"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Tuan Egois
Tepat saat itu, langkah kaki yang berat terdengar dari arah kamar tamu, Mas Elang muncul dengan kemeja kerja berwarna biru tua yang lengannya sudah digulung hingga ke siku, namun wajahnya tampak sangat kaku dan menyiratkan kurang tidur. Mata elangnya langsung menyapu area dapur, menatap Alin dan Cindy yang berdiri berdekatan.
"Alin ... kamu sudah bangun?" tanya Elang tiba-tiba. Ada binar kecanggungan yang sangat pekat di mata pria itu saat menatap istri.
"Sudah, Mas," jawab Alin singkat, menyisipkan beberapa helai rambut panjangnya ke belakang telinga. Ia menatap suaminya dengan pandangan yang hambar. "Silakan sarapan. Mbak Cindy sudah menyiapkan semuanya dengan sangat baik."
"Mas, ayo dicicipi dulu. Keburu dingin," sela Cindy lagi, tangannya dengan luwes mengambil sendok lalu menyendokkan nasi goreng ke dalam piring Elang, bertingkah seolah Alin hanyalah seorang tamu yang sedang menumpang di rumah mereka.
Elang menghela napas pendek, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di kursi makan. Ia mengambil sendok dari tangan Cindy, lalu mulai menyuap nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya. "Bagaimana kondisi Ega pagi ini, Cin?" tanya Elang, matanya melirik ke arah bocah kecil yang duduk di ujung meja.
"Alhamdulillah badannya sudah tidak terlalu panas seperti semalam, Mas. Makasih ya Mas, udah bantu jagain. Tapi obat sirup dari dokter belum sempat diminum karena ia mengeluh mual," jawab Cindy dengan wajah yang kembali berubah cemas. Ia bersandar pada tepi meja, menatap Elang yang sedang makan dengan tatapan penuh perhatian.
Alin menyaksikan semua interaksi itu dalam diam. Dialog-dialog yang mengalir di antara Elang dan Cindy terasa begitu intim, memiliki keterikatan masa lalu yang kuat yang tidak bisa ia masuki. Di meja makan ini, Alin merasa kehadirannya benar-benar tidak kasat mata. Kursi di sebelah Elang yang seharusnya menjadi miliknya kini dibiarkan kosong, karena Elang lebih memilih fokus menatap Ega dan mendengarkan keluhan Cindy.
"Alin, kamu tidak ikut sarapan?" tanya Elang tiba-tiba, menyadari istrinya hanya berdiri mematung di dekat lemari kabinet dapur.
Alin memaksakan sepasang sudut bibirnya untuk kembali tersenyum biasa saja. "Tidak, Mas. Perut Alin masih agak mual, mungkin karena kurang tidur semalam. Alin mau buat teh hangat saja."
"Jangan telat makan, Lin. Nanti maag kamu kambuh," ucap Elang formal, sebuah perhatian yang terasa kering dan sekadar basa-basi kewajiban di telinga Alin. Setelah mengucapkan itu, perhatian Elang kembali beralih pada Ega yang menumpahkan sedikit air minumnya ke atas meja. "Eh, Ega ... hati-hati sayang. Sini biar Papa lap."
Kata 'Papa' yang meluncur alami dari mulut Elang membuat gerakan tangan Alin yang sedang menyeduh teh celup mendadak terhenti selama beberapa detik. Air panas dari dispenser hampir saja mengenai jemarinya jika ia tidak segera menarik tangannya kembali.
Cindy yang menyadari perubahan raut wajah Alin segera mengambil kain lap dari dekat wastafel. "Biar aku saja yang bersihkan, Mas. Kamu lanjutkan saja sarapanmu, nanti telat pergi ke kantor."
Alin membawa cangkir teh hangatnya dengan perlahan, melangkah meninggalkan area dapur tanpa pamit. Ia berjalan menuju ruang tengah, duduk di sudut sofa beludru yang dingin sendirian, menyesap tehnya yang terasa hambar. Di balik dinding dapur yang terbuka, ia masih bisa mendengar tawa kecil Ega dan suara bariton Mas Elang yang menyahut dengan lembut. Pagi pertama di rumah barunya tidak diisi dengan kecupan manis atau obrolan masa depan, melainkan sebuah pertunjukan tentang bagaimana ia perlahan-lahan mulai tersisih dari kehidupan suaminya sendiri.
