NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama Sang Pewaris

Pukul enam pagi.

Semburat benang emas matahari baru saja menyembul di balik deretan pencakar langit Kota Aurelia, mengusir kabut tipis yang menyelimuti kota metropolitan tersebut. Namun, Primus sudah berdiri tegak di balkon kamarnya sejak satu jam lalu. Jemarinya yang ramping menggenggam cangkir porselen berisi kopi hitam pekat yang uapnya mengepul tipis, menyatu dengan udara pagi yang menusuk kulit.

Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Bukan karena rasa takut yang melumpuhkan pasca-percobaan pembunuhan brutal semalam, melainkan karena otaknya menolak untuk beristirahat. Terlalu banyak variabel yang berputar di kepalanya: kematian Daniel Cross yang janggal, manifes misterius kapal Ocean Crown, keterlibatan toko antik Alaric, dan tentu saja... eksistensi Cincin Aristokrat yang legendaris.

Semua petunjuk acak itu kini mulai mengerucut pada satu konspirasi besar yang jauh lebih masif daripada sekadar perebutan takhta keluarga. Namun, satu hal yang membuat Primus merasa tidak nyaman: hingga detik ini, ia belum bisa memetakan siapa dalang utama yang sedang mengarahkan bidak catur di kegelapan.

*Tok. Tok. Tok.*

Suara ketukan tiga kali yang ritmis memecah kesunyian fajar.

"Masuk," sahut Primus tanpa mengalihkan pandangannya dari lanskap kota.

Pintu jati berukir itu terbuka perlahan. Paman Leonard melangkah masuk dengan pembawaan tenang yang menjadi ciri khasnya. Setelan jas tiga potongnya tampak licin tanpa cela, wajahnya yang paruh baya tetap datar, menyimpan sejuta rahasia di balik sepasang mata elangnya.

"Tuan Muda," sapa Leonard sembari membungkuk hormat dalam sudut yang sempurna.

"Pagi, Paman. Ada perkembangan baru?"

Leonard mengangguk pelan. "Ketua keluarga meminta seluruh kandidat pewaris untuk hadir di Aula Utama tepat pukul sembilan pagi ini."

Primus mengangkat sebelah alisnya, memutar tubuhnya perlahan hingga jubah tidurnya yang terbuat dari sutra gelap berdesir. "Rapat darurat keluarga?"

"Bukan, Tuan Muda," jawab Leonard, seulas seringai tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Ini adalah pengumuman untuk tugas pertama Anda semua."

Senyum sinis yang elegan terukir di wajah tampan Primus. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca. Akhirnya, setelah berhari-hari dipaksa bermain defensif di balik layar, genderang perang kompetisi pewaris resmi ditabuh.

---

Dua jam kemudian, Aula Utama kediaman agung keluarga Aristokrat telah menjelma menjadi arena yang sarat akan ketegangan politik. Puluhan pasang mata dari para tetua adat, direktur eksekutif, pemegang saham mayoritas, hingga para kandidat pewaris telah memenuhi ruangan berlantai marmer tersebut.

Begitu Primus melangkah melewati pintu gerbang aula yang megah, atmosfer ruangan mendadak bergeser. Bisik-bisik kasak-kusuk langsung menjalar di barisan kursi belakang. Berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya di mana ia selalu dipandang sebelah mata sebagai "kandidat pajangan", kali ini tatapan yang ia terima dipenuhi rasa kuriositas dan kewaspadaan. Kabar mengenai keberhasilannya mengamankan Cabang Timur serta selamatnya ia dari insiden truk semalam rupanya telah bocor ke telinga para oportunis ini.

"Tuan Muda Primus. Sungguh kejutan yang menyenangkan melihat Anda bisa hadir di sini dengan tubuh yang... utuh."

Sebuah suara bariton yang sarat akan keramahan palsu menyapa dari arah kanan. Primus menoleh dan menemukan Adrian sedang berjalan ke arahnya. Seperti biasa, sepupunya itu mengenakan senyum paling menawan di wajahnya, namun sepasang matanya menatap Primus seperti predator yang sedang mengukur kekuatan mangsanya.

"Kenapa aku tidak harus hadir, Adrian?" jawab Primus, membalas tatapan itu dengan ketenangan yang mengintimidasi.

Adrian terkekeh pelan, melangkah selangkah lebih dekat hingga aroma parfum mahalnya tercium. "Aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu, Sepupu. Terutama setelah... kejadian 'tidak beruntung' di jalanan sepi semalam."

Primus langsung menangkap umpan tersebut. Adrian sedang menguji mentalnya, mencari retakan emosi atau kepanikan yang bisa dieksploitasi. Sayangnya bagi Adrian, Primus bukanlah pemuda naif yang mudah digertak.

