Sky ingin balas dendam pada (Felix) Ayahnya dan mengambil alih seluruh kekuasaan sang Ayah. Dia telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun dan siap untuk melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.
Akankah semua berjalan sesuai dengan rencana ketika Sky harus berurusan dengan Shy yang Arogan.
**
Ayo ramaikan Guys, keluarga Zionathan kembali lagi 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Incy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 SQM
Pagi di kediaman George biasanya dimulai dengan aroma kopi Blue Mountain dan ketenangan yang absolut. Tetapi, pagi ini, atmosfer di ruang kerja sang patriark lebih mirip dengan pusat badai.
George duduk di kursi kebesarannya, menatap Felix yang berdiri di depannya dengan wajah memerah, napas tersengal, dan mata yang menyiratkan kegilaan.
Di samping Felix, Keysa duduk tersedu-sedu, wajahnya tertutup perban tebal yang masih merembeskan noda merah.
"Lihat apa yang dilakukan jalang itu pada putriku, George!" teriak Felix, suaranya parau karena amarah.
"Dia mengukir wajah Keysa! Dia memperlakukan putriku seolah-olah dia adalah hewan ternak!"
George menghela napas panjang, jemarinya mengetuk meja kayu ek dengan irama yang tenang namun mematikan.
"Putramu, Shy, ada di sana. Dia bukan hanya menonton, dia membantu Sky masuk ke rumahku dan membantai pengawalku!" Felix memukul meja George dengan keras.
"Aku menuntut pertanggungjawaban. Pernikahan antara Shy dan Keysa harus dilaksanakan minggu depan. Tidak ada negosiasi. Jika tidak..."
George mengangkat alisnya. "Jika tidak?" Mengulang kalimat Felix.
"Jika tidak, aku akan menarik seluruh investasi Felix Group dari proyek pelabuhan utara, dan aku akan membocorkan data pengiriman kargo ilegal Zionathan kepada interpole," ancam Felix dengan nada rendah yang bergetar. "Aku akan menghancurkan kerajaanmu jika kau tidak bisa menjinakkan anjing-anjingmu, George."
George terdiam. Ancaman itu serius. Proyek pelabuhan utara adalah jantung dari ekspansi bisnis legal mereka, dan bocornya data kargo bisa memicu perang terbuka dengan otoritas internasional.
Tepat saat keheningan mencekam itu menyelimuti ruangan, pintu terbuka tanpa diketuk. Shy melangkah masuk dengan setelan jas mahal yang kancing atasnya terbuka, membawa dua cup kopi di tangannya seolah-olah dia baru saja kembali dari kencan santai.
"Wah, ada reuni keluarga sepagi ini? Kenapa tidak ada yang mengundangku?" Shy bertanya dengan nada ceria yang sangat menjengkelkan. Dia berjalan melewati Felix tanpa rasa takut, meletakkan satu kopi di depan ayahnya.
"Shy, kau datang di waktu yang tepat," ujar George dingin. "uncle mu menuntut pernikahan minggu depan sebagai kompensasi atas... karya seni Sky di wajah Keysa."
Shy menyesap kopinya, lalu menatap Keysa yang gemetar. Dia mendekat, membungkuk sedikit untuk melihat perban di pipi gadis itu. "Hmm, S untuk Sky. Sejujurnya, itu menambah karakter pada wajahmu yang membosankan, Keysa. Kau harus berterima kasih padanya."
"SHY!" bentak Felix.
Shy berdiri tegak, auranya berubah seketika. Senyum konyolnya hilang, digantikan oleh tatapan predator yang membuat Felix mundur selangkah. "Dengar, Uncle Felix. Kau mengancam ayahku dengan proyek pelabuhan?..Itu lucu. Kau tahu kenapa? Karena saat kita bicara sekarang, nilai saham Felix Group di pasar gelap sedang terjun bebas seolah sedang melakukan bungee jumping tanpa tali."
Felix mengerutkan kening, ponselnya tiba-tiba bergetar hebat di saku jasnya.
"Apa maksudmu?"
"Tanya saja pada manajer gudangmu di dermaga 9," bisik Shy sambil tersenyum miring.
Di tempat lain, di sebuah gudang distribusi yang terletak di pinggiran kota terpencil, Sky berdiri di atas kontainer baja yang tinggi. Dia mengenakan jaket kulit hitam, rambutnya diikat ekor kuda yang rapi. Di tangannya, dia memegang sebuah tablet yang menampilkan arus logistik Felix Group.
Di bawahnya, lima gudang utama Felix baru saja meledak, bukan oleh bom, melainkan oleh sabotase sistem kelistrikan yang canggih. Api melahap barang-barang selundupan bernilai jutaan dolar.
"Mom.. ini baru permulaan," bisik Sky, matanya mencerminkan kobaran api di depannya. Pikirannya melayang pada malam ketika ibunya dibiarkan mati oleh Felix. Dendam itu seperti bensin yang tidak pernah habis dan kini dia adalah apinya.
Sky menggeser layar tabletnya. Dia tidak hanya menghancurkan bisnis Felix. Dia juga membobol jalur distribusi narkotika baru yang ternyata... adalah milik organisasi yang di bawah kepemimpinan Shy Alexio Zionathan.
"Ups," Sky menyeringai. "Maaf, Shy. Kau bilang kau suka tantangan, kan?"
Dengan satu perintah suara, Sky mengirimkan data lokasi gudang-gudang tersebut ke pihak musuh melalui jalur anonim. Dia tidak peduli jika Shy ikut merugi. Baginya, semua orang yang terlibat dalam sistem korup ini pantas merasakan kehancuran.
