NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISI LAIN PUSTAKAWAN DAN BAB BARU YANG KOSONG

Setelah kerja bakti di halaman belakang selesai, Daiki sudah pamit pulang sejak satu jam yang lalu, Akira sudah selesai mandi, ia memilih bersantai di tepi selasar lantai kayu yang menghadap langsung ke pekarangan belakang yang kini tampak jauh lebih rapi.

Buku kuning kecil itu masih ada ditangannya, judul pertama yang terus ia baca "Melodi Mesin Tua dan Wangi Rumput Musim Semi."

Sederhana, tapi Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya setiap kali melihat tulisan judul dan cap lulus itu.

Sreeggg

suara pintu selasar bergeser, Gadis itu muncul sambil membawa keranjang kosong. Akira masih duduk diam sambil memandangi buku kuning tersebut, ia tersenyum yukari berjalan mendekat lalu ikut duduk beberapa jengkal di samping Akira.

"Bagaimana?" tanya Yukari ringan, memecah kesunyian sore. "Judul cerita pertamamu tidak seburuk itu, kan?"

Akira menutup buku kuning tersebut perlahan, lalu meletakkannya di samping tubuh. "Aku hanya orang asing yang kalian bawa dari tepi sungai," ucap Akira dengan suara rendah yang datar. Tatapannya lurus menatap pekarangan. "Kau bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya, atau apa yang sudah kulakukan sebelum terdampar di sini." Akira terdiam sesaat, sebelum menambahkan dengan nada pelan, "Kau aneh, Honami-san."

Gadis itu justru terkekeh kekeh "Kalau Daiki mendengar ucapanmu itu, dia pasti langsung setuju,"

Akira melirik wanita di sampingnya sekilas, namun Yukari sudah kembali melemparkan pandangannya ke hamparan rumput hijau di depan mereka.

"Di perpustakaan daerah tempatku bekerja," mulai Yukari dengan nada bercerita yang tenang, "Jika melihat ada buku Sampulnya sudah robek, warnanya kusam, atau kertasnya penuh dengan noda." Jemari Yukari bergerak santai, memilin ujung pegangan keranjang pakaian di pangkuannya. "Kebanyakan orang yang melihatnya pasti akan langsung membuang buku-buku itu ke tempat sampah. Mereka menganggapnya sebagai rongsokan. Bagi mereka, masa pakai buku itu sudah selesai."

Yukari berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Akira. "Tapi bagi seorang pustakawan, buku-buku rusak seperti itu justru yang paling menarik perhatian kami. Kami akan membawa buku itu ke meja kerja, membersihkan nodanya selembar demi selembar dengan hati-hati, menjahit ulang jilidnya yang lepas, dan merapikan halaman-halaman yang sempat terlipat."

"Kenapa?" tanya Akira tanpa sadar. Rasa penasarannya terusik.

Yukari smiled. "Karena isi di dalamnya masih berharga, Takagi-san. Cerita yang tertulis di dalam lembaran rusak itu belum benar-benar selesai."

Tatapan Akira seketika membeku. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini. Yukari sama sekali sedang tidak membicarakan koleksi buku di perpustakaannya.

Akira segera memalingkan wajah ke arah lain, Rahangnya mengeras. Tanpa sadar, tangannya bergerak masuk ke dalam saku celananya, menyentuh permukaan dompet kulit hitam miliknya. Benda itu seolah menjadi satu-satunya pengingat masa lalunya.

"Ada beberapa buku..." gumam Akira lirih, suaranya terdengar begitu tipis hingga nyaris tersapu oleh embusan angin sore. "...yang halamannya sudah terlalu hancur untuk diperbaiki"

Terdengar nada putus asa yang terselip di balik ucapan Akira. Gadis itu melihat ke arah bukit-bukit hijau Oku-Nikko yang mulai diselimuti kabut.

"Mungkin kau benar," ucap Yukari akhirnya setelah beberapa saat terdiam.

"Memang ada beberapa buku yang tidak akan pernah bisa kembali seperti semula," lanjut Yukari, kali ini dengan senyum kecil yang menghiasi wajahnya. "Tapi, bukan berarti ceritanya harus berhenti total di halaman yang rusak itu, kan?"

Yukari kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke arah buku memo kuning yang tergeletak di samping Akira. "Kalau halaman yang lama sudah rusak dan tidak bisa dibaca lagi..."

