NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Gerakan Kecil di Tengah Malam

Malam itu mansion keluarga Dimitri terlihat lebih sunyi dari biasanya.

Lampu-lampu utama sudah dimatikan. Hanya beberapa lampu dinding yang masih menyala redup di sepanjang koridor.

Di luar, hujan tipis turun membasahi taman belakang. Suara rintiknya terdengar pelan dari balik jendela kaca besar.

Sebagian besar penghuni rumah sudah tertidur.

Para pelayan kembali ke kamar masing-masing.

Para penjaga bergantian melakukan patroli.

Dan Rubi...

Wanita itu sudah tertidur lelap sejak satu jam yang lalu.

Namun berbeda dengan penghuni mansion lainnya, Alexander masih terjaga.

Pria itu berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil menatap gelapnya malam.

Tumpukan dokumen masih memenuhi meja.

Biasanya ia akan menghabiskan malam dengan bekerja.

Tetapi entah kenapa malam ini pikirannya tidak bisa fokus.

Matanya beberapa kali tertuju pada jam dinding.

Sudah hampir pukul satu dini hari.

Alexander mengembuskan napas panjang.

Lalu tanpa sadar mengingat ucapan kepala pelayan sore tadi.

"Nyonya muda terlihat sangat bahagia karena bayi bergerak."

Ucapan sederhana itu terus terngiang di kepalanya.

Aneh.

Padahal itu bukan hal besar.

Setidaknya menurut dirinya yang dulu.

Namun sekarang...

Setiap kali mengingat wajah Rubi saat membicarakan bayi itu, ada sesuatu yang terasa hangat di dadanya.

Perasaan yang asing.

Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Alexander mengusap wajahnya kasar.

"Aku benar-benar mulai aneh."

gumamnya.

Namun meski berkata begitu, kakinya justru melangkah keluar dari ruang kerja.

Menyusuri koridor yang sepi.

Tanpa tujuan yang jelas.

Atau mungkin sebenarnya ia tahu tujuannya.

Hanya saja enggan mengakuinya.

Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu.

Pintu kamar Rubi.

Alexander menatap gagang pintu selama beberapa detik.

Lalu menghela napas pelan.

Ini konyol.

Sangat konyol.

Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan?

Kalau dipikir-pikir, tidak ada alasan baginya berada di sini tengah malam seperti ini.

Namun sebelum sempat berbalik pergi, tangannya sudah lebih dulu membuka pintu.

Klik.

Pintu terbuka perlahan.

Alexander masuk tanpa suara.

Kamar itu hanya diterangi lampu tidur kecil di sudut ruangan.

Cahayanya redup dan hangat.

Di atas ranjang besar, Rubi terlihat sedang tertidur pulas.

Alexander menghentikan langkahnya.

Entah kenapa pemandangan itu membuatnya diam beberapa saat.

Rubi tidur dengan posisi miring.

Selimut yang tadinya menutupi tubuhnya kini berantakan.

Sebagian jatuh ke bawah.

Sebagian lagi melilit di kakinya.

Rambut panjangnya menyebar di atas bantal.

Wajahnya terlihat jauh lebih muda saat tidur.

Tidak ada ekspresi bingung.

Tidak ada senyum canggung.

Tidak ada tatapan hati-hati yang biasanya muncul saat berbicara dengannya.

Hanya ketenangan.

Alexander berjalan mendekat.

Pelan.

Sangat pelan.

Seolah takut membangunkan wanita itu.

Setelah berada di samping ranjang, ia membungkuk sedikit lalu menarik selimut yang hampir jatuh.

Kemudian menutupkannya kembali ke tubuh Rubi.

Gerakan sederhana.

Namun sesuatu yang bahkan tidak pernah ia lakukan kepada siapa pun sebelumnya.

Alexander sendiri tidak menyadarinya.

Matanya justru tertuju pada perut Rubi yang mulai membesar di balik piyama longgar yang dikenakannya.

Untuk beberapa saat ia hanya memandang.

Diam.

Hari ini ia terus memikirkan satu hal.

Gerakan bayi itu.

Hal kecil yang membuat Rubi begitu bahagia.

Hal kecil yang membuat dirinya penasaran.

Alexander perlahan duduk di pinggir ranjang.

Kasur sedikit bergerak karena berat tubuhnya.

Namun Rubi tidak terbangun.

Ia tetap tertidur nyenyak.

Alexander menatap wajah wanita itu.

Lalu tanpa sadar muncul sebuah pertanyaan di kepalanya.

Sejak kapan Rubi berubah?

Sebelum sakit, wanita itu hampir tidak pernah tersenyum.

Mereka bahkan bisa melewati satu minggu tanpa percakapan berarti.

Namun sekarang semuanya berbeda.

Rubi sering tersenyum.

Sering tertawa.

Bahkan beberapa kali membuatnya kehilangan kata-kata.

