Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sumpah Setia Dua Monster Kecil
Bab 14: Sumpah Setia Dua Monster Kecil
Tekanan intimidasi yang memancar dari tubuh tegap Adrian di ruang tengah siang itu terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di sekitar Aline mendadak lenyap ditelan bumi. Mata elang sang mafia terkunci rapat pada bekas luka horizontal di lengan atas Aline yang menyembul dari balik kain kemeja pelayan yang robek.
Aline, yang menyadari arah tatapan Adrian melalui sudut pandang periferal di balik kacamata tebalnya, tidak membiarkan otot tubuhnya menegang. Sebagai seorang ahli strategi, ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk menyembunyikan kebenaran dari seorang predator adalah dengan menimpanya menggunakan kebohongan baru yang jauh lebih memalukan.
"T-Tuan Besar... m-maaf kalau lengan baju saya robek jadi kelihatan jelek," cicit Aline dengan suara yang sengaja dibuat bergetar hebat. Ia dengan tergesa-gesa menarik ujung apron kremnya untuk menutupi lengan atasnya, memasang wajah super malu dan ketakutan. "Ini... ini bekas luka waktu saya dikejar babi hutan liar di ladang singkong tiga tahun lalu, Tuan. Saya jatuh menggelinding ke semak berduri tajam... Hiks, bentuknya jelek sekali ya, Tuan? Maaf bikin mata Tuan Besar kotor..."
Adrian tidak menanggapi ucapan Aline. Rahangnya mengetat. Secara visual, bekas luka itu terlalu rapi untuk ukuran goresan semak berduri. Namun, kepanikan udik dan penjelasan konyol tentang "dikejar babi hutan di ladang singkong" yang keluar dari mulut Aline terdengar begitu natural hingga membuat kecurigaan taktis Adrian sedikit terdistraksi oleh rasa jengkel yang luar biasa.
"Ganti bajumu. Dan pastikan kau membersihkan pecahan kaca di lantai dua sampai bersih," ucap Adrian dingin, suaranya rendah dan penuh penekanan otoriter. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia memutar tubuhnya dan melangkah pergi menuju ruang kerja pribadi di sayap tengah dengan aura kejam yang masih melekat erat.
Begitu sosok tegap Adrian menghilang di balik tikungan koridor, Aline mengembuskan napas lega yang teramat tipis. Namun, kejutan hari itu belum berakhir.
Malam harinya, sekitar pukul sebelas malam, atmosfer di dalam Mansion Dirgantara sudah sangat sunyi. Seluruh pelayan senior dan penjaga shift malam telah menempati pos masing-masing di area luar halaman.
Aline sedang duduk di dalam kamar pelayannya yang kecil, bersiap untuk meretas kembali sistem kamera pengawas sayap barat guna memetakan jalur logistik mingguan Adrian. Namun, belum sempat ia membuka perangkat mikro portabelnya, terdengar suara ketukan tiga kali yang sangat halus di pintu kamarnya. Tok. Tok. Tok.
Aline menyembunyikan perangkatnya di bawah bantal dalam waktu kurang dari sepertiga detik. Ia berjalan mendekati pintu, membukanya sedikit, dan tertegun saat melihat siapa yang berdiri di koridor yang remang-remang.
Kenzo dan Keira.
Dua bocah berusia lima tahun itu berdiri berdampingan. Kenzo masih mengenakan piyama sutra hitamnya sembari memeluk sebuah komputer tablet kustom, sementara Keira mengenakan piyama merah muda dengan bando telinga kelinci yang terpasang rapi di kepalanya. Mereka berdua tidak membawa mainan bodoh, melainkan menatap Aline dengan sepasang mata bulat yang memancarkan kilat kecerdasan ekstrem yang sangat dingin.
"Boleh kami masuk, Kak?" tanya Kenzo datar, suaranya sangat tenang untuk ukuran anak kecil yang berkeliaran di tengah malam.
Aline mengerjapkan matanya, lalu dengan cepat mengubah gesturnya menjadi pelayan yang kebingungan. "Eh? Tuan Muda... Nona Muda? Kok belum tidur? Malem-malem begini kok ke kamar Kak Aline? Nanti kalau ketahuan Pak Yusuf bisa dimarahi lho..."
"Sudah aman. Aku sudah mematikan sensor gerak dan memanipulasi putaran video CCTV di koridor ini selama tiga puluh menit ke depan," ucap Kenzo santai sembari melangkah masuk melewati celah pintu tanpa menunggu izin Aline, diikuti oleh Keira yang langsung menutup pintu kamar pelayan tersebut dengan bunyi klik yang sangat pelan.
Kamar pelayan yang sempit itu mendadak terasa sesak oleh aura tidak biasa yang dibawa oleh kedua monster kecil ini.
Keira langsung melompat duduk di atas ranjang kecil Aline, melipat kakinya dengan anggun. "Kak Aline, mari kita hentikan sandiwara konyol ini. Kami tahu Kakak bukan gadis desa bodoh yang takut asap hantu atau dikejar babi hutan."