"Bukankah, kita masih memiliki kesempatan untuk menulis bab yang baru?"

mata mereka bertemu untuk sesaat, garis bibir yukari sore itu terlihat begitu tulus,

"Nah!" Yukari tiba-tiba bangkit berdiri dengan gerakan cepat, mengangkat keranjang pakaian kosong di pelukannya. "Hari ini tugas fisikmu sudah selesai, Takagi-san. Pergilah masuk ke dalam rumah dan istirahat."

Akira belum sempat ia bersuara, Yukari sudah melangkah menuju halaman samping tempat tali jemuran membentang. Pakaian yang dicuci sejak pagi tadi kini sudah kering sempurna.

Akira hanya memperhatikan punggung wanita itu,Tubuhnya yang masih menyisakan rasa nyeri Ia memilih menuruti perintah Yukari untuk tidak banyak bergerak lagi hari ini.

Waktu terus bergulir perlahan. Langit Oku-Nikko yang semula berwarna biru cerah berubah menjadi jingga keemasan, sebelum akhirnya tenggelam menjadi biru gelap.

Lampu-lampu bohlam berwarna kuning hangat di dalam rumah kayu tua mulai menyala satu per satu.

Di dapur, Yukari berdiri tegak di depan meja makan Ekspresinya sangat serius. Di hadapannya tergeletak catatan resep yang ia lihat dari media sosial, seikat sawi hijau, wortel, sebungkus meatball, beberapa siung bawang putih, serta bumbu instan.

Yukari menyipitkan mata ke arah bahan makanan.

"Hmm... Lebih enak ditumis... atau dibuat sup?" gumam Yukari pelan sambil mengetuk-ngetukkan ujung jarinya ke dagu. "Kalau ditumis, kuatir gosong lagi seperti pagi tadi. Apa dibuat sup aja ya, tinggal cemplung di air mendidih !"

Yukari masih berdebat dengan dirinya sendiri, pintu kamar mandi di dekat dapur bergeser pelan. Akira keluar dengan rambut yang masih sedikit basah, menyebarkan aroma sabun yang segar. Langkah pria itu terhenti begitu melihat Yukari sudah memakai celemek, berdiri membeku di depan bahan-bahan makanan.

Tatapannya beralih pada wajan, lalu kembali kepada Yukari. Ingatannya langsung melayang pada tragedi bubur dan nasi goreng gosong pagi tadi.

"Kau... mau memasak?" tanya Akira akhirnya.

Yukari menoleh dengan senyum pasrah. "Iya. antara tumis sayur atau sop ya,," Ia menghela napas, lalu mengambil ponselnya dari saku celana. "Ah.. Aku minta daiki saja memasak untuk makan malam kita"

"Jangan." Akira memotong kalimatnya sebelum Yukari sempat menekan tombol panggil. Pria itu melangkah mendekati meja dapur. "Dia pasti sedang beristirahat"

Yukari mengerjap. "Lalu... bagaimana dengan kita?"

Akira tidak menjawab. Ia hanya menggulung lengan kausnya hingga sebatas siku, kemudian mengambil pisau dapur dari rak. "Nyalakan kompornya," ucap Akira singkat.

Yukari kembali mengerjap. "Hah?"

"Dengan api kecil.."

Tanpa sadar, Yukari langsung memutar kenop kompor. Api biru menyala pelan.

Akira mulai bekerja dengan gerakan tenang dan cepat. Pisau di tangannya bergerak lincah memotong wortel menjadi irisan tipis dengan ukuran yang hampir sama. Sawi hijau dipotong rapi, dan meatball dibelah menjadi beberapa bagian. Semua dilakukan tanpa gerakan yang sia-sia.

Yukari hanya bisa berdiri memandangi pria itu dengan mata berbinar. "Hebat..." gumamnya hampir tak terdengar.

Akira mencuci seluruh bahan, lalu menggeprek bawang putih. Sesaat kemudian bawang itu masuk ke dalam wajan yang telah dipanaskan. Suara tumisan memenuhi dapur, disusul aroma harum yang langsung menyeruak memenuhi ruangan, berbeda jauh dengan aroma gosong tadi pagi.

Akira mengaduknya beberapa kali dengan gerakan mantap. Dalam hitungan menit, sepiring tumis sayur hangat telah tersaji di atas meja makan.

Yukari memandangi hidangan itu dengan mata berbinar. "Wah... Ternyata kau bisa memasak, Takagi-san. Gerakanmu tadi keren sekali." gadis itu terpukau dengan keahlian akira

"amazing..!! "

Akira meletakkan spatula, lalu mengelap kedua tangannya menggunakan kain dapur. Ekspresinya tetap datar. "Makan malam, selesai," ucapnya singkat sambil menarik kursi.

