Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Berdua
(Makan Malam Berdua)
Apapun yang terjadi, Berjalanlah tanpa henti
Air mata tertahan, Waktu untuk dijatuhkan.
Nanti kita kan tahu, Betapa bijaknya hidup
Sepahit apapun ini, Pelajaran yang berarti.
****
Nyanyian dari Siti Nurhaliza mengalun lembut menemaniku dalam perjalanan pulang. Aku sengaja memutar lagu ini dalam mobil, sekedar untuk mengusir kejenuhan. Entah mengapa setiap liriknya begitu mengena di hati, mungkin karena kisah dalam lagu tersebut hampir sama dengan kisah yang aku alami saat ini.
Ya, seperti Siti Nurhaliza katakan, nanti aku juga akan tahu betapa bijaknya hidup, meski sepahit apapun yang terjadi, pasti ada pelajaran yang berarti.
Ditengah perjalanan, aku sengaja mampir di sebuah rumah makan yang letaknya tepat di pinggir jalan yang sedang aku lalui, guna membeli beberapa lauk untuk makan malam nanti.
Maklum, semenjak ada Bi Ijah di rumah, aku jarang sekali memasak karena semua urusan masak-memasak menjadi tanggung jawabnya seratus persen.
Ah, baru satu hari di tinggal pulang kampung oleh Bi Ijah, aku sudah merindukannya. Cepat balik ya, Bi!
Tiit ... Tiit!
Aku menoleh kearah suara klakson mobil yang baru saja parkir tidak jauh dari tempatku berdiri. Seorang lelaki paruh baya keluar dari mobil berwarna putih tersebut. Aku terhenyak, melihat Pak Indra juga keluar dari pintu kemudi lalu menyungging seyum ke arahku.
Aku membuang muka, mempercepat langkah untuk menghindari lelaki tua tersebut.
"Rini!" Pak Indra memanggilku.
Aku menghentikan langkah sejenak, lalu tanpa menoleh kembali melangkah.
"Saya baru tahu, ternyata kamu memiliki hubungan khusus dengan Riski." ucapnya lagi, kali ini dengan nada tinggi.
Deg! Aku berhenti lalu menoleh kearah Pak Indra dengan tatapan tak ramah, lelaki tua itu tersenyum menyeringai begitu juga temannya.
"Apa yang telah kamu berikan padanya, sehingga ia mau menyerahkan uang dengan jumlah besar untuk mu."
Mendengar ucapannya, tiba-tiba saja aku ingin sekali menampar wajah keriput tersebut.
Namun, tak ingin membuang-buang waktu dengan lelaki tua yang miski moral, aku mempercepat langkah menuju mobil, dari dalam mobil samar-samar terdengar kedua pria tua tertawa. Entah mengapa aku merasa jika mereka sedang menertawakanku.
*****
Setelah sembahyang magrib, aku membaca surat Yasin dan al-Waqi'ah dengan niat agar Allah menjadikan kedua surah tersebut sebagai obat bagi ketenangan hati dan pikiran, dan memang benar, dengan izin Allah setelah selesai membaca kedua surat tersebut hati dan pikiranku kini lebih tenang.
Sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra'du yang artinya "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram"
Aku melipat semua perlengkapan sembahyang, meletakkan pada tempatnya, lalu meraih ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas kasur. Ah! Apa ini, kenapa tiba-tiba aku berharap ada pesan masuk dari kontak Riski? Tidak ... Tidak! ini gila, apa aku sudah tidak waras lagi sekarang?
Menyadari kekonyolan, aku melempar kembali benda pipih itu keatas kasur lalu menepuk-nepuk pipi dengan kedua tangan.
Ting ... Tong! Ting ... Tong!
Ah, siapa malam-malam begini bertamu kerumahku, apa mungkin itu adalah Dita? Aku meraih ponsel kembali lalu mengecek, mungkin ada pesan dari Dita yang belum sempat aku baca.
Tapi ternyata nihil, tidak ada pesan apapun dari gadis galak itu.
Aku beranjak ke depan untuk mengecek siapa yang datang, dengan menyibak sedikit gorden, aku mengintip keluar.
Bola mataku membulat sempurna, apa aku salah lihat? Untuk apa lelaki kulkas itu bertandang kerumah malam-malam begini? Dan apa itu di tangannya? Rantang? Untuk apa ia membawaku rantang?
Aku membuka pintu, mendapati Riski mematung di depan pintu dengan menatap pias kearahku.
"Ada apa bapak malam-malam kesini?" tanyaku ketus.
Ia tak menjawab tapi langsung masuk mendahului ku tanpa sepatah kata. Aku berbalik arah menatap punggungnya dengan mulut menganga. Lelaki itu memang paling bisa membuat moodku menjadi buruk.
"Ini dari Oma, Ia memaksaku untuk mengantarkan ini kepadamu." ucap Riski sambil meletakkan rantang di atas meja.
Aku menatap benda kotak tersebut, lalu meraih dan membuka penutup. Bubur ayam lengkap dengan topingnya, baunya yang harum membuatku menelan lulah tiba-tiba.
"Tolong sampaikan rasa terimakasihku pada nyonya Dwi." ucapku sambil menatap wajahnya.
