NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:252.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Serba Salah

Pikiran Supar melayang ke insiden beberapa bulan lalu, ketika seorang pemuda dari desa sebelah memberanikan diri mendekati Airin meskipun sudah diperingatkan. Akibatnya, pemuda itu dihajar habis-habisan oleh anak buah Wongso, sampai tubuhnya terkapar dan harus dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh.

Supar bergidik ngeri mengingat kejadian itu. la tahu betul tak ada yang berani melaporkan Wongso. Juragan itu terlalu kuat, terlalu licik. Dengan kekayaannya, ia mempekerjakan para tukang pukul setia yang siap melampiaskan kemarahan Wongso kapan saja, tanpa meninggalkan jejak yang bisa menjeratnya secara hukum.

Supar menghela napas panjang. Ia hanya bisa berharap hari ini tidak berakhir dengan kekerasan, meskipun dalam hati kecilnya, ia tahu Wongso pasti akan melakukan sesuatu untuk menunjukkan siapa yang berkuasa di desa itu.

Supar menatap jalanan yang ia lalui, merenung dalam diam. "Sebenarnya aku tidak senang menjadi mata-mata juragan Wongso, dan aku kasihan pada Airin," gumamnya dalam hati. "Tapi aku harus menafkahi anak dan istriku. Lagian, meskipun aku berhenti bekerja menjadi mata-mata juragan Wongso, dia pasti akan memperkerjakan orang lain. Jadi, apa bedanya?"

Supar merasakan perasaan berat dalam dadanya. Meskipun ia tahu bahwa apa yang dilakukannya tidak benar, ia merasa terjebak dalam situasi yang sulit. Setiap hari, ia harus menahan diri untuk tidak terbawa oleh perasaan belas kasihnya terhadap Airin, karena ia sadar bahwa pilihan-pilihan yang ia buat selalu berkaitan dengan bertahan hidup, bukan dengan kebenaran atau keadilan.

Ia menatap jalanan yang berdebu, seakan mencari petunjuk atau jawaban, tetapi yang ada hanya suara deru mobil yang ia kendarai. Supar tahu ia hanya mengikuti arus kehidupan yang lebih besar, meskipun ia tak sepenuhnya setuju dengan cara-cara yang harus ditempuh.

***

Langit sudah gelap, diselimuti awan pekat yang menghalangi cahaya bintang dan bulan. Suara binatang malam mulai terdengar bersahut-sahutan, menciptakan irama sunyi yang khas. Jangkrik berbunyi tanpa henti, sesekali diselingi oleh suara burung hantu dari kejauhan.

Di sebuah rumah sederhana di pinggir desa, lampu temaram menerangi ruangan kecil. Angin malam membawa hawa dingin, menyusup melalui celah-celah pintu dan jendela kayu yang tertutup rapat.

Airin duduk di dekat Kaivan dengan sebuah mangkuk sup hangat di tangannya. Aroma harum rempah memenuhi ruangan. Ia menyesap sendok, memastikan suhunya pas sebelum menyodorkannya ke arah Kaivan. Entah bagaimana reaksi Kaivan jika ia tahu bahwa Airin lebih dulu menyesap sendok itu sebelum menyuapinya.

Bagi pria itu, kedekatan fisik dengan wanita asing selalu mengusik ketenangannya, terutama mengingat prasangka yang selama ini tertanam dalam pikirannya, bahwa banyak wanita hanya mengincar kemewahan, nama besar, dan kekuasaan keluarganya. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam cara Airin memperlakukannya, meski ia tetap sulit menepis kecurigaan yang selama ini mengakar.

"Pelan-pelan, Kak. Supnya masih agak hangat," ucapnya lembut.

Kaivan mengangguk kecil, membuka mulutnya. Ia makan dengan tenang, meski sedikit canggung karena bergantung sepenuhnya pada Airin.

"Rasanya... enak," komentar Kaivan setelah beberapa sendok.

Airin tersenyum tipis. "Hanya sup sederhana. Tapi syukurlah kalau kamu suka."

Setelah beberapa suapan, Airin mengambil gelas kecil di meja dan beberapa pil yang sudah ia siapkan sebelumnya. "Sekarang minum obatnya dulu, ya. Ini yang diminum setelah makan."

Kaivan meraba-raba sedikit, tapi Airin cepat-cepat memegang tangannya, meletakkan pil di telapak tangan Kaivan. Sentuhan lembut itu membuat Kaivan diam sejenak, namun ia tak berkata apa-apa dan langsung menelan pil itu.

"Ini... airnya," lanjut Airin, sedikit tergagap, membantu menyodorkan gelas ke bibir Kaivan.

Kaivan minum air itu dengan perlahan. Setelahnya, ia bersandar lelah di kursi, merasa tubuhnya mulai sedikit lebih ringan. "Terima kasih, Airin. Kau... sangat sabar."