Mereka pun duduk berhadapan.

"Itadakimashu (selamat makan) ". Yukari mengambil suapan pertama. Begitu rasa tumisan itu memenuhi mulutnya, kedua matanya langsung membesar.

Sayurannya masih renyah, baksonya gurih, dan bumbunya meresap dengan pas.

"waahh ,,Enak sekali... Takagi-san, ini benar-benar enak," puji Yukari tulus. Akira hanya mengangguk pelan "habiskan..!! "

...----------------...

Makan malam pun selesai, Akira duduk bersandar pada tiang kayu, menatap langit malam Oku-Nikko yang dipenuhi taburan bintang. Suasana luar biasa tenang, hanya ada suara serangga malam yang bersahut-sahutan dari kejauhan.

Yukari datang membawa dua cangkir teh panas, lalu duduk di selasar yang sama, sedikit berjarak dari Akira. Ia menyerahkan secangkir teh kepada pria itu.

Yukari menyesap tehnya sendiri, lalu menoleh ke samping. "Aku kepikiran caramu memasak tadi Takagi-san. Gerakanmu seperti sudah sangat terbiasa di dapur."

Sambil menyesap teh panasnya, Akira menjawab pendek, "Ya, kau benar."

Wanita itu menopang dagu dengan satu tangan, memandangi langit malam sambil tersenyum geli. "Aku iri dengan pria yang bisa memasak!" Yukari sedikit cemberut. "Seperti mendapat Durian runtuh saja kalau punya pasangan yang jago didapur. Pasti rasanya melegakan, setidaknya tidak ada drama gosong gosongan"

yukari terkekeh dengan buaian nya sendiri, tapi tidak dengan akira "Memasak bukan keahlian yang luar biasa,honami-san" sahut Akira datar, matanya tetap menatap uap teh yang membumbung. "Itu hanya cara bertahan hidup agar tidak kelaparan saat sendirian."

Melihat respons Akira yang terlampau lempeng, Yukari kembali berseloroh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Ah, kau ini serius sekali Takagi-san. Tapi kalau dipikir-pikir, pasti rasanya merepotkan, ya, kalau punya pasangan yang payah di dapur seperti aku?"

Akira menurunkan cangkirnya perlahan. Gerakannya tenang, namun entah mengapa suasana di selasar itu mendadak berubah hening. Pria itu memutar tubuhnya sedikit, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Yukari dengan tatapan yang begitu dalam dan serius.

"Bagi ku tidak, Honami-san," ucap Akira, suaranya terdengar rendah dan mantap. "Punya pasangan yang tidak bisa memasak seperti mu, tidak merepotkan bagi ku."

Deg.

Jantung Yukari mendadak melewatkan satu detakan. Ia terpaku di tempatnya duduk, tidak menyangka akan mendapat jawaban seberani itu. Pipinya seketika memerah hangat. Keheningan itu mendadak terasa begitu pekat dan mendebarkan, tidak ada yang langsung bicara.

Namun, tepat setelah rona merah itu mampir di pipinya, kata 'merepotkan' yang baru saja diucapkan Akira justru memicu sebuah kilas balik yang pahit di kepala Yukari. Rasa sesak saat ingatan tentang mantan kekasihnya kembali berputar tanpa permisi.

"Kau ini selalu saja membuat semuanya terasa merepotkan, Yukari!"

Yukari menghela napas perlahan, tapak tangannya mengepal di balik kardigannya.

"Sudah larut Takagi-san sebaiknya masuk istirahat " ia

coba mengembalikan senyum hangatnya yang tenang. Yukari berdiri lebih dulu sambil membawa cangkir kosongnya.

"Selamat malam Takagi-san, jangan tidur terlalu malam."

Akira mengangguk lalu menundukkan kepala sebagai tanda hormat. "Ya...Selamat malam, Honami-san."

Setelah mengucapkan itu, Akira memandangi pintu kamar yukari yang telah tertutup beberapa detik. Sudut-sudut bibirnya terangkat pelan. Rumah kayu yang semula dipenuhi kesunyian dingin, kini perlahan-lahan mulai terasa hangat.

Akira mematikan lampu ruang tengah, memastikan seluruh slot kunci pintu depan sudah aman, lalu berjalan perlahan menuju kamarnya sendiri.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!