Perubahan itu begitu jelas.

Terlalu jelas.

Tetapi anehnya, Alexander tidak merasa terganggu.

Justru sebaliknya.

Ia lebih menyukai Rubi yang sekarang.

Pikiran itu membuatnya terdiam.

Lalu mengalihkan pandangan ke arah perut Rubi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alexander merasa ragu.

Ia adalah pria yang tidak pernah takut mengambil keputusan.

Tidak pernah takut menghadapi musuh.

Tidak pernah takut menghadapi kematian.

Namun sekarang...

Ia ragu hanya untuk mengulurkan tangan.

Konyol.

Sangat konyol.

Tetapi tetap saja ia ragu.

Bagaimana jika Rubi bangun?

Bagaimana jika wanita itu merasa tidak nyaman?

Bagaimana jika ia menganggap tindakan ini aneh?

Alexander hampir menarik kembali niatnya.

Namun pada akhirnya rasa penasaran menang.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Ia mengulurkan tangan.

Lalu meletakkannya di atas perut Rubi.

Hangat.

Itu hal pertama yang ia rasakan.

Hangat dan lembut.

Alexander menahan napas tanpa sadar.

Entah kenapa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Beberapa detik berlalu.

Tidak terjadi apa-apa.

Alexander hampir menarik tangannya kembali.

Sampai tiba-tiba—

Tap.

Sesuatu menyentuh telapak tangannya dari dalam.

Alexander membeku.

Matanya langsung membesar.

Lalu—

Tap.

Gerakan itu muncul lagi.

Kali ini lebih jelas.

Seolah seseorang kecil sedang mengetuk dari dalam.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alexander Dimitri benar-benar terkejut.

Bukan karena serangan musuh.

Bukan karena ancaman pembunuhan.

Melainkan karena gerakan kecil seorang bayi yang bahkan belum lahir.

Ia menunduk menatap perut Rubi.

Masih tidak percaya.

Dan tepat saat itu...

Tap.

Bayi itu bergerak lagi.

Alexander merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Perasaan aneh yang muncul begitu saja.

Hangat.

Lembut.

Dan membuat dadanya terasa penuh.

Ini anaknya.

Pikirannya berbisik pelan.

Anak yang selama ini hanya dianggap sebagai pewaris keluarga.

Anak yang selama ini hanya dianggap sebagai syarat untuk mempertahankan posisinya.

Namun untuk pertama kalinya...

Anak itu terasa nyata.

Sangat nyata.

Alexander menatap telapak tangannya yang masih berada di atas perut Rubi.

Kemudian tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.

Sangat tipis.

Senyuman yang hampir tidak pernah muncul.

Sayangnya tidak ada siapa pun yang melihat.

Termasuk Rubi.

Karena wanita itu masih tertidur.

Namun beberapa saat kemudian Rubi bergerak pelan.

Alexander langsung menegang.

Takut wanita itu terbangun.

Untungnya Rubi hanya bergumam kecil dalam tidurnya lalu kembali diam.

Alexander mengembuskan napas lega.

Lalu tanpa sadar menatap wajahnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar memperhatikan wanita tersebut.

Bulu mata panjang.

Pipi yang sedikit memerah karena tidur.

Dan ekspresi damai yang jarang terlihat saat sadar.

Alexander tidak tahu berapa lama ia duduk di sana.

Beberapa menit.

Atau mungkin lebih.

Yang jelas, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam dunia penuh kekerasan dan intrik, ia merasakan ketenangan yang aneh.

Ketenangan yang hanya muncul di kamar ini.

Di dekat wanita yang awalnya hanya menjadi bagian dari sebuah kesepakatan.

Dan di dekat anak yang awalnya hanya dianggap sebagai pewaris.

Akhirnya Alexander berdiri.

Ia menarik kembali tangannya dengan hati-hati.

Kemudian memperbaiki selimut Rubi sekali lagi.

Sebelum pergi, pandangannya kembali jatuh pada wajah wanita itu.

Lama.

Sangat lama.

Sampai akhirnya ia berbalik menuju pintu.

Namun tepat sebelum keluar, suara pelan Rubi terdengar dari arah ranjang.

Sangat pelan.

Hampir seperti bisikan dalam tidur.

"...Alex..."

Langkah Alexander terhenti.

Ia menoleh cepat.

Namun Rubi masih tertidur.

Mungkin hanya mengigau.

Mungkin hanya mimpi.

Tetapi entah kenapa satu kata itu membuat jantungnya berdegup sedikit lebih keras.

Alexander menatapnya beberapa saat.

Lalu akhirnya keluar dari kamar.

Pintu tertutup perlahan.

Meninggalkan Rubi yang masih tertidur lelap.

Dan meninggalkan seorang pria yang baru saja menyadari bahwa perlahan-lahan, tembok yang selama ini mengelilingi hatinya mulai retak sedikit demi sedikit.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!