"Kau sudah makan?" tanya Riski tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyaku dengan nada cuek.
Riski bangkit, lalu menyambar rantang berisi bubur dan membawanya belakang, aku mengikutinya dengan tatapan heran.
Ia meletakkan rantang di atas meja makan lalu meraih dua buah piring kosong beserta sendok dan garpu.
"Kenapa bengong? Kau pasti belum makan, aku juga belum sempat makan malam. Ah! Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk, hingga makan saja hampir tidak punya waktu."
Aku bergeming, masih dengan tatapan heran menyaksikan lelaki kulkas yang tiba-tiba saja menjadi hangat.
"Sudah, Bu, acara semedinya, kebiasaan!" ucapnya membuyarkan lamunanku.
Aku tersenyum simpul, menarik kursi yang berhadapan denganya untuk duduk.
Suasana menjadi hening, aku terdiam begitu juga dengan Riski, hanya suara denting sendok dan karpu yang terdengar.
"Bubur buatan nyonya Dwi memang enak," tanyaku memecah keheningan.
"Bukan buatan Oma, tapi Bi Nur yang memasak." jawab Riski lembut.
"Oh!"
Riski menatapku sejenak, tiba - tiba saja pandangan kami kembali bertemu, beberapa detik kami saling menatap tanpa ekpresi apapun.
" Masalah tunangan itu, tolong bapak pikirkan lagi, bukankah perjanjian awalnya saya hanya menjadi perawat lansia bagi nyonya Dwi."
"Riski meletakkan sendok dan garbu di tanganya, meraih gelas minuman lalu meneguknya setengah.
"Aku berubah pikiran." ucapnya sambil mengelap mulut dengan tisu.
Aku menghela nafas kasar,"Bapak tidak bisa seenaknya bertindak, ini penipuan, saya bisa menuntut bapak dengan tuduhan pemerasan dan penipuan."
Riski tertawa terbahak beberapa saat, entah mengapa aku suka melihatnya tertawa, sesuatu yang jarang ia lakukan. Orang-orang bahkan mengenalnya sebagai pria yang selalu serius dan dingin. Aku bahkan baru-baru ini melihatnya tertawa lepas.
"Rini .... Rini! Santai, gak perlu panik seperti itu, ini cuma formaliras di depan Oma aku aja. Lagipula kamu tau sendirikan jika Oma berharap penuh padamu, memangnya kamu mau membuat Oma sampai kecewa?"
Aku menatap gelang pemberian Oma, kata-kata yang ia ucapkan saat memasangkan gelang waktu itu, tergiang jelas di telingaku.
Kembali aku menghembus nafas sambil menatap pias lelaki di hadapanku yang sedang memasang senyum imut.
"Kalau begitu, katakan padaku apa rencana bapak setelah kita bertunangan?" tanyaku dengan tanpa semangat.
"Tidak ada rencana apapun yang berarti, kita bertunangan lalu membantuku untuk meyakinkan Oma jika kita akan segera menikah dan ..."
"Apa? Menikah maksud Bapak?" tanyaku menyela.
"Se-ge-ra menikah, Bu! Bukan menikah!" lanjudnya dengan penekanan disetiap kata.
"Ok! Terus?"
"Jadi sebenarnya gini, aku ini adalah satu-satunya cucu laki-laki di keluarga Oma, jadi Oma sangat ingin melihatku menikah disisa hidupnya itu."
"Lalu, kenapa Bapak tidak menikah, bukankah Bapak sudah punya kekasih, kenapa tidak nikahi dia," ucapku asal, karena yang aku tahu, ia belum punya kekasih.
"Oma tidak suka dengan Ruka, jika saja ia merestui, sudah dari dulu kami menikah."
Deg! Aku terkejut mendengar pengakuanya. Jadi Ruka bukan hanya bawahannya saja, tapi juga kekasihnya. Entah mengapa hatiku terasa kemarau mengetahui semua ini. entahlah, seperti ada desir kecewa yang pelan-pelan merambat di sudut hati.
"Kenapa Nyonya Dwi menentang hubungan kalian? Aku lihat Ruka, gadis yang baik."
"Ruka bukan gadis lagi, ia sudah pernah menikah lalu becerai 3 tahun yang lalu."
"Jadi alasan Oma menolak, karena Ruka janda?"
Riski mengangguk, sementara aku merasa kurang yakin jika itu alasannya, karena beberapa kali pernah melihat perempuan itu bergandengan mesra dengan pria selain Riski. Aku bahkan menilainya ia wanita yang suka bermain-main dengan banyak pria.
Sebuah panggilan muncul di layar ponsel Riski, "Ruka memanggil!" ucabnya sambil menempelkan benda pipih ini di telinganya.
"Ia sayang, aku akan segera kesana." ucapnya sambil bangkit, lalu izin pamit dan pergi.
Aku menatap ia sampai menghilang terhalang dengan dinding yang memisahkan ruang makan dengan ruang tamu. Dari kejauhan terdengar suara pintu tertutup.
Aku masih duduk mematung, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa sesuatu yang mengganjal di hati itu bukanlah benih-benih cemburu apalagi bisik-bisik kekecewaan. Tidak! Pria kulkas itu bukanlah typeku.
Bersambung ....
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