NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Nama yang Mulai Ditakuti

Malam di Pelabuhan Timur telah berakhir.

Namun bekasnya masih tertinggal.

Darah yang mengering di atas aspal.

Lubang-lubang peluru di dinding kontainer.

Dan kabar tentang pertempuran itu yang mulai menyebar ke seluruh dunia bawah.

Dalam waktu singkat, semua orang mendengar cerita yang sama.

Pelabuhan Timur berhasil dipertahankan.

Dan yang lebih mengejutkan...

Pewaris Valdarez masih hidup.

Di sebuah bar bawah tanah yang dipenuhi asap rokok, beberapa pria berbicara dengan suara pelan.

"Aku dengar anak Leon ada di sana."

"Aku juga dengar begitu."

"Benarkah dia masih hidup?"

Salah satu pria menyesap minumannya.

"Kata orang-orang Kael melindunginya."

Pria lain tertawa sinis.

"Anak delapan tahun tidak akan bertahan lama."

Namun tidak semua orang setuju.

Karena semakin banyak rumor bermunculan.

Dan rumor selalu berkembang lebih cepat daripada kebenaran.

Di rumah persembunyian, suasana tidak jauh berbeda.

Sejak insiden pelabuhan, semakin banyak mata yang mulai mengawasi mereka.

Kael menyadari itu.

Ravian juga.

Setiap langkah mereka kini diperhatikan.

Setiap pergerakan bisa menjadi informasi berharga bagi musuh.

Dan itu membuat semuanya semakin berbahaya.

Pagi itu, Arda duduk di ruang tengah sambil membaca sebuah buku tua yang ditemukan di perpustakaan kecil rumah tersebut.

Ia berusaha mengalihkan pikirannya.

Namun bayangan pelabuhan terus muncul.

Suara tembakan.

Teriakan.

Darah.

Ia tidak bisa melupakannya.

"Kau tidak keluar?"

tanya Elena yang baru masuk membawa secangkir cokelat hangat.

Arda menggeleng.

"Tidak ingin."

Elena duduk di sampingnya.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam.

Kemudian wanita muda itu bertanya pelan,

"Kau masih memikirkan pelabuhan?"

Arda tidak menjawab.

Namun ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban.

Di ruang bawah tanah.

Kael dan Ravian sedang menerima laporan baru.

Wajah mereka terlihat lebih serius daripada biasanya.

"Kita kehilangan dua gudang lagi."

kata Ravian.

Darius mengumpat pelan.

Victor Nero terus bergerak.

Sedikit demi sedikit.

Seperti ular yang melilit mangsanya.

Tidak terburu-buru.

Namun mematikan.

"Orang-orang mulai ragu."

lanjut Ravian.

"Karena Leon sudah mati."

jawab Kael.

"Tidak."

Ravian menggeleng.

"Mereka ragu karena pewarisnya masih anak-anak."

Keheningan langsung memenuhi ruangan.

Tidak ada yang bisa membantahnya.

Siang hari.

Salah satu informan mereka datang membawa kabar baru.

Pria itu tampak gugup.

Bahkan sebelum berbicara.

"Ada sesuatu yang harus kalian dengar."

Kael menyilangkan tangan.

"Bicara."

Informan tersebut menelan ludah.

"Lima kelompok kecil di distrik selatan mulai membahas Arda."

"Dan?"

"Mereka menyebut namanya."

Ravian mengernyit.

"Itu bukan hal aneh."

Pria itu menggeleng.

"Bukan hanya menyebut."

"Mereka mulai takut."

Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi.

Takut?

Pada seorang anak delapan tahun?

Kedengarannya mustahil.

Namun informan itu melanjutkan.

"Rumor mulai menyebar."

"Rumor apa?"

Pria itu terlihat ragu.

Seolah dirinya sendiri tidak percaya dengan cerita yang didengarnya.

"Ada yang bilang Arda menyaksikan pembantaian di mansion tanpa menangis."

"Ada yang bilang dia memerintahkan serangan balik di Pelabuhan Timur."

