Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 07 - Akun Menfess Kampus
Video Ayla melakukan push up menyebar sebelum acara orientasi selesai.
Awalnya hanya story beberapa mahasiswa baru. Lalu masuk ke akun menfess kampus. Lalu ada yang memotong bagian ketika Ayla menjawab Dimas. Dalam waktu satu jam, caption sudah berubah-ubah.
Mahasiswi baru keluarga Prameswari bikin senior malu.
Adik Kak Alina arogan banget?
Anak baru atau preman kampus?
Nisa menunjukkan ponselnya saat mereka duduk di auditorium.
“Ayla, kamu viral.”
Ayla sedang membuka botol air. “Aku belum melakukan apa-apa.”
“Itu yang bikin aku takut.”
Di layar, komentar mengalir cepat.
Kasihan Kak Alina punya saudara begitu.
Cantik sih, tapi galak banget.
Katanya dia baru pulang dari luar negeri? Kok kayak nggak punya adab?
Jangan-jangan benar anak angkat yang dulu bikin masalah.
Ayla membaca komentar terakhir lebih lama.
Anak angkat.
Alina bekerja cepat.
Nisa tampak cemas. “Kamu mau klarifikasi?”
“Untuk apa?”
“Biar orang nggak salah paham.”
“Orang yang ingin salah paham tidak butuh izin.”
Nisa mengerutkan kening. “Tapi kalau dibiarkan, nanti mereka makin keterlaluan.”
Ayla menatap gadis itu. Nisa benar-benar khawatir. Bukan pura-pura, bukan ingin mencari cerita, bukan ingin berada dekat drama keluarga kaya.
Menarik.
“Kamu tidak takut ikut dibenci?”
Nisa berkedip. “Karena duduk di sebelahmu?”
“Karena membelaku.”
Nisa berpikir sebentar. “Aku takut, sih. Tapi tadi kamu memang nggak telat. Kalau aku diam, aku yang nggak enak.”
Ayla tersenyum tipis.
“Kamu punya naluri bertahan hidup yang buruk.”
“Itu pujian?”
“Belum tentu.”
Di panggung, dosen memberi sambutan tentang kreativitas, etika digital, dan masa depan industri animasi Indonesia. Mahasiswa baru bertepuk tangan di waktu yang tepat. Ayla mendengarkan setengah. Setengah lainnya memantau akun menfess.
Sebuah unggahan baru muncul.
Anonim:
Aku nggak mau sebut nama, tapi ada anak baru yang sebenarnya punya masa lalu cukup berat. Tolong jangan terlalu menghakimi. Dia baru kembali ke keluarganya setelah lama hidup di luar. Kakaknya juga sudah berusaha menerima dia. Semoga dia bisa belajar menyesuaikan diri.
Komentar langsung meledak.
Kakaknya? Maksudnya Kak Alina?
Kak Alina baik banget.
Berarti benar dia bermasalah?
Kasihan tapi tetap nggak boleh kasar dong.
Nisa membaca unggahan itu dan wajahnya berubah. “Ini...”
“Lembut sekali, kan?” kata Ayla.
“Ini kayak membela, tapi sebenarnya...”
“Menancapkan pisau dengan pita.”
Nisa menatap Ayla. “Kamu tahu siapa yang kirim?”
Ayla melihat ke barisan panitia di sisi auditorium. Alina duduk di sana, menunduk melihat ponsel. Wajahnya terlihat sedih, seolah sedang membaca komentar buruk tentang Ayla dan merasa tidak berdaya.
Akting yang rapi.
Ayla membuka ponselnya.
“Aku bisa tahu dalam tiga puluh detik.”
Nisa membelalak. “Kamu hacker?”
“Mahasiswi animasi.”
“Mahasiswi animasi bisa begitu?”
“Kalau belajarnya benar.”
Ayla tidak benar-benar membobol apa pun. Akun menfess kampus ceroboh. Form anonim mereka menyimpan metadata yang terlalu mudah ditarik. Tiga puluh detik kemudian, dia menemukan perangkat pengirim. Lokasinya dari jaringan panitia. ID perangkat terhubung ke ponsel milik salah satu teman dekat Alina, seorang senior bernama Vira.
