"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Runtuh Sesaat
"Aku bisa makan sendiri," desis Keysa dengan suara parau yang menyakitkan telinga. Ia merampas sendok keramik itu dari tangan suaminya dengan sisa tenaga yang ada.
Menelan adonan kental yang rasanya seperti lem kertas bercampur garam itu adalah siksaan tersendiri. Namun ancaman Arga terlalu berisiko untuk diabaikan. Keysa tahu laki-laki ini benar-benar punya urat malu yang putus dan bisa melakukan hal gila seperti menyuapinya dari mulut ke mulut jika ia terus membantah. Dengan susah payah, Keysa menelan tiga suap bubur gagal tersebut, murni hanya agar perutnya memiliki lapisan pengaman untuk menerima obat keras dari dokter.
Arga segera menyodorkan dua butir pil berdosis tinggi dan segelas air putih. Keysa meminumnya cepat, lalu menjatuhkan kembali kepalanya ke atas tumpukan bantal.
"Tidur. Matikan otakmu," perintah Arga singkat. Laki-laki itu menarik selimut tebal hingga menutupi sebatas leher istrinya.
Dua puluh menit berlalu dalam keheningan. Efek obat penurun panas itu mulai menyerang sistem saraf Keysa secara brutal. Matanya terasa sangat berat, namun suhu tubuhnya yang sedang berperang melawan infeksi membuatnya menggigil kedinginan sekaligus berkeringat deras. Logika bajanya perlahan mencair, luruh bersamaan dengan rasa kantuk yang luar biasa berat mendera pelupuk matanya.
***
Keysa membuka kelopak matanya perlahan. Pandangannya sedikit berkabut, namun ia bisa melihat dengan sangat jelas sosok Arga yang masih duduk di kursi samping ranjang. Suaminya itu sedang sibuk memeras handuk kecil di dalam baskom berisi air hangat.
Keysa sepenuhnya sadar bahwa laki-laki di hadapannya ini adalah Arga Dirgantara. Namun, obat itu telah merenggut habis filter profesional di otaknya.
"Bubur buatanmu... rasanya sangat mengerikan," gumam Keysa tiba-tiba. Suaranya serak dan pelan, meluncur begitu saja tanpa persetujuan logikanya.
Arga menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap wajah pucat Keysa, lalu mendengus pelan menahan senyum. "Aku tahu. Aku belum pernah memegang panci seumur hidupku. Tapi setidaknya bubur mengerikan itu berhasil membuatmu meminum obatmu."
Laki-laki itu meletakkan handuk hangat tersebut dengan sangat hati-hati di atas dahi Keysa. Sentuhannya luar biasa lembut, berbanding terbalik dengan tangan kasarnya saat beradu tinju kemarin.
Bukannya memejamkan mata, Keysa justru menatap sepasang mata cokelat gelap laki-laki itu lekat-lekat. Demam tinggi ini benar-benar menghancurkan dinding kewarasannya.
"Aku sangat benci versi dirimu yang sekarang, Arga," ucap Keysa lirih. Matanya sayu, namun kata-katanya sangat jujur menembus kesunyian kamar.
Tangan Arga yang sedang merapikan ujung selimut terhenti di udara. Rahang kukuhnya sedikit menegang. "Kau membenciku karena aku memaksamu makan dan merampas ponselmu?"
"Tidak." Keysa menggeleng pelan, gerakannya sangat lemah dan lambat. "Aku benci karena kamu bersikap terlalu peduli. Kamu belajar memasak bubur... kamu merawatku... kamu melindungiku saat pesawat itu berguncang..."
Arga menelan ludah. Ia menarik kursinya lebih dekat ke sisi ranjang. "Kenapa kau harus membenci semua hal itu, Keysa? Bukankah itu hal yang sangat wajar dilakukan seorang suami untuk istrinya yang sedang terbaring sakit?"
"Karena semua ini adalah jebakan." Mata Keysa mulai berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang membuat jantung Arga seolah berhenti berdetak seketika.
"Ini bukan jebakan atau ilusi, Keysa," bantah Arga pelan, berusaha menahan nada suaranya agar tidak membentak pasien yang sedang lemah.
