“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Luka Yang Tak Terlihat
Satu, dua, tiga, empat, entahlah.. Arin sudah tidak lagi menghitung berapa banyak wanita yang datang ke kafe, bar, dan restoran hotel untuk berkencan dengan Nathan.
Hari ini pun sama. Kali ini, seorang model terkenal tengah duduk di meja bersama bosnya tersebut, wanita itu bahkan membuka percakapan dengan penuh antusias. Namun seperti sebelumnya, reaksi Nathan tetap sama diam dan mendengarkan. Bahkan, terkadang Arin berpikir kalau sebenarnya Nathan tidak benar-benar mendengarkan sama sekali.
"Aku akan pergi kalau jadi dia" gumam Arin tanpa sadar, matanya tetap tertuju pada lembar laporan Penjualan harian.
"Maaf bu? Apa ada yang salah?" tanya staf kasir yang berdiri di sampingnya.
"Ah, bukan apa-apa" Arin menjawab cepat sambil melempar senyum tipis, mencoba mengalihkan perhatian. Lalu ia kembali meneliti angka-angka di layar monitor. "Sepertinya menu baru kita cukup diminati."
Sebelum kasir sempat menanggapi, suara Nathan terdengar.
"Meja lima."
Suara berat itu membuat Arin spontan mendongak. Nathan sudah berdiri tepat di depannya, sambil menyodorkan selembar black card di antara jemarinya. Tatapan mereka sempat berbenturan sesaat, sebelum akhirnya Arin menggeser tubuhnya untuk memberi ruang bagi sang kasir dalam memproses pembayaran.
"Sudah selesai Pak, Terima kasih." ucap kasir itu sopan setelah mesin EDC berbunyi.
Tanpa sepatah kata pun Nathan menarik kembali kartunya. Ia berbalik, lalu melangkah pergi diikuti oleh sang model yang terburu-buru menyamakan langkah kakinya dengan kaki Nathan.
"Dia selalu Seperti ini?" tanya Arin begitu siluet bosnya menghilang di balik pintu kaca.
Staf kasir langsung mengerti arah pembicaraan Arin. "Benar bu, setiap kali Pak Nathan datang beliau selalu datang ke kasir untuk membayar sendiri tagihannya. Kami... sebenarnya tidak pernah berani meminta atau menyodorkan bill kepada beliau, tapi Pak Nathan yang selalu berinisiatif seperti ini."
Arin menganggukkan kepalanya bahwa iya mengerti, setelah itu dia kembali melanjutkan pekerjaanya.
...*****...
"Nathan? Kau tidak memberi tau akan datang" ujar Luna terkejut saat melihat Nathan tiba-tiba masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
Terlebih lagi ini bukan jadwal kunjungannya. Beruntung hari ini Luna tidak memiliki jadwal pasien lain. Satu-satunya orang di ruangan itu adalah Aldo, yang baru saja datang untuk menjemputnya setelah selesai bekerja.
Nathan tidak menjawab. Ia berjalan lurus ke sofa, menjatuhkan tubuhnya di sana dengan ekspresi kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.
"Aku tidak tidur tiga hari. Beri aku sesuatu, Kepalaku sangat pusing" ucap Nathan sambil memijat pelipisnya dengan tangan kiri.
Luna langsung bangkit dari kursinya. Ekspresinya berubah drastis.
“Tiga hari?! Kenapa kau baru memberitahuku sekarang!” bentak Luna, suaranya meninggi, dipenuhi kekhawatiran yang langsung meledak.
Tanpa menunggu lama Luna segera menarik kursi dan duduk di samping Nathan. Dengan sigap Luna meraih pergelangan tangan Nathan, meraba denyut nadinya untuk memeriksa ritmenya. Setelah itu, ia mengambil stetoskop dan menempelkannya ke dada kiri Nathan, mendengarkan detak jantungnya dengan saksama.
Luna kembali bergerak cepat. Ia segera memasang tensimeter untuk mengukur tekanan darah Nathan, lalu menggunakan pulse oximeter untuk memeriksa kadar oksigen dalam darahnya. Hasilnya masih dalam batas normal. Tidak ada tanda gangguan fisik yang serius, namun dari wajah Nathan, Luna tau tubuhnya sudah berada di ambang kelelahan.
"Apa yang kau rasakan?" tanyanya, masih tetap memegang pergelangan tangan Nathan untuk tetap merasakan denyut nadinya.
“Kepalaku sakit. Tubuhku lelah tapi aku tidak bisa tidur. Beri aku sesuatu" jawab Nathan sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Lihat aku,” ucap Luna.
