bagaimana mungkin sakit hati bisa sesakit ini?
bagaimana mungkin keadaan rumit ini menghampiriku?
tolong tuhan, aku juga manusia jika seperti ini aku juga akan melemah, sangat menjadi lemah.
tapi Tuhan memang luar biasa tidak ada rasa sakit yang tidak tergantikan dengan bahagia. semuanya hanya soal waktu.
#Pemeran Utama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widi Nuramalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pagi ini aku segera pergi ke kafe biasa tempat aku dan Rio bertemu. Rio Sudah ada disana. Dia selalu manis dan tampan dilihat dari sudut manapun membuat jantungku tidak mau diam, terus saja melompat ditempatnya, padahal hanya melihat dia dari jauh.
"Pagiiii" sapanya tersenyum manis
"Pagi. Udah lama?" Kutanya
"Nggk. Sama siapa?"
"Sendiri." Kujawab
"Mau pesen apa?" Tanyanya. Dengan itu saja sudah membuatku merasa Rio benar-benar berubah. Biasanya dia tidak seperti ini. Selama ini aku pacaran dengan dia, dia tidak pernah menanyakan makanan apa yang akan kupesan terlebih dahulu. Dia hanya akan menatapku lekat dibandingkan menawarkan akan makan apa, apalagi sudah tiga Minggu aku dan dia tidak bertemu.
"Yang biasa aja" kujawab dengan malas
"Oke katanya" dan dia memesan apa yang seharusnya dipesan. Sepanjang menunggu pesanan datang Rio hanya fokus kepada Hpnya dan aku benci dengan keadaan itu
"Kamu lagi chat sama siapa si?" Tanyaku
"Hah? Oh nggk aku gak lagi chat aku cuma lagi cek gambar-gambar aku aja yang bakalan di kirim ke proyek buat even selanjutnya." Jawabannya
"Oh" jawabku dan memaksakan untuk tersenyum lalu dia fokus lagi ke hpnya.
"Iya" jawabnya sembari membalas senyumanku lalu fokus kembali ke hpnya. Sampai akhirnya makanan datang datang dia hanya fokus dengan makanannya.
"Kamu sibuk?" Kutanya dia
"Lumayanlah" jawabnya pendek sekali. Aku berusaha sabar untuk menghadapi situasi ini. 4 hari yang lalau adalah genap 5 bulan hubunganku dengannya tapi dia tidak mengucapkan apapun kepadaku aku berusaha berfikir positif bahwa dia akan memberikan surprise kepadaku hari ini tapi sepertinya itu tidak akan terjadi.
"Hila sorry abis ini aku harus balik lagi ke Jakarta" katanya
"Oh iya" kujawab pendek
"Sorry banget gak bisa jalan" lanjutnya
"Iya gakpp" ku jawab pendek lagi. Dengan dada yang terasa sangat sesak.
"aku ke toilet dulu" pamit ku dan dia mengangguk. Aku Berjalan ke Toilet dan menangis disana. Rasanya ingin ku keluarkan dari tadi air mataku, entahlah setelah melihat Rio hari ini aku benar-benar percaya dengan ramalan Nila kalo Rio memang memiliki wanita lain. Walaupun aku berusaha untuk tidak mempercayainya tapi siatusi ini perlahan meyakinkanku dengan sengaja. Setelah selesai Aku segera membersihkan wajahku lalu kembali.
"Kamu gkpp?" Tanyanya
"Apa?" Kutanya
"Lama amat"
"Oh biasalah cewek" jawabku dan kulihat makanannya sudah hampir habis "Rio aku boleh nanya sesuatu?" Tanyaku
"Tentu" jawabnya
"Kamu kenapa?" Tanyaku
"Kenapa?" Tanyanya ulang
"Aku rasa kamu berubah. Kamu ada masalah? Aku ada salah sama kamu?" Tanyaku dan dia menyimpan sendoknya
"Nggk ah. ini aku Hila gak ada yang berubah" jawabnya
"Kamu gak inget 4 hari yang lalu hari apa gitu?" Tanyaku
"Kamis? Ih maksudnya apa si? Ayo dong gak usah pake teka teki" katanya. Aku langsung saja berdiri rasanya air mataku akan kembali turun
"Aku pulang duluan kalo mau ke Jakarta lagi hati-hati di jalan. Kalo punya waktu kasih tau aku kalo kamu udah sampe" kataku lalu pergi
"Hila tunggu. Kamu kenapa si?" Tanyanya tapi aku terus saja berjalan tanpa memperdulikannya.
