NovelToon NovelToon
Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:35.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Unchi

menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.

Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.


Baca kisahnya di sini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

"Rok Azzah basah," jujurnya yang bikin aku ingin ketawa. Lucunya si bocil satu ini.

"Ah, kirain kenapa. Malah bagus, nanti ku pinjemin sarung yang ada di lemari. Gimana?" tawarku. Kan bagus sekali jika Azzahra bajunya basah, dia pasti kedinginan. Dan yang pasti akan aku hangatkan.

"Gak usah kak. Udah di sini aja," katanya sambil memulai duduk duluan.

Fiuh, oke deh aku mengalah. Menurunkan ego lebih baik.

"Gini Dik. Sebenarnya..."

Hasbi Robbi Jalallah - Muhasabatul Qolbi (dering HP Azzahra)

"Bentar kak," potongnya. Dia berdiri dan menjawab telepon itu.

"Assalamualaikum, iya Ren.."

Ren? Siapa Ren? Hatiku bertanya-tanya. Kenapa Azzahra harus menjauh saat menerima telepon dari orang yang dipanggilnya Ren.

Ku tungguin dia di dekat pintu. Entah apa yang ia bicarakan. Sepertinya pelajaran anak kuliahan.

Usai menutup telepon dia balik arah. Dia menatapku seperti biasa. Malu-malu dan tersenyum tipis. Aku jadi tak enak hati mau menanyakan siapa yang meneleponnya tadi.

"Sepupuku kak, dia tanya tentang tugas kuliah besok," ucapnya memberi tahu.

"Ow," jawabku sambil manggut-manggut. Sepertinya aku tidak boleh menaruh curiga pada Azzahra. Tanpa aku tanya pun, dia sudah memberitahuku.

"Ya udah yuk, kita lanjut ngobrol apa pulang?Udah jam sembilan kurang dikit ini. Soalnya perjalanan kita ke rumah Abi kan lumayan jauh," ucapku menjelaskan. Mungkin ngobrol berdua masih punya banyak waktu nanti. Bisa sambil tidur atau lainnya.

"Kalau pulang aja??" tanyanya sambil sedikit berfikir.

"Ya udah ayuk!" jawabku mengiyakan. Dan dia terlihat senang dengan itu.

***

Sesampai di rumah Azzahra. Suasana sudah gelap. Sudah pada tidur katanya, kecuali abinya yang kini tengah membukakan pintu kami.

"Oh iya Azzah, kamu baik-baik aja?" tanya Abinya khawatir.

'Astagfirullah Pak. Anakmu kan sama suaminya. InsyaAllah baik-baik aja,' ucapku dalam hati. Kayak orang gak percayaan aja. Ya aku tahu mereka belum percaya sama aku. Tapi bisa gak sih, gak usah nanya depanku kayak gini? Tersinggung aku tuh.

Terlihat Azzahra mengangguk. Lalu Azzahra berjalan menunduk sambil masuk ke dalam rumah. Aku pun mengikutinya namun dicegah sama bapak mertuaku.

"Iya Pak." Ucapku dengan nada kenapa?

"Kamu gak nyakitin dia kan?" tanyanya memastikan.

"Nyakitin yang gimana Pak?" tanyaku memastikan. Namun dia hanya balas menatapku penuh selidik tak percaya.

"Aku gak mungkin nyakitin istriku sendiri Pak. Selagi dia tidak bersalah," lanjutku kemudian.

"Begitu?" ejeknya. "Bahkan kamu pernah menyakitinya, padahal kalian belum pernah kenal. Tapi ke depannya Abi berharap tidak ada hal kekerasan atau yang lainnya."

Abi mendekat ke arahku. Dia merangkul pundakku dan menepuknya sekali. "Sekarang abi pasrahkan Azzah ke kamu. Jadi abi percaya sama kamu. Kalau kamu pasti bisa menjaga marwah seorang istri. Jika kamu belum paham, kamu boleh tanya ke abi. Apapun masalahnya, abi akan berusaha tidak ikut campur selagi itu masih wajar. Karena jika kamu menyakiti putri abi, abi gak akan terima apapun itu," terangnya dengan berujung nasehat.

"Iya pak. Tentu. InsyaAllah Mustofa akan melakukan yang terbaik buat dik Azzahra." Fiuuh. 'Meskipun aku belum tahu ke depannya gimana. Semoga masa laluku tidak mengganggu rumah tangga kami.' ucapku dalam hati. Semoga kenakalanku di masa lalu tidak terungkit. Aku takut jika ketahuan. Tapi apa salahnya? Itu kan masa lalu, yang penting sekarang aku tidak berbuat kejahatan.

"Iya, abi percaya. Ya udah, kalian beristirahatlah. Biar abi yang menutup pintunya."

***

Semalam setelah pulang, kami langsung tidur. Kami tak berpisah ranjang. Karena Azzahra sudah berusaha menerimaku sepenuhnya.