Bukan Alina langsung.
Tentu saja.
Orang seperti Alina tidak memegang pisau sendiri kalau ada orang yang bersedia memegangnya.
Ayla menyimpan datanya.
Nisa menahan napas. “Ketemu?”
“Ketemu.”
“Mau diapain?”
Ayla mematikan layar. “Belum.”
“Belum?”
“Kalau ikan baru menggigit umpan, jangan langsung ditarik. Tali bisa putus.”
Nisa menatapnya seperti sedang duduk di sebelah tokoh antagonis cerdas dari film.
“Kamu sebenarnya baik, kan?”
Ayla menoleh.
Nisa cepat menambahkan, “Maksudku, kamu nggak akan melakukan hal yang... terlalu kriminal?”
Ayla memikirkannya.
“Definisikan terlalu.”
Nisa menutup wajah dengan dua tangan.
Sesi auditorium selesai menjelang siang. Mahasiswa baru diarahkan ke halaman belakang untuk permainan kelompok. Matahari lebih panas, tetapi senior tampak bersemangat membuat mereka lari, menyanyi, dan melakukan tugas-tugas konyol atas nama kekompakan.
Ayla berdiri di bawah pohon, menolak memakai topi kertas berbentuk kelinci yang dibagikan panitia.
Dimas datang dengan senyum tipis.
“Ayla, semua mahasiswa baru harus ikut.”
Ayla menatap topi di tangannya. “Tidak.”
“Ini aturan.”
“Aturan kampus atau aturan kamu?”
“Aturan panitia.”
“Berarti bukan hukum negara.”
Dimas menahan marah. Di belakangnya, Vira berdiri sambil merekam dengan ponsel. Dia sengaja tidak terlalu dekat, tetapi sudut kameranya jelas mengarah ke Ayla.
Nisa berbisik, “Dia rekam kamu.”
“Aku tahu.”
Dimas berkata, “Kalau kamu tidak mau ikut, berarti kamu tidak menghormati panitia.”
Ayla mengambil topi kelinci itu.
Dimas tampak puas.
Lalu Ayla memasangkan topi itu ke kepala Dimas.
Suasana berhenti.
Topi kertas merah muda dengan telinga kelinci berdiri miring di kepala senior yang sedang mencoba galak.
Beberapa mahasiswa baru langsung tertawa.
Dimas menarik topi itu dengan wajah merah. “Kamu keterlaluan!”
Ayla berkata santai, “Kamu bilang semua harus ikut. Kamu juga panitia. Contohkan.”
Vira langsung maju. “Ayla, kenapa kamu selalu bikin masalah? Dimas cuma menjalankan tugas.”
Ayla menoleh padanya.
“Kak Vira, ya?”
Vira terkejut. “Kamu tahu aku?”
“Tahu.”
Ayla tersenyum.
“Ponselmu bagus.”
Wajah Vira berubah sedikit.
Ayla melirik ponsel di tangannya. “Hati-hati kalau kirim sesuatu pakai jaringan kampus. Kadang jejaknya lucu.”
Vira membeku.
Dimas tidak mengerti. “Apa maksudmu?”
Alina datang tepat saat itu, seperti biasa pada momen yang paling menguntungkan.
“Ada apa?”
Vira langsung memasang wajah sedih. “Lin, adikmu...”
“Kak Ayla,” Alina memotong lembut, “kalau kamu tidak nyaman ikut permainan, bilang padaku. Jangan membuat senior lain kesulitan.”
Kerumunan mulai berkumpul.
Ayla melihat satu per satu wajah mereka. Ada yang penasaran, ada yang menghakimi, ada yang menikmati drama. Sangat manusiawi.
“Alina.”
“Ya?”
“Kamu capek?”
Alina bingung. “Apa?”
“Capek pura-pura jadi orang baik di depan umum?”
Wajah Alina pucat.
Vira langsung marah. “Jaga bicaramu!”
Ayla mengabaikannya. “Kamu mau aku klarifikasi di sini atau di akun kampus?”
