Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posko & Isi Koper Alya..
Setelah hampir dua puluh menit melewati jalanan rusak dengan mobil pick up yang terus berguncang tanpa ampun, akhirnya perjalanan mereka berhenti.
Mobil perlahan memasuki sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan pepohonan dan jalanan tanah yang masih basah akibat hujan beberapa hari terakhir.
Jam di ponsel menunjukkan tepat pukul dua siang. Artinya, mereka akhirnya benar-benar sampai di tujuan.
Desa Sukamaju.
Satu per satu mahasiswa mulai turun dari bak mobil, tubuh mereka masih terasa pegal setelah perjalanan panjang yang sejak tadi terasa seperti ujian mental.
Kini ketigabelas mahasiswa itu berdiri di depan bangunan yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama beberapa minggu ke depan.
Sebuah rumah panggung kayu berukuran cukup besar berdiri tepat di hadapan mereka.
Catnya terlihat sedikit memudar, Beberapa bagian kayu tampak tua dimakan usia. Sekilas rumah itu terlihat seperti sudah lama tidak dihuni siapa pun.
Meski begitu, bagian halaman dan teras terlihat cukup bersih, seolah seseorang memang sudah membersihkannya sebelum mereka datang.
Alya menatap bangunan itu beberapa detik. Semakin lama dilihat, semakin muncul perasaan aneh di kepalanya.
Tanpa sadar, ia langsung berkomentar.
“Ini rumahnya nggak bakal ada hantunya kan?”
Beberapa orang langsung menoleh.
Dua bapak yang sejak tadi mengantar mereka ikut tertawa kecil. menggaruk kepala santai.
“Ohh tenang aja, Neng…”
Ia tersenyum lebar.
“…kalau ada juga paling nggak bakal ganggu kok hantunya.”
“PAK—”
Mendengar jawaban santai itu, Alya langsung menoleh ke araH pria tersebut dengan mata membulat, jelas tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.
Ekspresi panik Alya sukses membuat sUasana di sekitar mereka langsung dipenuhi suara tawa.
Sementara kedua bapak itu mulai membantu menurunkan barang-barang dari mobil, beberapa mahasiswa laki-laki ikut turun tangan membantu mengangkat koper.
Setelah semua barang selesai diturunkan, dan satu rekannya kembali menghampiri mereka untuk berpamitan sebelum akhiRnya pergi meninggalkan lokasi.
Kini hanya tersisa rombongan KKN yang berdiri memandangi posko sederhana di hadapan mereka.
Sesaat suasana di antara mereka berubah hening. Semua masih sibuk menatap rumah di depan mereka dEngan pikiran masing-masing.
Sampai akhirnya, Arga lebih dulu melangkah ke arah tangga rumah.
“Masuk aja dulu.”
Seperti biasa, nada suaranya terdengar datar dan tenang.
Dan karena memang sudah terlalu lelah untuk berpikir banyak, yang lain pun langsung mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk, suasana rumah terasa sedikit lembap dengan aroma khas kayu tua memenuhi hampir seluruh ruangan.
Koper-koper mereka masih tersusun rapi di dekat pintu masuk. Namun tidak ada satu pun yang berniat membereskannya sekarang.
Perjalanan panjang sejak pagi benar-benar sudah menguras tenaga mereka.
Begitu masuk ke dalam, beberapa orang langsung menjatuhkan diri di lantai tanpa peduli posisi duduk yang berAntakan.
Dan tidak butuh waktu lama sampai suara keluhan mulai terdengar dari berbagai arah.
“Anjir… gue laper banget.” Ucap Adrian
“Iya serius… gue juga lapar,” timpal dimas lemas.
“Di sini nggak ada makanan apa?”
“Gue butuh makan sekarang atau gue tumbang.”
Suara keluhan terdengar saling bersahutan memenuhi ruangan, membuat suasana yang tadinya sunyi perlahan berubah ramai.
Di tengah keadaan itu, Alya yang sejak tadi ikut duduk diam akhirnya bangkit berdiri dari tempatnya.
Tanpa mengatakan apa-apa, ia berjalan menuju koper miliknya.