"Terima kasih atas perhatianmu yang menyentuh hati itu, Adrian," ucap Primus dengan nada santai, hampir mengabaikan. "Namun seperti yang kau lihat sendiri, dewa maut rupanya masih enggan menerima kunjunganku."

Senyum ramah Adrian sempat membeku selama sepersekian detik—sebuah jeda mikro yang mungkin akan terlewatkan oleh orang awam, namun tertangkap jelas oleh mata tajam Primus. Bagi Primus, konfirmasi visual itu sudah lebih dari cukup untuk memetakan posisi Adrian dalam papan catur ini.

---

Tepat pukul sembilan, pintu ganda di belakang podium terbuka luas. Sang Ketua Keluarga, sang patriark agung yang memegang kendali atas imperium bisnis bernilai miliaran dolar, memasuki aula. Seluruh hadirin spontan berdiri, menundukkan kepala sebagai tanda kepatuhan mutlak. Pria tua itu berjalan dengan tongkat berkepala perak, namun langkahnya masih memancarkan otoritas yang sanggup membungkam ruangan dalam sekejap.

Tatapannya yang tajam menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya mengunci pergerakan para kandidat pewaris yang berdiri di barisan depan.

"Mulai detik ini," suara berat sang Ketua menggema kuat melalui pengeras suara, menciptakan keheningan yang begitu pekat hingga suara helaan napas pun terdengar jelas. "Kompetisi suksesi resmi dibuka."

Ia menjeda kalimatnya, membiarkan bobot kata-katanya meresap ke dalam sanubari setiap kandidat. "Kalian semua memiliki waktu tepat tiga bulan. Tiga bulan untuk membuktikan kepada dewan direksi dan para tetua, siapa di antara kalian yang paling layak menyandang nama besar Aristokrat dan memimpin imperium ini ke masa depan."

*Bzzzt.*

Layar proyektor raksasa di belakang podium menyala menyilaukan. Sebuah grafik hologram interaktif muncul, menampilkan gurita bisnis keluarga Aristokrat yang menggurita di berbagai sektor vital: properti, perbankan global, logistik internasional, energi terbarukan, hingga teknologi militer.

Beberapa kandidat muda langsung menegakkan punggung dengan mata berbinar ambisius, sementara yang lain mulai berkeringat dingin melihat skala persaingan. Hanya Primus yang tetap bersedekap, mengamati pergerakan angka-angka digital itu dengan ekspresi sedatar es.

"Tugas pertama kalian sangat mendasar," lanjut sang Ketua Keluarga, mengetukkan tongkatnya ke lantai satu kali. "Kalian masing-masing akan didelegasikan untuk memimpin satu anak perusahaan keluarga yang saat ini sedang berada di zona merah. Tugas kalian adalah membalikkan keadaan; ubah kerugian tersebut menjadi keuntungan dalam waktu sembilan puluh hari."

Bisik-bisik persetujuan terdengar di antara para tetua. Itu adalah ujian manajemen krisis yang klasik namun efektif. Namun, atmosfer aula mendadak berubah riuh dan dipenuhi rona keterkejutan saat nama-nama perusahaan dan kandidatnya mulai dipasangkan di layar.

Terutama ketika nama Primus bersanding dengan sebuah entitas bisnis yang sudah lama dianggap sebagai "kuburan" bagi karier siapa pun di keluarga itu:

**Aurelia Maritime Corporation.**

Beberapa tetua keluarga bahkan saling pandang dengan tatapan cemas. Perusahaan pelayaran legendaris milik keluarga tersebut telah mencatatkan kerugian finansial selama tujuh tahun berturut-turut, didera isu korupsi internal, dan kini berada di ambang kebangkrutan total.

Namun bagi Primus, nama perusahaan itu memicu reaksi yang berbeda di otaknya. Aurelia Maritime Corporation adalah pemilik sah dan operator utama dari kapal pesiar *Ocean Crown*—kapal yang sama yang tercatat dalam manifes rahasia Daniel Cross.

Primus menatap barisan huruf bercahaya di layar itu, lalu perlahan, seulas senyum dingin penuh arti terkembang di wajahnya. Apakah ini sebuah kebetulan yang luar biasa? Tidak. Primus sudah lama menghapus kata "kebetulan" dari kamus hidupnya. Ini adalah rancangan instorik.

Di sudut aula yang remang, Adrian juga sedang tersenyum lebar sembari menyesap minumannya. Ia menatap punggung Primus dengan pandangan penuh kemenangan seolah-olah tugas itu adalah vonis mati yang sah.

Sebab tanpa diketahui oleh siapa pun di ruangan itu, Aurelia Maritime Corporation adalah jebakan maut pertama yang telah dipersiapkan dengan matang untuk menenggelamkan sang pewaris ke dasar samudera terdalam.

**Bersambung...

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!