Ardian, seorang pengusaha muda yang tampan dan mapan. Ia memiliki seorang kekasih yang bernama Karina, kisah cinta mereka cukup rumit karena adanya orang ketiga. Belum lagi kehadiran orang ketiga yang memiliki tujuan untuk menghancurkan keluarga Ardian. Semuanya perlahan terungkap saat Vino datang, lelaki yang tak lain adalah kakak dari kekasihnya, Karina. Tidak hanya Ardian, Karina ternyata juga memiliki sebuah rahasia besar tentang keluarganya. Setelah hubungannya mengalami kerenggangan dengan Karina, Ardian pun mencoba memperbaiki hubungan itu. Mampukah Ardian merebut kembali hati Karina yang sudah terlanjur dibuat terluka oleh sikapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Tunangan
"Emilia, ka- kamu_"
"Iya, aku. Kenapa, kamu kaget? Enggak nyangka ya aku bakal ada di sini?" Emilia mendelik tajam ke arah Karina, dan tangannya segera memeluk lengan kekar Ardian.
Gadis sombong itu ingin memperlihatkan kalau Ardian cuma miliknya seorang.
Emilia menatap Karina dari atas sampai bawah dengan mata memicing, dia tersenyum sinis.
"Ngapain lihatin aku seperti itu?"
"Enggak kenapa-kenapa, aku cuma miris aja ngelihat penampilan kamu sekarang."
Ardian ikut menatap Karina, dia baru sadar pakaian Karina sekarang menampakkan kalau gadis itu sedang berusaha melamar pekerjaan.
"Enggak usah peduliin hidup aku, Emi. Urus aja hidup kamu sendiri!" tukas Karina.
"Heh? Enggak salah denger ni aku? Omongan kamu barusan lebih cocok buat kamu sendiri, Karina. Mestinya itu ya, kamu yang enggak usah repot-repot ngurusin hidup aku sama Ardian. Harusnya kamu itu fokus sama hidup kamu sendiri, aku tahu apa yang barusan kamu omongin sama pacar aku."
"Apa yang tadi aku katakan, itu semua memang faktanya kan? Kalian belum lama kenal, jadi Ardian enggak bisa buat keputusan secepat itu untuk ngelamar kamu."
"Cukup Karina!" Ardian kini angkat bicara, dia ingin menyudahi perdebatan Karina dan kekasih barunya.
"Ar, kamu harus dengerin aku!"
"Dengerin kamu? Kenapa aku harus dengerin omongan kamu yang enggak jelas itu? Mending kamu urus urusan kamu sendiri, aku udah bahagia sama Emilia." Ardian menggenggam tangan Emilia memperlihatkannya pada Karina. "Kami akan segera bertunangan, kisah kita udah lama berakhir. Antara kamu dan aku enggak ada apa-apa lagi, kamu cuma bagian dari masa lalu, dan masa depan aku hanyalah Emilia seorang!"
Ardian mempertegas kata akhirnya, agar Karina paham dan tidak lagi berharap.
Karina membisu, bungkam tanpa suara sedikit pun.
"Kamu dengar sendiri kan apa kata calon suami aku? Kamu itu cuma masa lalu, dan aku adalah masa depannya." Emilia tersenyum puas, ia juga melayangkan tatapan mengejek ke arah Karina.
Mereka pergi dari sana, Emilia bahkan tidak rela jika harus pergi sebelum membuat Karina semakin menderita, dia lewat di dekat Karina sambil menyenggol keras lengan gadis itu.
Hal tersebut membuat Karina terhuyung, tidak ada reaksi apa-apa dari Karina. Tatapannya ikut mengantar kepergian Ardian, di belakangnya ada mobil Emilia yang juga berjalan mengikuti laju mobil Ardian.
"Andai aja kamu tahu, Ar. Aku kangen banget sama kamu, aku kangen kamu yang dulu. Andai waktu dapat diulang, aku ingin berlama-lama dengan moment indah kita dulu. Aku kangen masa-masa itu, masa di mana cuma ada aku dan kamu, kita. Enggak ada orang lain, enggak ada yang namanya orang ketiga."
Dalam diam Karina berkata lirih, sesak di dada yang tak mampu lagi ia tahan kini semakin membuncah dan membuat tangisnya pecah. Tangis pilu yang menyayat hati, Karina segera berjalan lebih jauh dari pinggir jalanan itu.
Gadis berambut panjang tersebut mencari tempat yang sepi dan nyaman untuk menumpahkan tangisnya.
Karina berjalan ke sisi gedung yang sudah tak terpakai lagi, banyak rumput ilalang yang tumbuh liar di sana. Namun, ada sebuah bangku panjang yang masih bagus dan layak untuk diduduki.