Gerakannya sukses membuat beberapa orang ikut memperhatikan.
Tanpa banyak bicara, Alya langsung melangkah menuju koper miliknya yang masih tergeletak di sudUt ruangan.
Gerak-geriknya sontak membuat beberapa orang menghentikan aktivitas mereka dan mulai memperhatikan apa yang sedang gadis itu lakukan.
Isi koper itu…
hampir penuh makanan.
Snack.
Biskuit.
Roti.
Cokelat.
Mie instan premium.
Minuman kemasan.
Isi koper itu dipenuhi berbagai macam makanan instan dan camilan yang tersusun begitu rapi, hampir semuanya berasal dari merek-merek yang terlihat cukup mahal.
Sementara yang lain masih sibuk menatap isi koper itu dengan ekspresI terkejut, Alya justru terlihat biasa saja.
Dengan santai, ia mulai mengambil beberapa bungkus roti, snack, dan beberapa cokelat, lalu meletakkannya begitu saja di lantai tepat di depan teman-temannya.
“Nih…”
Alya menatap semuanya polos.
“Ayo makan dulu.” ucapnya sambil tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa kan makanannya sederhana begini? Yang penting bisa ganjal perut dulu.”
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang berbicara.
Semuanya hanya menatap Alya dan makanan yang baru saja ia keluarkan dengan ekspresi aneh, seolah sedang mencerna sesuatu di kepala Masing-masing.
Hingga akhirnya, yang duduk paling dekat perlahan mengambil satu bungkus roti dari lantai.
Baru beberapa detik memperhatikan label di kemasannya, matanya langsung melebar tidak percaya.
“Anjir…”
Ia menoleh ke arah Alya.
“Ini mah bukan makanan sederhana.”
Dengan wajah yang masih terlihat syok, spontan mEngangkat roti itu ke depan, seolah ingin memastikan yang ia lihat memang benar.
“Harga roti impor beginian aja bisa jadi uang jajan gue sebulan.”
Mendengar komentar itu, teman-teman lainnya yang sejak taDi masih duduk bersantai langsung ikut menoleh dengan rasa penasaran.
Salah satu dari mereka yang kebetulan sedang Membolak-balik bungkus cokelat itu akhirnya ikut angkat suara.
“WOI IYA.”
Ia membalik kemasan cokelat itu.
“Ini cokelat impor, guys.”
buru-buru membuka bungkus snack lain.
“Ya ampun… ini merek luar semua.”
Tanpa menunggu lama, kevin langsung membuka bungkus roti itu lalu menggigitnya.
Namun baru beberapa Detik mengunyah, gerakannya mendadak berhenti.
Ekspresi wajahnya perlahan berubah, sementara matanya mulai membesar seolah baru saja menyadari sesuatu.
“Sumpah…”
Ia menatap Alya serius.
“Ternyata seenak ini ya makanan orang kaya…”
Suasana di dalam posko seketika berubah ramai karena tawa yang pecah dari berbagai arah.
Sementara itu, Alya hanya memandang mereka dengan alis sedikit berkerut, masih berusaha memahami kenapa semua orang terlihat begitu heboh sejak tadi.
Baginya, semua makanan yang ia bawa hanyalah bekal biasa yang memang sudah sering ia konsumsi sehari-hari.
Jadi melihat reaksi teman-temannya sekarang justru membuat Alya semakin bingung sendiri.
Setelah beristirahat cukup lama di ruang tengah, akhirnya mereka mulai membereskan barang bawaan masing-masing. Tubuh yang sejak tadi terasa lelah perlahan mulai kembali bertenaga setelah duduk cukup lama.
Namun belum sempat semuanya bergerak bebas, Siska yang sempat mengecek bagian dalam rumah lebih dulu tiba-tiba kembali dengan ekspresi aneh di wajahnya.
“Guys… ada satu masalah lagi,” ucapnya membuat beberapa orang menoleh.
Alya yang sejak tadi sibuk dengan kopernya ikut menghenTikan gerakannya lalu mengangkat kepala.
“Rumah ini… ternyata nggak ada kamarnya.”
Kalimat itu sukses membuat suasana langsung hening untuk beberapa detik.