Airin menggeleng kecil, meski Kaivan tak bisa melihatnya. "Nggak apa-apa, Kak. Anggap saja ini... tugas kecilku."

Kaivan menghela napas, ada kehangatan kecil di hatinya meski ia tetap menjaga sikap dinginnya. "Tapi tidak semua orang mau bersikap sebaik ini pada orang asing, apalagi yang tidak tahu apa-apa tentangku."

Airin terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Mungkin kamu merasa asing di sini, tapi di rumah ini... kamu tidak akan sendirian."

Kaivan mengangguk sedikit, tapi tetap tidak berkata banyak. "Aku akan pergi begitu aku bisa," ujarnya dengan suara yang lebih rendah. Meski ia tampak acuh, Airin tahu bahwa Kaivan tidak benar-benar ingin tinggal lama.

Airin berusaha meredakan ketegangan di antara mereka. “Tidak perlu terburu-buru. Kamu tidak akan bisa pergi dengan kondisi seperti ini. Beristirahatlah dulu sampai pulih.”

Kaivan tidak menjawab, hanya duduk dalam diam. Ia merasa sedikit canggung dengan bantuan yang ia terima, tetapi ada sesuatu yang menghalanginya untuk menolak lebih jauh.

Suara ketukan keras di pintu memecah keheningan di dalam rumah. Airin dan Kaivan sama-sama menoleh ke arah pintu, keduanya tampak terkejut. Dari arah dapur, Nenek Asih muncul sambil mengelap tangannya dengan kain lap, ikut melirik ke sumber suara.

"Siapa yang datang malam-malam begini?" gumam Nenek Asih dengan nada heran, raut wajahnya mulai cemas.

Airin bangkit dari duduknya, jantungnya sedikit berdebar. "Biar aku lihat, Nek," jawabnya, berusaha terdengar tenang.

Nenek Asih mengangguk perlahan, meski tatapannya masih lekat pada pintu. "Hati-hati, Rin," pesannya.

Airin mengangguk, sementara suara ketukan kembali terdengar, lebih keras dari sebelumnya. Dengan langkah pelan namun tegas, Airin berjalan ke pintu. Jantungnya berdebar tak karuan, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tak beres. Di luar, bayangan samar seseorang terlihat berdiri di bawah cahaya remang lampu teras.

Sebelum membuka, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Dengan hati-hati, Airin mengangkat tangannya untuk meraih gagang pintu, tidak menyadari bahwa malam itu akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berbisik pelan ke Kaivan. "Kak Ivan, tetap di tempatmu. Jangan bersuara dulu, ya."

Kaivan hanya mengangguk, meskipun ketegangan di wajahnya tak bisa ia sembunyikan.

Airin membuka pintu perlahan, pintu kayu itu berderit halus. Di depannya, berdiri seorang pria kurus dengan ekspresi tegang, matanya melirik tajam ke arah dalam rumah. "Airin," sapa pria itu dengan nada mendesak. "Kenapa pria buta itu masih di rumahmu?"

Airin menelan ludah, tubuhnya menegang. Perasaan tak nyaman semakin menguat, tapi ia berusaha tetap tenang. "Ada apa, Pak Supar? Memangnya kenapa?"

Pria itu tidak menjawab langsung, hanya mendekatkan wajahnya, suaranya lebih pelan namun penuh tekanan. "Juragan tidak suka ada pria di rumahmu."

Nenek Asih berdiri cemas di sudut ruangan, mengintip dengan gelisah ke arah pintu. Suara Supar terdengar samar namun cukup jelas, sementara Kaivan tampak duduk tenang, meski jelas ia sedang menajamkan pendengarannya.

Airin berdiri tegar di ambang pintu, menatap Supar dengan tatapan tidak senang. "Apa urusan juragan dengan orang yang ada di rumahku? Aku sudah melapor pada Pak RT," ucapnya dingin, menandakan ketidaksukaannya akan campur tangan Wongso.

Supar menggaruk belakang kepalanya, tampak serba salah. "Dengar, Airin... Aku hanya menyampaikan pesan juragan. Sebaiknya kau keluarkan pria buta itu sebelum juragan Wongso bertindak," katanya pelan. Ia melirik ke dalam rumah, memastikan tidak ada orang lain yang mendengarnya.

Ada nada ragu dalam suaranya saat ia menambahkan, "Jujur, aku kasihan pada pria-pria yang berurusan denganmu, Rin. Sebagian besar dari mereka... ah, kau tahu sendiri, mereka dihajar juragan sampai babak belur. Aku selalu mencoba memperingatkan mereka untuk menjauh darimu, tapi... banyak yang keras kepala. Dan kau tahu bagaimana akhirnya bukan?"

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!