❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 - Intuition
Sinar matahari sudah tergantikan oleh cahaya bulan. Langit pun perlahan berubah gelap.
Saat aku, Ayah, dan Ibu selesai makan, aku memberanikan diri membuka suara sebelum Ayah kembali sibuk dengan pekerjaannya.
“Ayah…” panggilku pelan ketika Ayah sedang minum.
Ayah meletakkan gelasnya di meja, lalu menatapku.
“Ada apa, Nay?”
“Ehm… aku tadi udah nanya ke rekan kerja soal dokumen untuk daftar nikah… katanya perlu surat pengantar dari RT/RW. Besok-besok temenin aku ke sana ya, Yah?” ucapku, sedikit terbata.
“Eh? Kamu udah mau daftarin pernikahan?” Ayah terlihat terkejut.
“Cepat banget sih, Nay? Kemarin kamu masih kelihatan nggak mau dijodohin. Kok sekarang jadi kayak gini?” timpal Ibu.
“Ya mau gimana lagi… pernikahannya tetap harus dijalanin, kan? Lagian juga bukan besok aku daftarinnya. Nunggu Javier nemu rumah dulu,” jawabku.
“Besok juga nggak apa-apa, Nay. Lebih cepat lebih baik. Iya, kan, Yah?” ucap Ibu.
Ayah mengangguk.
“Iya, betul. Ya sudah, kita sekarang aja ke rumah Pak RT.”
“Hah? Sekarang?” aku langsung terkejut.
“Iya, biar cepat,” jawab Ayah santai.
“Tapi, Yah…”
“Udah, kamu nurut aja,” potong Ibu.
“Ambil dulu fotokopi KTP sama KK,” tambah Ayah.
Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya beranjak mengambil berkas yang dimaksud.
Tak lama kemudian, aku dan Ayah berjalan menuju rumah Pak RT. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar seratus meter, jadi kami memilih berjalan kaki.
Sesampainya di sana, Ayah mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Tak lama kemudian, terdengar balasan dari dalam, lalu pintu terbuka.
“Eh, Pak Gilang, Naya? Mari, silakan masuk,” sapa Pak RT ramah.
Aku dan Ayah masuk, lalu duduk di ruang tamu.
“Ada apa ini malam-malam ke sini?” tanya Pak RT penasaran.
“Begini, Pak. Kami mau minta surat pengantar untuk daftar nikah,” jelas Ayah.
“Eh? Siapa yang mau nikah? Bukan Pak Gilang, kan?” ujar Pak RT sambil tertawa kecil.
“Bukan, Pak. Saya kan sudah menikah,” jawab Ayah santai.
“Siapa tahu mau nikah lagi,” goda Pak RT.
Hah?
Aku langsung menoleh ke arah Ayah.
Tidak boleh.
Aku tidak akan membiarkan Ayah menikah lagi.
“Saya cukup satu saja, Pak. Satu saja pertanggung jawabannya sudah berat, apalagi lebih dari satu,” ucap Ayah.
“Haha… betul, Pak. Satu saja sudah pusing, ya? Apalagi dua atau empat. Bisa gila, kayaknya,” timpal Pak RT sambil tertawa.
“Pak RT ini ada-ada saja,” ucap Ayah ikut tersenyum.
“Jadi siapa yang mau nikah?” tanya Pak RT kembali.
“Naya, Pak,” jawab Ayah.
“Wah… benar begitu? Akhirnya Naya nikah juga.” Pak RT menatapku. “Nikah sama siapa, Nay?”
“Ehm… sama…” aku terdiam, bingung harus menjawab apa.
“Sama nasabahnya, Pak,” potong Ayah tiba-tiba.
Aku langsung menoleh ke arah Ayah, terkejut.
“Sama nasabahnya?” ulang Pak RT.
“Iya, Pak. Mereka sering ketemu di bank, terus lama-lama jadi saling suka,” jelas Ayah santai.
Hah?
Kenapa Ayah bilang begitu?
“Oh… karena sering ketemu jadi saling suka, terus pacaran, ya?” tanya Pak RT.
“Oh, nggak pacaran, Pak. Si nasabah langsung ngajak nikah. Katanya kalau pacaran buang-buang waktu. Pacarannya setelah nikah saja,” lanjut Ayah tanpa ragu.
Aku makin tertegun.
Sejak kapan cerita ini berubah jadi seperti itu?
“Wah, pola pikirnya bagus itu. Anak zaman sekarang jarang yang berpikiran seperti itu,” ucap Pak RT kagum.
“Nah itu dia, Pak. Makanya saya langsung setuju,” balas Ayah.
“Naya, kamu pintar ya cari calon suami. Dari dulu nggak pernah dekat sama siapa pun, sekalinya ketemu langsung yang punya pemikiran bagus,” ujar Pak RT.
Aku hanya bisa tersenyum tipis.
Yang Ayah ceritakan barusan… benar-benar terdengar seperti cerita di film.
Tak pernah terlintas di pikiranku akan berjodoh dengan nasabah sendiri. Selama ini aku hanya berusaha profesional—fokus pada pekerjaan, pada apa yang dibutuhkan nasabah, tidak lebih.
“Baik, tunggu sebentar,” ucap Pak RT.
Ia berdiri, mengambil selembar kertas, lalu kembali duduk.
“Silakan diisi dulu.”
Aku menerima kertas itu dan mulai mengisinya.
Setelah selesai, Pak RT menandatangani dan memberi stempel.
Tak lama kemudian, semuanya selesai.
Aku dan Ayah pun pamit.
Begitu keluar dari rumah Pak RT, aku langsung menoleh ke arah Ayah.