Aline memaku tubuhnya di tempat, membiarkan wajahnya mengekspresikan kepanikan batin yang dibuat-buat. "N-Nona Muda bicaranya kok aneh begitu? Kakak beneran gadis desa—"
"Laptopku tidak mati karena kebetulan, Kak," potong Kenzo sembari menyandarkan punggungnya di dinding kamar, menatap Aline langsung dari balik layar tabletnya yang memancarkan cahaya biru tipis. "Kalkulasi sudut tumpahan jus semangkamu tepat mengenai celah pembumian stopkontak eksternal. Itu adalah satu-satunya cara untuk mematikan sistem proteksi hard-shutdown laptopku tanpa merusak data internal atau memicu log pelacakan IP. Dan vas bunga yang Kakak lempar tadi siang... beratnya lima belas kilogram. Seorang gadis desa berlendir yang kurang gizi tidak akan punya daya ledak otot transversus abdominis sepresisi itu untuk menghancurkan kaca antipeluru tipe kustom b-32 milik Daddy."
Aline diam. Kamar kecil itu mendadak menjadi sangat sunyi. Tekanan udara di antara mereka bertiga berubah total.
Secara perlahan, Aline menegakkan punggungnya yang semula agak membungkuk. Ekspresi ketakutan yang konyol di wajahnya memudar, digantikan oleh rahang yang mengatup rapat dan sepasang mata yang menatap tajam, dingin, dan penuh kalkulasi taktis di balik lensa kacamata tebalnya. Sandiwaranya di depan kedua anak ini sudah tidak berguna lagi.
"Jadi... apa yang kalian inginkan?" tanya Aline, nada suaranya kini berubah total menjadi jernih, berat, dan dipenuhi oleh otoritas seorang agen profesional. "Jika kalian ingin melaporkan aku kepada ayah kalian, kalian tidak akan datang ke kamarku tengah malam begini sendirian tanpa pengawal."
Keira langsung bertepuk tangan kecil dengan wajah yang sangat gembira, seolah baru saja memenangkan lotre. "Wah! Lihat, Ken! Aku bilang juga apa! Suara asli Kak Aline keren banget, seperti agen rahasia di film-film aksi!"
Kenzo hanya mengangguk pelan, wajah datarnya tidak berubah namun ada binar respek yang melintas di matanya. "Kami tidak akan melaporkanmu ke Daddy, Kak. Justru sebaliknya. Setelah melihat bagaimana Kakak menggagalkan dua tes ekstrem kami dengan cara yang sangat cerdas tanpa membongkar identitasmu di depan umum... kami memutuskan bahwa Kakak telah lulus ujian."
"Ujian apa?" Aline menyipitkan matanya, tetap waspada terhadap segala bentuk manipulasi psikologis dari dua bocah ajaib ini.
"Ujian untuk menjadi kandidat Ibu Baru kami," jawab Keira dengan senyum licik yang sangat menggemaskan namun berbahaya. "Daddy sudah terlalu lama hidup seperti mayat berjalan sejak... ya, sejak insiden beberapa tahun lalu. Dia menjadi monster yang kejam dan membosankan. Wanita-wanita ular dari klan mafia lain yang mencoba mendekati Daddy semuanya bodoh dan hanya mengincar hartanya. Tapi Kakak... Kakak berbeda. Kakak punya misi rahasia di rumah ini, dan Kakak sangat kuat."
"Kami menawarkan gencatan senjata," tambah Kenzo, memutar layar tabletnya ke arah Aline, menampilkan sebuah peta blueprint arsitektur tiga dimensi dari seluruh area Mansion Dirgantara yang sangat detail, termasuk titik-titik buta (blind spot) penjagaan kamera siber yang bahkan belum sempat ditembus oleh Aline. "Kami tidak peduli apa misimu, selama Kakak tidak berniat membunuh kami berdua. Sebagai gantinya, kami akan membantumu bergerak di dalam mansion ini, dan tugas Kakak adalah... menjadi pasangan hidup Daddy agar rumah ini tidak lagi terasa seperti kuburan."
Aline menatap cetak biru arsitektur di layar tablet Kenzo dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Akses data setingkat ini hanya dimiliki oleh Adrian sendiri. Dengan bantuan si kembar, pergerakannya untuk mencari kebenaran tentang Kak Rena akan menjadi sepuluh kali lebih cepat dan efisien. Ini adalah aliansi tak terduga yang teramat menguntungkan, meski motif kedua anak ini sangat absurd: menjodohkannya dengan seorang bos mafia berdarah dingin.
"Baik," ucap Aline dingin, mengulurkan tangan kanannya ke depan. "Gencatan senjata disepakati. Selama kalian tidak menghalangi jalanku, aku akan memastikan keselamatan kalian dari bahaya luar."
Kenzo menerima jabat tangan Aline dengan cengkeraman kecil yang mantap, sementara Keira melompat turun dari ranjang dengan mata yang berbinar penuh kelicikan romantis.
Dari balik saku piyama merah mudanya, Keira mengeluarkan sebuah benda logam kecil kuno yang berwujud kunci perunggu dengan ukiran angka romawi di pangkalnya. Ia meraih tangan Aline dan meletakkan kunci perunggu tersebut di atas telapak tangan Aline yang halus.
"Ini kunci bypass mekanis menuju pintu isolasi gudang wine bawah tanah di sayap barat," bisik Keira dengan senyuman yang teramat misterius. "Besok malam, tepat pukul sembilan, Daddy punya jadwal rutin untuk memeriksa pasokan koleksi barunya di sana sendirian tanpa pengawal. Kakak harus masuk ke sana dengan dalih mengantarkan dokumen inventaris fisik pelayan... Sisanya, serahkan pada kami berdua."
Aline menatap kunci perunggu di tangannya, merasakan dinginnya logam kuno tersebut yang seolah menjadi penanda awal dari sebuah jebakan intim yang paling berbahaya dalam hidupnya.