"Ada yang bilang dia mewarisi kekejaman Leon."

Darius mendengus.

"Kebanyakan omong kosong."

"Benar."

jawab informan.

"Tapi orang-orang mempercayainya."

Dan itulah masalahnya.

Di dunia bawah...

Kebenaran sering kali kalah oleh cerita yang lebih menakutkan.

Malam hari.

Arda duduk di balkon lantai dua.

Udara dingin berembus pelan.

Ia memandang lampu-lampu kota yang terlihat jauh di bawah bukit.

Kota yang sama tempat ayahnya membangun kerajaan.

Kota yang sama yang kini ingin membunuhnya.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Kael.

Pria itu membawa dua cangkir kopi.

Meski satu di antaranya hanya berisi susu hangat.

Ia menyerahkan minuman itu kepada Arda.

"Kau terlihat seperti orang tua yang sedang memikirkan pajak."

Arda akhirnya tersenyum tipis.

Mungkin untuk pertama kalinya hari itu.

"Kau pernah takut?"

tanya Arda tiba-tiba.

Kael menatapnya.

"Tentu."

"Ketika berperang?"

"Tidak."

Arda terlihat bingung.

"Lalu kapan?"

Kael terdiam beberapa detik.

Sebelum akhirnya menjawab.

"Ketika aku sadar ada orang yang harus kulindungi."

Arda tidak langsung mengerti.

Namun Kael melanjutkan.

"Melindungi diri sendiri itu mudah."

"Tapi melindungi orang lain..."

Pria itu menatap langit malam.

"Itu yang membuat seseorang takut."

Perkataan itu terus terngiang di kepala Arda.

Karena untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu.

Kael.

Ravian.

Darius.

Elena.

Mereka semua mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya.

Dan itu membuat dadanya terasa berat.

Sementara itu.

Di pusat kota.

Victor Nero sedang menghadiri pertemuan rahasia.

Beberapa pemimpin kelompok kriminal duduk di sekeliling meja besar.

Salah satu dari mereka membuka pembicaraan.

"Kudengar pewaris Valdarez masih hidup."

Victor tersenyum kecil.

"Kudengar juga."

"Anak itu mulai menjadi simbol."

kata pria lain.

"Kau harus menghentikannya."

Victor tidak langsung menjawab.

Ia hanya memutar gelas di tangannya.

Kemudian berkata pelan,

"Simbol tidak berbahaya."

Semua orang terdiam.

Karena mereka tahu Victor sedang memikirkan sesuatu.

Sesuatu yang jauh lebih besar.

"Tapi legenda..."

lanjutnya.

"...bisa menjadi masalah."

Malam semakin larut.

Di rumah persembunyian, sebagian besar orang sudah tertidur.

Namun Arda masih terjaga.

Ia berdiri di depan jendela kamar.

Memandang bayangannya sendiri di kaca.

Anak kecil.

Tubuh kecil.

Wajah yang bahkan belum kehilangan kepolosannya.

Namun di luar sana...

Orang-orang mulai membicarakan namanya.

Mulai takut kepadanya.

Mulai menghubungkannya dengan Leon Valdarez.

Ia tidak tahu harus merasa bangga atau takut.

Mungkin keduanya.

Di saat yang sama.

Di sebuah gang gelap dekat pelabuhan.

Seorang pria bertopeng hitam berdiri di atas atap bangunan.

Tatapannya mengarah ke rumah persembunyian yang jauh di kejauhan.

Di tangannya terdapat sebuah foto.

Foto Arda.

Pria itu memperhatikannya cukup lama.

Lalu menyimpan foto tersebut kembali.

Angin malam menerpa mantelnya.

Dan untuk pertama kalinya...

Senyum tipis muncul di balik topengnya.

Seolah ia sedang menunggu sesuatu.

Sesuatu yang akan segera mengubah hidup Arda selamanya.

Karena tanpa disadari siapa pun...

Musuh sesungguhnya sudah mulai bergerak dari dalam.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!