Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kemunculan Hyun yang begitu tiba-tiba membuat suasana ruangan Pak Teguh mendadak hening seketika.
Sesaat sebelum Hyun menerobos masuk ke dalam ruangan Pak Teguh, Hyun yang berjalan santai sambil mencari ruangan yang ia tuju, malah mendapati beberapa karyawan tengah berdiri berkerumun di depan pintu sebuah ruangan yang sedikit terbuka. Hyun yang penasaran, bergegas mendekati kerumunan itu.
Berdiri di samping dua orang karyawati yang tengah berbisik-bisik, Hyun sengaja berdehem pelan, membuat beberapa karyawan yang berkerumun tersebut merasa tidak enak hati dan bergegas membubarkan diri. Bukannya langsung masuk ke dalam ruangan yang juga kebetulan merupakan ruangan yang ia tuju, Hyun malah tetap berdiri, mencoba mencuri dengar percakapan dari dalam ruangan yang juga membuatnya penasaran.
Hyun yang awalnya hanya iseng menguping, justru malah merasa gemas sendiri saat mendengar suara seorang pria yang terkesan menyombongkan diri dengan membawa jabatannya untuk mengancam seorang wanita. Maka tanpa berniat menunggu lebih lama lagi, Hyun mendorong pintu kemudian menerobos masuk tanpa mengetuknya lebih dulu.
"Siapa yang ingin memecat siapa?" tanya Hyun dingin, sorot matanya tajam menatap ke arah pria bertubuh gempal yang ia kenali bernama Teguh Wibowo. Sebelum rapat dewan direksi dimulai, Vino Mahardika sempat memperkenalkan Hyun dan Agam pada beberapa karyawan yang memiliki jabatan cukup tinggi di perusahaannya.
Pak Teguh sontak terdiam, terkejut melihat Hyun yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangannya, sementara di balik pintu yang terbuka sebagian, beberapa karyawan mulai kembali berkerumun untuk sekedar mencuri dengar sekaligus mengintip. Mereka penasaran dengan apa yang akan terjadi di dalam ruangan yang terkenal sebagai ruang eksekusi. Karena saking banyaknya pegawai yang terkena pemecatan setelah keluar dari ruangan tersebut.
"Tu-tuan Hyun... Selamat siang. A-ada yang bisa saya bantu?" ucap Pak Teguh terbata, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia melangkah pelan mendekati Hyun yang masih berdiri tegak dengan tatapan tajam ke arahnya.
Berbeda dengan Pak Teguh yang terlihat gugup bercampur panik, Viona malah berdiri tenang dengan ekspresi datar. Namun dalam hati, Viona tengah menerka-nerka alasan yang akan dilontarkan Pak Teguh pada pria yang terlihat cukup di segani. Viona juga berpikir, jika hari ini ia jadi di pecat pun, ia tidak ingin pergi tanpa memberi pelajaran terlebih dahulu pada Pria yang sudah merendahkannya.
Hyun menarik napas panjang sebelum berbicara. "Saya sempat mendengar... Anda berencana memecat seseorang?" tanyanya tegas, cukup membuat nyali Pak Teguh menciut, bahkan terasa sulit untuk sekedar menelan ludah. Keringat dingin pun tampak membanjiri keningnya yang mulus mengkilap. Pria yang tengah berdiri di hadapannya memang berusia cukup jauh di bawahnya, namun posisi sebagai Asisten pribadi CEO yang baru tentu sangat berpengaruh.
"Sa-saya memang berniat memecat pegawai baru itu, Tuan," jawab Pak Teguh sambil buru-buru menunjuk ke arah Viona yang masih berdiri tenang.
Tatapan Hyun bergeser. Meneliti wajah seorang gadis cantik bertubuh tinggi dengan balutan pakaian layaknya seorang petugas kebersihan yang tengah berdiri tenang sambil menatap ke arahnya.
"Apa alasan anda ingin memecat gadis itu?" tanya Hyun tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah yang terlihat cantik, meski tanpa polesan berlebih. Gadis itu bahkan terlihat hanya memakai pewarna tipis di bibirnya. Hyun yang sering berkencan dengan banyak wanita tentu sudah sangat hafal wajah yang sering dipoles dengan wajah yang masih alami.
"Dia... sudah sering bersikap kurang ajar pada atasannya, Tuan," ucap Pak Teguh cepat-cepat. "Pekerjaannya pun tidak sesuai dengan SOP yang diberlakukan kantor ini," imbuhnya. Suaranya lantang menuduh Viona untuk menutupi kebusukannya sendiri.
Hyun mengangkat alis tipis, seolah menimbang ucapan Pak Teguh. "Benar seperti itu?" tanyanya, berkata langsung pada gadis yang masih tetap terlihat tenang meski seseorang tengah menuduhnya dengan lantang.