“Ayah… kenapa Ayah bilang kayak gitu tentang aku dan Javier? Kenapa nggak bilang kalau kami dijodohkan?” tanyaku.
“Soalnya kamu aja kelihatan nggak mau dijodohkan. Lagian, biar Pak RT nggak nanya macam-macam,” jawab Ayah santai.
“Tapi masa sama nasabah sendiri sih, Yah? Udah kayak cerita film aja,” protesku.
“Nggak apa-apa. Malah bagus. Kamu juga pernah bilang pengen ngalamin yang kayak di drama-drama itu, kan? Ya anggap aja ini versinya kamu,” ucap Ayah ringan.
Aku mendengus pelan.
“Yang nonton drakor aku, yang pintar bikin cerita malah Ayah.”
Ayah tertawa kecil.
“Ayah juga suka nonton film, lho. Dulu waktu muda sering ke bioskop. Kalau filmnya bagus, tiketnya lebih mahal.”
“Iya, iya…” gumamku pasrah.
Kami pun melanjutkan langkah pulang.
“Udah?” tanya Ibu begitu kami masuk ke dalam rumah.
Aku langsung menunjukkan surat pengantar dari Pak RT.
“Simpan yang baik. Jangan sampai hilang,” pesan Ibu.
“Iya,” jawabku singkat.
Aku masuk ke kamar, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Surat itu masih ada di tanganku.
Aku menatapnya lama.
Selembar kertas sederhana—
tapi entah kenapa… rasanya seperti langkah kecil menuju sesuatu yang besar.
Aku akan menikah.
Di usia tiga puluh—hampir tiga puluh satu—aku akan menikah.
Dengan orang yang tidak aku cintai.
Belum.
Belum aku cintai.
Aku meraih ponsel, lalu menghubungi Javier. Aku ingin memberitahunya kalau aku sudah mendapatkan surat pengantar… dan menceritakan kebohongan Ayah tadi.
—Halo, Nay. Ada apa?
“Kamu udah pulang?” tanyaku.
—Kenapa?
“Nggak apa-apa. Takut ganggu,” jawabku.
—Ganggu? Sedikit sih. Ini aku baru sampai rumah.
“Oh… ya udah, nggak jadi.”
—Eh, ada apa sih? Kalau mau ngomong, ngomong aja.
“Katanya tadi ganggu,” balasku.
—Nggak kok, nggak. Ada apa?
“Ehm… aku udah dapet surat pengantar RT.”
—Apa?
Nada suaranya langsung berubah.
—Kamu udah dapet surat pengantar RT? Cepet banget. Kemarin kamu bilang belum tahu dokumennya apa aja, sekarang udah dapet surat pengantar RT?
“Waktu kerja aku tanya ke rekan kerja. Terus tadi aku minta Ayah temenin ke rumah Pak RT besok-besok… tapi malah langsung diajak sekarang. Ya udah deh…” aku berhenti sejenak. “Mana di sana Ayah bohong pula tentang kamu… tentang kita.”
—Bohong gimana?
“Katanya kamu itu nasabahku. Kita cinlok gitu. Terus kamu langsung ngajak aku nikah tanpa pacaran. Aku dengernya aja kaget.”
—Wah… Ayah kamu out of the box juga, ya? Eh, ngomong-ngomong, kamu kerjanya apa sih? Kok nasabah? Pegawai Bank?
“Iya… aku teller di Sina Bank.”
—Sina Bank? Wah… berarti Ayah kamu nggak sepenuhnya bohong. Aku emang nasabah di sana, meskipun nggak langsung ke kamu.
“Maksudnya?”
—Aku punya rekening di Sina Bank.
“Serius? Bisa kebetulan gitu, ya?”
—Nggak ada yang kebetulan. Semua udah diatur sama Allah.
Aku langsung diam.
Entah kenapa… kalimat itu terasa menenangkan, meski aku tidak benar-benar mengerti kenapa.
—Kamu di cabang mana?
“Yang deket Universitas Islam,” jawabku.
—Oh… aku biasanya ke cabang yang deket ruko sama perkantoran. Lebih deket dari rumah makan.
“Oh…” gumamku pelan. Entah kenapa aku kehabisan kata.
—Kamu cuma mau kasih tahu yang tadi aja?
“Iya.”
—Oke. Lusa aku juga akan urus itu. Besok aku mau ke developer dulu.
“Kamu udah dapet rumahnya?”
—Belum. Aku mau lihat-lihat dulu.
“Nggak usah mahal-mahal. Yang kamu mampu aja,” ucapku.
—Iya. Rencananya tipe 36.
“Itu yang kayak apa?”
—Rumah minimalis. Satu lantai, dua kamar.
“Ah…” aku ragu sejenak. “Ehm… Mas…”
—Ya?
“Kalau…”
—Kalau apa?
“Nggak jadi deh. Udah ya…”
Aku langsung menutup telepon.
Aku sebenarnya ingin bertanya.
Kalau suatu hari nanti… kami bercerai,
apa dia akan tetap tinggal di rumah itu?
Tapi entah kenapa… aku tidak bisa mengatakannya.
Bercerai.
Itu salah satu ketakutanku tentang pernikahan.
Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku.
Tapi jika pernikahanku dimulai seperti ini—
tanpa cinta,
dengan orang yang baru kukenal—
rasanya… kemungkinan itu ada.
Kecuali…
aku dan Javier…
suatu hari nanti saling mencintai.
Tapi itu rasanya tidak mungkin.
Sama tidak mungkinnya seperti aku bertemu dengan Lee Jun-ha.