Dan di sinilah aku pagi ini. Di meja makan bareng keluarga istri ditemani tatapan tak mengenakkan dari Sulaiman. Dia tetap menunjukkan wajah tak sukanya padaku. Okelah, aku tak masalah. Apa aku perlu memberinya uang? Kali aja dengan begitu hatinya bisa luluh padaku.

"Oh ya, Sulaiman mau mas Tofa antar gak?" tanyaku basa-basi.

"Ehm."

Itu suara bapak mertua yang lagi menginterupsi pembicaraanku.

"Maaf nak Mustafa. Selama di meja makan kita dilarang banyak bicara," ucapnya.

Hatiku langsung terkejut berucap oh. Ku balas dengan anggukan.

Sarapan pagi ini hanya terisi dengan bunyi sendok yang bertabrakan dengan piring. Sama sekali tidak nyaman. Ku tatap Azzahra yang sedang makan, dia terlihat nyaman dan menikmati. Aku jadi tak selera makan. Tapi tak apalah. Ku habiskan saja nasi yang sudah terlanjur ku ambil tadi.

***

Usai berpamitan. Aku langsung tancap gas mengantar Azzahra kuliah. Setelah sarapan tadi, aku tak banyak mengeluarkan sepatah kata pun. Padahal niat hati mau bujuk Sulaiman bisa menerimaku. Tapi usaha itu pupus sudah.

Beberapa kali Azzahra melirik ke arahku. Aku hanya balas menatapnya. Ingin bicara, tapi hatiku dongkol banget rasanya. Bukan apa-apa, aku hanya kecewa sama istriku yang tak memberitahuku soal peraturan di rumahnya. Kalau tahu, aku pasti tak semalu sekarang. Huft.

"Kakak kenapa?"

Apa itu tadi? Dia bertanya tentang aku? Tumben. Langsung ku toleh ke arahnya. Mungkin dia merasa ada yang berbeda denganku. Baguslah, setidaknya dia peka tentangku.

"Aku baik. Cuma kecewa aja," jawabku jujur.

Dia langsung menunduk. Fiuh, kalau begini aku yang merasa bersalah. Tapi biarin aja, aku tetap fokus menyetir.

"Maaf," ucapnya kemudian.

Hah! Syukurlah, dia merasa bersalah juga kan?

"Iya, tapi lain kali mas maunya adik ngasih tahu soal peraturan yang ada di rumah. Biar gak ada kejadian kayak tadi," jawabku memberi tahu. Biar gak kayak semalam, baru sampai langsung tidur. Benar-benar bikin kesal plus menggemaskan.

Ucapanku tadi tidak dijawab. Dia seperti menyesal. Aku yang gak enak sekarang.

"Udahlah Dik. Kita udah menikah kan? Jadi jangan anggap mas ini kayak orang asing," pintaku padanya.

Dia hanya mengangguk pelan. Udahlah, kali ini ujianku harus banyak bersabar.

Sesampainya di kampusnya, dia turun dan berpamitan kepadaku. Mobilku belum beranjak. Masih ku pantau dari kejauhan. Dan aku sangat terkejut saat dia dihampiri oleh seorang pria.

Aku sangat emosi. Ingin rasanya ku hampiri dan menghajar pria itu.

"Kurang ajar. Jadi dia belum mau ku sentuh gara-gara ini?"

Dengan emosi ku lajukan mobilku menjauh dari kampusnya.

Dalam hatiku terus mengumpat gara-gara si Azzahra. Kalau dia punya pacar, ngapain dia minta aku menikahinya?

"Apa sih maunya tu cewek? Awas aja nanti," ucapku penuh emosi.

Sampai toko, aku langsung masuk ke ruanganku.

Entah apa kata karyawanku aku gak peduli. Moodku sedang tidak baik. Istriku seperti mempermainkan diriku. Awas aja, ingin ku tonjok nanti.

Bersambung...

1
cut Meutia
awas aja klo mustafa lengah
cut Meutia
lah diterima
Nana
next
Putri💗
lama gak up thor
cut Meutia
jangan mau maya, bisa2 ngrusak rt mu nanti
Juniya Ar
up
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
next
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
thor, lanjut jangan lama
Nana
bagus
Juwitha Arianty Ibrahim
ini kapan lagi up thor
cut Meutia
bagus thor
Juwitha Arianty Ibrahim
bagus crita nya update lagi domg thor
💜Balqish H😻
😍penasaran
Bella༄㉿ᶻ⋆
sabar ya mus🤭
💜Balqish H😻
next
💜Balqish H😻
gantengnya ma xioyu
Jack
next
Mia Ijaya
ya allah bneran ini tamat????????
Jack: belum
total 1 replies
Mia Ijaya
wow kerennnn....
Ana Riana
seru ni lanjut dong thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!