Novel ini merupakan lanjutan dari Novel:
Chase the Dreams & Petualanganku sebagai hantu di dunia lain
Berawal dari sebuah legenda yang menjelaskan:
Mereka bilang, dulu kami sama
Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi
Lalu datanglah Hari Keretakan
Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya
Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti
Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita
Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka
Suara mereka tak akan menggema seperti para pendahulu mereka. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata dan tidak kasatmata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Bos part 2
Naluri Sany tiba-tiba bergerak sendiri. Tangannya terangkat, hendak menjewer telinga bocah di hadapannya.
Namun, sebelum menyentuh, bocah itu serentak menghindar dengan lincah, seolah sudah sering menghadapi gerakan itu.
Mystera, yang mengamati dari samping, segera meraih lengan salah satu bocah.
Cengkeramannya kuat tapi tidak menyakiti.
"Apa yang kau lakukan, Mystera?" tanya bocah yang berusaha melepaskan diri.
"Ayolah, ini untuk ingatannya," jawab Mystera sambil berbisik kepadanya.
Melihat bocah itu yang mulai menyerah dan tidak melawan, Sany tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menjewer telinga bocah itu.
Saat jarinya menyentuh kulit, sebuah sensasi familiar menyetrum ingatannya. Kepalanya berdenyut-denyut hebat, memaksanya melepas jewerannya.
Serpihan ingatan yang terlupakan mulai berhamburan dengan jelas, inilah yang selalu dilakukannya dulu pada mereka.
Seketika, pusing yang menusuk membuatnya limbung dan terduduk di lantai. Melihat hal itu, mereka serentak menghampiri Sany.
"Kau baik-baik saja?" tanya Mystera dengan suara bergetar, tangannya sudah terulur untuk membantu Sany berdiri.
"Iyah, aku baik-baik saja," jawab Sany yang mulai mencoba menyusun kembali napasnya.
Kepalanya masih berdenyut pelan, namun ingatannya sudah mulai jernih.
Mystera menghela napas lega, namun matanya masih menyiratkan kelegaan yang tercampur kekhawatiran.
"Huh... ada-ada saja kau ini," keluh Mystera setengah memarahi, setengah menghibur.
Sany tersenyum lemah, rasa bersalah yang hangat menyelimuti hatinya.
"Maaf," ucap Sany dengan pendek, namun tulus.
Di depannya, bocah-bocah itu juga mendekat, wajah mereka kini penuh dengan kelegaan dan senyum kecil yang memahami.
Tiba-tiba, suara pintu berderak membelah suasana. Seorang wanita dengan seragam prajurit yang rapi berdiri di ambang pintu, wajahnya sedikit tersipu.
"Maaf, aku terlambat," ucap wanita sambil memberikan senyum kecil.
Semua kepala langsung menoleh ke arahnya, tatapan mereka yang masih penuh dengan sisa-sisa emosi dari kejadian tadi membuat sang prajurit wanita mengerutkan kening dan bingung.
"Ada... apa?" tanya wanita dengan hati-hati
Ia merasa seperti telah menginterupsi sesuatu yang penting.
"Tidak ada apa-apa!" sahut Mystera yang terlalu cepat.
Ia melangkah sedikit untuk menutupi pandangan sang prajurit terhadap Sany yang masih tampak lesu dan bocah-bocah yang mengelilinginya.
Senyumnya terpaksa, berusaha terlihat natural.
Melihat tidak ada yang hendak dibicarakan, prajurit wanita itu pun mengangguk lalu mengambil tempat duduk di sebuah kursi dekat meja.
Tak lama kemudian, salah satu pelayan istana membuka pintu dan mengumumkan kedatangan Tuan Putri.
Seketika, semua orang buru-buru mengambil tempat duduk mereka.
Sany hendak duduk di kursi pinggir, namun Mystera segera menarik lengannya dan membimbingnya ke kursi di tengah meja.
Mystera sendiri duduk di kursi yang semula hendak diduduki Sany, seolah-olah ingin menjadi penghalang antara Sany dan orang-orang lain di ruangan itu.
Tuan Putri memasuki ruangan dengan penuh wibawa. Dia adalah Nova.
Sany menatapnya tanpa terkejut, matanya hanya menyipit sedikit, seolah-olah sedang menyambut kenalan lama, bukan seorang bangsawan.
Nova berjalan ke kursi paling terhormat di kepala meja, tepat berseberangan dengan Sany, lalu duduk dengan anggun.
"Oh, kalian semua sudah di sini. Bagus," ucap Nova dengan suara jernih dan penuh otoritas.
"Pelayan," ucap Nova sambil memerintahkan pelayannya.