Nathan kembali menegakkan tubuhnya, lalu menatap Luna dengan ekspresi datar. Luna mengamati wajah Nathan dengan saksama, terutama kedua matanya yang tampak lelah, sayu, dan sedikit memerah akibat kurang tidur.
“Ambilkan aku pulpen” ucap Luna tiba-tiba.
Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Aldo yang sejak tadi mengamati segera mengambil sebuah pulpen di meja Luna dan menyerahkannya kepadanya.
"Lihat pulpen ini dan fokus padanya" instruksi Luna tegas.
Lalu ia menggerakkan pulpen itu perlahan dari kiri ke kanan tepat di depan wajah Nathan. Nathan mengikuti arah gerakan tersebut dengan tatapan fokus.
Luna mengamatinya dengan cermat, mencari tanda-tanda abnormalitas, seperti refleks yang melambat, gangguan pada gerakan mata, atau reaksi yang tidak wajar. Namun, seperti sebelumnya kekuatirannya tidak muncul.
"Apa kau minum obat?" tanyanya lagi, untuk memastikan.
"Tidak. Aku hanya meminum obat untuk kakiku. Aku juga tidak menyentuh obat tidur seperti yang kau perintahkan" jawab Nathan, suaranya terdengar lebih lelah.
Mendengar jawaban Nathan, Luna segera melirik ke arah Aldo. Tatapannya tajam penuh tuntutan, Aldo yang sudah memahami maksudnya langsung memberikan penjelasan.
“Obat yang aku berikan seharusnya justru membantunya tidur lebih cepat karena fungsinya merelaksasi otot. Jika dia benar-benar meminumnya sesuai petunjuk, seharusnya tubuhnya menjadi lebih tenang dan tidur pun lebih mudah” jelas Aldo panjang lebar, meskipun ia tahu penjelasan itu belum tentu memuaskan tunangannya.
Setelah mendengar penjelasan itu, Luna kembali menatap Nathan. Tanpa membuang waktu ia segera mengarahkannya ke ruangan khusus yang biasa digunakan untuk terapi.
“Berbaring” instruksinya singkat.
Nathan tidak membantah dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur terapi, sementara Aldo yang penasaran tetap mengikutinya dan duduk di sisi ruangan. Nathan sama sekali tidak mempersoalkan kehadiran Aldo. Baginya, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dari keduanya, mereka sudah mengetahui semuanya tentang dirinya.
Luna mengambil posisi di samping Nathan, menatapnya dengan ekspresi serius.
“Aku tidak akan memberimu obat karena tubuhmu mungkin tidak akan kuat menerima efek sampingnya. Jadi…”
“Lakukan hipnoterapi,” potong Nathan, matanya sudah terpejam. "Aku sudah mencoba semua cara yang kau katakan, mengatur pernapasan, mendengarkan musik, berolahraga. Tidak ada yang berhasil."
Luna menghela nafas panjang. "Baiklah. Aku akan melakukan hipnoterapi, dan juga akupunktur."
Sesi hipnoterapi berlangsung sekitar satu jam, disertai akupunktur yang dilakukan Luna untuk membantu meredakan ketegangan di tubuh Nathan.
Namun, setelah sesi berakhir Luna hanya bisa menarik napas panjang. Seperti sebelumnya, hasilnya tetap sama. Nathan tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Setiap pertanyaan yang ia ajukan selama hipnoterapi hanya berujung pada jawaban yang samar, tidak cukup jelas untuk membuka simpul trauma yang mengikatnya.
“Dia sudah tidur” ujar Aldo dengan suara pelan. Ia melirik Nathan sejenak sebelum melangkah keluar dari ruangan, diikuti oleh Luna.
Di luar, Luna bersandar sejenak pada dinding, menatap pintu ruangan tempat Nathan beristirahat.
“Apa akhir-akhir ini dia pernah menceritakan sesuatu tentang dirinya padamu?” tanyanya, kini menatap Aldo dengan serius.
Aldo menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis. “Sayang, aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu.”
Luna melipat tangan di depan dada, tidak terpengaruh. “Aku serius, Aldo, kondisinya semakin buruk.”
Aldo mengangguk kecil. "Aku juga serius. Tunggu, aku ingat sesuatu.”
Mata Luna sedikit membesar. “Apa?”
“Aku sa—”
“Kalau kau bercanda, aku akan menendangmu keluar dari sini” potong Luna tegas, tatapannya tajam.
Aldo mengangkat tangan, menyerah. "Nathan berkencan."
