Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Jejak Yang Tertinggal
Percakapan mereka perlahan mereda. Bu Rahayu akhirnya berdiri dan kembali ke kamarnya, sementara Anjani masih duduk sendiri di ruang tamu.
Suasana rumah kembali tenang.
Terlalu tenang.
Jarum jam yang bergerak pelan di dinding terdengar lebih jelas dari biasanya. Sesekali suara kendaraan melintas dari jalan depan rumah, lalu menghilang lagi meninggalkan kesunyian yang sama.
Anjani menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Namun pikirannya tidak ikut beristirahat.
Ucapan ibunya memang terdengar masuk akal.
Mungkin Alden hanya datang untuk meminta maaf.
Mungkin ia memang hanya ingin menutup sesuatu yang selama ini belum selesai.
Mungkin semua keanehan yang ia lihat hanyalah perasaannya sendiri yang terlalu banyak bekerja setelah pertemuan yang tidak pernah ia duga akan terjadi.
Tapi semakin ia mencoba menerima penjelasan itu, semakin banyak hal yang justru terasa tidak cocok.
Ia kembali teringat cara Alden menatapnya.
Cara pria itu beberapa kali terdiam terlalu lama sebelum menjawab.
Cara ia berbicara seolah setiap kalimat sudah dipikirkan berulang kali jauh sebelum malam ini.
Dan yang paling mengganggunya...
Cara Alden pergi.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada usaha untuk memperpanjang percakapan.
Tidak ada keinginan untuk bertahan sedikit lebih lama.
Seolah tujuan kedatangannya memang hanya satu.
Datang.
Mengatakan semuanya.
Lalu pergi.
Anjani mengembuskan napas pelan.
Dadanya semakin terasa tidak nyaman.
Akhirnya ia berdiri.
Langkahnya membawanya menuju kamar tanpa benar-benar ia sadari.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, matanya langsung mengarah ke sudut ruangan tempat lemari kecil berdiri.
Lemari lama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah benar-benar ia buka.
Entah kenapa, malam itu ia merasa harus mencarinya.
Harus menemukan sesuatu.
Apa pun itu.
Ia segera berjongkok di depan lemari, lalu membuka pintunya.
Aroma kertas tua langsung menyeruak keluar.
Aroma khas barang-barang lama yang terlalu lama disimpan.
Tangannya mulai memindahkan satu demi satu isi lemari.
Map-map sekolah.
Kotak pensil yang sudah tidak terpakai.
Album foto.
Buku pelajaran yang sampulnya mulai menguning.
Beberapa foto lama bahkan terjatuh ke lantai.
Anjani mengambil salah satunya.
Foto kegiatan sekolah.
Ada dirinya.
Ada teman-teman sekelasnya.
Dan di sudut belakang foto itu...
Alden.
Ia menatap foto tersebut beberapa saat.
Wajah Alden saat SMA masih sangat jelas di ingatannya.
Tinggi.
Kurus, tapi atletis.
Selalu bergerak ke sana kemari seperti tidak pernah kehabisan energi.
Kalau sedang berbicara, suaranya terdengar yakin.
Kalau sedang kesal, semua orang bisa langsung mengetahuinya.
Kalau sedang tertawa, seluruh ruangan bisa ikut mendengarnya.
Pria yang selalu terlihat hidup.
Dan karena itulah sosok Alden malam ini terasa begitu asing.
Terlalu berbeda.
Terlalu jauh dari yang ia kenal.
Anjani meletakkan foto itu kembali.
Lalu melanjutkan pencariannya.
Sampai akhirnya jemarinya menyentuh sebuah buku notes ukuran A5 dengan cover pink lembut yang warnanya sudah memudar dimakan usia.
Gerakannya langsung berhenti.
Buku itu.
Ia mengenalinya hanya dari sekali lihat.
Perlahan ia menarik buku tersebut keluar.
Debu tipis menempel di sampulnya.
Buku itu membawa terlalu banyak kenangan yang selama ini sengaja ia simpan jauh di sudut ingatannya.
Bukan buku harian.
