Suami Bajinganku Tersayang.
Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?
Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Membuatmu hampir celaka
Tak lama berselang, ajudan pribadi Leon yang bernama Tama datang dengan membawa tiga tas belanjaan besar bertuliskan nama sebuah department store terkenal yang ada di kota ini. Dia memberikan barang-barang itu pada Leon.
"Ini pesanan anda, Tuan," kata Tama. Lelaki bertubuh tegap itu sudah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya untuk Leon.
"Terima kasih, Tam. Pergilah sana! Minta pelayan untuk membawakan kami makanan dan minuman!" perintah Leon.
"Siap laksanakan, Tuan," sahut Tama menuruti instruksi tuannya.
"Ini kakak sudah membelikanmu baju ganti untukmu. Tapi maaf, Kakak hanya mengira-ngira ukurannya termasuk ukuran...." Leon menggantung kalimatnya.
"Ukuran?" tanya Ivanka singkat namun ingin segera dijawab karena dia sungguh penasaran ukuran apa yang Leon maksud.
Leon menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, "Astaga. Bagaimana aku harus menjawabnya," gumam Leon.
"Ukuran apa, Kakak?" Ivanka mengulang pertanyaannya.
"Ukuran itu maksudku, Vanka," jawab Leon sambil melirik dada Ivanka malu-malu.
Ivanka menggerakkan kepalanya menghadap ke bawah dan menatap gunung kembar miliknya, "Ya ampun," pekik Ivanka kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kakak tidak melihat hanya mengira-ngira saja, swear dech. Itu pun yang membeli assisten Kakak perempuan yang ikut menemani kita saat pemakaman orang tua kamu, ingat kan?" ucap Leon merasa tidak enak hati.
"Oh, iya aku ingat. Tapi ya sudahlah! Aku mau ganti baju dan berenang," seru Ivanka yang memilih untuk tidak ambil pusing dengan masalah ini.
Ivanka berjalan ke kamar mandi yang ada di dekat kolam renang. Dia membuka satu per satu tas belanjaan untuk memilih baju mana yang akan dia pakai untuk berenang. Syukurlah Leon tidak membelikannya swimsuit tapi hanya celana pendek ketat sebatas paha berwarna hitam dan juga tanktop seksi berwarna ungu muda. Baju itu sangat pas di tubuh Ivanka.
"Kakakku ini pintar sekali mengira-ngira ukuran badanku ya," kata Ivanka. Dia menyempatkan diri untuk mencari dalaman yang akan dia pakai setelah dia selesai berenang, "Wow..., kenapa ukurannya bisa tepat sasaran ya? Tiga puluh enam B. Sungguh Kak Leon ini mirip cenayang. Bisa tahu tanpa bertanya. Mana warnanya merah maroon seperti warna kesukaanku pula. Ckckck...." oceh Vanka. Memang tubuh Ivanka sangat seksi dan lebih padat dari gadis-gadis seusianya. Namun tetap saja dia akan terlihat mungil saat berada di dekat kakak angkatnya.
Ivanka keluar dari kamar mandi setelah selesai berganti baju. Saat ini Leon sedang duduk di bangku panjang yang terbuat dari anyaman. Lelaki itu terkesima saat melihat Ivanka berjalan ke arahnya. Tubuh aduhai Ivanka yang begitu menggoda dapat membuat Leon seperti terhipnotis dan tidak berkedip.
Sial. Pakai baju kayak gitu aja seksi lho. Apalagi kalau aku beliin baju renang tadi. Auto ke kamar mandi bawa sabun. Omel Leon.
"Kakak, kakak tidak ikut berenang?" tanya Ivanka sambil menjatuhkan dirinya dan duduk di sisi Leon.
"Tidak. Kamu saja, Vanka. Kakak tunggu kamu di sini," jawab Leon.
"Oke. Aku berenang dulu ya, Kakak," pamit Ivanka lalu beranjak dari tempatnya, "By the way, Kakakku ini memang hebat."
"Hah?" Hanya tiga huruf itu yang keluar dari mulut Leon karena dia tidak tahu dimana letak kehebatan yang Ivanka maksud.
"Tiga enam B," goda Ivanka.
"Apa?" tanya Leon kaget. Matanya sampai membulat dan terbelalak.
"Ha-ha-ha-ha...." Ivanka terkekeh melihat ekspresi Leon yang menggemaskan, kemudian dia menjatuhkan dirinya di dalam kolam renang yang airnya seolah sudah melambai-lambai dan ingin segera dijamah. "Byur..." suara air saat tubuh Ivanka terbenam ke dalamnya.
"Huh! Aku bisa gila!" omel Leon karena merasa sesak napas harus terus berdekatan dengan adik angkatnya yang semenarik Ivanka.
Skill Ivanka dalam berenang memang sangat bagus, berbagai gaya dia kuasai karena almarhum Papanya pun juga jago berenang. Dan dari beliaulah Ivanka belajar olah raga air tersebut.