Seketika, semua pelayan dan penjaga di ruangan itu membungkuk hormat, lalu berbalik dan berbaris keluar dengan tertib.
Pintu besar ditutup perlahan, meninggalkan keheningan dan tegang di antara mereka.
"Terima kasih atas kehadiran kalian semua," ucap Nova dengan sopan, namun nada bicaranya tetap penuh wibawa.
"Pertemuan kali ini, akan membahas soal pemberian tugas," lanjut Nova sambil menjelaskan sesuatu.
Mystera mengamati Sany dari samping.
Ia menyadari ada yang berbeda pada sikap Sany, matanya kini tampak lebih fokus dan penuh kesadaran, seolah-olah ia sudah pernah hadir di ruangan ini.
"Karena Sany sering terganggu oleh bisikanku," ujar Nova, memberikan penekanan pada kata tersebut.
"Aku memutuskan untuk mengubah metodenya. Sekarang, tugas kalian akan dibagikan melalui surat tertulis," lanjut Nova memberitahu hal penting.
Nova mengangkat selembar kertas yang sudah berada di tangannya.
"Ada pertanyaan sebelum pertemuan ini kita akhiri?" tanya Nova sambil melihat mereka.
Sany tanpa ragu mengangkat tangannya, gerakan yang percaya diri dan penuh tujuan.
"Jadi... selama ini, bisikan yang terus mengganggu pikiranku... itu berasal dari kamu?" tanya Sany yang suaranya datar namun penuh dengan keinginan untuk memastikan kebenaran yang selama ini ia cari.
"Iya," jawab Nova secara langsung, menatap lurus ke mata Sany.
Sany hanya mengangguk pelan. Sebuah anggukan yang berbicara banyak tentang penerimaan, kekecewaan, atau mungkin bahkan sebuah pengertian yang dalam.
Ruangan terasa hening sejenak, menyimpan makna dari percakapan singkat itu.
Nova kemudian memandang sekeliling, mengembalikan wibawanya yang sempurna.
"Ada yang mau bertanya selain dia?" tanya Nova yang menawarkan kesempatan terakhir sebelum pertemuan benar-benar berakhir.
Tidak seorang pun bersuara. Diam mereka adalah persetujuan yang sunyi, sebuah kepatuhan yang sudah biasa diberikan pada Nova.
"Baik, kalau begitu kita akhiri pertemuan ini. Silakan menikmati hidangan yang telah disiapkan," ucap Nova sambil menoleh ke arah pintu, memberikan isyarat.
Seolah dikendalikan oleh sebuah tombol, pintu pun terbuka.
Para pelayan berbaris masuk membawa nampan-nampan berisi makanan dan minuman yang masih tertutup rapat.
Dengan gerakan serempak, mereka menata hidangan di atas meja dan membuka penutupnya.
Aroma rempah dan daging yang lezat segera memenuhi udara, bertolak belakang dengan suasana hening yang masih tersisa.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nova berdiri dari kursinya.
Alih-alih bergabung dengan jamuan, ia berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah pasti, meninggalkan mereka dengan makanan mewah dan segudang pertanyaan yang belum terjawab.
Mereka yang ada di ruangan itu, terutama para bocah, segera melupakan ketegangan dan fokus pada hidangan mewah yang menguap di depan mata.
"Asyik! Makanan enak!" seru salah satu bocah dengan mata berbinar, tangannya sudah siap mencicipi.
Teman peri di sebelahnya hanya bisa menggeleng-geleng kepala, melihat kelakuannya yang begitu bersemangat.
Namun, tepat saat jari-jari Azel hampir menyentuh makanan,
"Hei, Azel. Jangan terburu-buru," tegur Sany dengan suara lembut namun tegas, menoleh ke arah bocah itu.
Semua yang hadir terhenti, suasana hening seketika. Mereka memandangi Sany dengan takjub, menyadari bahwa sikapnya yang tiba-tiba tegas dan familiar itu bukanlah tanpa alasan.
"Ingatanmu... sudah kembali?" tanya Mystera, suaranya bergetar antara tak percaya dan haru.
Sany mengangguk perlahan, tangannya mengusap pelipisnya yang sedikit berdenyut.
"Iya. Tapi sejauh ini, hanya kalian yang kuingat," balas Sany secara jujur.
Mystera tersenyum, matanya berkaca-kaca.
"Asal kau mengingat kami, itu sudah lebih dari cukup. Sisanya... biarlah datang dengan sendirinya. Jangan kau paksakan," kata Mystera yang terharu, namun bahagia.
Meskipun Sany telah menyelesaikan masalah utamanya, bukan berarti perjalanannya berakhir di sini.
Ini justru adalah awal yang sesungguhnya baginya.
Bersambung...