"Ini jebakan," ulang Keysa keras kepala. Napasnya mulai teratur karena kantuk, namun logikanya terus melanturkan kejujuran yang menyakitkan. "Kamu membuatku merasa aman. Kamu membuatku berpikir bahwa aku tidak perlu bertarung sendirian lagi di dunia ini. Lalu... saat ingatanmu kembali esok hari... kamu akan berubah menjadi monster itu lagi."
Keysa menarik napas pendek yang bergetar. "Kamu akan kembali membuang muka saat aku berdarah. Kamu akan kembali menganggapku sebagai aset yang bisa disuruh bekerja dua puluh jam sehari. Dan aku... aku yang akan hancur lebur sendirian karena sudah telanjur terbiasa dengan kebaikan palsumu."
Rentetan kata-kata itu meluncur bagai belati yang menusuk langsung ke ulu hati Arga. Laki-laki itu terdiam kaku membeku di kursinya. Ia akhirnya memahami inti dari segala penolakan mutlak istrinya selama ini.
Keysa bukan wanita angkuh yang buta pada kasih sayang. Keysa adalah wanita yang terlalu takut untuk berharap, karena ia sangat tahu bahwa harapan palsu bisa membunuhnya secara perlahan. Ketangguhan Keysa adalah tameng dari rasa takutnya untuk disakiti lagi.
"Aku tidak akan pernah kembali menjadi monster itu," bisik Arga dengan rahang mengeras hebat menahan emosi. Laki-laki itu memberanikan diri meraih telapak tangan Keysa yang terasa panas, lalu menggenggamnya erat. "Aku tidak akan membiarkanmu hancur lagi, Keysa."
Keysa tidak menjawab jaminan tersebut. Matanya sudah terpejam rapat. Efek obat penurun panas telah sepenuhnya menarik perempuan itu kembali ke dalam alam bawah sadarnya. Namun, anehnya, jari-jari Keysa sama sekali tidak menepis genggaman tangan Arga seperti biasanya.
Malam itu berjalan sangat lambat. Arga sama sekali tidak beranjak dari kursinya di samping ranjang. Laki-laki arogan yang terbiasa tidur di kasur mahal itu rela menahan rasa ngilu di tulang punggungnya sendiri.
Setiap satu jam sekali, ia mengganti air kompres di dahi Keysa dengan telaten. Tidak ada niat mengambil kesempatan, tidak ada pikiran mesum. Arga hanya duduk dalam diam, menatap wajah lelap istrinya, murni ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi pelindung yang nyata.
Pagi harinya, cahaya matahari yang cerah menembus celah tirai jendela, menerangi sudut kamar tidur utama.
Keysa mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya terasa jauh lebih ringan dan jernih. Rasa perih di tenggorokannya juga sudah banyak berkurang, membuktikan bahwa tubuhnya mulai merespons obat dengan baik. Ia membuang napas lega, menyadari demamnya telah turun drastis.
Saat Keysa hendak mengangkat tangan kanannya untuk mengusap wajah, ia merasakan ada sesuatu yang menahan pergerakannya dengan kuat.
Keysa menundukkan pandangannya. Matanya membulat sempurna seketika. Ia terkesiap ngeri, namun bukan karena mendapati suaminya memeluknya di atas ranjang dengan pose romantis murahan.
Arga tertidur pulas dalam posisi duduk yang sangat tidak nyaman di atas karpet lantai. Kepala suaminya itu bersandar miring di ujung kasur. Laki-laki itu benar-benar tampak kelelahan setelah terjaga merawatnya semalaman penuh.
Namun, yang membuat Keysa lebih kaget adalah pemandangan di depan matanya sendiri.
Dirinyalah yang sedang menggenggam erat lengan kemeja Arga. Jari-jari Keysa mencengkeram kain kemeja suaminya itu dengan sangat posesif dalam tidurnya, seolah alam bawah sadarnya sendiri takut laki-laki itu akan beranjak pergi meninggalkannya. Benteng es yang ia bangun susah payah selama dua tahun lamanya, kini nyaris retak dan hancur dari dalam oleh tangannya sendiri.
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..