Gadis cantik itu memutuskan untuk duduk di sana, jauh dari keramaian. Ia bisa dengan leluasa menumpahkan jerit tangisnya yang telah lama ingin ia luahkan.
Hiks!
Air mata mengalir deras, bagaikan hujan yang menyirami dunia.
Kehadiran Ardian bagaikan secercah sinar di ujung hidupnya yang kelam. Kebersamaan yang terjalin lama kini hanya menyisakan ribuan kenangan dengan akhir yang mengenaskan.
"Aku enggak pengen hubungan kita berakhir seperti ini, Ar? Kenapa kamu tega ninggalin aku cuma karena dia? Kalian belum lama kenal, tapi kenapa kehadirannya mampu membuat kamu ninggalin aku kayak gini?" Karina bertanya-tanya.
Sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping bahunya, di sela-sela jari orang tersebut terselip selembar tissue yang ditujukan untuk dirinya.
"Ini! Jangan menangis lagi, air matamu hanya akan terbuang sia-sia."
Suara datar namun penuh ketegasan membuat Karina seketika menolehkan kepalanya ke belakang.
"Kamu siapa?"
Karina langsung menghapus air matanya saat itu juga.
"Ini buat kamu!" kata cowok itu. Dia menyodorkan selembar tissue untuk Karina.
"Makasih." Karina menerima tissue itu, ia bergeser ke samping agar cowok tersebut bisa ikut duduk di sampingnya.
Mereka cuma berdua di sana, perasaan Karina cukup was-was meski dia terlihat masih tenang.
"Sama-sama." Cowok itu tersenyum lebar, senyum tulusnya cukup menawan. Namun, senyum itu tidak berhasil memikat hati Karina.
"Tapi kamu siapa? Kenapa bisa ada di sini? Jangan-jangan kamu penguntit ya?"
Karina semakin menggeser duduknya lebih dekat dengan pinggiran bangku panjang itu.
Tidak bisa terlalu percaya dengan orang yang tidak dikenal.
"Hahaha...." Cowok itu tertawa lepas mendengar ucapan Karina, dia merasa lucu melihat ekspresi takut di wajah gadis cantik di depannya saat ini.
"Kamu terlalu berburuk sangka sama aku, kenalin! Aku Vino Alvian. Seseorang yang akan membawamu menuju cinta sejatimu." Vino terkekeh dengan omongannya sendiri.
Karina semakin merasa cowok di depannya mulai tidak beres.
"Aku enggak mau tahu siapa nama kamu, yang membuat aku heran kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di sini?" tanya Karina. Ia masih menaruh rasa curiga pada Vino.
"Terlalu curigaan sama orang, apa karena aku orang asing?" tanya Vino dengan kepala sedikit menungging menatap wajah Karina.
"Jelas dong aku curiga, aku harus hati-hati sama orang yang sama sekali enggak aku kenal," ucap Karina gamblang.
"Yang penting aku kenal sama kamu," kata Vino dengan mata tak lepas memandang kecantikan paras gadis di depannya. Sayang kalau disia-siakan, jadi dia memilih untuk memandang Karina lama-lama.
Karina semakin risih dibuat cowok itu. "Aku harus pergi sekarang." Karina bangun dari duduknya, memutuskan untuk segera pergi dari sana.
"Eh, mau ke mana? Kita belum ngobrol loh."
"Aku mau pulang, ngobrol apaan? Aku juga enggak kenal sama kamu," tukas Karina. Dia jadi geram melihat sikap Vino yang menurutnya nyebelin itu. Belum kenal tapi sudah sok dekat saja, Karina tidak mau dekat dengan cowok seperti itu.
"Tapi aku belum tahu nama kamu siapa?"
"Panggil aja Karina!" seru Karina yang berjalan cepat meninggalkan gedung ang dia datangi tadi.
Vino tersenyum, menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Karina, nama yang bagus. Aku akan membuat kamu kembali dekat dengan Ardian, aku akan menyingkirkan tikus got itu dengan caraku." Vino tersenyum, matanya memandang ke atas langit yang mulai ditutupi awan hitam.
Vino akan secepatnya membuat Karina dan Ardian kembali bersama, tidak akan ada lagi yang namanya orang ketiga.
"Bersabarlah untuk beberapa waktu lagi, Karina. Aku akan membuat semuanya kembali seperti semula. Kamu dan Ardian akan kembali bersatu seperti dulu, aku janji." Vino mengalihkan pandangannya menatap Karina yang sudah semakin jauh dari tempatnya berada sekarang.
karina jadi bego gara" cinta
emilia jadi stress gara" cinta
ibu nya emil gangguan jiwa gara"?? sama aja kan, Cewek emang ya /Facepalm/