Senyum Alina hampir lepas. “Klarifikasi apa? Kak, kalau kamu marah karena unggahan tadi, aku juga sedih membacanya. Aku tidak tahu siapa yang menulis.”
“Aku tahu.”
Vira menggenggam ponsel lebih erat.
Ayla membuka ponselnya, menampilkan tangkapan layar metadata yang sudah dia rapikan agar mudah dibaca orang awam. Nama perangkat, jaringan, waktu kirim, dan lokasi panitia.
Dia tidak langsung menyebut Alina.
Dia hanya mengangkat layar ke arah Vira.
“Mau jelaskan?”
Wajah Vira benar-benar putih.
Dimas mengambil ponsel Ayla tanpa izin, melihat layar, lalu menatap Vira. “Vir?”
Alina bergerak cepat. Dia memegang lengan Vira. “Vira, kamu yang kirim? Kenapa?”
Kalimat itu sempurna.
Vira menjadi tameng.
Vira menatap Alina dengan panik. “Aku cuma... aku cuma kasihan sama kamu.”
Alina menggeleng, air mata muncul. “Aku tidak pernah minta kamu menulis begitu.”
Ayla tertawa pendek.
Semua menatapnya.
“Cantik,” katanya.
Alina menoleh. “Kak?”
“Adegan pengorbanan teman. Sangat cantik.”
Vira mulai menangis. “Kamu jangan menuduh Alina. Aku yang kirim. Aku nggak tahan lihat dia sedih karena kamu.”
Ayla melihat Vira. “Kamu tahu apa tentang aku?”
Vira terdiam.
“Tahu aku anak angkat? Tahu aku baru pulang dan sulit menyesuaikan diri? Tahu aku punya masa lalu berat? Dari mana?”
Vira membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban.
Alina menangis pelan. “Aku pernah cerita pada Vira karena dia sahabatku. Aku tidak menyangka dia akan menulis begitu.”
Bagus.
Jalan keluar sudah disiapkan.
Ayla menyimpan ponsel.
“Tidak apa-apa.”
Alina mengangkat wajah, terkejut.
“Kak Ayla...”
“Aku simpan sisanya untuk nanti.”
Kalimat itu membuat Alina kehilangan suara.
Dosen Ratri datang setelah mendengar keributan. “Ada apa ini?”
Dimas segera menjelaskan dengan terbata-bata. Vira menangis. Alina tampak terluka. Mahasiswa baru berbisik semakin ramai.
Ayla berdiri tenang di tengah mereka.
Bu Ratri menatapnya lama. “Kamu ikut saya.”
Nisa panik. “Bu, Ayla tidak—”
Ayla menepuk bahu Nisa. “Tenang.”
Dia mengikuti Bu Ratri ke gedung fakultas.
Di belakangnya, Alina masih berdiri dengan wajah basah. Namun kali ini, bisikan di sekitar tidak semuanya memihak padanya.
Untuk pertama kalinya, beberapa orang mulai bertanya.
Kenapa Vira tahu cerita pribadi Ayla?
Kenapa Alina selalu muncul tepat saat terjadi masalah?
Dan kenapa Ayla terlihat seperti orang yang masih memegang kartu lebih besar?
Di koridor gedung fakultas, Bu Ratri akhirnya berhenti.
“Kamu tahu kamu membuat hari pertama orientasi jadi kacau?”
Ayla menjawab, “Bukan saya yang mengirim unggahan.”
“Tapi kamu menikmati kekacauannya.”
Ayla tersenyum.
Bu Ratri menghela napas. “Saya tidak peduli kamu anak siapa. Di kampus ini, jangan pakai kekerasan.”
“Saya belum pakai.”
Bu Ratri menatapnya tajam. “Itu yang membuat saya khawatir.”
Ayla diam sebentar.
Lalu berkata, “Bu, kalau orang mengganggu saya, saya biasanya menyelesaikan cepat. Tapi kampus punya aturan, jadi saya akan mencoba versi kampus.”
“Versi kampus itu apa?”
“Bukti dulu. Baru hancurkan.”
Bu Ratri memijat pelipis.
Hari pertama belum selesai, dan dia sudah merasa semester ini akan panjang sekali.