***
Denting cangkir teh yang beradu dengan permukaan meja kaca di ruang tengah mengakhiri kebersamaan sunyi yang sempat Alin bangun. Dari arah dapur, langkah kaki Elang terdengar mendekat. Pria itu melangkah tegap sambil menggendong Ega di dadanya. Tangan mungil bocah itu melingkar erat di leher Elang, sebuah pemandangan yang terlihat begitu selaras seolah mereka tidak pernah terpisahkan oleh waktu. Di belakang mereka, Cindy mengekor dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tampak ringkih, sesekali membenarkan letak kaus Ega yang sedikit tersingkap.
Alin langsung meletakkan cangkir tehnya yang masih mengepulkan uap tipis. Ia segera bangkit berdiri, menyisipkan beberapa helai rambut panjangnya ke belakang telinga dengan gerakan yang tegas. Gestur tubuhnya tidak bisa dibohongi; ia tidak sudi menjadi penonton dalam drama domestik yang sengaja diciptakan oleh masa lalu suaminya. Alin ingin melangkah kembali ke kamarnya di lantai dua, mengunci diri, dan menjauh dari atmosfer yang kian mencekik ini.
"Alin, tunggu. Mas mau bicara."
Suara bariton Elang menginterupsi pergerakan Alin. Langkah kaki pria itu berhenti tepat di seberang sofa beludru tempat Alin berdiri. Matanya menatap Alin dengan sorot tajam yang biasa ia gunakan saat memberi perintah di ruang rapat korporat. "Duduklah kembali. Ada hal penting yang ingin Mas bicarakan denganmu secara kekeluargaan. Ini menyangkut kelanjutan rumah tangga kita, jadi tolong hargai Mas sebagai suamimu."
Alin menatap suaminya datar selama beberapa detik. Ada rasa enggan yang bergejolak hebat di dadanya, tetapi ingatan akan pesan Nenek Aisyah untuk tetap tegar dan tidak terlihat lemah di depan orang lain membuatnya menahan diri. Dengan gerakan lambat yang penuh penekanan, Alin kembali mendudukkan tubuhnya di atas sofa, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Ia menunggu dengan dagu yang sedikit terangkat, memasang benteng pertahanan terbaiknya.
Elang mendudukkan Ega di sampingnya dengan sangat hati-hati, sementara Cindy memilih duduk di sofa tunggal yang berada di sisi kanan. Wanita itu langsung menundukkan wajah dengan jemari yang saling meremas—sebuah taktik visual yang sangat rapi untuk memperlihatkan posisi inferiornya di hadapan sang istri sah.
"Hari ini, hingga waktu yang belum bisa ditentukan, Cindy dan Ega akan tinggal bersama kita di rumah ini," ucap Elang tanpa basa-basi. Kalimatnya lugas, tanpa riak ragu, tipikal seorang CEO yang sedang membacakan keputusan dewan direksi kepada bawahannya. "Mas sudah memikirkannya matang-matang semalaman setelah dokter pulang. Cindy sudah tidak punya tempat tinggal lagi di Jakarta setelah masa sewa kontrakan lamanya habis, dan Ega adalah anakku. Sebagai ayahnya, Mas tidak mungkin tega menelantarkan darah daging Mas sendiri di luar sana dalam kondisi tidak stabil. Mas minta kamu menerima keputusan ini dengan lapang dada, Alin."
Sebuah tawa hambar hampir saja lolos dari bibir Alin. Ia menatap Elang, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah kecil Ega yang sedang menatap karpet dengan polos. Dada Alin berdenyut perih, rasanya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata, tetapi ia menolak untuk menangis di depan wanita yang kini diam-diam mengamatinya dari sudut ruangan.
Alin memajukan tubuhnya sedikit, bersandar pada kedua lututnya sendiri, lalu menatap suaminya lurus-lurus dengan senyum kecut yang terukir di sudut bibirnya. "Mas, mungkin sebaiknya kita batalkan saja pernikahan kita ini. Mumpung baru sehari kita menikah, belum ada satu malam pun yang kita lewati sebagai suami istri, dan lembaran negaranya pun belum diproses terlalu jauh di KUA."
Bersambung... 🍊