"Hila tunggu dong jangan kaya anak kecil kek gini" katanya dan memegang lengan ku dan aku berhenti
"Apalagi?" Kutanya dengan air mata yang turun perlahan
"Kamu nangis? Kamu kenapa?" Tanyanya seperti orang bego
"Kamu masih nanya aku kenapa? Setelah semua yang udah kamu lakuin ke aku kamu masih nanya aku kenapa? Kamu yang kenapa? Kamu berubah? Kamu gak ingetkan 4 hari yang lalu hari jadi ke 5 bulan? Oke mungkin itu kaya anak ABG terlalu alay tapi kamu lupa dengan itu, itu bukan kamu yang kaya biasanya. Kalo kamu ngerasa bosen sama aku kamu ngomong. Ngomong aja Rio" kataku
"Kamu kenapa si? Aku berubah apa? Aku jarang ngabarin kamu karna aku sibuk. Aku lupa karna aku juga manusia. Ko kamu malah nanya aku bosen apa nggk. Bukannya dengan kamu kaya gini kamu yah yang kayanya bosen sama aku?" Katanya
"Se sibuk apa si pekerjaan kamu sampe gak bisa ngetik nama Hila satu hari sekali hah? Sekedar ngasih emoticon kamu gak bisa? Sesibuk itu?" Tanyaku kesal
"Ko kamu kaya anak kecil si? Hila kita udah dewasa kita bukan ABG lagi. Hubungan kita bukan tentang ngasih kabar tiap hari atau mengingat setiap tanggal jadi di setiap bulan. Kita udah dewasa hubungan yang dewasa tuh gak gitu"
"Iya aku kaya anak kecil kenapa emang? Terus menurut kamu seperti apa hubungan yang dewasa? Yang ngasih kabar 2 kali sehari dan itu pun cewek yang chat duluan?"
"Hila aku sibuk. Kamu jangan egois dong kamu ngertiin aku sedikit lah"
"Kamu pengen di mengerti terus. Sedangkan kamu, kamu gak pernah ngertiin aku. Kamu bilang aku egois? Introspeksi diri Rio introspeksi apa dengan sikap kamu kaya gini kamu gak egois?" Kataku
"Ck.. oke oke aku minta maaf Hila tapi demi apapun aku sibuk aku bener-bener sibuk. Oke aku minta maaf yah"
"Yaudah lah sana kalo kamu mau balik ke Jakarta kamu sibuk kan. Aku juga mau pulang. Cape" jawabku dan pergi dengan mengusap kasar air mataku yang masih mengalir di pipiku
☘☘☘
"Udah dong Hila, masa mau nangis terus udah lah mungkin emang Rio sibuk kan." Kata Hira mengelus kepalaku yang sedang menangis
"Hila kenapa Hir?" Tanya Rino yang baru saja datang dan Hira menjelaskan apa yang ku jelaskan tentang Rio dan kejadian tadi kepada Rino
"Saran gue yah Hil, mending Lo ikutin kata hati Lo, Lo mau tetep positif thinking atau mau gimana? Tetep bertahan juga kan Lo yang ngerasa sakit." Kata Rino
"Tapi No gue gak mau putus sama dia" kataku
"Iya gue ngerti makanya gue serahin lagi ke elo Lo mau kek gimana? masing-masing keputusan punya jalannya Hil. Mau bertahan dengan thinking negatif Lo? Hemh?" Tanya Rino dan aku tidak menjawab aku hanya terus saja menangis dipelukan Hira.
"Sayang, ngomong dong ke Rio dia kenapa? Mau dia apa? Jangan giniin Hila lah." Pinta Hira
"Bukannya gak mau bantu tapi aku sama Rio udah dewasa kali sayang , udah gak sepantasnya juga aku harus ikut campur urusan peribadinya. Aku yakin ko Rio bakalan ngambil keputusan terbaik setelah ini." Kata Rino
"Keputusan setelah ini?" Tanyaku "apa?"
"Ya gak tau. Tapi yang pasti dia bakalan ngambil keputusan terbaik buat semua ini. Semua yang dilakuin manusia tuh gak mungkin tanpa sebab dan keputusan yang nantinya diambilpun gak mungkin nggk menimbulkan akibat. Udahlah berenti galau-galau mending fokus sama UAS Minggu depan, itu lebih penting dan bermanfaat." Kata Rino menepuk punggungku.
"Setuju. Ayo dong Hila semangat ah" kata Hira
"Hai everybody" sapa Nila yang baru saja sampai di kafe Hira "ada apa nih peluk-pelukan gini?" Tanyanya "lah Hila Lo nangis? Ya ampun kenapa?" Tanyanya dan aku langsung memeluknya
"Sedih gue" kataku
"Kenapa? Flashdisk tugas Lo ilang lagi kaya dulu?" Tanyanya polos. Nila memang lemot tapi dia bisa mengingat kejadian yang sudah lama. Dan tentang flashdisk itu kejadian hampir dua tahun yang lalu saat flashdisk yang isinya tugas dosen killer ku hilang dan aku nangis-nangis ke Hira karna takut harus ngulang semuanya dari awal.
"Bukan ah" ku jawab sambil sedikit tersenyum dipelukannya
"Terus kenapa? Rio gak jadi kesini lagi?" Tanyanya
"Bukan." Ku jawab lagi
"Terus kenapa? Lo laper?" Tanyanya
Yaelah nyet gue kalo laper gak perlu sampe nangis-nangis kek gini gak berbobot banget si pertanyaan Lo. Batinku
"Hadeuhhh kumat dah. Udahlah ayo makan gue kasih gratis deh spesial hari ini." Kata Hira
"Waaaah Suka tuh gue. Ayo ah Hil makan jangan nangis" kata Nila. Kulihat Rino hanya tersenyum lebar melihat kelakuan aku Hira dan Nila.
Aku selalu bersyukur kepada Tuhan karena sudah di beri kedua sahabat yang istimewa seperti mereka.
☘☘☘
semangat thot buar bsa up trus 😁😁
up dong...