Hampir sejam tapi Ivanka masih sibuk dengan aktivitasnya. Leon mengamati gadis itu dengan serius. Tubuh Ivanka yang basah semakin menambah keseksiannya. Hingga akhirnya ponsel Leon berdering nyaring dan membuyarkan konsentrasinya. Satu panggilan suara dari kolega bisnisnya. Leon beranjak dari tempat duduk untuk menerima telepon. Dia berjalan agak menjauh dari kolam renang namun tetap bisa mengawasi setiap pergerakan Ivanka. Dan saat inilah hal naas menimpa Ivanka. Tanpa sebab yang jelas dia merasa kedua kakinya keram bersamaan. Dan yang kita ketahui kalau keram adalah salah satu masalah yang serius dan berbahaya saat kita sedang berenang karena bisa membuat keseimbangan di dalam air menjadi terganggu.
"Ya Tuhan, kakiku," keluh Ivanka. Perlahan-lahan dia tidak dapat mengontrol tubuhnya. Ivanka mulai tenggelam. Tubuhnya hilang muncul di permukaan.
Leon menyadari ada yang tidak beres pada adiknya. Dia dengan cepat melempar ponsel yang ada di tangannya ke sembarang arah hingga hancur berkeping-keping.
"Vanka!" teriak Leon lalu berlari dan ikut masuk ke dalam kolam. Dia menggerakkan kedua tangannya dengan cepat mengarungi air dan mendekat pada tubuh Ivanka yang sudah tidak muncul lagi di permukaan. Leon panik bukan kepalang namun akhirnya dia berhasil membawa tubuh gadis itu ke pinggir kolam meski dengan susah payah.
"Vanka, are you okay?" tanya Leon dengan sekujur tubuh yang gemetaran saking takutnya, dia menepuk-nepuk pipi Ivanka, "Tama! Tolong aku!" Leon memanggil asistennya. Dengan cepat Tama pun datang.
"Ada apa, Tuan?" tanya Tama.
"Ivanka tenggelam. Bagaimana ini? Vanka, ayo bangun!" Leon mengusap-usap punggung tangan Ivanka. Kemudian dia juga menekan-nekan perut Ivanka agar air yang masuk ke dalam paru-paru gadis itu bisa keluar. Tapi usahanya tak juga membuahkan hasil. Ivanka masih belum memberikan reaksi.
"Beri napas buatan, Tuan," kata Tama memberi saran.
"Apa? CPR Maksudmu?" tanya Leon. Dia masih terus menekan-nekan perut Ivanka.
"Iya, Tuan. Hanya itu jalan satu-satunya," jawab Tama.
"Ya ampun, mana mungkin aku menyentuh bibir gadis lugu ini," keluh Leon.
"Kalau anda tidak mau, biar saya saja, Tuan," sahut Tama.
"Mau mati kau? Aku lempar kau ke dasar jurang bila berani menyentuhnya!" sentak Leon tidak terima.
"Jangan marah, Tuan! Cepat lakukan sekarang! Atau Nona Ivanka bisa lewat," ucap Tama membuat Leon semakin panik.
"Diam!" bentak Leon.
Ya ampun sejak kapan Tuanku ini peduli dengan keselamatan wanita? Galaknya lho, seperti srigala minta kawin. Gerutu Tama.
Leon segera memberikan napas buatan pada Ivanka. Meski bukan ahli medis tapi dia paham bagaimana caranya. Pertama Leon menaikan dagu Ivanka ke atas, setelah itu Leon menutup hidung Ivanka dan perlahan mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu.
"Maafkan kakak, Vanka. Kakak terpaksa," terang Leon sebelum memulai aksinya.
"Oh my God," seru Tama kemudian menutup matanya dengan kedua tangan. Padahal apa yang Tama lakukan adalah hal yang percuma, nyatanya lelaki itu tetap saja mengintip dari sela-sela jari jemarinya.
Bibir Leon dan Ivanka kini sudah menyatu.
Astaga! Bukan saatnya untuk berpikir mesum gob*lok! Pikir Leon. Dia mengomeli dirinya sendiri yang cukup breng*sek karena bisa-bisanya bergetar di saat urgent seperti ini.
Leon mulai meniup napas kuat-kuat agar oksigen bisa masuk ke dalam paru-paru Ivanka. Beberapa saat mencoba upayanya ini akhirnya membuahkan hasil. Dia segera melepas bibirnya saat Ivanka terbatuk-batuk. Leon memiringkan tubuh gadis itu dan menepuk-nepuk punggungnya. Banyak air yang keluar dari dalam paru-paru Ivanka. Leon pun lega.
"Vanka, kamu baik-baik saja kan? Ayo kita ke rumah sakit sekarang."
"Aku baik-baik saja, Kakak. Kakiku keram dan itu membuatku tenggelam. Terima kasih, lagi-lagi Kakak menyelamatkan aku," ujar Ivanka.
Leon menarik tubuh Ivanka dalam dekapannya, "Kamu membuat Kakak takut, Vanka. Mulai sekarang Kakak tidak mengijinkanmu untuk berenang lagi," larang Leon.
"Kakak, kenapa begitu? Itu hal yang biasa," bantah Ivanka.
"Biasa menurutmu tapi tidak menurutku. Tolong! Turuti apa kataku. Aku sungguh takut terjadi hal yang buruk denganmu," tegas Leon. Dia masih terus memeluk Ivanka seolah takut kehilangan.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jangan lupa buat like, komen dan vote setelah membaca ... happy reading.
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
g ada dewasa2 nya....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Aku kemari ngapain😭