Viona menghela napas, mengalihkan pandangan pada Pak Teguh yang seolah tengah meremehkannya. "Saya memang bersikap kurang ajar dengan Pak Teguh."
Jawaban yang Viona lontarkan tentu membuat Pria berambut plontos itu bersorak dalam hati. Ia tidak perlu repot-repot menuduh, karena gadis sombong itu malah mengakuinya sendiri.
Pengakuan gadis di hadapannya membuat Hyun sontak terkejut. Ia jelas sempat mendengar sendiri saat masih berada di balik pintu tentang perlakuan tidak senonoh yang kerap diterimanya.
Viona lantas kembali mengalihkan pandangan pada Pria tampan yang juga tengah menatap ke arahnya. "Tapi, saya tidak akan mungkin berbuat kurang ajar tanpa ada sebab yang jelas," ucap Viona lantang, meski Hyun jelas menangkap sebuah getaran emosi yang sengaja di tahan.
"Pak Teguh sudah berulang kali bersikap melewati batasan. Tidak hanya pada saya, tapi pada pegawai lain yang akhirnya memilih mengundurkan diri demi menjaga harga diri mereka," lanjut Viona.
Wajah Pak Teguh memerah seketika. Tidak menyangka Viona malah berani mengungkap semua kebusukannya.
"Viona! Diam kamu!" bentak Pak Teguh yang terlihat panik.
Bentakan Pak Teguh sama sekali tidak membuat nyali Viona menciut. Ia sudah kerap kali mendapat bentakan dari Paman dan Bibinya, meski ia tidak melakukan kesalahan apapun, pengalaman itu malah membuat Viona tidak mudah ditindas oleh siapapun, terlebih ia tidak melakukan suatu kesalahan. Sementara di luar ruangan, beberapa karyawan yang sedari tadi mencuri dengar perdebatan yang terjadi, saling berpandangan, kaget mendengar pengakuan berani itu. Selama ini tidak ada yang berani mengadukan tindakan pelecehan yang kerap dilakukan Pak Teguh. Semua yang mengetahuinya memilih bungkam karena takut kehilangan pekerjaan mereka.
Pak Teguh yang panik, kembali melangkah mendekati Hyun. Ia semakin khawatir, atasan barunya itu termakan ucapan Viona. "Tuan Hyun, semua yang dikatakan gadis pembohong itu tidak benar. Di-dia hanya sedang berusaha memfitnah saya," ucapnya, suaranya bergetar, namun berusaha agar tetap terdengar meyakinkan.
Hyun sendiri masih betah terdiam, namun dalam hati, ia tengah memuji keberanian dan sikap tenang gadis yang tanpa ragu menyuarakan kebenaran menurut versinya sendiri.
"Tu-tuan, gadis itu... "
Hyun mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar Pak Teguh tidak melanjutkan kalimatnya. "Viona Larasati... " ucap Hyun setelah lebih dulu membaca nametag yang tersemat di baju Viona. "Pergilah. Selesaikan pekerjaanmu," lanjut Hyun memandang tenang pada Viona.
Viona sama sekali tidak terkejut. Dari awal ia sudah yakin, pria yang entah datang dari mana, tampak memiliki karakter yang berbeda dengan Pak Teguh, karena itu ia sengaja tetap berada di dalam ruangan untuk menyuarakan kebenaran.
Maka setelah lebih dulu menunduk memberi ucapan terimakasih, dengan santainya Viona kembali mendorong troli keluar dari ruangan Pak Teguh. Ia sama sekali tidak khawatir dengan nasib pekerjaannya setelah ini. Jika pun ia di pecat. Ia hanya harus membereskan barang-barangnya yang masih berada di gudang, lalu pergi mencari tempat bernaung sementara sebelum kembali mencari pekerjaan lain. Viona bersyukur, pagi tadi gajinya setelah satu bulan bekerja sudah tersimpan aman di rekeningnya.
Begitu Viona keluar, dan pintu sengaja di tutup rapat. Suasana di dalam ruangan berubah seketika.
Tatapan tajam Hyun langsung tertuju pada Pak Teguh yang tampak semakin panik. "Mari kita lanjutkan diskusi tadi, Pak Teguh," ucap Hyun penuh penekanan dan maksud yang tentu jelas terbaca dari sorot mata yang ia pancarkan.
*****
Suasana penuh ketegangan juga tengah menyelimuti sebuah ruangan luas yang berada di lantai paling atas gedung yang menjadi kantor pusat Perusahan Mahardika. Di dalam ruangan mewah itu, tampak Agam tengah berdiri tegak berhadapan langsung dengan sang Ayah, Vino Mahardika.
Meski Vino sudah meminta Agam untuk duduk agar bisa mengobrol santai, namun dengan tegas Agam menolak, meminta Vino segera berbicara langsung pada intinya.