“Serius?” Kevin langsung menoleh tidak percaya.
Siska mengangguk. “Iya. Gue cek semua bagian dalam. Nggak ada kamar sama sekali. Cuma ruang tengah sama dapur belakang.”
Dimas menghela napas panjang. “Berarti kita tidur… rame-rame?”
“Terpaksa,” jawab Adrian sambil menyandarkan tubuh ke dinding kayu.
Setelah sempat berdiskusi singkat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi area tidur seadanya. Bagian sebelah kiri rumah dipakai khusus untuk anak laki-laki, sementara bagian kanan menjadi tempat tidur anak perempuan.
Untungnya ukuran ruangan cukup memanjang, jadi jarak antara kedua sisi itu lumayan jauh dan masih terasa aman.
“Ya… setidaknya nggak campur aduk amat,” gumam Tiara sambil mulai meletakkan tasnya di sisi kanan.
Laura dan Nadia ikut menggelar barang bawaan mereka seadanya di atas karpet tipis yang menjadi alas rumah itu.
Alya hanya diam memperhatikan sekitar. Tatapannya menyapu ruangan sederhana itu sekali lagi.
Sementara itu, yang lain mulai sibuk dengan barang bawaan masing-masing. Ada yang ternyata membawa tikar tipis untuk alas tidur, ada juga yang memilih melipat selimut mereka beberapa kali untuk dijadikan alas seadanya di atas lantai berkarpet kasar itu.
Alya yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka akhirnya terdiam cukup lama. Tatapannya berpindah dari satu orang ke orang lain.
Tiara yang berada tepat di sampingnya akhirnya menoleh.
“Lo kenapa diem aja?” tanyanya heran. “Nggak bawa sesuatu buat alas tidur?”
Alya menoleh santai lalu mengangguk kecil.
“Ada kok.”
Setelah mengatakan itu, ia langsung berjalan menuju koper miliknya yang terletak di sudut ruangan.
Beberapa orang sempat melirik penasaran saat Alya membuka bagian depan kopernya dan mengeluarkan sebuah benda yang masih terlipat rapi.
Tanpa banyak penjelasan, Alya menekan salah satu bagiannya.
psshhhh…
Dalam hitungan detik, benda itu langsung mengembang sempurna menjadi sebuah kasur empuk yang terlihat tebal dan sangat nyaman.
Ruangan langsung mendadak sunyi.
Semua mata tertuju pada benda itu dengan ekspresi nyaris sama.
Melongo.
“Njirr…” Kevin refleks bersuara pelan. “Orang kaya emang beda ya.”
Beberapa yang lain langsung tertawa kecil mendengar komentar itu.
Sementara Alya terlihat sama sekali tidak merasa ada yang aneh. Dengan santai, ia mulai memposisikan kasur itu di tempat yang menurutnya paling nyaman.
Setelah itu, Alya kembali membuka kopernya tanpa terlihat tergesa. Satu per satu barang lain kembali ia keluarkan seolah semua sudah dipersiapkan dengan matang.
Sebuah sprei bermotif lucu langsung ia bentangkan di atas kasur. Lalu sebuah bantal empuk ia letakkan di bagian atas.
Tak berhenti sampai di situ, sebuah boneka kecil ikut menyusul dan segera ia taruh di sisi kasurnya.
Gerakannya santai, seolah semua itu hal biasa.
Sementara di sisi lain, yang memperhatikan hanya bisa kembali terdiam.
Pemandangan di depan mereka sukses membuat suasana kamar kembali hening beberapa detik.
Siska sampai menggeleng pelan sambil menatap tidak percaya.
“Buset…”
Adrian yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut berkomentar.
“Sumpah… kayaknya Alya tuh niatnya bukan KKN deh.”
Ia menunjuk kasur itu sambil tertawa.
“Ini mah liburan santai banget, anjay.”
Dimas langsung ikut terkekeh.
“Parah sih… benar-benar udah di persiapin matang banget kayaknya.”
Alya tidak terlalu menanggapi komentar teman-temannya. Setelah memastikan semuanya rapi, ia justru langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu, menikmati kenyamanan yang kontras dengan keadaan sekitar.