NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Bau menyengat minyak kayu putih adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Aurora. Ia membuka mata perlahan, menemukan langit-langit putih kusam yang retak di beberapa sudut. Ia berada di ruang UKS. Tubuhnya terasa sangat ringan, seolah-olah jiwanya hampir terlepas dari raga yang sudah terlalu lelah ini.

"Sudah bangun?"

Aurora menoleh dengan gerakan kaku. Di kursi kayu samping tempat tidur, Juna duduk dengan kaki bersilang. Kakak ketiganya itu tidak membawa buku seperti biasanya. Ia hanya menatap Aurora dengan tatapan yang sulit dibaca di balik kacamata minusnya.

"Kak Juna..." bisik Aurora parau. Tenggorokannya terasa seperti terbakar.

"Gavin sangat marah," ucap Juna tanpa basa-basi. Suaranya datar, tanpa nada simpati. "Dia bilang kamu sengaja pingsan untuk mempermalukannya di depan kepala sekolah. Papa baru saja menelepon Eros. Mereka semua sedang menunggumu di rumah."

Aurora memejamkan mata, membiarkan setitik air mata jatuh ke bantal UKS yang kasar. "Aku nggak sengaja, Kak. Kepalaku sakit banget tadi..."

"Dunia tidak peduli pada alasanmu, Aurora," potong Juna. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang licin tanpa cela. "Di keluarga Tenggara, kelemahan adalah aib. Dan kamu adalah kumpulan dari semua kelemahan itu. Bangunlah. Pak Sopir sudah di depan. Papa tidak mau kamu naik bus dalam kondisi menjijikkan seperti ini."

Juna berjalan keluar tanpa menawarkan bantuan untuk berdiri. Aurora dipaksa mengumpulkan sisa tenaganya sendiri. Dengan kaki yang masih gemetar, ia berjalan menuju parkiran, melewati bisikan-bisikan siswa lain yang melihatnya dengan pandangan sinis.

Suasana di ruang tengah kediaman Tenggara jauh lebih mencekam daripada malam-malam sebelumnya. Bramantyo duduk di kursi kebesarannya, diapit oleh Eros dan Gavin. Arvin berdiri bersandar di pilar, memainkan pemantik api logamnya dengan wajah bosan, namun matanya terus tertuju pada Aurora yang baru saja masuk.

"Sini kamu," suara Bramantyo menggelegar, membuat Aurora hampir terjatuh karena terkejut.

Aurora berdiri di tengah ruangan, menunduk dalam.

"Gavin bilang kamu membuat keributan di depan tamu-tamu penting?" Bramantyo berdiri, berjalan mendekati Aurora. Aura otoritasnya begitu menekan hingga Aurora merasa sulit bernapas. "Saya sudah memberikan kamu kesempatan untuk sekolah di tempat yang layak, dan ini balasan kamu? Pingsan seperti orang lemah di tengah lapangan?"

"Maaf, Pa... Aurora belum makan dari pagi..."

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Aurora, membuat wajahnya terlempar ke samping. Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Bahkan Arvin berhenti memainkan pemantik apinya.

"Jangan berani menjawab!" bentak Bramantyo. "Kamu lahir dengan membunuh istri saya, dan sekarang kamu mencoba membunuh reputasi saya? Kamu benar-benar anak pembawa sial!"

"Pa, sudah," Eros menyahut dengan nada dingin. "Memukulnya hanya akan membuang tenaga Papa. Lebih baik beri dia hukuman yang membuatnya jera."

Bramantyo mengatur napasnya yang memburu. "Mulai malam ini, kunci kamar dia dari luar. Jangan beri dia makan sampai besok malam. Saya mau dia merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa, agar dia berhenti bersikap manja."

Gavin tersenyum tipis, merasa puas karena "hinaannya" di sekolah terbalaskan. Juna hanya menatap pemandangan itu dari kejauhan tanpa ekspresi, sementara Arvin memalingkan wajah, menatap ke arah jendela yang gelap.

Aurora diseret oleh penjaga rumah menuju kamarnya yang sempit. Pintu kayu itu ditutup dengan keras, disusul suara kunci yang diputar dari luar.

Cklek.

Aurora merosot di balik pintu. Kegelapan total menyelimutinya. Perutnya melilit perih karena lapar, pipinya berdenyut panas bekas tamparan ayahnya, dan hatinya... hatinya sudah tidak terasa seperti milik manusia lagi. Ia meraba-raba di kegelapan, mencari buku catatan kecilnya.

Tanpa cahaya, ia menggoreskan pena itu dengan perasaan hancur.

Pa... Kakak... jika aku benar-benar hilang dari dunia ini, apakah rumah ini akan terasa lebih hangat bagi kalian? Apakah kalian akan tersenyum di meja makan tanpa ada 'pembunuh' yang duduk di ujung sana?

Ia meringkuk di lantai yang dingin, memeluk dirinya sendiri.

Di luar, suara tawa kakak-kakaknya yang sedang menonton televisi terdengar lamat-lamat. Mereka sedang merayakan keberhasilan proyek baru Gavin dengan pizza mewah, sementara di balik pintu terkunci, adik mereka sedang sekarat dalam sunyi.

Aurora tidak tahu, bahwa di balik pintu kamarnya, ada seseorang yang berdiri cukup lama di sana. Arvin. Ia menatap gagang pintu yang terkunci itu dengan tangan yang mengepal. Namun, rasa benci yang sudah ditanamkan selama enam belas tahun jauh lebih kuat daripada rasa kasihan yang baru seujung kuku.

"Mati saja lo, Ra. Biar semuanya selesai," bisik Arvin pada pintu itu sebelum berbalik pergi dengan langkah kaki yang berat.

1
Emily
seharusnya kalian keluarga bramantyio juga sebagai tersangka terutama biang kerok si bramantyio
Emily
wah ini bpak nya bisa di kenakan pasal menelantarkan anak
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!