Luna mengerutkan alis. “Kencan? Kau bercanda!” Ia hampir saja memukul lengan Aldo, tetapi pria itu dengan sigap menangkap kedua tangannya.
“Aku tidak bercanda. Aku serius. Tiga bulan terakhir ini dia sering berkencan dengan banyak wanita.”
Luna terdiam sejenak, menatap Aldo dalam-dalam sebelum akhirnya menghela napas panjang. Aldo yang menyadari perubahan ekspresinya perlahan melepaskan genggamannya.
“Dia ingin menikah?” tanya Luna akhirnya, suaranya lebih tenang, namun tetap penuh analisis.
Aldo mengangkat bahu, lalu dengan ekspresi penuh keyakinan, ia menyilangkan tangan di dadanya. "Menurut prediksiku, sepertinya begitu." Ia mengangguk-anggukkan kepala, layaknya seorang peramal yang baru saja meramalkan masa depan.
“Dia tidak memberitahumu kalau dia ingin menikah?” tanya Luna kembali.
“Menurut prediksi—”
"Keluar." Nada tegas Luna memotong kalimat Aldo, sambil menunjuk pintu dengan ekspresi kesal.
Aldo tidak langsung bergerak, ia malah menyandarkan tubuhnya ke sofa Luna.
“Bukankah itu sudah jelas? Andre sudah menikah dan akan segera memiliki anak, pernikahan bisnis keluarga mereka berhasil. Dan sekarang giliran Nathan, kita tau pola ini."
“Jadi itu alasan dia berkencan dengan banyak wanita dalam tiga bulan terakhir ini.” Luna kembali melihat pintu tempat Nathan sedang tertidur.
“Iya, itu alasan dia tidak tidur selama tiga hari ini. Berkencan dengan aktris dan model terkenal, wanita-wanita yang sangat cantik. Dia pasti bingung memilih yang mana” ujar Aldo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Mereka sangat cantik?” tanya Luna sambil menatap tajam ke arah Aldo.
“Mereka benar-benar cantik, sangat cantik. Aku yakin Nathan tidak akan menyesal memilih salah satu dari mereka” jawab Aldo cepat.
“Keluar! Kau keluar!” seru Luna, sambil meraih kotak tisu di mejanya dan melemparkannya ke arah Aldo.
Aldo yang akhirnya menyadari situasi semakin serius buru-buru menghindar dan keluar dari ruangan, masih dengan ekspresi bingung mengapa Luna begitu marah.
Begitu Aldo pergi, Luna menghembuskan napas panjang mencoba menenangkan emosinya. Ia berjalan ke sofa, merapikan alat-alat medisnya di atas meja dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari biasanya.
Matanya kemudian beralih ke pintu ruangan tempat Nathan tertidur. Luna mengingat kembali hasil dari sesi-sesi hipnoterapi sebelumnya, fragmen kenangan yang selalu muncul, tak pernah berubah.
Bagaimana Nathan menangis dalam setiap sesi hipnoterapi. Tentang pernikahan bisnis yang menghancurkan ibunya.
Tentang seorang wanita yang menunggu setiap malam, berharap seseorang akan datang, hanya untuk terus dikecewakan oleh kenyataan. Bagaimana perlahan-lahan, ia kehilangan dirinya sendiri dalam pernikahan yang hanya memberinya kehampaan.
Nathan tahu ibunya mencintai Victor Regen, pria yang juga mencintainya. Namun, takdir tidak pernah berpihak pada mereka. Demi bisnis keluarga, Victor harus menikahi wanita lain, meninggalkan ibunya tanpa status yang jelas.
Karena cinta, ibunya bertahan. Menerima setiap tatapan merendahkan dari keluarga sendiri, yang kini menganggapnya bukan lagi bagian dari mereka. Ia tetap bertahan, tetap berharap, meskipun hatinya perlahan hancur, meskipun dia mulai kehilangan dirinya sendiri.
Penderitaan dan kesepian itu tidak berakhir, bahkan ketika akhirnya Victor membawanya kembali ke rumah besar mereka setelah istri sahnya meninggal. Namun saat itu, semuanya sudah terlambat. Luka yang begitu dalam tidak bisa disembuhkan hanya dengan pengakuan.
Semua itu terukir jelas di dalam ingatan Nathan, memori yang terus menghantuinya, membentuknya, dan membuatnya membenci pernikahan bisnis lebih dari apapun.
Luna menutup matanya sejenak, lalu menghela nafas panjang.
"Sebagai doktermu, aku bahkan tidak punya solusi untuk masalahmu," gumamnya pelan.