Vino sendiri hanya bisa mendesah lirih. Putra bungsunya memang memiliki karakter keras yang sulit untuk di luluhkan. Sayangnya lima tahun yang lalu ia malah memilih menguji diri dengan menantang sang putra.
"Kamu... masih marah pada Ayah dan Bunda?" tanya Vino yang sengaja merendahkan suaranya. Ia tidak ingin pembicaraannya dengan sang putra gagal di awal hanya karena mengadu ego yang sama tingginya.
"Iya, " jawab Agam singkat, ia sengaja memutus pandangannya dan beralih menatap sebuah lukisan berukuran besar yang terpajang di dinding. Sebuah lukisan keluarga yang tampak lengkap dengan kehadiran Reza dan Hana beserta keluarga kecil mereka.
Vino melangkah mendekat untuk kemudian berdiri di samping Agam. Ayah dan anak itu sama-sama menatap lukisan keluarga mereka yang tampak harmonis.
"Kembalilah ke rumah... Bundamu sangat merindukanmu," ucap Vino tanpa mengalihkan pandangannya.
"Lalu kembali membuka luka lama yang masih belum sepenuhnya mengering," sahut Agam datar.
Jawaban Agam membuat Vino menoleh. Menatap wajah Putranya yang tampak semakin dewasa, namun masih bersikap kekanakan.
"Ikhlaskan semuanya. Mayra... mungkin dia bukan jodoh yang disiapkan Tuhan untuk menemanimu," ucap Vino. Meski terdengar kejam karena meminta Agam mengikhlaskan cintanya, namun di sudut hatinya, Vino juga merasakan sakit yang teramat. Pria berusia lanjut itu tentu menginginkan kebahagiaan bagi sang putra.
Agam terkekeh pelan. Bukan menertawai ucapan sang Ayah, tapi menertawai kebodohannnya sendiri yang sudah begitu mudah tertipu. Andai ia tidak mudah percaya dan tidak menuruti perintah sang Ayah untuk pergi, mungkin saat ini ia tengah merajut sebuah biduk rumah tangga bahagia dengan gadis yang ia cintai sejak lama.
"Jika mengundangku ke sini hanya untuk memintaku mengikhlaskan cinta yang sudah ternodai dengan kebohongan yang kalian buat... bukankah itu terlalu kejam untukku," ucap Agam sambil menatap wajah pria yang memiliki kemiripan yang begitu kental dengannya.
Vino kembali menghela panjang napas. "Ayah dan bunda melakukan semua itu demi kebaikanmu, Agam." ucap Vino berusaha meyakinkan putranya.
"Dengan sengaja mengirim ku pergi jauh agar tidak bisa berjuang meraih cintaku," sahut Agam yang malah terpancing emosi.
Vino terdiam, ia memang bersalah telah membuat Agam kehilangan kesempatan meraih cintanya. Tapi Vino melakukan semua itu semata-mata demi kebaikan Agam maupun Mayra. Menurut Vino, sikap Agam yang terlampau keras, selalu berbuat seenaknya dan terlalu mendominasi hanya akan membuat Mayra tersiksa. Semua itu bertolak belakang dengan mencintai seseorang versi Vino yang haruslah dengan kelembutan.
"Ayah... minta maaf karena telah mencampuri kisah cintamu," ucap Vino yang memilih untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf secara langsung.
Agam hanya melirik sekilas, rahangnya tampak mengeras dengan kedua telapak tangan terkepal erat. Agam menarik napas dalam-dalam untuk meredakan emosi yang kian memuncak.
"Kembalilah ke rumah... Bunda mu sangat merindukanmu," pinta Ayah Vino. "Di sini hanya Ayah yang bersalah... Bunda mu tidak bersalah apapun," imbuhnya. Berharap Agam bisa mengerti dan kembali ke rumah.
"Berikan aku waktu lagi... Rasa kecewa itu tidak akan hilang begitu saja hanya dengan satu ucapan maaf," ucap Agam yang kemudian melangkah menuju pintu keluar. Ia tidak lagi berminat memperpanjang obrolan yang hanya membuat amarahnya terus memuncak.
Tidak lagi berniat menahan Agam, Vino hanya bisa menghela napasnya. Ia yakin suatu saat nanti, putranya bisa mengerti dan menerima alasan ia melakukan semua itu.
Agam yang melangkah terburu-buru keluar dari dalam lift dengan amarah yang telah berada di puncaknya semakin meledak saat kaki panjangnya menabrak sebuah troli yang tengah didorong seorang gadis ketika berjalan di tikungan hendak menyusul Hyun.
"Apa yang kau lakukan!" hardik Agam menatap tajam penuh amarah pada gadis yang sudah berani menabrakkan troli berisi alat kebersihan yang sudah membuat kemeja dan celana panjangnya basah dan kotor terkena tumpahan air dari dalam ember.
*****