Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
****
Ingatan itu terus berputar di benak Neysa, seolah menghukumnya berulang kali. Saat itu, Jessica dengan senyum puasnya sengaja menginjak tangan Neysa di hadapan banyak orang. Namun, yang paling menghancurkan adalah kenyataan bahwa kakaknya—seseorang dari keluarganya yang selama ini ia hindari—berada di sana.
Ia tidak boleh tahu Neysa ada di tempat itu, apalagi menyadari bahwa adiknya sedang berlindung di kediaman Darren.
Kakaknya hadir sebagai tamu, menjabat tangan dengan keluarga Barnes. Neysa tidak menyangka kunjungan itu akan menjadi momen yang memperburuk segalanya. Mata kakaknya sempat menyapu kerumunan, membuat Neysa panik. Jika kakaknya tahu dia ada di sana, kebohongan yang selama ini ia jaga akan runtuh seketika.
Setelah kejadian itu, Neysa segera melarikan diri, tanpa peduli rasa sakit di tangannya. Ia berlari menuju gudang tua di belakang kediaman Darren, tempat yang selama ini menjadi persembunyian kecilnya.
Di dalam gudang, ia berjongkok di sudut gelap, memeluk lutut, dan menutup mulutnya dengan kain untuk menahan isaknya. Ia tidak ingin siapa pun mendengar tangisannya—terutama Darren atau kakaknya.
Namun, keheningan di dalam gudang itu tidak berlangsung lama. Langkah kaki mendekat, dan pintu kayu gudang berderit pelan. Neysa membeku, pikirannya dipenuhi bayangan kakaknya menemukannya. Tapi ternyata, itu bukan kakaknya.
Darren berdiri di ambang pintu, menatapnya sinis.
"B o d o h."
Neysa menghela napas panjang dan melangkah keluar dari kolam, dibantu seorang pelayan lelaki yang sigap menahannya saat kakinya tergelincir. Begitu sampai di teras, ia berbalik memberi instruksi.
“Kamu pastikan, saat pertunangan Darren nanti, terus awasi sekitar. Jangan sampai ada yang menyadari keberadaan ku di keluarga Barnes,” ujar Neysa tegas.
Pelayan itu mengangguk mengerti.
****
Hari-hari menjelang pertunangan Darren terasa begitu sibuk. Semua pelayan di kediaman keluarga Barnes dikerahkan untuk memastikan acara berjalan sempurna, mengingat pesta itu akan diadakan di dua tempat megah: kediaman keluarga Barnes dan keluarga Cadmael.
Neysa, yang tinggal sementara di sana, ikut larut dalam hiruk-pikuk persiapan. Baginya, kesibukan ini adalah pelarian yang sangat dibutuhkan.
Ia bersyukur, setidaknya untuk sementara, Darren tidak punya waktu untuk merealisasikan ancaman gilanya. Kata-kata itu masih menggema di kepalanya, membuat bulu kuduknya meremang setiap kali mengingatnya.
“Aku akan datang ke kamarmu, Neysa. Kita buat anak malam itu.”
Neysa selalu meringis takut saat membayangkannya. Ia tahu, Darren sedang mencoba menggertaknya, tapi ekspresi serius lelaki itu tidak memberi ruang baginya untuk meremehkan ancaman itu.
Ketika hari pertunangan tiba, Neysa lebih memilih menyembunyikan dirinya di balik kerumunan. Ia memastikan wajahnya tidak terlihat jelas oleh tamu-tamu yang datang, terutama keluarga LAWRENCE, yang mungkin saja mengenalinya. Namun, tak bisa dipungkiri, ia tetap menyempatkan diri untuk mencuri pandang ke arah Darren dan Jessica.
Darren tampak sangat tampan dengan setelan formalnya, wajahnya bersinar di bawah lampu kristal yang menggantung megah di aula. Jessica, dengan gaun putih berhiaskan manik-manik berlian, tampak menawan, meskipun senyum sinisnya seperti racun yang menguar di udara.
Semua mata tertuju pada mereka, pasangan sempurna di mata dunia. Namun, di hati Neysa, ada sesuatu yang terasa aneh. Saat Darren menyematkan cincin di jari manis Jessica, lalu mencium keningnya, ada gelombang perasaan tak nyaman yang menyelinap di hati Neysa. Ia tidak bisa menjelaskan perasaan itu.
***
Neysa meminta izin kepada Nyonya Barnes untuk kembali ke kamar lebih dulu, beralasan perutnya tidak nyaman. Kekhawatiran Nyonya Barnes terhadap cucu dalam kandungan Neysa membuat izin itu mudah diberikan.
Sesampainya di kamar yang gelap, Neysa ingin segera menghidupkan lampu. Namun, langkahnya terhenti saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
Tubuhnya membeku. Ia ingin berbalik, tetapi pelukan itu begitu erat, membuatnya sulit bergerak.
Dengan napas tertahan dan rasa takut yang memuncak, Neysa menginjak kaki orang itu sekuat tenaga. Sebuah desahan kesakitan terdengar di belakangnya. Ia langsung berlari menuju saklar lampu dan menyalakannya.
Saat cahaya memenuhi ruangan, ia melihat Darren berdiri sambil memegangi kakinya, menatapnya dengan jengkel.
“Apa yang kau lakukan, Darren?!” Neysa berseru, amarah dan keterkejutannya bercampur jadi satu.
Namun, Darren tidak menjawab. Dengan langkah cepat, ia mendekati Neysa dan tanpa aba-aba mendorong tubuhnya ke dinding. Sebelum Neysa sempat menghindar, bibirnya sudah ditangkap oleh Darren. Ciumannya lembut, tetapi penuh tekad, membuat Neysa terkejut hingga berontak sekuat tenaga.
“Lepas! Darren, apa-apaan ini?!” serunya, mencoba mendorong tubuh lelaki itu.
Setelah beberapa detik, Darren akhirnya melepaskan ciumannya, menatap Neysa dengan sorot mata yang sulit diartikan.
“Aku hanya ingin membersihkan bibirku dari Jessica,” katanya, suaranya rendah namun tegas.
Neysa terdiam, terengah-engah antara marah dan bingung. Kata-kata Darren menggema di kepalanya, tetapi ia tidak tahu harus berkata apa. Hanya ada satu hal yang pasti: keberadaan Darren di kamarnya malam itu tidak pernah ia inginkan.
"Darren. Tolong. Pergilah dari sini!" Neysa melihatnya muak.
Darren memegangi bahu Neysa dengan kuat, menatapnya dengan tatapan yang penuh tekad. Ruangan itu terasa semakin sesak, udara di sekitar mereka tegang dengan kata-kata yang belum keluar dari mulut Darren. Setelah beberapa saat dalam keheningan, suara beratnya akhirnya pecah.
“Neysa,” suaranya dalam, tegas, dan penuh tekanan, “Bulan depan, aku akan menikahi Jessica.”
Neysa memutar dua bola mata, mulai jengah. Tapi sebelum ia sempat bereaksi, Darren melanjutkan dengan nada yang lebih serius, “Tapi aku ingin kamu tahu sesuatu.”
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Neysa, membuat tubuhnya semakin menegang. “Aku ingin menikahimu hari ini, sebelum aku menikah dengan Jessica.”
Neysa membeku, perasaannya bercampur aduk antara kebingungan, ketakutan, dan kemarahan.
B e r s a m b u n g ....
Mimin mojok dulu di dinding. Suer, malu, pas nulisnya >.<