Isinya hanya kumpulan hal-hal random yang dulu sering ia tulis tanpa tujuan khusus.
Anjani duduk di tepi ranjang, lalu membukanya perlahan.
Halaman demi halaman menampilkan tulisan tangannya sendiri dari bertahun-tahun lalu.
Ada catatan pelajaran, daftar tugas sekolah, coretan-coretan iseng saat bosan di kelas, hingga potongan kalimat yang bahkan sudah tidak ia ingat pernah ditulis.
Beberapa membuatnya tersenyum kecil.
Beberapa lainnya justru terasa memalukan untuk dibaca kembali.
Namun semakin lama ia membuka halaman-halaman itu, semakin banyak kenangan lama yang ikut muncul tanpa diundang.
Kenangan yang selama ini tidak pernah benar-benar hilang, hanya tertimbun oleh waktu.
Sebagian besar isi buku itu bercerita tentang Alden.
Tentang kebaikannya semasa SD dan SMP.
Tentang perubahan sikapnya ketika mereka memasuki SMA.
Tentang kenakalannya yang sering membuat Anjani kesal.
Tentang kekecewaan yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
Dan tentang mimpi-mimpi yang pernah ia simpan diam-diam bersama Alden, jauh sebelum mereka berubah menjadi dua orang yang berjalan ke arah yang berbeda.
Anjani menghentikan bacaannya sejenak dan tersenyum kecil.
Pahit.
Pandangannya terangkat dan jatuh pada satu titik kosong di dinding kamar.
Entah berapa lama ia hanya terdiam di sana, membiarkan pikirannya hanyut mengikuti kenangan-kenangan yang kembali bermunculan.
Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tidak tahu harus ia beri nama apa.
Ia menghela napas panjang.
Lalu menundukkan kepala kembali dan membuka halaman berikutnya, membiarkan lembaran-lembaran itu membawanya semakin jauh ke masa lalu.
Di salah satu halaman bahkan tertulis:
"Alden nyebelin banget."
Di halaman lain:
"Kalau besok dia masih begitu aja, aku lempar buku."
Lalu beberapa halaman setelahnya:
"Hari ini Alden nggak masuk sekolah. Aneh, kok malah sepi."
Anjani langsung menutup mata sebentar.
Memalukan.
Tapi juga menyakitkan.
Karena ia masih mengingat hampir semua kejadian yang melatarbelakangi tulisan-tulisan itu.
Pertengkaran mereka.
Perdebatan tidak penting.
Candaan yang sering berakhir menjadi adu mulut.
Dan kebiasaan mereka saling mencari 'gara-gara' hampir setiap hari.
Terlalu banyak kenangan yang ternyata masih tersimpan rapi di dalam dirinya.
Ia membuka halaman demi halaman lebih jauh.
Sampai akhirnya gerakannya berhenti.
Di pojok salah satu halaman terdapat deretan angka yang ditulis dengan tinta biru.
Nomor telepon rumah keluarga Alden.
Anjani terdiam.
Matanya terpaku cukup lama pada tulisan itu.
Bertahun-tahun nomor tersebut tersimpan di sana.
Bertahun-tahun pula ia tidak pernah mencoba menghubunginya.
Bukan karena tidak ingin.
Tetapi karena gengsi yang sama besarnya dengan rasa sakit yang ia simpan.
Selama ini ia selalu menganggap dirinya tidak peduli.
Namun malam ini, melihat nomor itu kembali membuatnya sadar bahwa sebagian dari dirinya ternyata tidak pernah benar-benar berhenti mengingat.
Tangannya perlahan meraih ponsel.
Dadanya mulai berdebar.
Ragu.
Namun rasa ingin tahunya jauh lebih besar.
Sebelum keberaniannya menghilang, ia menekan satu per satu angka yang tertulis di buku itu.
Nomor itu tersambung.
Jantung Anjani langsung berdegup lebih cepat saat terdengar nada sambung di seberang sana.
Tak lama kemudian, suara seorang perempuan terdengar mengangkat telepon.
"Halo, selamat malam. Rumah keluarga Pak Armanto Setiawan... dengan Bi Inah di sini."
