen Yuxin sendiri.
Bagi pemilik tubuh yang asli, Lu Zhichen hanyalah penghalang kebahagiaannya bersama Gu Yichen.
Sementara bagi Aurora, yang kini hidup sebagai Shen Yuxin...
Tidur satu kamar dengan Raja Mafia justru terasa jauh lebih berbahaya.
Meski ia adalah mantan pembunuh bayaran yang sangat terlatih, ia tidak pernah sekalipun meremehkan Lu Zhichen.
Terlebih lagi, mengingat semua kekejaman yang pernah dilakukan pemilik tubuh ini di masa lalu.
Aurora selalu berpikir...
Suatu hari nanti, Lu Zhichen mungkin saja berubah pikiran.
Dan ketika ia lengah saat tertidur...
Satu peluru.
Atau sebilah belati beracun.
Sudah cukup untuk mengakhiri hidupnya.
Karena itulah...
Menjaga jarak adalah pilihan yang paling aman.
Setidaknya...
Begitulah yang selalu diyakini Shen Yuxin.
Sementara itu, di kamar sebelah...
Lu Zhichen justru memandangi pintu yang memisahkan mereka.
Di dalam hatinya, hanya ada satu harapan sederhana.
"Suatu hari nanti..."
"Aku ingin dia sendiri yang meminta untuk tidur di sisiku."
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...