Kembali ke ruang kerja George, suasana semakin kacau. Felix menatap layar ponselnya dengan wajah pucat pasi. "Gudangku... semuanya terbakar? Bagaimana mungkin?!"
George juga menerima pesan di ponsel pribadinya. Matanya menyipit menatap putranya. "Shy, gudang kargo kita di sektor 4 baru saja di datangi pihak berwajib dan musuh, karena bocoran anonim." kerugian bisa mencapai lima puluh juta dolar dalam satu jam.
Shy tertawa, tawa yang lepas dan tulus, seolah-olah dia baru saja mendengar lelucon terbaik tahun ini. "Gadis itu benar-benar tidak main-main. Dia bahkan berani menggigit tangan yang memberinya makan."
"Kau tertawa?!" George berdiri, amarahnya memuncak.
"Dia menghancurkan aset kita!"George tidak paham, dulu dia juga kecintaan pada Nafla, tapi tidak santai putranya ketika mendapatkan kerugian.
"Dia tidak menghancurkan bisnis kita, Dad. Dia sedang membersihkan papan catur," balas Shy tenang. Dia berjalan ke jendela, menatap pemandangan kota.
“Dia ingin Uncle Felix hancur, dan dia tidak peduli siapa yang menghalangi jalannya. Itulah kenapa aku mencintainya. Dia tidak bisa dikendalikan."
Shy berbalik menghadap Felix yang masih syok. "Uncle, saran dariku? Pulanglah. Obati putrimu, dan siapkan peti mati untuk bisnismu. Karena Sky tidak akan berhenti sampai kau merangkak di bawah kakinya. Dan soal pernikahan..." Shy mengeluarkan pistolnya, mengarahkan moncongnya tepat ke arah selangkangan Felix dengan senyum manis.
"Aku lebih suka menembak pusakaku sendiri daripada harus menyentuh putrimu."
Felix gemetar hebat. Dia menyadari satu hal, dia tidak sedang berhadapan dengan manusia, melainkan dengan dua monster yang saling jatuh cinta.
"Keluar," perintah George dengan suara rendah.
Felix dan Keysa keluar dari ruangan itu. Setelah mereka pergi, George menatap Shy dengan tatapan menyelidik. "Kau tahu dia akan menyerang bisnis kita juga?"
"Aku sudah menduganya," jawab Shy santai sambil duduk di meja ayahnya. "Dia sedang menguji kesetiaanku. Dia ingin tahu, apakah aku akan memilih uangmu atau memilihnya."
"Dan apa pilihanmu?"
Shy mengambil korek api Zippo-nya, menyalakannya, lalu meniupnya pelan. "Uang bisa dicari, Dad. Tapi seorang wanita yang bisa membakar dunia hanya untuk memuaskan dendamnya? Itu langka. Aku akan membiarkannya menghancurkan apa pun yang dia mau. Lagipula, bukankah lebih menyenangkan membangun kerajaan baru dari puing-puing yang sudah bersih?"
George menghela napas, menyadari bahwa putra sulungnya ini sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya karena Sky. "Dia akan menjadi ratu yang berbahaya, Shy. Dan kau... kau akan menjadi raja yang paling bodoh atau yang paling kuat di sejarah mafia."
"Aku memilih keduanya," jawab Shy sambil melangkah keluar.
***
Malam harinya, di penthouse rahasia milik Shy, Sky sedang duduk di balkon, memegang segelas anggur merah. Keringat dan debu masih menempel di kulitnya, membuatnya tampak liar dan menakjubkan.
Pintu balkon terbuka. Shy masuk, melepas jasnya dan melemparkannya ke lantai. Dia berjalan mendekat, berdiri di belakang Sky, dan memeluk pinggangnya erat.
"Kau berhutang padaku lima puluh juta dolar, Little Devil," bisik Shy di telinga Sky, suaranya serak dan penuh gairah.
Sky tidak berbalik. Dia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Shy. "Hanya lima puluh? Kurasa besok akan bertambah menjadi seratus."
Shy tertawa kecil, mencium leher Sky yang berbau mesiu dan parfum mahal. "Lakukanlah. Hancurkan semuanya. Aku akan memberikan korek apinya padamu jika kau kehabisan tenaga."
Sky berbalik, menatap mata Shy yang berkilat nakal. "Kenapa kau membantuku? Bisnis ayahmu bisa hancur karena aku."
Shy membelai pipi Sky, lalu turun ke bibirnya. "Karena melihatmu menjadi Queen Mafia jauh lebih membangkitkan gairahku daripada melihat tumpukan uang . Tapi tentu saja, bantuan ini tidak gratis."
Tangan Shy merayap ke resleting belakang gaun Sky, menariknya turun perlahan sementara matanya tetap mengunci tatapan Sky. "Aku ingin bunga dari kerugianku tadi siang. Dan aku ingin bayaran di muka untuk kerugianmu besok."
Sky menyeringai, menarik kerah baju Shy hingga pria itu menunduk. "Kau benar-benar pria mesum yang oportunis, Shy."
"Dan kau menyukainya," balas Shy sebelum membungkam bibir Sky dengan ciuman posesif yang menuntut.
Di bawah langit malam yang gelap, perang baru saja dimulai. Felix mungkin merasa dia memegang kendali, tapi dia tidak tahu bahwa di dalam kegelapan, dua predator terbesar sedang bersiap untuk menelan seluruh dunianya bulat-bulat, sambil saling mencabik dalam gairah yang mematikan..