Anjani sempat terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya menjawab pelan.
"Halo... selamat malam Bi Inah?"
"Iya, malam. Ini siapa ya?"
Anjani menelan ludah pelan.
"Alden ada, Bi?"
"Oh, Mas Alden nggak ada, Neng."
Anjani langsung duduk lebih tegak.
"Kemana?"
"Ke Kalimantan."
Jantung Anjani semakin berdebar.
"Sejak kapan, Bi?"
"Baru pagi tadi berangkatnya."
Anjani langsung terdiam.
"Memang ada apa ya, Neng?" lanjut Bi Inah ramah. "Kalau ada pesan nanti saya sampaikan. Ini dengan Neng siapa ya?"
Dadanya mendadak berdebar lebih kencang.
Ia memang menelepon karena ingin mencari tahu tentang Alden.
Tetapi bukan untuk memperkenalkan dirinya.
Belum.
"Ini dengan Neng siapa ya?" ulang Bi Inah.
Anjani menggigit bibir bawahnya pelan.
Tanpa berpikir panjang, ia segera memutus sambungan telepon.
Tut.
Tangannya perlahan turun dari telinga.
Kamar mendadak terasa sunyi.
Terlalu sunyi.
Tatapannya kosong menatap layar ponsel yang sudah gelap.
Sementara satu kalimat terus berputar di kepalanya:
Baru pagi tadi berangkatnya.
Baru pagi tadi.
Anjani menatap kosong ke depan.
Lalu mulai menghitung sendiri.
Jakarta.
Kalimantan.
Datang ke rumahnya.
Lalu pergi lagi.
Semua itu dilakukan dalam satu hari.
Satu hari.
Semakin dipikirkan, semakin terasa tidak masuk akal.
Kalau hanya ingin meminta maaf, kenapa harus terburu-buru seperti itu?
Kenapa tidak datang besok?
Kenapa tidak beristirahat dulu?
Kenapa harus malam ini juga?
Dan yang lebih mengganggunya lagi...
Bagaimana Alden bisa menemukan alamat rumahnya?
Ia dan ibunya sudah lama pindah.
Tidak banyak orang yang tahu keberadaan mereka sekarang.
Artinya Alden pasti sudah mencari tahu jauh sebelum hari ini.
Mungkin berminggu-minggu.
Mungkin berbulan-bulan.
Atau bahkan lebih lama.
Tapi kalau memang sudah selama itu...
Kenapa baru sekarang datang?
Kenapa baru sekarang bicara?
Anjani berdiri dari tempat duduknya dan mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
Semakin banyak pertanyaan bermunculan.
Semakin banyak hal yang terasa tidak cocok.
Lalu perlahan ia menyadari sesuatu.
Yang paling mengganggunya ternyata bukan pengakuan cinta Alden.
Bukan pula permintaan maafnya.
Melainkan cara Alden berbicara.
Cara pria itu memilih kata-kata.
Cara ia terus menegaskan bahwa semuanya akan selesai setelah malam ini.
Cara ia mengatakan bahwa ia tidak akan datang lagi.
Seolah waktu yang ia miliki sangat sedikit.
Seolah ada sesuatu yang sedang ia kejar.
Atau sesuatu yang sedang ia tinggalkan.
Anjani berhenti melangkah.
Tubuhnya mendadak menegang.
Tatapan Alden saat berpamitan kembali muncul jelas di ingatannya.
Wajah yang pucat.
Mata yang lelah.
Napas yang terasa berat.
Dan senyum tipis yang terlihat lebih seperti usaha terakhir untuk menenangkan orang lain daripada dirinya sendiri.
Itu semua bukan Alden yang ia kenal!
Jantung Anjani berdetak semakin cepat.
"Nggak..." gumamnya lirih.
Namun firasat buruk itu sudah terlanjur tumbuh.
Dan semakin ia mencoba mengusirnya, semakin kuat pula perasaan itu bertahan.
Dan bagaimana kalau firasatnya benar?
Bagaimana kalau selama ini Alden menjauh bukan karena ingin menjauh, melainkan karena sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui siapa pun?
Bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